Chapter 11

1069 Kata
Daniel mengetuk pintu pelan. Lalu telaten menunggu sembari berdiri dan melihat ke arah kedua kaki jenjangnya. Tok tok tok Kali kedua suara ketukan pintu menghentikan tangis Nasya, gadis itu buru – buru menyeka air matanya, berjalan pelan menuruuni ranjang dan membuka knop pintu ke arah bawah lalu menariknya ke dalam. ‘’Silahkan masuk ...’’ kata Nasya menunduk sedikit mmebungkuk mengizinkan Daniel untuk masuk ke ruangan pribadi lelaki itu. ‘’Huh ... segarnya...’’ ucap Daniel mmebuka jendela kamarnya lalu melihat pemandangan luar yang tersuguhkan langsung suasana alam memabukan diantaranya bukit dan kebun teh sejuk. ‘’Bagaimana urusan kantor,?’’ tanya Daniel basa – basi lalu mendekat ke arah meja kerjanya dimana i macnya masih mati total tak ada tanda – tanda sudah di sentuh oleh seseorang termasuk Nasya. Beberapa waktu lalu, Daniel yang membawa pulang Nasya kehabisan topik pembicaraan, alangkah begitu dengan spontan ia meminta Nasya masuk ke kamarnya dan menyelesaikan pekerjaan kantor lewat i mac yang ada di kamarnya. Dan setelah lewat dari satu jam, Daniel yang duduk di samping kamar dengan bermain ponsel merasa jika dari dalam kamarnya tidak ada tanda – tanda pergerakan seorang wanita yang mengutak – atik i macnya, tapi malah ia bolak – balik mendengar isak tangis seorang gadis. Ia masa bodoh lalu melajutkan bermain ponsel dan berjalan – jalan ke teras rumahnya sebentar dan saat ia kembali betapa terkejutnya kala telinganya masih mendengar suara tangisan seorang wanita dari dalalm kamarnya. Tanpa basa – basi, dengan berani ia akhirnya mengetuk pintu dan berada di posisi saat ini. Pura – pura mengotak – atik i macnya dikala Nasya malah berdiri canggung di belakang Daniel sembari berusaha mengkontrol rasa ingin menangisnya . ‘’Tidurlah di rumahku sampai kamu merasa ingin pulangg lagi,’’ Kata Daniel membuat Nasya memandang lelaki itu bingung, matanya yang menangkap bayangan nyata punggung lebar sontak kembali mengkristal, ia mulai menjatuhkan buliran bening yang mengalliri pipi kanan dan pipi kirinya. ‘’Pulanglah kalau keadaan memang sudah aman, ‘’ ‘’Jangan mengelak, tinggal menuruti apa yang saya katakan sampai ibu dan ayahmu memberikan kabar jika mereka sudah menemukan tempat tinggal yang layak,’’ Nasya menangis, mulutnya terkatup rapat tak bisa mengatakan apa – apa, ia semakin kagum dan tak menyangka. Awalnya pertemuan ia dan lelaki di depannya memanglah meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan bahkan bisa dikatakan sebagai pertemuan yang tidak pernah ia harapkan, tapi seiiring berjalannya waktu yang cepat... Nasya akhirnya merasakan sebuah kehangatan seperti yang di rumorkan. Sebelumnya beberap aorang kantor mengatakan jika CEO perusahaan tempatnya berkerja adalah orang yang sangat dingin dan kejam, tapi ia juga mendengar jika CEO di tempatnya berkerja yaitu Daniel ini bisa memberikan kehangatan yang tanpa kita sadari dan kita mengerti apa alasannya. Kini Nasya tahu, kehangatan seperti apa yang dimaksudkan teman – teman kantornya itu. ‘’Sir ...’’ panggil Nasya lirih tapi tak digubris oleh Daniel. Lelaki itu malah membukak data yang dikirim oleh Zain sore ini. Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, ya memang waktu berjalan tidak lamban bagi orang - orang yang menikmati harinya dengan senang, sedangkan untuk orang – orang seperti Nasya waktu terasa begitu lamban bahkan sangat lamban untuk segera berganti hari. Gadis itu masih duduk di tepi ranjang melihat Bosnya mengutak – atik i mac dan meneglola data lalu menggerakan jari – jarinya di atas keyboard i mac berwarna putih cantik. Tak lama kemudian Daniel memanggil Nasya untuk emndekat, memantau dan memperhatikan data yang ia tunjukan lalu menjelaskan jika di perusahaannya kini akan terjadi krisis besar sebab satu orang rusuh di kantornya, ia secara langsung meminta pada Nasya untuk ikut menyelesaikan masalah ini dan merahasiakannya sebelum akhirnya orang – orang itu tertangkap. Dengan pelan Nasya menganguk mengerti lalu wajahnya menengok ke arah kiri untuk emmandangi wajah tampan Daniel, tapi siapa duga jika Daniel rupanya turut serta menengok ke arah kanan yang sontak membuat wajah keduanya memiliki jarak yang cukuup dekat bahkan Nasya merasakan hembusan nafas Daniel menerpa wajahnya begitu lembut. ‘’Maaf ...’’ ucap Nasya kala tersadar dan langsung memundurkan wajahnya lalu bergerak mundur sembari menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. ** Jantungku , Ah ... Sungguh, ia berdegup terlalu kencang Aku takut jika wanita ini mendengarnya dan membuatku malu di waktu yang bersamaan Ah ... Tanganku Ia gemetar Tubuhku terasa hangat Tak lagi dingin Kala di ingat – ingat aku merasakan hal hangat yang membuat jantungku berdegup kencang terakhir kali adalah saat tubuh hangat wanita ku mendekapku Tapi kini, anehnya aku merasakan degupan yang sama dengan wanita yang ku yakini tak akan mampu menerobos masuk lewat pagar berduri dalam bilik hatiku Ah ... Begitulah nyatanya rasa, ia kadang mendadak saja menciptakan sebuah cinta Tanpa hendak menyusun proposal konfirmasi kedatangannya Ia memang mengesalkan Mendatangkan rasa dilema yang mengasikan tapi juga mengkhawatirkan Sebab akan ada dua kemungkinan di sudut pandang mata Ia akkhirnya menjadi rasa yang memiliki raga Atau ia akhirnya menjadi rasa yang hidup dalam bayang – bayang keinginan tak sampai nyata Ah ... Itulah peliknya rasa cinta Dahulu ... Aku amat mencintai sesosok seseorang Mampu membawaku terbang menikmati nirwana dunia milik semesta Mampu memberiku kehangatan tanpa harus menyentuh kobaran api yang menggelegar besarnya Membuatku merasa nyaman tanpa harus memberikan ku tempat bernilai miliaran harganya Dahulu sekali ... Sebab sangat mencintai Jiwaku menjadi mati Kala kasihku pergi direnggut orang ber raga besar dengan hati mati Jiwaku menjadi hilang, laiknya debu abu letusan gunung berapi Kala kali kedua kekasihku pergi kembali pada Tuhan sebab perlakuan tak punya hati dari perenggut cinta tanpa kasih yang suci... Ujarku, Debaran jantung ini bukanlah cinta Ini hanyalah rasa kagum yang mampir sebentar lalu hendak pergi Aku yakin, degupan jantung yang tak teratur ini akan kembali stabil Sebab aku tak yakin jika kembali mencintai Karena aku terlalu takut memulai kembali lalu kehilangan lagi – lagi , lagi ... Dan ... Lagi ... -Daniel ** Hari berganti pagi, matahari hilir mudik datang dan pergi, sinar senja tak bosan datang sekejap memberi jeda kedatangan malam, waktu berputar dengan kecepatan sedang hingga cepat di rasa. Kejadian tak mengenakan, melukai, menakuti, hal – hal yang membuat trauma berlalu dengan cepat dengan tak perlu menunggu empunya merana. Bertempat di villa mewah yang dingin masih ia tempati tapi kini gadis itu seorang diri di rumah besar dengan penjagaan ketat sebab takut lelaki b***t menemuinya, sementara Daniel sudah kembali ke kota sebab urusan lain yang tidak boleh dicampur tangan oleh Nasya. Daniel meninggalkan satu sepeda motor untuk aktifitas gadis itu ke kantor, meninggalkan kunci rumah dan rumahnya lengkap bersama perabotannya, ia percaya pada Nasya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN