Chapter 13

1127 Kata
Chapter 13 (Dara Alexandria) ** Seketika secara mendadak, dadanya sesak seolah ada batu besar menghantam dadany adengan cepat, merusak jantung dalam tubuhnya hingga termamah, rasanya ia sulit bernafas, matanya berkristal alias berkaca – kaca, tangannya mengepal dengan wajah memerah dan tanpa sadar ia mengerang kesakitan sembari menjerit tangis dalam ruangan kedap suara di apartemen mewahnya. Daniel memukul dadanya berulang kali, mencoba melepaskan ganjalan entah apa yang membuatnya sulit bernafas kala pikirannya melayang pada masa – masa dimana hidupnya amat indah sebab mencintai wanita bernama Dara Alexandria. Ia menangis, menjerit bagaikan lelaki paling lemah di penujuru dunia. Tangisnya terdengar penuh luka, tapi memang itu benar adanya. Daniel selama sepuluh tahun telah menyimpan rindu yang sudah melebam hitam, ia juga menyimpan dendam yang membuncah memerah darah, ia menyimpan kepedihannya seorang diri, ia menyimpan kesakitannya seorang diri sebab tak punya tempat untuk bercerita tetang wanita yang menjadi tumbal keserakahan harta seseorang. ‘’Arghhh!!’’ tangisan Daniel semakin meronta, lelaki itu bahkan ambruk berlutut memegang foto gadis ayu dengan senyumnya yang menawan tak kalah dengan keindahan semesta kala fajar baru saja datang. ‘’Dara ... Maafkan aku tidak bisa menjagamu sesuai janjiku.’’ Kata Daniel terisak penuh tangis. Tangannya yang besar mengusap pipi tipis sebab hanya foto berukuran beberapa milimeter dengan pelan seolah mengusap wajah kekasihnya secara langsung. ‘’Aku merindukan mu Dara ... sungguh. ‘’ ‘’Aku merasa hatiku sudah mati semenjak kamu meninggalkanku, kamu memaksaku hidup dengan hati yang mati seperti ini!!!’’ ‘’Aku tau kalau kamu menatapku dengan tatapan marah dari sana, tapi demi Tuhan aku tidak lagi memperdulikan itu. Marahlah sesukamu dara, sebab aku akan tetap seperti ini karena hanya kamu yang bisa menghidupkan aku kembali.’’ ‘’Kembalilah Dara aku mohon ... aku tidak bisa hidup dengan rindu yang menyengsarakan aku setiap saat. Ini menyiksaku,’’ ‘’Aku bagaikan seseorang diri hidup di padang pasir dan kelak mati seiring berjalannya waktu.’’ ‘’Aku merasakan hal itu Dara, ku mohon kembalilah...’’ ‘’Aku merindukan mu .... sungguh.’’ ‘’Aku merindukan mu Dara...’’ Suara kertas yang dibuka lembar per lembar oleh pemiliknya menjadi pengiring suasana senja. Ia menatap lembaran di halaman tiga puluh delapan dengan tatapan sendu, wajahnya tak lagi garang gagah seperti orang – orang nampaknya, kini ia justru menyendu, setitik demi setitik menitikan air matanya hingga ia jatuh membasahi bagian dari lembaran. Jarinya mengambil lembaran berikutnya, mendorongnya ke arah kiri untuk bisa menatap halaman selanjutnya, dan ya ... Kini Daniel ada dalam lembaran di halaman tiga puluh sembilan. Halaman yang baginya sangat sakral hingga jantungnya berdetak cepat, ia serasa seseorang tengah memaju detak jantungnya begitu cepat melalui rangsangan gambar yang ia tempel di atas kertas putih bersama tulisan tangan unik dan indah, yang jelas tulisan tangan itu bukan tangannya. Lelaki itu mengusap air matanya pelan, mencoba menyelamatkan kualitas foto yang ia tempel dengan wanitanya hingga ia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh di atas foto maupun buku. Tapi tak dapat dipungkiri jika wajahnya masih saja sama serupa ia baru datang ke apartmennya setelah melihat foto dan memeluk wanitanya di lungkup halusinasi yang mengerikan. Hal. 39 12 Januari 2009. Di lembarannya, di atas kertas usang berwarna coklat muda dengan tekstur kasar... Sebuah foto dua orang remaja tengah memeluk sembari saling tersenyum kepada juru kamera. Nampaknya, dalam foto itu kedua remaja tengah berada di sebuah bukit semaberi berpose menunjuk ke arah proyek bangunan di depannya. Jaraknya cukup jauh memang, tapi kedua remaja itu berhasil berpose sembari menunjukan sebuah bangunan yang belum jadi. Itulah deksripsi foto yang di cetak jauh lebih besar dibandingkan foto yang lainnya... Sementara foto kecil – kecil di bawahnya nampak ukuran 3 R, foto remaja tengah berciuman bertengger manis dengan latar belakang bangunan yang belum jadi, sebelah kanannya kemudian ada foto kedua remaja yang nampaknya sepasang kekasih tengah berjalan di tengah – tengah kebun teh, lalu sebelah kanannya lagi foto terakhir sebelum akhirnya berlanjut ke halaman selanjutnya adalah list lima impian yang harus keduanya lakukan. Daniel dan Dara ... Kedua insan yang saling mencintai menuliskan impinannya mulai dari membangun rumah impian kekduanya, menikah di umur dua puluh satu tahun, memiliki anak, membangun sebuah sekolah untuk rakyat desa Jenggala, dan hidup selamanya dalam hati yang saling mencintai ... Daniel mengelus pelan foto dengan isi list impian yang kini pupus, ia mengelus pelan, memberikan rasa cinta dan duka di atas lembaran kertas yang halus. ‘’Kamu mengingkari janji Dara ...’’ ujar Daniel menghembuskan nafasnya berat hingga terdengar di ruangan yang hening. Ia sudah berusaha bangkit selama sepuluh tahun, ia berusaha melupakan Dara, cinta dan cita pertama yang ia yakini akan menjadi akhir perjuangan dan petualangan cintanya tapi apalah daya nyatanya Tuhan berkhendak lain yang pada ujungnya membuat kepribadian lain dalam diri Daniel. Setelah satu minggu kematian Dara ... Daniel tak henti – hentinya meminum minuman keras, tidak makan makanan apapun selain hanya alkohol dan kembali menenggak air matanya yang tak berhenti luruh. Tak hanya menangis dan menjerit pedih dengan alkohol sebagai pelarian, ia juga menghubungi detektif ternama dan termahal untuk menyeldiki kasus kematian kekaishnya yang begitu janggal. Ia benar – benar tidak membuka akses pintu kamarnya baik ibu dan ayahnya atau orang – orang yang hendak menjenguk memberikan rasa bela sungkawa. Sungguh daniel tidak menerima hal itu. Lelaki berusia 17 tahun hampir beranjak ke depalan belas tahun itu merasa jika hidupnya kini adalah mimpi bukan suatu kenyataan, kepergian Dara sangat mendadak membuatnya merasa inilah halusinasi. Rasanya ia tak bisa bahkan tak sanggup berjalan dengan hati yang sudah terbelah dua sebab penghuninya memaksa keluar dengan cara yang mengerikan. Daniel remaja masih terpuruk ... Ia begitu mencintai kekasihnya melibihi mencintai diri sendiri. Sampai akhirnya kematian Dara juga menjadi akhir baginya untuk berperilaku baik, kepedihan membentuk jati dirinya yang baru , rasa dendam dan marah membentuk sisi gelapnya. Hingga di satu tahun peringatan kematian Dara, kasus itu masih belum terpecahkan. Uang tabungan yang ia miliki habis, hingga pembangunan villa yang ia impikan dengan Dara akhirnya berhenti dan tidak dilanjutkan lagi, mimpi kuliah di perguruan tinggi luar negri tidak ia gapai, pemasukan full dari orang tuanya mendadak berhenti semenjak kematian keksihnya karena Daniel memberontakbahkan menjadi sisi liarnya, akhirnya mau tidak mau ia harus bangkit dengan kepribadian lain yang tidak dikenali. Setitik demi setitik membangun usahanya, membangun perusahaan yang kini ia jajaki dan akhirnya ia tumbuh menjadi Daniel yang dua puluh tujuh tahun hidup dengan penghasilannya, hidup dengan jati diri tidak asli alias peranan antagonis bukan keinginannya. Dan kini, Daniel hidup dengan hati yang masih merindukan kekasihnya bahkan enggan untuk mencintai kembali entah karena apa. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas memutar kilas balik dirinya dengan kekasih abadi ujarnya, dengan pelan Daniel berjalan mendekati pintu lalu melihat ke rekaman cctv depan apatremennya dan mendapati dia yang sama. Tanpa ragu lelaki ini langsung menekan tombol open otomatis lalu terdengar suara kunci yang terbuka dan Daniel lalu menarik pintunya ke belakang. ** BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN