Chapter 3

3007 Kata
Chapter 3 (Si Biang Kewalahan) ** Daniel Epsd ‘’Tolong cepat siapkan keperluan hari ini, saya nggak mau salah kaprah.’’ ‘’Iya, sempurnakan. Sebentar lagi saya sampai, sedang di lobi parkiran …’’ ‘’Oke saya tu---‘’ Brak!!!! Damn ponselku! s****n! Siapa yang berani – beraninya nabrak gue! YOU!!!! Daniel membatin keras sedikit tertekan karena Kembali lagi berhubungan secara tidak sengaja dengan gadis yang ia ingat sekali. Terlebih rasa pusig dan mual akibat minum semalam masih tersisa dengan jelas di lambungnya. Ia memungut ponsel mahal miliknya, mengibas – kibaska tangannya sengaja di depan d**a belagak sombong dan melangkah meninggalkan Wanita yang tergletak di lantai dengan sadar, nasnya langkahnya terhenti padahal barubeberapa Langkah, bisa terhitung Sembilan Langkah artinya jaraknya dengan gadis itu tidak jauh. ‘’Naik …’’ ‘’Kemana?’’ ‘’Punggung saya.’’ ‘’Serius?’’ ‘’Satu!’’ ‘’Dua …’’ ‘’Ti-!!!’’ Akhirnya gadis dengan tampilan acak – acakan naik ke punggungku, berpegangan erat pada leherku dengan cara mengalungkan tangannya di leherku. Aku dan gadis dipunggungku berjalna melewati kerumunan dan iya … benar .. Sudah ku duga aku menjadi pusat kerumunan karena membawa Wanita di punggungku sementara sejauh ini aku belum pernah melakukan ini, tapi mesti bagaimana. Pantauan cctv lebih beringas dibandingkan pemandangan yang ku suguhkan sekarang. Alah, bodo amat ujarku melewai semua karyawan yang cengo memandang kami dan sialnya gadis di punggungku ini malah menyembunyikan wajahnya di leherku sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang membuat bulu kudukku merinding. ‘’Resepsionis,’’ katanya. Aku menurunkan gadis itu di lobi resepsionis, meninggalkan lalu sengaja memberi gadis itu memiliki waktunya dengan petugas, tapi damn! Ia memanggilku lagi dengan suara yang keras tanpa memanggil namaku. Sialnya, hati nuraniku tumben sekali berbalik takdir tak seperti biasanya. Aku biasanya mengabaikan semua rasa kaksihan dan drama menyedihakan di depanku tapi sekarang tubuhku malah reflek berbalik, mendekati gadis yang ya … Lumayan cantik, kulit putih dengan mata indah … Senyumnya juga menawan … ‘’Aku ada wawancara’’ katanya terucap jelas bhkan bisa ku cerna dengan baik. ‘’Naik lah …’’ ‘’Makasih banget,’’ lirih asya tepat di telinga Daniel. ‘’Jangan memnacing!’’ ‘’Ha! Maksudnya??’’ Nasya sontak kebingungan dengan perktaan lelaki yang bahkan sampai sejauh ini ia lupa menanyakannya. ‘’Nama mu siapa? Dari tadi kamu nge gendong aku tapi aku sama sekali ngga kenal kamu, barangkali kalo aku udah ada waktu mau balas budi,’’ ‘’Daniel …’’ ‘’Ah Daniel, karyawan juga di sini?” ‘’Mmm …’’ ‘’Bagian apa, katanya aku denger – denger CEO nya suka turun tangan kalo ada problem gitu dan galak banget, tapi senengnya disini karyawan dimakmurkan katanya. Gajinya juga gede, bener ngga?’’ ‘’Iya bener,’’ ‘’Wah, semoga aku di terima di sini ya … ‘’ ‘’Memangnya kenapa kamu sangat ingin kerja di perusahaan ini,’’ ‘’Ya jujur, secara finansial aku buutuh banget untuk ngebantu keluarga ku. Itu aja,’’ Daniel mengangguk, meminta seorang Wanita di balik punggungnya menekan tombol lift ke lantai enam tempat singgasana CEO. ‘’Turun,’’ Dengan pelan, ia mulai melepas kaitan kedua tangannya dari leher yang harumnya bagaikan surga di dunia, lalu tangannya mulai merambat turun ke bahu menekannya ke depan memberikan tekanan untuk dirinya supaya bisa turun dan berdiri tegak di belakang lelaki gagah itu. ‘’Makasih Daniel,’’ ‘’Done,’’ ‘’Bisa jalan sendiri??’’ tanya Daniel tanpa sadar. ‘’Umm bisa lah!’’ jawab Nasya sambil berpegangan pada tembok dengan cat mahal itu lalu berjalan pelan ke arah kanan lalu diam dan tersenyum. Lelaki gagah itu pergi tanpa pamit sementara Nasya terdiam mengagumi ciptaan tuhan yang benar – benar tidak bisa di tolak pesonanya, ia terpana melihat ketampanan dari lelaki yang dari tadi ia genggam secara tak sengaja. Tadinya, Nasya tidak focus pada wajah lelaki yang menolongnya dan ia teringat saat ponselnya di rusak secara tidak sengaja karena menabrak pria itu sekali. Sambil tersenyum tersipu sendirian, Nasya yakin mungkin ia dan pria bernama Daniel yang punya aroma tubuh memabukan itu akan bertemu lagi. Aamiin batinnya. Serasa cukup melamun, Nasya melanjutkan langkahnya lagi ke arah pintu seraya menahan sakit, kini tangannya sudah menggenggam gagang pintu dengan kuat hendak mendorongnya tapi naas, ‘’Auh!!!!!’’ teriakan Nasya dibarengi suara dentuman tulang – tulangnya dengan lantai keramik putih. ‘’Wow, menajubkan sekali pemandangan nya…’’ ‘’Ck, sangat cerobooh …’’ ** ** ** Ting! Bunyi pintu otomatis yang terbuka langsung seolah membungkam sebab didominasi oleh suara rintihan dan suara berisik buku – buku yang terjatuh secara spontan Ketika Daniel baru saja masuk ke ruangan wawancara. Ia menghembuskan nafasnya dan menggeleng tak percaya dengan pemandanga yang disuguhkan pagi ini sebanyak dua kali. Bagaimana tidak, ia bolak – balik bertemu seolah ini adalah takdir yang akan berulang dengan gadis yang diam – diam ia selidiki segala macam latar belakangnya. ‘’Maaf …’’ lirih Nasya berusaha berdiri dengan sekuat tenaga tapi kakinya benar – benar terasa berat, tak hanya itu, gadis ini mulai merasakan perih, nyeri, cenut – cenut di bagian mata kakinya hingga jarinya. Oh tuhan… ini bagaimana, bahkan aku tidak bisa berdiri sebentar pun … ‘’Kami bantu nona?’’ ujar salah satu pewawancara yang di depannya ada plakat tertulis HRD dengan kapital bahkan huruf tebal. ‘’Tidak terima kasih, saya bisa sendiri …’’ jawab Nasya tegas, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak merepotkan pewawancara karena takut nilai yang ia dapatkan minus dari target mereka. ‘’Tapi anda terlihat kesulitan ,’’ ‘’Tidak apa – apa saya bias sendiri, ‘’ ‘’Baiklah jika anda memaksa. Tapi kami tidak punya waktu banyak,’’ ‘’Iya saya akan berusaha,’’ Nasya beberapa kali menggunakan tangannya sebagai tumpuan tapi sayangnya ia justru semakin merasa kesakitan dan rintihannya hanya bisa ia bungkam. Ayo berdirii!!!!! Teriak Clara yanghanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Di tengah waktu yang seolah berjalan lebih cepat dari biasanya, seseorang memandangi Wanita tadi dengan pandangan iba tapi enggan untuk berbicara. Ia sosok yang duduk di kaca dua arah sehingga tubuhnya tak Nampak tapi ia bisa melihat apa saja yang terjadi di ruangan wawancara pemilihan asisten barunya. Ia merasa ini perlu sehingga ikut terlibat dalam pemilihan sekretaris, sementara biasnya ia tak mau terlibat dalam rapat – rapat pemilihan karyawan sebab bukan menjadi tugasnya. Daniel membuka cv milik gadis bernama Nasya, dalam cv nya tak tertulis pengalaman organisasi atau bahkan pekerjaan tapi nilai nya sangat tinggi bahkan banyak piagam penghargaan. Sudah hampir lima menit tapi Nasya masih tergeletak di bawah hal itu tentunya membuat Daniel jengah lalu berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah pintu dan keluar dari tempat persembunyiannya lalu membopong Nasya ke kursi wawancara yang lagi – lagi membat keributan diantara karyawan – karyawannya. ‘’Kamu! Kok bisa di sini! Btw thank you tapi kamu penguntit ya!!!” reflek Nasya berbisik di dekat telinga Daniel yang masih bisa di dengar oleh pewawancara. ‘’Diam!’’ ‘’Ta – tapiii …’’ Ucapan Nasya terhentii sebab Daniel sudah pergi dan di ikuti langsung deheman dari petugas. ** ‘’’Gimana hasilnya??’’ ‘’Belum tau, Nasya juga masih nunggu di depan ruangan bu …’’ ‘’Memangnya hasilnya keluar sekarang? Kok kayak ujian kampus aja ehehe…’’ ‘’Iya, langsung katanya soalnya ada keperluan dari CEO nya, bahkan katanya mau di suruh kerj ahari ini juga tanpa magang.’’ ‘’Wah, keren juga tuh kalo yang di terima …’’ ‘’Iya, kayak keajaiban. Ya aku berharap aku orangnya,’’ ‘’Aamin … By the way, lo lagi sendirian??’’ ‘’Engga sih, ada lima orang di sebelahku. Sama – sama juga baru selesai wawancara.’’ ‘’Oh, syukurlah jadi punya kenalan,’’ ‘’Kamu tau ngga, aku ngerasa hari ini berat dan bukan keberuntungaku.’’ ‘’Kok bisa? Kenapa emangnya??’’ ‘’Ya … you know, aku kesleo, nabrak orang, jatuh di depan HRD, dan ya! Banyak lagi. Tapi ya sudah lah, aku sudah berusaha yang terbaik untuk ujian ini.’’ ‘’Its okay Nasya, Tuhan tau kok kalo hambanya udah berusaha sebisa mungkin dan nggak ada usaha yang hasilnya nol. Pasti tetep akan ada hasilnya seklaipun ngga terlihat sekarang, yang penting lo jangan lupa makan dan usaha terus ya. Sebelum pengumuman pastiin lo udah makan, takutnya asam lambung lo naik. Lemah kan lo.’’ ‘’Ck, lo emang yang paling ngerti wkwkw, ya udah aku mau makan dulu jadi ku tutup ya telfonnya …’’ ‘’Iya, sukses selalu buat lo Nasya!’’ ‘’Thank you banget,’’ ‘’Bye Nasya!’’ ‘’Bye Cantik!!!” Sambungan telefon di tutup tidak secara paksa tapi di tutup atas persetujuan dua belah pihak yang tadi sempat bercengkrama basa - basi sebelum akhirnya sama – sama memberikan semangat. Gadis dengan pakaian formal blazer hitam murah tanpa merk duduk di paling pojok kiri dekat dengan sudut ruangan terang di penuhi Lorong dan pintu – pintu transparan di dalamnya berisi orang – orang tak henti menatap layer computer dan mengabdikan tangannya di atas keyboard sehingga keheningan tak Nampak sedikitpun tapi justru ramai riuh oleh irama yang di hasilkan dari sentuhan jadi di atas keyboard. Nasya melamun sembari menahan rasa sakit di bagian kakinya, ia bolek balik memejamkan mata menghilangkan rasa gugup dan takut seklaigus rasa sakit yang masih saja menghampiri tidak ingin permisi sebentar di hari yang membahagiakan sekaligus menegangkan itu. Ia diam, tapi pikirannya berkecamuk banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang jawabannya ada pada tangan manusia – manusia tadi, manusia yang di d**a kirinya tertempel name tag nama dilengkapi gelar psikologi. Gadis itu berulang kali mengambil nafas dan menghembukan berkali – kali tapi naasnya rasa gugup itu tak kunjung pamit. Ting! Bunyi notifikasi yang berbeda – beda dan berasal dari ponsel yang berbeda datang di waktu yang sama, saat itu juga enam orang calon asisten pribadi CEO langsung membuka ponselnya kecuali Nasya, ponselnya rusak dan alat komunikasi yang ia punya saat ini hanyalah komitmen kepada petugas untuk mengabarinya melalui surat yang ia tunggu di kursi saat ini. Dengan sabar sesekali melihat ekspresi teman – teman alias saingannya, Nasya berusaha tidak panik karena satu per satu orang di sebelahnya minggat ke ruangan yang berbeda terkecuali ia. Ia masih saja menunggu salah satu orang yang tadi mengobrol dengannya mengabarinya dengan cepat seperti apa yang sudah rival nya dapatkan. ‘’Kok aku belum ada yang ngabarin ya …’’ ‘’Jangan – jangan ….’’ Pikiran negatifnya tersingkir langsung kala Langkah kaki lelaki yang ia temui pagi tadi datang dan berhenti tepat di depan tubuhnya. Dengan rasa penasaran dan bingung Nasya reflek bertanya apa kepada Daniel tapi lelaki itu justru diam dan malah memberikan selembar kertas hasil wawancara. Tunggu! Tanda tangan CEO nya ada nama Daniel? Hah ? maksudnya?? Bentar? Jangan – jangan?? No, Nggak mungkin Kalo iya? Kalo iya mampus! Ini serius!!! Serius dia CEO nya Orang yang kemarin aku maki – maki dan barusan aku bikin reppot> Demi Tuhan! Ini bukan mimpi!!!! ‘’Ekhm …’’ Nasya masih tak sadar ia bahkan bolak – balik menggelengkan kepalanya ke kanan da ke kiri hanya untuk memastikan alias sebagai respon dari isi otaknya. ‘’Ikut saya,’’ ‘’Ha??’’ Nasya masih tertenggun, ia menatap kertas satu lembar ittu dnegan pandagan kosong dan tanpa keinginan sampai – sampai panggilan dari pimpinan pun tak ia dengarka, Pikirannya seolah menjelajah ke benua lain di kepalanya, menelisik lingkup keterkejutan yang belum pernah ia singgahi hingga menjadi demikian, melamun sambil membuka setengah mulutnya, dan ya ... Nasya berakhir di tarik paksa oleh Daniel lalu ia dengan reflek mengikuti langkah kaki pria itu hingga keduanya berdiri tepat di ruangan pribadi Daniel alias runagan kerjanya yang sengaja di design berbeda dan hanya untuk dua orang saja. Tapi tak perlu takut, ruangan ini di buat dengan pantauan yang khusus sehingga akan sulit bagi CEO berbuat yang demikian mengerikan, hal itu sengaja dimonitori oleh keluarga Daniel terlebih ayahnya yag over protektif terhadap penerus kekayaan dan bisnis perusahaannya. Keduanya memasuki ruangan dengan hati yang berbeda – beda, Nasya dengan keterkejutan da nampak bingung sementara Daniel terlihat sangat santai. ‘’Duduk lah ....’’ ujar lelaki itu meminta sekretaris barunya duduk tepat di depan meja kerjanya yang terbuat dari marmer putih mewah. Gadis itu duduk tapi masih cengo dan ingin menelanjangi seluruh ruangan dengan kedua matanya, ia memandagi dari sudut hingga ke sudut lagi, bukan tanpa alasan. Tapi gadis itu teringat ruagan pribadinya di rumah lama yag di design hampir sama persis, dapur minimalis yang elegan dengan marmer putih da kitchen set berwarna hitam, keramik putih tanpa motif yang mengkilap, meja kerja coklat di d******i marmer putih, tv besar berukuran lima puluh satu inch, kulkas mewah harga dua puluh jutaan berisi macam – macam makanan ringan, junkfood, minuman bersoda vitamin, hingga alkohol nampaknya ada di dalam sana, dan ya ... perlengkapan kerja dari brand alat komunikasi terkenal Appel. Nasya tertenggun melihat merja kerjanya di suguhi i mac terbaru, i pad terbaru, hingga i phone keluaran terbaru berwarna gold yang siap menemani perkerjaannya, sementara kursinya nampak mahal seolah – olah harganya menjapai lima jutaan. Ia meneguk ludahnya secara sia – sia, dulu untuk membeli barang – barang mewah itu dirinya atidak perlu kerja susah payah seperti hari ini, cukup meminta kepada ayahnya dan menyebutkan nominal maka di hari itu juga ia mendapatkan apa yang ia inginka. Sambil mendengarkan Daniel berbicara, Nasya jadi berujar soal keadilan hidup dan hikmah dari kehidupan yang ia jalani. Nyatanya kehidupan tak selamanya mulus, ia kadag sengaja di buat oleh sag pencipta berkelok – kelok hanya untuk memberikan kekuatan yang lebih bak superhero dalam dunia fiksi agar bisa bertahan hidup di dunia yang semakin hari semakin rusak saja karena mungkin jika tak demikian, ia bisa saja mati sebelum berperang dengan zaman, bahkan rasa – rasanya jika Tuhan tidak berkenan memberikan kekuatan melalui ujian mungkin saja untuk bernafas rasaya begitu sulit bahkan detak jantung pun nyaris tak terdeteksi. ‘’Hey kamu mendengarkan saya?’’ ‘’ Iya saya mendengarkan’’ ‘’Bohong, wajahmu bahkan nampak seperti orag yang kehilangan akal.’’ Ujar Daniel saat menyadari jika wanita di depannya melamun semenjak gadis itu duduk di kursi dan ia memulai pembicaraan, entah pikiran apa yang mengangggu gadis mantan putri pengusaha itu. Malam sebelumnya. Rasa pusing dan mual membendung batin sehatnya, lelaki itu duduk bersandar pada kursi puluhan juta dengan wajah lesu bak orang mabuk pada umumnya, pandagannya pun kabur tapi masih bisa menagkap sesosok pria berpakaian seba hitam dengan topi da kacamata yang masih melekat di bagian kepalanya.. Daniel menata Zain dengan manik mata yang enggan tapi mau tidak mau itulah pemandagan di depannya, sambil menaikan satu alisnya Daniel seolah mengatakan ‘’Apa? Ada keperluan apa lo di sini,’’ batin Daniel saja tapi sudah bisa di terjemahkan oleh Zain dengan cepat. Sonta, Zain langsung menyilagkan tangannya di depan d**a, membuka topi dan kacamata yang ia kenakan sekalipun di dalam ruangan sebab ada syarat yang harus selalu ia pegag dimana pun ia berada. ‘’Lo hampir mati kalo ngga ada gue,’’ jawab Zain ringan namun dengan wajah yang menyepelkan. ‘’Cih,’’ decih Daniel sambil tersenyum miring bak orag – orang picik. ‘’But, thank you.’’ ‘’Ya dah biasa,’’ sahut lelaki dengan pakaian serba gelap yang kini membuka ponselnya, bagi Zain sendiri... Kondisi melihat Daniel dalam keadaan mabuk sudah menjadi hal biasa bahkan lumrah, saking biasanya ia kini mulai bisa beradaptasi dengan waktu atau jam – jam daniel pergi ke club untuk meninggalkan beban selama beberapa jam. Hal itu lantas mengundag rasa iba dan reflek pada rasa kemanusiaannya untuk setiap malam keluar menjemput sahabatnya yang gila akan sesuatu dan berujar jika hanya alkohol yang dapat menghilangkan bebanya itu sekalipun sekejap. Daniel adalah pria yang tangguh, gagah, arogan, tempramen, perfeksionis, dan ambisius, namun tak ada satu orang pun yang tau selain Zain dan orang tuanya jika lelaki itu punya trauma yang ya terbilang cukup parah. Bahkan sampai saat ini Daniel sudah menjalani beberapa terapi secara diam – diam namun belum menemukan hasilnya entah bagaimana. Sebagai tema yang paling dekat dengan Daniel, Zain tentunya sudah membatu dengan berbagai cara tanpa menyinggung perbedaan agama keduanya. Ia selalu berusaha membuat temannya lupa dengan trauma, pemulihan psikis dengan banyak cara tapi mungkin saja Tuhan masih enggan atau masih ingin memberikan waktu kepada temanya menikmati kebahagiaan lewat kepedihan itu. ‘’Ini, sesuai yang lo mau ...’’ Zain menyodorkan tiga lembar kerta HVS ukuran A4 dan di terimanya kerrtas tersebut oleh Daniel dengan cepat bahkan bisa dikatakan sangat cepat, dari kondisinya yang tidak sadar itu lelaki yang setengah mabuk mendadak bisa sadar haya untuk membaca seluruh biografi milik wanita yang tadi pagi sempat membuatnya oleh. ‘’What the hell’’ teriak Daniel sambil berdiri dan mendorong kursinya ke belakang. ‘’Kenapa lo?’’ Lelaki itu enggan menjawab, ia malah berulang kali membaca bagian paragraf terakhir alias di catatan riwayat yang terbilang rahasia karena data ini di dapatkan dar orang – orag yang tak biasa seperti Zain Mas’ud itu. Dalam paragraf terakhri di kutip ‘’Nasya Malika seorang pelajar berprestasi semester tiga di kampus internasional sekaligus seorag vionis, mantan penerus tunggal proyek besar dan perusahaan arsitektur bangunan internasional. Perusahaan Azka International Arsitektur di duga bangkrut setelah diduga menggelapkan dana proyek senilai hampir satu triliun rupiah. Diketahui, keluarga Azka International Artsitektur kini berkediaman di Jenggala Vilage tepatnya di kediaman Bramantyo Fallih sang adik dari Azka Falih Izat.’’ Setelah membaca berulang kali akhirnya Daniel menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk keuntungan pribadinya. Ia tersenyum miring dan menutup lembaran terakhir dari lembaran hvs itu dan pergi meninggalkan Zain dalam keadaan bingung dan merasa sudah biasa untuk menyusun rencana besar di hidupnya selama ini yang ia tunggu – tunggu. ‘’Saya mendengarkan kok,’’ bela Nasya kepada dirinya sendiri yang di tatap dengan tatapan tajam mengintimidasi. ‘’Oke, kamu bisa mulai kerja sekarang.’’ ‘’Baik Pak terima kasih,’’ ‘’Oiya, itu meja kamu.’’ Mata coklat milik gadis ayu itu mengikuti kemana arah tangan bosnya mengacung. ‘’Itu!!!’’ refeknya berteriak dan ia langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya yang mungil. ‘’Iya, kenapa ? kamu keberatan??’’ ‘’Eh, engga Sir, saya tidak keberatan sama sekali.’’ ‘’Baiklah, semua data ada di map kuning termasuk juga dengan jadwal kegiatan saya hari ini. ‘’ ‘’Baik Sir,’’ ‘’Kamu bisa bereskan mejamu dulu, saya berikan kamu waktu satu hari untuk menyesuaikan diri dengan mejamu. Jadwal saya sudah rapih hari ini, ‘’ ‘’Baik Sir,’’ Daniel melangkah, menarik knop pintu ke dalam dan keluar yang sebelumnya sempat melirik Nasya dengan wajah tersenyum licik. ‘’Have a nice day sweety’’ batin Daniel melagkah lebih jauh untuk menyelesaikan semua urusannya yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN