Chapter 14
(Nasya dan Dunia Daniel)
** ** **
Tubuh berat sebab ukuran tubuh yang jauh lebih besar dari tubuhnya menimpa bagian depan awaknya secara tiba – tiba, membuat reflek tubuhnya mundur ke belakang dan menahan seseorang di depannya dengan kedua tangan mungil yang ia miliki agar lelaki di hadapannya juga tidak turut serta terhuyung ke belakang.
Nasya menahan tubuh Daniel yang tiba – tiba memeluknya erat sembari kebingungan, berkas yang ia bawa di dalam map merah dan di tenteng mendadak jatuh berantakan tidak lagi berurutan. Kini ia justru tidak memperdulikan berkas yang dikumpulkan susah payah bersama semua hardfile kepemilikan lainnya, malah ia kini menepuk punggung Daniel setelah terdengar isakan kecil dari bibir yang sudah tak terkatup rapat, dari tubuh yang matanya tak lagi mengerikan bersama tatapannya yang sudah melayu sendu, ia menepuk pelan – pelan pundak lelaki ini, menenangkan dengan cara yang ia bisa tanpa harus mengorek informasi atau privasi pimpinan tempatnya berkerja.
Setelah di rasa Daniel cukup tenang, ia melepas pelan kedua tangannya dari punggung Daniel, menyentuh kepala Daniel beralih ke rahang lelaki itu yang gagah, membawanya ke depan wajahnya lalu tersenyum seraya berkata ...
‘’Apa yang bisa aku bantu Sir ...’’
Pelan suaranya serta lembut di dengar Syahdu, itulah yang Daniel rasakan kala telinganya menangkap jelas kalimat beradu menenangkan.
Tanpa pikir panjang ia kembali membawa Nasya dalam pelukannya, meminta kembali waktu yang terbuaang sebab perkatan yang belum bisa ia jawab.
‘’Sir ...’’ panggil Nasya agak ketakutan sebab dekapan Daniel jauh lebih kencang dari sebelumnya, lalu semakin lama dekapan Daniel terasa ia juga semakin pekat merasakan aroma alkohol yang ugh membuanya ingin muntah di depan lelaki ini sekarang.
‘’Sir ...’’ panggil Nasya ke dua kali mencoba melepaskan dekapan Daniel tapi lelaki itu malah menarik Nasya lebih dalam ke dalam pelukannya.
‘’Sir, anda bau alkohol. Anda mabuk?’’ kata Nasya mencoba melepaskan pelukannya yang justru semakin ia memberontak semakin kuat.
Kini pintu apartemen milik Daniel sudah tertutup, tubuh Nasya terkunci di antara tubuh Daniel dan pintu tepat di belakang punggungnya.
‘’Sir lepaskan tolong, saya tidak suka bau alkohol... Ughh!’’ Nasya mual, mulutnya tak sengaj amengeluarkan suara jika ia mau muntah dan secara reflek Daniel yang merasakan kenyamanan dengan paksa melepaskan dekapannya lalu menatap Nasya dengan senyumnya yang begitu tipis.
‘’Lucu ...’’ bisik Daniel dalam hatinya menatap Nasya yang sudah menutupi mulutnya dengan wajah memerah.
‘’Dimana kamar mandi!!’’ teriak Nasya tidak tertahankan sebab ia sudah di puncak mual yang membuatnya kalang kabut.
Daniel menunjuk ke arah kiri, Nasya sergap berlari mencari diman apintu kamar mandi dan akhirnya ia menemukan lalu mengkunci pintu rapat dan ya mengeluarkan semua makanan yang sudah masuk ke lambungnya, ah si lambung ini kosong kembali sebab bau alkohol s****n itu. Ujar Nasya.
** **
Setelah sepuluh menitan di dalam kamar mandi, Nasya akhirna keluar. Di sisi kanan nya ia menangkap potret dapur yang amat berantakan dengan gelas alkohol yang sudah pecah berserakan di lantai, air yang menggenang di meja makan, bungkus makanan instan yang ada dimana – mana, serpihan makanan ringan yang tercecer di atas meja, pakaian kotor yang di rasa milik daniel satu stel menggantung di bibir kursi.
Tanpa pikir panjang, ia reflek mendekati potret dapur alias gudang itu. Menjumput satu persatu sampah kering lalu mengumpulkannya di dalam kantung sampah atau trash bag dan menepikannya di sisi tembok, selanjutnya ia mulai mengerakan sapu dengan irama yang ia sukai sembari memegang pengki untuk meminimalisir luka karena kini ia tengah membereskan pecahan kaca dari botol alkohol yang nampak mahal itu, setelahnya ia mengelap meja, menyapu sisa serpihan makanan, mengelap kitcen set, kompor, mencuci panci sisa memasak mie instan, dan menyemportkan pewangi agar bau alkholnya menghilang, lalu setelah semuanya selesai ia melepaskan masker yang ia kenakan agar ia sendiri tidak merasa mual.
‘’Huh akhirnya ...’’ Nafasnya berhembus pelan di susul senyuman yang nampak menawan kala matanya kini menangkap potret dapur nyata yang bersih, rapih, indah, harum, serupa dapur di rumah mewah ayah dan ibunya beberapa tahun lalu.
Nasya sudah berubah sebanyak itu, dahulu kala hidupnya masih berada di tangga tertinggi, ia bahkan tidak pernah mencuci sendok bahkan satu buah gelas, kini ia sudah terbiasa mencuci banyak pakaian, banyak sekali gerabah dapur, mencuci selimut, sprei, dan membersihkan rumah yang besar sekalipun. Sebab ia sudah pernah di masa - masa menjadi buruh cuci kala ia belum pindah di desa Jenggala dan masih mencari pelarian hunian dengan orang tuanya.
Hebatnya, Nasya yang jatuh dari tangga tertinggi pada tangga terendah dengan cepat langsung belajar dan mau menyesuaikan keadaan tanpa banyak mengeluh sekalipun setiap malam rasa – rasanya tangisan dari matanya tak pernah berhenti absen. Ia menjadi sosok yang gagah dan kuat saat ini, oleh karenanya semua hal buruk dari Om atau Bramantyo kini sudah bisa ia hadapi, kejamnya persiangan dunia pekerjaan sudah bisa ia sesuaikan, dan lelahnya mengerjakan pekerjaan yang tiada henti bisa ia nikmati.
‘’Sir ...’’
Nasya mencari sosok Daniel kala ia selesai dan keluar dari dapur, berjalan lurus terus hingga memasuki lorong yang tidak sempit namun gelap, gadis itu mencari saklar lampunya tapi tidak bisa menemukan, sehingga ia dengan sengaja menyalakan senter atau flash dari ponsel jadulnya untuk menerangi perjalanan.
‘’Kemarilah ...’’
Kata seorang lelaki di depan jendela yang terbuka lebar, ia menyadari adanya cahaya lain selain dari alam dan ia tahu jika kini hanya ada dirinya dan Nasya.
‘’Kemarilah, Nasya ...’’ Daniel mengajak gadis itu mendekat dua kali sembari menyebut namanya dengan agak pelan.
Nasya yang jaraknya masih jauh mendadak mematikan senter atau kerapa kali disapa flash itu, berhenti sejenak lalu tanpa sadar meneguk ludahnya sulit.
Jantung gadis itu berdetak kencnag, ia takut jika bos nya tengah dalam kondisi mabuk dan melakukan sesuatu yang ia takutkan.
Tapi mau bagaimana lagi, dengan menenteng map merah yang sudah ia bereskan tadi berkasnya dan dengan niat memang untuk membicarakan mengenai dana yang menghilang puluhan miliyar itu ia mendekat sekalipun dengan langkah yang cukup pelan.
Berjalan mendekati Daniel dan berdiri tepat di belakang tubuh gagah itu.
‘’Lihatlah ...’’ kata Daniel mnunjuk ke arah kota yang nampak sangat ramai.
‘’Kamu melihat keramaian itu??’’ tanya Daniel.
‘’Yes Sir ...’’ jawabnya singkat mengangguk pelan meskipun tuannya tidak melihat pergerakan tubuhnya, tapi ia melakukan hal itu sebab reflek kebiasaan.
‘’Apa yang kau pikirkan Nasya??’’ tanya nya lagi membuat Nasya bingung kali ini.
‘’Saya tidak paham maksud anda Sir. Maaf ...’’
‘’Apa yang kau pikirkan tentang keramaian itu?’’
‘’Tidak ada sir... Saya tidak memikirkan apapun selain perusahaan kita saat ini,’’ Ujar Nassya membawa perkerjaan sebab ia agak berpikir negatif jika bosnya tengah memancing soal pekerjaan dan ia berpikir jika akan segera naik jabatan. Ujar Nasya.
‘’Ck, baiklah ...’’
‘’Tapi apa kau tahu Nasya, di semua keramaian yang kini kita pandangi. Aku merasa hidup seorang diri,’’ sahut Daniel membuat Nasya merasa iba.
Gadis itu sengaja tidak banyak berbicara. Menunggu lelaki gagah di depannya melanjutkan kembali kalimatnya.
‘’Aneh sekali bukan, kau bisa lihat hidupku penuh dengan kemewahan. Tapi sampai sata ini aku masih merasa hanya hidup seorang diri.’’