Chapter 4
(What The Hell! Awal Kebencian Daniel vs Nasya)
**
‘’Oiya, itu meja kamu.’’
Kedua bola mataku mengikuti arah jari telunjuknya yang panjang dan nampak gagah itu, betapa terkejutnya aku kala mataku menangkap objek kebencian dalam hidupku.
Berantakan banget!!
Meja dipenuhi kertas coretan hitam dan putih, kursi penuh debu, meja geser ke kanan da miring enam puluh derajat, di tambah lagi tumpukan dokumen lama yang entah dari mana asalnya.
Aku tak habis pikir bagaimana bisa seseorag yang terkenal rapih memiliki meja sekacau ini tepat di depan matanya. Aku tidak ingin berpikir negatif tapi apa mungkin hal ini di sengaja?? Kalaupun iya? Masa sempat – sempatnya bos besar seperti dia.
Oh god, ini sungguh melelahkan.
‘’Kamu bisa bereskan mejamu dulu, saya berikan kamu waktu satu hari untuk menyesuaikan diri dengan mejamu. Jadwal saya sudah rapih hari ini, ‘’
Huh, untungnya ia memberikan aku waktu sehari untuk membersihkan semua dokumen, membacanya, mempelajari semua jadwalnya sampai hari rabu minggu ini dan aku harus menyusun jadwal baru yang menyesuaikan dengan semua janji dari clinet.
Oke Nasya, ayo kita mulai dengan berdiri dulu dan mendekati meja yang super berantaka.
Gila, rasanya aku ingin pulang saja dari pada harus memilih – memilah semua dokumen kacau ini. Arghhh!!
Tak apa, tak usah terlalu di pikirkan Nasya, ayo kita jalani saja demi dirimu dan ayah, ibu, adikmu Nasyaaa !! ayo semangat!!
Ruangan full ac kini seolah tak mempan untuk mendinginkan suhu bada milik gadis itu, sebab setelah berdiri dan mendekati calon meja kerjanya ia tak henti – henti bergerak memilih semua dokumen, memberekannya, membopong kardus berisi dokumen kotor yang harus di bakar, mengelap meja dengan kain basah, membersihkan nya lagi lalu menyemprotnya dengan parfum tubuhnya, mengepel lantai yang sudah berdebu, menati kering baru kembali ia susun semua barang – barangnya dan ya step terakhir membakar semua dokumen kotor di roftoop yag jaraknya sagat jauh tanpa lift, tapi akhirnya semua hal yang harus ia kerjakan sudah selesai dan berujung pada teparnya Nasya di lantai yang kini sudah mengkilap, ruangan harum dan rapih.
Ia berbaring tanpa alas apapun selain keramik sembari menatap lagit – langit ruangan berusaha mengkontrol nafasnya berulang kali sampai akhirnya ia tertidur tanpa di sengaja entah sampai kapan.
** **
Langit – langit mulai mendung menampakan wajah sendu tanpa gerimis – gerimis seperti biasanya, ia mulai menggelap tanpa ragu mengundang beberapa gemerlap ciptaan tuhan seperti bintang dan rembulan untuk bertengger syahdu di atap semesta.
Memadukan setitik demi setitik cahaya yang tanpa izin meneragi bumi juga tanpa pamrih, sayup – sayup terdengar berisik kendaraan bermotor lalu lalang memenuhi jalanan dibarengi semilir angin yang tiada hari selalu berbagi kehidupan untuk semua ciptaan Tuhan.
Ujarnya malam ini menjadi malam yang mendung dengan hujan deras dan gemlegar petir di malamnya yang menjadi momen menyenangkan bagi lelaki bernama Daniel, tapi naas Tuhan malam ini menyuguhkan malam yang syahdu. Sedikit dingin tak sendu, tak berisik se bagaimana mestinya kota – kota besar di malam hari.
Akhirnya ingin tak ingin kini Daniel menutup semua tirai, mematikan semua koneksi cahaya yang ia punya, lalu berjalan dari kasur king size nya mendekati lemari besar di penuhi kaca dan membukanya pelan sebelum akhirnya di dahului melirik jarum jam yang sudah menunjuka pukul delapan malam.
Ia menjumput satu buah lilin aromatherapy dari lemari kesenangannya, dalam lemari kaca tersebut ada banyak sekali lilin aromatherapy yang di buat almarhum kakeknya mulai dari ukuran kecil seukuran gelas alkohol mini hingga yang berukura besar serupa botol air mineral satu literan.
Semua itu ia simpan rapih dan hanya menggunakan di momen – momen yang baginya menjadi penting.
Lelaki itu berjalan ke tepi jendela yang sudah tertutup tirai lalu memutar tubuhhnya berjalan ke arah tuxedo hitam untuk mengambil pemantik api tapi sayangnya apa yang ia cari tak ia temukan.
Dengan cepat sembari melepas handuk yang bertengger di pinggangnya dan bergegas menggunakan pakaian, ia langsung mengambil kunci mobil, berlari layaknya orang kesetanan, membuka knop pintu dn menutupnya dengan cepat lalu mengemudikan mobilnya di tengah damai kota dengan kecepatan nyaris menyentuh seratus kilometer.
‘’Huh ...’’ suara tarik turun nafas yang berhembus dengan tidak stabil keluar dari mulut seorag lelaki gagah yang acuh terhadap sekitar, ia menyukai hal – hal yang bersihat meyendiri, melakukan sesuatu sesuai keinginannya da tanpa di temani siapapun, ia terobsesi dengan pekerjaan hingga melupakan satu hal yaitu kehangatan.
Lelaki yang kini menaiki lift dengan keringat bercucuran itu kadang lupa akan satu hal bahkan amat penting untuknya, yaitu kehangatan.
Entah, Daniel saja lupa kapan ia terakhir kali menemui keluarganya, kapan ia terakhir kali mendapatkan belaian dari keluarga atau wanita yang ia cintai sebab semenjak kejadian itu Daniel menjadi jengah atau enggan berurusan lagi dengan kehangatan, atau cinta, atau semua hal yang berbau kekasih dunia, karena ia takut hal yang sama terulang lagi di depan matanya.
Ting!!
Lift terbuka, Daniel yang menggunakan celana pajang jenas dan hoodie abu tua menempelkan ibu jarinya di depan sensor yang otomatis memmbuka pintu ruangan kerjanya.
Tubuhnya baru masuk separuh ke dalam ruangan tapi indera penciumannya sudah mengendus aroma parfum wanita yang sontak membuat matanya membulat sempurna curiga ada pencurian dokumen di dalam kantornya, reflek lelaki itu langsung mengambil tongkat baseball lalu mengarahkannya ke depan d**a sembari ancang – ancang untuk melakukan pukulan kuat pada tersangka alias pemilik parfum harum yang diam – diam turut membangkitkan sisi liar seorang pria.
Ia berjalan mengendap – endap bahkan sampai rela melepas alas kakinya agar tak menimbulkan suara apun.
‘’Ssst ...’ batin Daniel mengkontol agar hembusn nafasnya tak terdengar sebab heningnya malam membuat apapun yang lirih terdengar begitu keras nampaknya.
‘’Oke , awas aja kalo sampai lo beneran cewe!’’ bisik Daniel dalam batin.
Prang!!!
Tongkat baseball yang dicengkram erat terlepas dengan cepat kala matanya yang digadag – gadag menangkap sosok pencuri data perusahaannya malah menangkap sosok wanita yang terlentang dengan mulut terbuka tengah tidur nyenyak di lantai ruangan dinginnya.
Ia memijat alisnya lalu bolak balik hingga berulang kali menggelengkan kepalanya menghilangkan emosi yang sudah mencuat di ubun – ubun dan rasaya ingin sekali mengeluarkan emosinya kepada gadis yang kini justu mengelap air liur yang setitik mengalir di antara lipatan bibirnya.
‘’Ah siallll”’ ujar Daniel mengelilingi Nasya yang masih saja tidur sekalipun suara tongkat baseball yang terjatuh terdengar begitu nyaring.
Daniel yang berdiri dengan rasa kesal terpaksa duduk di samping tubuh Nasya, ia melepas hoodienya untuk menutupi bagian bahu hingga ke pinggang.
‘’Hei,’’
‘’Nasya,’’
‘’Bangun...’’
Nasya tidak merespon, ia masih terlihat terlelap dan nyaman dengan posisi tidurnya.
Daniel tak menyerah, ia bergerak menyentuh lengan gadis di depannya pelan dan menggerakannya sedikit demi sedikit.
‘’Nasya ... bangun’’
‘’Woylah!!!’’
Pria itu nampak geram sebab wanita di depannya benar – benar nampak bak mayat.
‘’Nasya bangun!!!’’
‘’Enghhhh ... apa si ganggu bagettt!!’’
Daniel diam menghembuskan nafasnya kasar kala Nasya mulai mengerjapkan mata dan merrenggangkan tubuhnya seperti yang biasa dilakukan manusia pada umumnya.
‘’Sakit banget punggungku...’’ ujarnya kala merasakan nyeri namun masih setengah sadar.
‘’Kok dingin?’’ sahutnya lagi menyadari jika yang ia tiduri bukanlah ranjang rumahnya. Telapak tangan mungilnya menyentuh lantai berkali – kali namun dengan mata yang masih memejam seraya berpikir.
‘’Wait!!’’
‘’Loh kamu!’’
‘’Akhh,’’
‘’Ngapain di sini, macem macem ya lo!’’
Daniel berdercak sebal mendengar respon gadis di depannya yang berwajah bengap dan rambut awut – awutan kini tengah membereskan bajunya setelah melempar asal hodie yang ia berikan.
Dasar tidak tau terima kasih, batin Daniel memungut Hodie miliknya lalu berdiri tepat di depan Nasya yang masih berusaha memperbaiki penampilannya.
‘’Pulang,’’ uccap Daniel pelan lalu berbalik mengambil barang beharganya yang tertinggal.
Mendengar tutur lelaki di depannya yang masih ia curigai, lantas ia segera melirik ke arah jarum jam yang kini sudah menunjuka pukul setengah sepuluh malam. Gadis itu mencoba mengint – ingat apa saja yang ia lakukan tadi sampai – sampai sudah larut malam seperti ini masih saja di kantor bahkan berada di lantai yang dingin.
Arghhh
Aku ketiduran, s****n s****n ....
Nasya gelagapan gugup sembari berdiri dan menunduk malu, ia bingung bagaimana cara ia pulang sebab angkutan umum pasti sudah tidak ada sementara jika naik taksi atau ojek online uangnya tidak cukup. Ia menunduk mengikuti Daniel yang keluar dari ruangan dengan satai.
‘’Pakai ini,’’ kata Daniel saat keduanya sudah di depan lift sembari menyodorkan hodienya.
Nasya enggan menerima.
‘’Bajumu terlaalu tipis untuk berkeliaran di larut malam,’’ sambung Daniel saat menyadari gadis di sampingnya hanya diam tak ada pergerakan.
Dengan sungkan Nasya menerimanya dan meminta Daniel untuk berbalik badan karena ia agak kurang nyama jika berpakaian di depan Daniel.
Lift terbuka, keduanya masuk dalam keadaan canggung terlebih gadis itu yang kini otaknya benar – banar merasa bingung bagaimana cara ia pulang.
‘’Terima kasih ...’’ ucap Nasya lima detik sebelum liftnya berbunyi tanda mereka sudah sampai di lobi parkiran.
‘’Mmm....’’
Daniel dan Nasya berjalan beriringan lalu mereka berpisah tanpa kata di pertigaan , Lelaki gagah yang kini menggenakan kaos hitam polos itu berjalan ke arah mobilnya terparkir sementara gadis itu berjaln mendekati halte perusahaan.
Hangat ...
Nasya merasakan kehangatan dari pakaian tebal itu, ia berjalan menuju halte dan duduk sembari mengguncag guncagkan kakinya ke depan dengan pelan sembari sesekali menggosok – gosokan kedua tangannya lalu menempelkannya ke pipi berharap angin malam yang mendung sesekali menghadirkan dingin yang membelai kulit wajah dan tangannya menghangat meskipun hanya sebentar saja.
Duarrrr!!
Gemlegar suara guntur di seperempat malam mengundang nyali ciut bagi gadis yang kini ketakutan hingga beulang kali menutup matanya sampai hujan benar – benar mengguyur bumi bahkan kaki serta sepatu nya yang mulai mengelupas itu setengah lembab.
Jam sepuluh ... apa aku naik taxi aja ya?
Tapi kalo naik Taxi, aku ngga punya ongkos untuk ke kantor besok ...
Nasya menghembuskan nafasnya kasar di penuhi rasa khawatir berlebih. Ia memandag langit yang kini tak di penuhi pijaran bintang namun di penuhi rerintik hujan yang datang beramai dengan ukuran sedang.
Ia berwajah sendu, memikirkan bagaimana nasibnya dan menyalahkan keceroboohannya seperti ini.
Tak terasa, air mata ketakutannya merembes hingga ke pipi kanan dan kirinya yang segera dengan cepat ia seka tapi terlambat sebab Daniel sudah melihatnya dari kejauhan.
‘’Huh!‘’
‘’Gadis itu benar – benar!’’
**
‘’Ayo naik,’’
Sapaan dari lelaki yang beberapa puluh menit lalu di temui sontak mengundag keterkejutan bagi Nasya. Wajahnya cengo di penuhi kebingungan di pikirannya.
‘’Kemana Sir, ini kan sudah bukan jam kerja.’’
Daniel menghembuskan nafasnya kasar lalu menaruh ke dua tangannya di pinggang kemudian berwajah tegas.
‘’Saya antar kamu pulang,’’ jawab Daniel agak malu tapi hanya bisa ia beri tahu pada relung jwanya .
‘’Ngga usah Sir, saya bisa naik taxi.’’ Basa – basi Nasya.
‘’Kalo mau naik taxi, saya ngeliat kamu nggak satu pun menghentikan taxi lewat di depanmu.’’
Gadis itu gelagapan, menggaruk tengkuk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal.
‘’E, anu ...’’
‘’Ayo saya antar,’’
‘’Tapi ...’’
‘’Baiklah kalau menolak, paling kamu menjadi satapan preman dekat sini,’’
Mendengar hal yang mirip dengan ancaman membuat Nasya bergidik ngeri. Daniel tahu jika gadis itu sudah ketakutan semenjak tadi hujan turun.
‘’Cepat ayo, saya kedinginan,’’
‘’Tapi rumah saya jauh Sir...’’
‘’Its ok. Semua orang tau saya tidak suka dengan orang yang menya – nyiakan kesempatan.’’
Hah, seriusan.
‘’Ini beneran??’’
Nasya masih enggan berajak dari tempat berdirinya sembari memeluk tas slempang satu – satunya peninggalan semasa bangkrut, ia bolak balik mencoba menatap Daniel tapi hanya berani beberapa saat.
Pikirannya berkecamuk campur antara senang tapi juga bingung yang enggan, ia bertanya – tanya dalam hati apa iya sekelas CEO perusahaan besar tiba- tiba alias mendadak mau menjadi supirnya di tengah – tengah banyak nya anak buah, tidak mungkin seorag CEO seperti dia mau mengantarku tanpa ada keinginan yang tersembunyi.
‘’Mikirin apa,’’
Tanya Daniel menyingkap payungnya lalu berdiri di samping Nasya yang masih kebingungan.
‘’Eh engga ...’’
‘’Ya sudah kalau kamu tidak mau, saya sudah kedinginan dan lapar.’’
Daniel kembali melebarkan payungnya lau melangkahkan kaki namun tangannya di genggam secara tidak sengaja.
Keduanya bertatapan, Nasya menatap Daniel dengan wajah penuh harap dan wajah yang terbilang pucat, sementara Daniel memandang gadis di depannya dengan pandagan takjub, kagum, terhipnotis sampai – sampai keduanya larut dalam tatapan dan tidak sadar jika setengah dari tubuh Nasya basah tertimpa tangisan semesta.
‘’Ayo!’’
Pria itu menarik Nasya mendekat ke arahnya lalu tanpa berniat buruk ia merangkul gadis itu dengan pelan memberika perlindungan dari air hujan hingga sampai ke depan knop pintu mobil lalu memastikan gadis di sampingnya masuk sempurna ke dalam mobil tanpa tertimpa tangisan semesta lagi.
‘’Terima kasih ...’’ lagi – lagi Nasya mengucapkan rasa kasihnya kepada lelaki yang kini memutar kunci mobil dan menekan pedal gas pelan, membelah jalan raya dengan kencang tak perduli kaca depan mobil sudah hampir tertutup rapat oleh air.
**
Deg deg deg ...
Begitulah kurag lebihnya bunyi detak jantung Nasya yang bergemuruh secara berkala namun dengan cepat seolah detak jantungnya terprogram untuk berdetak lebih kencang jika tubuhnya menerima sentuhan dari lelaki berdarah campuran barat itu, tak hanya jantungnya yang berirama beberapa kali lebih cepat, tapi ia juga kerap beberapa kali meneguk ludahnya sendiri sebab gugup berada satu mobil dengan lelaki tampan, kaya, dan ya terkenal menjadi idamn semua wanita kantor.
Nasya bolak balik bergerak gelisah, bergerak gusar, bolak balik mencari posisi yang nyaman baik menghadap jendela, menghadap arah jalan , menunduk dan lain sebagainya tapi belu menemukan posisi yang pas hingga akhirnya sesuatu yang ia takutkan benar – benar terjadi,
Kruwuukk ...
‘’OH s**l’’
Suhu dingin semesta di tambah mesin pendingin dari mobil mahal nyatanya tak bisa menghentikan laju cepat keringatnya sebab dari tadi ia menahan lapar yang sudah berada di puncak kejayaannya, tapi akhirnya ....
Suara cacing di perutnya tak bisa diajak berkerja sama untuk melirihkan desahan mereka di dalam perut sana.
Suara perutnya yang tadi ternyata tidak menarik perhatian bagi lelaki di sampingnya, akhirnya Nasya kembali bernafas lega tak berusaha menahan malu.
Kruwuk ....
Kruwuuuu kkkk...
‘’Oh damn!!’’ teriak Nasya spontan yang disahuti tawa kecil dari lelaki di sebelahnya.
‘’Maaf ...’’ lirih Nasya menahan malu, pipinya yang pucat sudah memerah ayu, wajahnya di tundukan ke bawah tak mampu melihat wajah atasannya yang dari tadi keluar tawa lirih dari bibir merah nya itu.
Nasya, kenapa sihhh! Tahan!
Batin gadis itu berteriak memaki dirinya sendiri ...
Sementara Daniel...
Ia yang sedari awal diam, menahan rasa marah, kantuk, kesal, dan beberapa rasa ingin memaki gadis di sampingnya yang bahkan tak tahu apa – apa akhirnya tertawa karena bunyi perut gadis di sebelahnya yang tak henti – henti bergemuruh.
Daniel mengerti dan logis jika gadis di sampingnya kelaparan sebab ia tertidur dari sore hingga malam bahkan mungkin karena saking sibuknya membereskan ruangan hingga serapih itu ia melupakan jatah makan siang.
Jujur, Ia cukup terkejut melihat ruangannya di sulap oleh gadis di sampingnya ini menjadi sangat rapih bahkan tak pernah terpikirkan olehnya memiliki ruangan serapih itu, akhirnya diam – diam ia membenarkan ujaran yang mengatakan rumah dengan sentuhan seorang wanita menjadi bak surgawi dalam dunia yang tidak akan pernah kita temui jika tanpa tangan – tangan para wanita.
‘’Loh, kok berhenti Sir ...’’
‘’Rumah saya masih jauh ...’’
Daniel masih diam, enggan memberikan jawaban apapun.
‘’Rumah saya masih jauh Sir ... ‘’’ Nasya panik. Ia takut jika di turunkan oleh Bosnya di sini sebab sudah jelas tak ada ongkos taxi dan angkutan manusia lainnya.
Mobil Daniel berhenti di depan resto mewah.
Mata Nasya membulat sempurna, ia meneguk ludahnya dengan pelan seolah di dalam kerongkongannya ada bongkahan batu bata yang harus ia telan pahit – pahit.
‘’Turun, kita makan ...’’
Lagi – lagi ucapan lelaki di samping nya membuat ia kaget, se perduli itu bos gue ...
‘’Ayo ...’’
Daniel sudah meninggalkan Nasya yang masih nyaman di dalam mobil alias masih menikmati keringat dingin dan rasa gugup yang keluar dari tubuhnya. Ia melirik sekilas nama resto sekali lagi untuk memastikan kebenarannya dan sialnya ketidak beruntungan ada di pihak Nasya beberapa kali dalam sehari.
‘’Woy!’’
Daniel mengetuk kaca pintu mobilnya mengkode jika ia harus segera turun, dengan terpaksa dan berat hati sembari memeluk tas slempangnya di depan d**a ia turun dari mobil lalu berdiri di belakang tubuh Daniel yang ukuran punggungnya setengah dari tubuhnya ...
Daniel berjalan mendahului Nasya tapi lagi – lagi tangannya di cekal kuat.
‘’Bisa cari resto lain nggak Sir ..’’ ujar Nasya memohon.
‘’Nggak,’’ jawab Daniel tegas langsung melepas cekalan tangan gadis di belakangnya, dengan terpaksa karen tak ada pilihan akhirnya Nasya mengikuti Daniel dan duduk di tempat yang lelaki itu pilihkan.
Gila ...
Double kill kalo sampe beneran muncul, sumpah kenapa sih bos malah milih makan di sini argh! Susah – susah aku ngejauh dari kerumunan ini malahan aku yang masuk kandag macannya. Damn ...
Nasya duduk dengan rasa tak nyaman, bola matanya bergeser ke kanan dan kiri mengamati setiap pergerakan pramusaji takut ada hal – hal yang ia tidak inginkan.
‘’Makan apa?”
Nasya berpikir sejenak karena tahu harga di resto ini terbilang lumayan.
‘’Em... saya engga dulu Sir ... Lemon Tea saja,’’
Inget, harus berhemmat! Kalo ngga hemat kelar hidup lo Nasya ...
‘’Oke ...’’ jawab Daniel yang sontak membuat nasya agak kesal.
‘’Permisi ...’’ panggil Daniel kepada pramusaji.
‘’Pesan ini dua ya mas, lemon tea satu, yang satunya bebas minuman terenak aja.’’ Ujar Daniel.
‘’Sir... saya ngga cukup uang untuk bayar makana itu!’’
‘’Saya yang traktir,’’
Nasya bungkam atara senang dan dinginnya menghadapi rasa takut ditambah Daniel malah memaika ponselnya tak memecah keheningan dengan obrolan satai atau bincang – bincang basa – basi dengan karyawan baru kiranya.
Suhu dingin mulai menjalar, kali ini suhu dingin tuubuh gadis itu berasal dari rasa gugup menghadapi suituasi yang ada di tambah pakaiannya yang separuh basah bahkan bisa dibilang sagat lembab.
Hacih !
Nasya bersin tepat di depan Daniel, sontak pria itu melirik Nasya dengan tatapan tajam membunuh lalu gadis itu cepat mengangguk tanda ia mengerti jika bersin harus di tutupi meski dalam batinnya gadis itu membela diri jika ia tak sengaja melakukan hal itu.
Hacihh!
Kali ini bersinnya terdengar cukup keras, bahkan hidungnya yang berwarna kulit kuning langsat sudah memerah layaknya orag fflu pada umumnya.
‘’Saya izin ke tolilet sebentar ...’’
Nasya bergegas meninggalkan Daniel yang memandang gadis itu dengan datar sampai akhirnya sehelai rambut dari waita ittu pun tak terlihat di mata Daniel.
Lelaki itu kini diam, beberapa detik kemudian memaggil pramusaji memesan teh hangat atau apapun yang hangat kecuali alkohol lalu tak lama Nasya datang, duduk lalu tersenyum senag melihat suguhan di depan meja ada segelas air hangat.
Ia tersenyum tulus pada Daniel, menampilkan wajah ayunya dengan mata sipit dan bibir melengkung indah.
Cantik ...
Batin Daniel tapi lelaki itu hanya memasang wajah datar hingga makanan yang ia pepsan datang.
Kring ...
Kring ...
Kring ...
Dering telepon dari ponsel milik lelaki berwajah datar namun setengah perduli itu berbunyi menghentikan aktifitas makannya termasuk Nasya, Daniel sontak mengangkat telefon dengan cepat dan mengiyakan setelah ia menyebutkan nama restoran.
Sementara Nasya ...
Jantungnya sudah bergedup kencag saat lelaki di depannya menyebut satu suku kata.
’’Hai Rio...’’
Sapa Daniel tadi yang langsung membuat bulu kuduk Nasya merinding, dengan rasa penasara ia pun memberaikan diri menyentuh lengan Daniel lalu berbisik.
‘’Apa akan ada yang datang?’’
‘’Iya, teman ku ...’’ jawab Daniel singkat lalu meminta gadis di depanya segera menghabiskan makanannya.
‘’Ah begitu ...’’
Jangan – jangan temen bos ku beneran dia.
Terus giamana dong kalo sampai bener.
Jangan sampai, aku udah sejauh ini ngejauh dari dia tapi kalo sampai aku ketemu dia di sini demi tuhan Daniel jadi orag yang paling aku benci pertama kali selama empat bulan terakhir setelah Bramantyo s****n itu.
Huh, sabar Nasya ...
Semua kegiatan yang tidak pernah terpikirka olehku di hari pertama kerja pasti aka berlalu, sebab semua orang juga tahu jika badai pasti akan berlalu siring berjalannya waktu, tidak terkecuali siapapun ciptaan Tuhan itu.
Aku diam menikmati apa yang akan terjadi jika seseorag itu benar – benar datang, aku yakini pasti akan ada drama suguhan yang diperankan olehku dan di lihat langsung oleh lelaki di hadapanku.
Ya sudahlah ...
Tidak apa, pasti aku bisa mengatasinya dengan baik, aku yakin...
Aku juga yakin Tuhan akan membantuku dengan caranya, jadi ... ayo kita nikmati saja hidangan makan malam gratis dan mewah dari bos baru, mirip perayaan kedatanganku di perusahannya...
Alibiku ...
**
‘’Nasya belum pulang Mas, dia juga tidak menghubungiku sama sekali ...
Aku khawatir sekali Mas terjadi sesuatu pada putri kita ...’’
‘’Iya sayang, sabar ... Aku juga sedag berusaha menghubungi nasya, kita juga jangan lupa doakan yang terbaik buat putri kita ...’’
Azka terlihat menenagkan kekasihnya dengan cara meragkul dan mengusap puncak kepalanya sembari sesekali memberikan kecupan hangat di kening milik Zahra yang kini masih bolak – balik mengigit kuku di jari telunjuknya.
Wanita berumur tiga puluh delapan tahunan itu teramat panik, nampak dari keningnya yang tak jarang berkerut menandakan banyaknya hal yang ia pikirkan di kepalanya.
‘’Ra, udah yo kita masuk. Percaya sama Mas, nanti Nasya pulang dengan selamat ...’’
‘’Huh ... iya Mas ...’’
**