Chapter 12

1279 Kata
Chapter 11 (Daniel & Kematian Dara) ** Hari berganti pagi, matahari hilir mudik datang dan pergi, sinar senja tak bosan datang sekejap memberi jeda kedatangan malam, waktu berputar dengan kecepatan sedang hingga cepat di rasa. Kejadian tak mengenakan, melukai, menakuti, hal – hal yang membuat trauma berlalu dengan cepat dengan tak perlu menunggu empunya merana. Bertempat di villa mewah yang dingin masih ia tempati tapi kini gadis itu seorang diri di rumah besar dengan penjagaan ketat sebab takut lelaki b***t menemuinya, sementara Daniel sudah kembali ke kota sebab urusan lain yang tidak boleh dicampur tangan oleh Nasya. Daniel meninggalkan satu sepeda motor untuk aktifitas gadis itu ke kantor, meninggalkan kunci rumah dan rumahnya lengkap bersama perabotannya, ia percaya pada Nasya. Lalu mengerjakan urusannya dengan keluarganya. ‘’Maksud mu apa Daaniel!!’’ teriak seseorang berjarak tiga meter dari tubuh lelaki itu sembari menaruh ke dua tangannya di pinggang. ‘’Ck, gak usah pura – pura b**o pi,’’ jawab Daniel kepada Ayahnya dengan memperlihatkan wajah garang dan kesal. ‘’Kau balik – balik sudah membentak ayahmu, kau pikir kau hidup karna uang siapa!’’ jawab Samuel kepadaa putranya. ‘’Lagi pula aku tidak minta di lahirkan ke dunia,’’ usik Daniel membuat Samuel menatap tak percaya putranya sekaligus musuh bebuyutannya. ‘’Jangan kurang ajar kau!’’ kata Samuel menarik kerah kemeja Daniel. ‘’Bunuh aku pi, silahkan.’’ Jawab Daniel. ‘’Aku tau kau sudah lama ingin membunuhku,’’ jawabnya. ‘’Bunuh saja, supaya papi bisa ambil semua yang aku punya tanpa harus lewat banyak jalur yang menjijikan itu.’’ Bugh! Samuel mengamuk, ia memukul rahang Daniel keras hingga lelaki itu tersungkur lalu sudut bibirnya dengan lancar mengalir cairan merah. Daniel mengusap bibirnya yang terasa perih, rahangnya yang gemeretak rasa sakit kini sudah tak bisa menautkan giginya untuk menahan amarah. Ia berjalan, mendekati ayahnya yang tubuhnya mirip dengannya, gagah, tinggi, rahang yang indah, mata tajam, alis tebal, rambut hitam putih uban, lalu mendorong bahu Samuel dengan jari telunjuknya hingga terdorong ke belakang. Tak hanya samppai di situ , Daniel terus mendorong Samuel hingga punggung rapuh bidangnya telah di makan usia menyentuh tembok dingin. Dengan amarah yang cukup banyak karena Daniel telah banyak menyimpan amarahnya pada lelaki di depannya itu. Ia tersenyum picik bak iblis, menyentuh rahang ayahnya lalu mengatakan hal demikian. ‘’Dengarlah Samuel, ayahku. Jika kau menyakiti ibuku, kau menyakiti wanita yang ada di rumah busukmu itu aku tak segan – segan untuk membunuh mu dengan tanganku, bukan dengan tangan orang lain seperti yang kau lakukan pada wanitaku. Camkan dan perhatikan hal itu Damn Daddy.’’ Ujar Daniel ngeri. Sementara Samuel, lelaki paruh baya itu menengang. Tubuhnya tidak lemas kaku di posisi yang sama sekalipun sang pengancam sudah pergi bahkan punggungnya hanya terlihat beberapa inci saja dari matanya, tapi anehnya rasa takut itu masih menjalar dalam tubuh lelaki paruh baya ini. Keringatny aberkucuran, tenggorokannya terasa sulit bahkan untuk meneguk ludahnya sendiri, ada lagi ... ia menjadi gemetar berdigik ngeri kala otak tuanya mengingat ucapan putra sekaligus orang yang paling membencinya ‘’Aku akn membunuhmu dengan tanganku, tidak seperti saat kau membunuh wanitaku Samuel...’’ Kalimat itu membuat Samuel menegang tak lemas – lemas, ia masih saja tak bisa menghilangkan bayang – bayang kala itu dan tiba – tiba tubuhnya ambruk. Lemas, lututnya menyentuh keramik marmer kantor pribadinya, wajahnya memerah dengan peluh penuh, lalu otaknya memutar klias balik perbuatan b***t yang membuat putranya menjadi seperti ini, selalu memiliki keinginan untuk membunuhnya bahkan menghilangkan jazadnya dari dunia ini. Daniel kecil, duduk di bangku kelas dua SMA melalui ketampanan dan kebaikan hatinya lalu tak pernah tertinggall senyumnya yang menawan berhasil emmikat gadis lugu, polos, pandai, santun, beradab, yang terkenal di sekolah sebagai gadis ikonik dengan kedermawanaan atau dewi kebaikan di sekolah. Ia berhasil memikat gadis bernama Dara Alexandria, gadis ayu dengan bola mata cokelat, hidung tipis dan tinggi kelahiran kota Alexandria di kala senja, dan memiliki gadi situ segenap jiwa serta hati bersihnya. Hari – hari Daniel remaja di penuhi sekuntum bunga hingga seluas samudera kebahagiaan sebab harinya di warnai tawa seorang Dara, wanita cantik dengan berbagai kedermawanan. Tapi rupanya, tak sadar Daniel kecil melupakan satu hal. Ia lupa akan satu janji dengan sang ayah yaitu tidak mencintai gadis desa atau gadis dengan latar belakang keluarga yang tidak sepadan. Dulu, Daniel berani serta sanggup mengucap janji tersebut karena ia berpikir jika di sekolah mewah ini pasti tidak akan ada gadis miskin yang bisa masuk, dan ia duga setelah lulus ia akan bersekolah di luar negri sehingga tidak akan bertemu dengan wanita miskin seperti yang di sebutkan ayahnya kala itu. Kebahagiaan daniel berlanjut hingga ia duduk di bangku kelas tiga SMA, sedangkan dara menjadi salah satu karyawan tetap di pabrik milik ayah Daniel, sampai pada akhirnya Samuel mendengar kabar jika wanita bernama Dara Alexandria merajut kasih dengan putra sang konglomerat, CEO dari perusahaan yang kini Dara tempati. Tak berselang lama, Dara yang lugu dan baik hati tanpa pernah menyakiti orang lain mendapat surat pemecatan secara tidak hormat. Tapi siapa sangka jika gadis itu masih bisa tersenyum sembari bbolak balik meyakinkan Daniel jika itu bukanlah ulah dari ayah Daniel, ia di pecat karena kinerjanya yang tidak sesuai dengan visi misi perusahaan. Atas rayuan Dara, akhirnya Daniel mengiyakan dan remaja kelas tiga SMA itu akhirnya mengurungkan niat untuk memberontak kepada Ayahnya sebab ia mulai curiga jika ayahnya sudah tau tentang keberadaan dara sebagai kekasihnya. Hari berlalu ... Waktu terus bergerak maju tak mau menunggu... Akhirnya, Inilah saatnya Daniel terbang untuk memilih kehidupannya, ia lulus... Dan kini tengah menanti Dara sebagai pasangannya ke promnight hari ini. Dengan setelan tuxedo hitam, rambut di sisir rapih, kacamata kotak indah bertengger di hidungnya, ia menanti kekasih di ujung gerbang tapi nyatanya hingga promnight selesai ia tak kunjung datang. Dengan berani, Daniel mendatangi kos seharga empat ratus ribu satu bulan di daerah kota Senja mengendarai mobilnya dan menempuh waktu tiga puluh menit untuk memastikan jika wanitanya baik – baik saja. Sepanjang perjalanan, Daniel kecil berusaha menguhubungi kekasihnya tapi tak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya ia sampai di depan rumah kos kekasihnya. Entah mengapa, ia merasa ada hal yang janggal. Tumben sekali lampu depan kos Dara di matikan, bahkan terlihat dari jendela mungil di atas pintu jika lampu dalam kamar Dara turut mati. Lelaki itu mengetuk pintu berkali – kali tak ada jawaban, mencoba terus menerus hingga akhirnya memberanikan diri membuka knop pintu. ‘’Daraa!!!!!!’’ Teriak Daniel kala matanya menangkap pemandangan wanita tertidur pulas di atas keramik kusam coklat sembari bersimbah drah yang berasal dari dadanya. Daniel memeluk Dara, emngguncangkan tubuh Dara mengharapkan respon bahkan sampai tuxedo yang ia kenakan berwarna lain bukan hitam sebab sudah bercampur dengan darah milik gadisnya. Tangis Daniel menggema, mendekap kekasihnya di dadanya dengan duka yang amat mendelam, memberikan cintanya dalam pelukan terakhir untuk kekasihnya yang tak lagi bernyawa sebab ulah orang yang tidak ia ketahui. Luka tembak tepat di jantung Dara terus mengeluarkan darah, Daniel berusaha mengehentikannya dengan polos yaitu menutupnya dengan tangan, ia berusaha melakukan cara apapun agar Dara bisa kembali bernafas tapi sayang nya ia terlambat. Ia menemukan Dara dalam kondisi pakaian yang sudah robek, tubuh penuh lebam diikuti luka tembak di bagian dadanya. Sungguh, Daniel menangis sembari terus memikirkan cintanya sekaligus siapa pelaku yang tega merenggut nyawa belahan hatinya. Ia berjanji akan segera mencari pellakunya dan membunuhnya dengan cara yang lebih k**i, tentunya dengan kedua tangannya. Itu lah janji Daniel Remaja ... Hingga umurnya menyentuh angka dua puluh tujuh tahun, Daniel tidak pernah melupakan janjnya dan bertekad membunuh pelakunya kalla waktu sudah di rasa tepat. Kiini, ia sudah bisa bernafas lebih lega saat tim kepercayaannya yang di dalamnya juga ada Zain menemukan pelaku yang membunuh wanitanya dengan k**i, ia hanya tinggal menunggu proses bermain sembari mengumpulkan uang untuk bisa membuktikan pada ayahnya jika ia mampu hidup tanpa uang dari Samuel. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN