Chapter 2
(Pelik Menilik Realita)
**
Episode Sebelumnya …
Ruangan kecil berukuran 3 kali empat meter, Kasur latai tergletak sudah Nampak kumal, kipas angin kecil seharga lima puluh ribu sudah habis dimakan waktu hingga berputar tak layak, selimut tipis yang berbahan wolfis diadopsi dari kerudung milik gadis itu yang kerap kali tak cukup menghangatkan tubuh Nasya dalam dinginnya malam, bantal beralaskan lengan tak menjadi masalah dan berusaha menjadi tempat ternyaman.
Dalam ruangan itu lah Nasya mengistirahatkan tubuhnya, bercerita dengan tuhannya, memadu kasih melalui jembatan sujud di sepertiga malam, menangisi nasibnya yang semakin hari semakin malang dan hanya ia Bersama dinginya malam yang tahu akan kehidupan kelam yang diam – diam ia jalani.
**
Masih dengan suasana sendu, aku duduk di tepi sudut ruangan. Persis di sudut ruangan yang bisa dikata membentuk sudut Sembilan puuh derajat runcingnya.
Aku diam, masih sadar untuk mengkontrol diri dari rasa ingin menangis hingga berteriak sampai – sampai ingin membanting semua perabot yang aku punya dalam ruangan kumal dan usang ini.
Pikiranku kacau, kalang kabut diisi pedihnya realita kehidupan manusia miskin seperti aku…
Tak heran, tak jarang, bahkan sudah menjadi hal biasa yang tak lagi tabu jika manusia miskin seperti aku memang sudah layak untuk dipermalukan, dalam dunia yang aku tempati yang miskin lah yang menjadi b***k dalam pertempuran melalui materi.
Aku termenung, memeluk kedua lutut dengan tangan kecilku, membiarkan mataku mengaliri pipi merah sisa tamparan lelaki b******n itu dengan air mata yang sudah jengkel dengan tembok yang ku bangun berulang kali.
Ck, terkadang aku merasa Tuhanku tidak adil…
Aku terkadang merasa Tuhanku amat pilih kasih …
Aku bahkan tak tanggung – tanggung merasa jika Tuhanku tak pernah mendengarkan aku berbicara sebanyak apapun aku bersujud padanya hanya karena nasib yang sedang ku jalani, dengan keadaan pahit yang ia kasihi kepadaku, dan dengan orang – orang berengsek yang Tuhan kirimkan di hidupku.
Lihatlah … air mataku tak henti – hentinya mengalir berbaur dengan ingus yang juga tak kalah ikut mengalir deras terpikir pada inginku untuk segera pergi dari sini, dari rumah yang dikata orang sejuk penuh surga dunia tapi nyatanya ia lebih panas dari neraka Tuhan sekalipun.
Aku benci hidup di dalam rumah ini, sampai – sampai aku berusaha keras membuat berbagai rencana untuk segera pergi dari rumah ini tapi Tuhan tak mengizinkannya
Dna akhirnya, aku Kembali memutuskan berjuang dengan melamar pekerjaan di perusahaan swasta tadi… aku berharap Tuhan memberikan restunya, karena hanya dengan itu aku bisa membawa keluargaku dan membangun surga baru tanpa bersandiwara demikian sakitnya.
Aku benci menjadi miskin seperti ini, bukan karena apa…
Aku hanya membenci orang – orang merendahkan aku, keluargaku, bahkan harga diriku, tak jarang mereka menganggap yang miskin yang menjadi b***k, yang miskin yang harus menjadi nomor terakhir, yang miskin yang dipandang dengan tatapan menjijikan, yang miskin yang dipandang dengan tatapan ragu hingga tak sanggup di tatap hanya karena mereka kelebihan dalam finansial.
Aku benci menjadi manusia miskin seperti ini !!!!!!!
Note : Opini ini hanya berlaku untuk kesenjangan finansial dan hasil Analisa kondisi yang sering terjadi, jika ada diantara pembaca tidak melakukan hal demikian saya mohon maaf apabila ada kesalahan kata dalam Menyusun paragraph…
**
Lampu sudah meredup, bunyi kipas angin rusak berputar menjadi syair lagu malam yang menemani gadis cantik untuk berbaring mengistirahatkan tubuhnya supaya esok bisa melawan drama k*******n finansial dari lelaki b***t yang selalu ia doakan agar berubah.
Gadis itu sudah berbaring di atas Kasur lantai tipis sehingga tubuhnya masih bisa merasakan kerasnya lantai rumah yang sudah kumal sebab kamarnya bekas peninggalan Gudang yang kumuh. Ia berbaring, sudah memejamkan mata bahkan sudah berdoa memohon perlindungan kala tidur tapi tetap saja pikirannya justru melayangkan beribu ujaran angan dan problema yang belum bisa ia selesaikan.
Berbagai cara sudah Nasya lakukan baik menutup matanya dengan selimut tipis, membungkan matanya dengan Kasur lantai, berbaring tengkurap, berdzikir hingga menghitung jumlah bintang hasil halusinasi, sampai mencoba cara cepat tidur yang dilakukan oleh orang – orang di kemiliteran tapi tetap ia tak bisa tidur.
‘’Arghhh!!! Pengen tidurrrr!!!’’ teriaknya sembari mengacak rambut panjangnya dan mengambil posisi duduk lalu menyandarkan tubuhnya di tembok kumal yang dingin.
‘’Hpku nggak ada, dan sekarang .. makin rumit. Informasi hasil wawancara pasti bakalan masuk ke nomor lamaku tapi hpkuu ada di Bramantyo b******n!! Akh!!!!!’’
Ia seolah frustasi, mengacak rambutnya berkali – kali hingga tak bosan menatap langit – langit kamarnya.
‘’Oke! Aku nggak boleh nyerah. Pokoknya tiap hari aku bakalan ke kantor nya dan tanya hasil wawancara, Cuma itu yang bisa aku lakuin sekrang, soal hasil aku serahkan sama Allah …’’
‘’Huh …’’
‘’Kapan hal rumit kayak gini ilang dari keluargaku,’’
Gadis itu melamun …
Lagi – lagi memilih melamun dari pada berusaha keras agar tertidur di atas Kasur lantai yang tipis, bukannya tak mau tidur beralaskan hal yang begitu tipis tapi ia hanya melakukan rutinitas biasa yaitu bergelut dengan malam menentukan waktu kapan ia bisa memejam seperti kahalayak orang banyak.
‘’Huh …’’ bunyi helaan nafas sisa tarikan napas yang berat terdengar begitu keras di tengah – tengah malam yang begitu sunyi, gadis itu bangun dari duduknya… memilih menyiapkan rencana hal apa yang harus ia lakukan besok untuk memulai aktifitas hari yang berat.
Sreeeeet …’
Suara laci meja kumal yang di tarik ke luar ikut meramaikan hening malam, berkontribusi memberikan suara horror bagi yang tidak menyadari jika suara itu berasal dari laci bukan mahluk mistis.
Ia mengambil sebuah buku berwarna gold polos yang dasarnya dipenuhi sprinkle kuning dan dilapisi plastic tebal, wujudnya tak serupa buku biasa melainkan Nampak jelas seperti buku harian.
Ia Kembali duduk di atas Kasur lantai tipis dingin seadanya, menaruh buku diarinya di atas Kasur lalu membuka tutup pena berwarna hitam khas pena harga ribuan di pasar maupun di supermarket terdekat, lanjut ia membuka lembar pertama buku diari nya yang ia simpan selama dua tahun, lalu membuka lembar kedua, ketiga, keempat, kelima, hingga lembar ke lima belas yang isinya tentang kebahagiaan kala itu sebelum akhirnya Allah yang maha membolak balikan hati manusa memutar kehidupan keluarganya seratud delapan puluh derajat.
Tangan mungil dilengkapi kuku runcing dan jari jemari tipis itu mencari lembaran kosong di paling akhir…
Lalu tangannya bergerak mengambil pena yang ia gletakan di samping buku tepatnya di atas Kasur lantai dingin tipis merah seadanya itu, tak sampai disitu … … …
Kini tangannya mulai bergerak menuliskan judul harian hari ini dan esoknya,
1 Agustus 2019 …
00.34 WIA (Waktu Inilah Angan)
Jenggala Vilage, in my bedroom …
- Baru Semoga Tak Kelabu, dengan huruf yang aku rangkai menjadi kalimat berujar impian di masa mendatang alias hari esok yang jelas – jelas bisa di lihat dan di rasakan dengan mata t*******g.
Aku memang tak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan, tapi yang jelas semua ini nyatanya terlepas dari apa yang aku duga dan ku tulis dalam main mapping hidupku secara merata.
Aku kala itu mengharapkan hal Ajaib di usia ke 20 tahun … mengharap jika hidupku barang kali akan jauh lebih baik dari hidupku yang kala itu aku jalani. Dengan kemewahan, kemegahan, kemapanan, kegampangan dalam segala hal yang ku Yakini akan semakin bertambah semuanya …
Tapi ternyata, pada akhirnya …
Tuhan dan takdir yang ia catatkan untuk ku punya peran lain …
Tuhan mengambil alih hidupku yang demikian nyaman namun tetap saja ku maki dan inginku hempaskan lalu ku pinta lagi jauh lebih nikmat dengan melupakan rasa syukur …
Tapi kini aku berusaha tidak tidur lagi …
Aku berusaha melek pada dunia yang ternyata kejam dan penuh lika – liku di luar nalarku
Aku akan berusaha bangun dan melawan arah arus balik hidupku untuk orang – orang ku
Aku akan berdiri tegak melawan segala hal yang berusaha mendorongku jatuh
Aku akan hidup dengan diriku yang berbeda
Dan esok …
Kala Tuhan memberiku kesempatan hidup lagi, demi Engkau wahai Tuhan ku
Aku berucap pada diriku dengan menyanjung semua takdirmu
Aku tak akan lagi menyia – nyiakan kesempatan
Tak akan lagi aku tidur menikmati semua riuh tanpa berbuat baik demikian
esok hari …
Aku akan hidup sebagai Aku tapi tidak dengan kelemahanku …
Gadis itu menutup bukunya rapat, mengusap air matanya yang mengalir pelan sesampainya ia pada baris kata cipataanya.
Setelah menulis sebuah harap, Nasya merasa hatinya jauh lebih plong, lebih merasa bebannya terangkat sekalipun sekecil buih di lautan lepas.
Kini gadis itu bergerak Kembali menaruh buku dan penanya di dalam laci kumal, lalu membaringkan dirinya di atas Kasur lantai kumal sembari mengingat masa – masa yang pernah singgah secara sadar tapi hanya ia tonton tanpa menjadi peran.
Riuh teriakan orang – orang menyeramkan dengan pakaian serba hitam, tambut Panjang berantakan tak tersusun rapih sewajarnya, badan besar berotot penuh dengan tato, tak ketinggalan berbagai macam pria dan Wanita dengan kulit hitam, kulit sawo matang, Wanita berkulit putih, hingga orang – orang yang menggenakan pakaian khasnya orang bangunan, berteriak riuh memanggil nama Azka Falih Izat.
Lelaki penuh charisma itu diteriaki Namanya dengan keras diikuti cacian makian keras di depan halaman rumahnya yang luas hampir sehektar dengan rumput jepang hijau indah melanggang buana.
Tapi kali ini halaman yang sengaja ia kosongkan itu di penuhi jejak kaki kotor orang – orang yang meminta pertanggung jawab pada Azka Falih Izat, sang arsitektur yang ditunduh menggelapkan dan enam proyek yang nilainy hingga menyentuh triliun rupiah.
Di tengah – tengah riuh dan kacaunya suasana itu, seorang gadis justru menari riang di depan kaca, musik menggema begitu keras memenuhi ruangan luas bernuansa eropa klasik, gadis itu tak henti – hentinya menggerakan seluruh tubuhnya tanpa henti mengikuti irama music yang memabukan seluruh otaknya hingga ia tak sadar jika di luar sana yang tak jauh dari jangkauannya tengah terjadi keributan.
‘’Huhhwwww!!!’’ Nasya terus menari mengikuti lagu – lagu hits milik idol korea selatan yang ia gemari bahkan kagumi, ia terus ngikuti Gerakan dari gambar seseorang di dalam layer laptopnya tanpa perduli bising kecil yang masuk di telingannya sampai akhirnya lagu berhenti berputar, tubuhnya berhenti bergerak, nafasnya berlanjut tak seirama bahkan kini ia tengah tesenggal sebab detak jantung yang tidak terkontrol.
‘’Brisik banget si!’’ ujarnya sinis sebab mendengar teriakan macam – macam makian yang entah untuk siapa dilontarkan, tanpa perduli Nasya berusaha tidak menggubris lalu berbaring menatap atap klasik yang super mewah dengan lampu gantung bak kristal.
Setelah sekian lama kurang lebih lebih lima menit, Nasya akhirnya jengah dengan suara teriakan yang berisik tak henti – henti dan ia memberanikan diri menarik knop pintu ke bawah, menarik pintu ke dalam, lalu melangkah dari batas kamar hingga menuruni tangga dengan tergesa.
‘’Ini apaan si berisik banget Bi!’’ tanya Nasya kepada salah satu mbak – mbak yang membantu urusan rumah tangga khusus membersihkan rumah dan memasak.
‘’Ini Non, bapak lagi di demo katanya korupsi uang proyek…’’
Nasya tercengang, ia berdiri mematung tanpa bergerak, berusaha mencerna kalimat yang di lontarkan sang pembantu rumah tangga nya itu, Ia berusaha mengulanginya lagi dalam pikiran hingga berulang – ulang …
‘’Jumlahnya katanya satu triliun lebih neng, ada enam proyek yang katanya uangnya di bawa kabur bapak …’’ lanjut sang mbak – mbak rumah mewah itu .
Ayah??? Panggil Nasya tak percaya tapi masih saja berusaha menyangkal kondisi yang ada.
Ia kemudian berjalan maju lebih dekat ke arah pintu balkon lantai dua, di sana ia melihat ibunya memeluk ayah dari belakang lalu tak henti – hentinya mengucap kata sabar, dan di depan ibunya…
Nasya melihat ayahnya yang gagah itu tengah menangis berusaha memberikan penjelasan, sementara di bawah sana. Di halaman rumahnya yang asri kini berubah mnejadi gelap, rerumput hijau kini menghitam karena getahnya dan sisa pijakan puluhan orang yang membawa spanduk bertuliskan macam – macam makian hingga permohonan penjarakan.
Gadis itu tak memahami situasi hingga akhirnya tak sadarkan diri…
‘’Ck, dulu aku lemah banget hahaha! Sekarang udah kebal sama masalah hidup model begitu ck.’’
Ia tertawa setelah mengingat momen dimana ia pingsan setelah melihat suasana halaman rumahnya yang menjadi riuh penuh orang – orang yang berteriak memaki ayahnya, dan kini gadis itu telah berbaring sempurna menghadap ke arah kanan tak tanggung langsung berhadapan pada tembok dingin bercat warna putih tulang yang kini sudah mengelupas dan tersisa jejak semen – semen abu yang kumal.
Ia memejamkan matanya …
Berusah berbaur pada alam mimpi yang sebentar lagi mengalihkan dunia nyata pada dunia maya …
Nasya tertidur …
Sejenak melupakan hal – hal yang hampir membuatnya depresi, tapi di sudut sisi dunia yang lain, masih berada di Jenggala Village …
Seorang lelaki masih mengenakan setelan formal hitam dengan rambut acak – acakan dan segelas wine anggur di tangannya menatap kumpulan manusia tengah meliuk – liukan tubuhnya di tengah – tengah ruangan gelap alias remang – remang diikuti suara music keras tak lupa lampu kerlap – kelip yang justru membuat kepala lelaki itu pusing.
Wajahnya datar terlihat sangat tak menikmati suasana yang disuguhkan atas pilihannya itu, dengan terpaksa namun menyenangkan ia meneruput wine setitik demi setiitik hingga tenggororkannya terasa panas terbakar sesekali melirik kea rah ponsel yang tergeletak di atas pahanya.
‘’Ck!’’ ia berdecak saat sadar jika di ponselnya tak ada notifikasi apapun selain dari ibunya.
‘’Hei! …’’ Sapa Wanita dengan pakaian tanpa lengan di atas lutut, Wanita yang tak lelaki itu kenal dengan sengaja duduk di atas paha dan menarik dasi pria itu paksa.
‘’Menjauh!!!’’ sarkras Daniel dengan tatapan tajam kepada Wanita yang berusaha menggodanya itu.
‘’Apa kau tidak kesepian Tuan …’’ masih menggoda Daniel, Wanita itu kini harus menerima akibatnya yaitu di dorong paksa hingga hampir terjatuh sebelum akhirnya ia ditangkap oleh tangan kekar milik pria lainnya di club malam.
‘’Jangan sok keren lo, ’’ ujar Wanita itu sebelum akhirnya melenggang jauh dari hadapan Daniel.
Kini lelaki itu membuang asal gelas wine yang sudah tak terisi ke samping kanannya, mengacak rambutnya frustasi dan berjalan sempoyongan kea rah pintu keluar.
Ia menggadahkan wajahnya ke langit yang hari ini sepi dari bintang – bintang, menatap langit dengan wajah yang memerah, sorot mata penuh sendu dan pilu lalu ia tertawa dengan keras, sekeras – kerasnya hingga akhirnya ia tumbang.
Berlutut di atas aspal dingin sebab angin malam.
Tertawa lagi tanpa henti, tertawa sekencangnya hingga tak sadar air mata mulai luruh tanpa diminta atau bahkan permisi kepada sang empunya.
‘’Arghhhhhh!!!!!”’ teriak Daniel keras hingga otot lehernya terlihat jelas.
‘’Hiksss …’’
‘’Puas lo!!!!’’
‘’Puas!!! Sekarang lo puas setelah merenggut semua yang gue punya hah!!!! Puas lo!!’’
Daniel berteriak dengan kencang tertuju pada langit yang hening tak lupa diiringi air mata yang masih setia mengalir.
Kini lelaki itu melepas Tuxedonya hingga menyisakan kemeja dan dasi saja, lalu ia juga segera menarik dasinya dan melepas beberapa kancing kemejanya tapi sudah di hentikan oleh seseorang yang memandangnya tajam dan bersiap memberikan bogeman di wajahnya sebelum akhirnya ia pingsan oleh rasa pusing yang tak tertahankan.
‘’Menyusahkan saja kerjaan mu Daniel,’’ ujar seseorang yang membopong Daniel dengan sekuat tenaga dan membawanya pergi dari kelab malam.
**
Terlambat!
Udah, itu satu kata yang jelas – jelas menggambarkan situasiku sekarang.
Lihat saja kondisiku, baju compang camping dengan rambut yang tak rapih masih belum sempat ia ikat sebagaimana mestinya , sepatu aku pasang tanpa pas di kakiki, berjalan cepat.
Arghhh! Ini semua salah malam!
Dia yang bikin aku nggak bisa tidur semaleman hanya karena mikirin masa lalu yang memalukan ini dan ya pada akhirnya aku bangun terlalu siang padahal ibuku pagi tadi barusan mendapat telfon dari perusahaan tempatku melamar dan ya! Aku lolos tahap kedua,
Jujur, jiwaku begitu senang. Aku mulai mendapat Langkah demi Langkah untuk membawa keluargaku pergi dan memulai lembar baru yang lebih layak dan …
‘’Akh!!!!!!’’
‘’Akhh s****n!!!!!!! Kalo jalan pakai mata bisa nggak!’’
‘’Ngga.’’ Jawab nya singkat sembari membersihkan pakaiannya seolah – olah penuh debu.
‘’Belagu banget ya. Udah nabrak, nggak minta maaf tapi malah berlagak kalo aku ini kotoran,’’ sarkras Nasya berusaha membantu dirinya sendiri berdiri namun sulit sebab kakinya terkilir.
‘’Akh! Kok sakit!’’ tanya Nasya pada diri sendiri yang masih saja berusaha berdiri di depan pria itu.
Lelaki dengan pakaian formal berwarna biru dongker atau navy itu melayangkan kakinya akan melangka pergi namun jeritan Wanita yang masih saja tergletak di lantai parkiran membuatnya terhenti lalu ia mengulurkan tangannya terpaksa sekalipun enggan.
Dengan sigap, Nasya segera merampas uluran tangan itu dan ia berhasil berdiri lalu merapikan pakaiannya yang sedikit terangkat dan membersihkan bagian belakang tubuhnya yang terkena debu parkiran.
‘’Makasih …’’
Daniel langsung pergi tapi lagi – lagi ia terhenti setelah mendengar Wanita yang menabraknya berteriak kesakitan lalu di susul suara tubuh yang bersentuhan langsung dengan aspal.
‘’Auhhh Sialaaaan!! Sialll!!!!’’ teriak Nasya sembari memegang kepalanya kesal.
‘’God! Please, ini hari penting buat aku tapi aku malah!’’
‘’Kesleo??’’
Daniel yang diam – diam mendengarkan langsung memutar tubuhnya lagi – lagi dengan paksaanm lalu melangkah maju ke warah Wanita yang kini sudah menangis sambil memijit kakinya.
‘’Naik …’’
‘’Kemana?’’
‘’Punggung saya.’’
‘’Serius?’’
‘’Satu!’’
‘’Ini serius??’’ tanya Nasya ragu sebab ia sudah ingat jika lelaki yang ia tabrak namun ia salahkan ini adalah lelaki yang ia tabrak kala pertama kali datang ke perusahaan make up.
‘’Ti!!!!’’
‘’Óke WAIT!’’
Gadis itu dengan malu – malu naik ke punggung lelaki gagah di depannya.
Ia menyembunyikan kepalanya di cerkukan leher milik pria ini,
Harum … batin Nasya sambil terus menyebunyikan wajahnya sebab ia dan lelaki yang menolongnya sudah mulai memasuki Lorong perusahaan yang ramai satu arah orang – orang menuju ke kantor utama.
‘’Dimana?’’ tanya Daniel singkat.
‘’Apanya!’’ Nasya membalas kesal.
Ia tak kenal dengan lelaki yang membawanya tapi gadis itu bisa meraskan aura menyebalkan yang spontan membuat nada bicaranya naik.
‘’Turun,’’
‘’Ah… ngga tau huhu’’
‘’Aku juga baru mau nanya ke resepsionis,’’
Tanpa basa – basi, Daniel membawa wanita di punggungnya kea rah resepsionis.
‘’Turun,’’
Nasya dengan susah payah turun dengan berpegangan pada meja resepsionis lalu dengan sergap langsung menanyakan keperluan setelah melihat ke arah jarum jam.
‘’Oke mba makasih banyak sebelumnya dan maaf menganggu,’’ kata Nasya.
‘’Woi!!!!’’ lanjutnya teriak.
‘’Mas!!! Mas mas pake jas biru!!!’’ teriaknya lagi lebih kencang karena melihat lelaki tadi sudah hampir jauh tapi masih mau berbalik dan menaikan alisnya.
‘’Tolong …’’ lanjut Nasya lalu ia tersenyum sumringah saat melihat lelaki tadi mendatanginya sekalipun wajahnya Nampak jengah dan enggan.
‘’Emm … maaf sebelumnya. Jujur, hari ini aku datang sebagai peserta wawancara ke dua.’’
‘’Tidak tanya,’’
‘’Tolong dengarkan dulu… aku mohon ya.’’ Nasya mengepalkan kedua tangannya di depan d**a sembari memberikan ekspresi memelas dan Daniel langsung menaikan kedua alisnya.
‘’Hari ini hari yang penting buat aku, di wawancara ini aku harus bisa mendapatkan pekerjaan untuk keluargaku. Aku mohon bisa tolong gendong aku lagi ya ke depan ruangan CEO, aku janji deh habis itu aku bakalan ngerangkak atau ngesot yang penting anter aku ke sana ya plisss ….’’
‘’Emm, Mba maaf!’’ spontan dari resepsionis memotong pembicaraan Nasya kepada lelaki di depannya sembari mmeberikan ekspresi ngeri tapi Nasya tidak menghiraukan.
‘’Ssst Mba, jangan dipotong kalo ada orang ngomong,’’ sahut Nasya membungkam resepsionis.
‘’Taaa – taapii …’’
‘’Dadahhh!! Makasih mba!!!’’
‘’Tapi dia CEO nya …’’ lanjut mbak – mbak resepsionis amat pelan dengan tegukan air liur yang keras karena sebentar lagi ia merasa akan di pecat.
**