Butuh 15 menit bagi nenek Sutedja menekan bel sebelum pintu di depannya akhirnya terbuka. Ghamaliel berdiri di sana, wajahnya kusut, rambut dan penampilannya berantakan. Dia tertegun melihat wanita tua di hadapannya. "Nek, kenapa ada di sini? Bukannya acaramu di bawah?" Baik nenek Sutedja dan Alarik menatapnya dengan curiga. Ghamaliel memblokir pintu seolah takut ketahuan sedang menyembunyikan kejahatan. "Aku menjemputmu supaya kita bisa pergi bareng. Kamu baru bangun?" "Hmm, belum tidur malah. Siapa gadis cantik ini?" Nenek Sutedja menatap cucunya yang berdiri setengah telanjang, lalu beralih kepada Monic yang menunduk malu-malu. Ganjar pria tua yang selalu menjunjung tinggi norma dan agama, dia segera memblokir pandangan Monic sambil memberi nasihat, "jangan lihat, ora ilo

