Pasukan elite inti dan Renata masih sangat fokus mencari walaupun sudah beberapa hari mereka mencari, tapi mereka tidak kelelahan.
Mereka kekurangan tidur selama beberapa hari tapi mereka tetap mencari dengan sangat teliti.
Mereka mengecek setiap sudut tempat yang mereka lewati.
Sebenarnya Renata sangat capek mengikuti ritme waktu pasukan elite inti.
Tapi Renata memilih untuk tidak protes dan tetap mencari dengan teliti.
Renata sudah merasa sangat bangga bisa melakukan pencarian bersama pasukan elite inti.
Pasukan elite inti sangat susah untuk ditemui, mereka sangat sibuk.
Tapi, mereka mempunyai reputasi yang sangat baik.
Karena pasukan elite inti sangat terkenal karna dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat.
Semua tugas yang mereka lakukan selesai dengan cepat dan hasilnya sangat memuaskan.
Belum ada yang bisa mengalahkan cepatnya pasukan elite inti bekerja.
Tapi, pasukan elite inti tidak pernah tinggi hati saat di puji.
Karena saat teringat Chloe, mereka selalu ingat bahwa mereka tidak ada apa-apanya dibanding Chloe.
Pasukan elite inti juga terkenal dengan wajah dingin mereka.
Mereka jarang tersenyum.
Alasannya simpel, tidak ada yang bisa membuat mereka tersenyum.
Mereka jarang menunjukkan senyuman mereka di depan orang-orang.
Mereka sering tertawa bersama saat waktu kosong, saat tidak ada tugas.
Sayangnya mereka hanya mempunyai waktu kosong sekitar satu kali dalam setahun.
Dan orang-orang tidak tahu tentang itu.
Yang mereka lihat hanyalah pasukan elite inti tersenyum saat mengetahui batu langka yang menyatu itu.
Karena bagi pasukan elite inti, itu adalah sebuah tanda yang sangat besar.
Dan mereka yakin itu akan menjadi sebuah tanda yang akan membawa mereka menemukan Chloe.
"Eh! Kok ada bau terbakar?" tanya Lyra sambil duduk di sebuah batu yang bagian atasnya datar dan melihat ke sekeliling.
"Masa sih? Oh iya ada bau terbakar!" ucap Crystal sambil duduk di samping Lyra.
Crystal ikut pasukan elite inti mencari Chloe, karena sebenarnya Crystal memang bagian dari pasukan elite inti dan tidak akan ada yang sadar bahwa Crystal pergi karena mereka terlalu sibuk dengan batu langka yang menyatu itu.
"Aku kira hanya aku saja yang daritadi menciumnya," ucap Rinz sambil berjalan mendekati Crystal dan Lyra juga.
"Baunya mulai hilang," ucap Heitz sambil berjalan mendekati yang lain.
"Iya, baunya mulai menghilang," ucap Gradey sambil ikut bergabung.
Tiba-tiba Gradey melihat ke Renata saat mengingat bahwa Renata yang paling rajin dan teliti pada pencarian kali ini.
Lyra, Crystal, Heitz, Rinz ikut melihat Renata.
Renata yang menyadari dirinya dilihat oleh pasukan elite inti, langsung menunjukkan catatannya.
Ternyata Renata memang sudah peka terhadap bau terbakar itu dan mencatat kapan bau terbakar itu muncul dan kapan hilang.
Bau terbakar itu muncul dan hilang tiap beberapa menit sekali.
"Sepertinya memang ada sumber yang menyebabkan bau ini," ucap Renata sambil memberikan catatannya.
Gradey membolak-balik catatan Renata sambil tersenyum.
"Hei! Kalian tidak ada yang mencium bau terbakar?" tanya Gradey ke arah kumpulan pasukan elite inti laki-laki.
"Tidak! Penciuman kami tidak setajam perempuan," jawab Reint sambil duduk di tanah dan bersender di sebuah Batang pohon.
Gradey hanya geleng-geleng lalu mengembalikan buku catatan Renata.
Beberapa menit kemudian, hari mulai gerimis.
Mereka segera mencari tempat berteduh dan akhirnya menemukan sebuah gua tak jauh dari situ.
Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat dulu di dalam gua dan melanjutkan pencarian saat hujan sudah reda.
"Kenapa di gua ini, bau terbakarnya semakin tercium?" tanya Heitz yang resah dengan apa yang diciumnya.
"Tahanlah dulu, kita istirahat terlebih dahulu," ucap Rinz sambil merapikan tempatnya untuk tidur dan menaruh tasnya di bawah kepalanya.
"Lebih baik kita melakukan pencarian ke dalam gua ini terlebih dahulu, aku penasaran dengan apa yang ada di dalam gua ini," ucap Reint sambil bersender di salah satu batu yang ada di gua.
"Aku setuju, tapi tidur dulu untuk sekarang. Kita membutuhkan lebih banyak tenaga untuk melakukan pencarian di dalam gua. Sama saat kita melakukan pencarian di malam hari," ucap Gradey sambil menutup matanya.
Akhirnya sebagian orang tidur.
Dan sebagian lagi berjaga.
Mereka selalu tidur secara bergantian.
Renata sangat senang akhirnya bisa tidur, karena jika pasukan elite inti sudah bekerja, mereka bisa bekerja selama 10 jam atau lebih tanpa berhenti.
Renata sempat sebentar duduk-duduk selama 5-10 menit terkadang.
Renata belum benar-benar bisa mengikuti cara kerja pasukan elite inti.
Bagi Renata, itu sangat sangat melelahkan.
Beberapa jam kemudian, hujan reda.
Pasukan elite dan Renata juga sudah bangun.
Sebelum masuk ke dalam gua, mereka mencari makanan dari hutan untuk memulihkan tenaga.
Setelah makan, mereka bersiap masuk ke dalam.
Matahari sudah mulai tenggelam saat mereka mulai berjalan masuk ke dalam.
"Kamu pimpin di depan," ucap Gradey ke Reint yang sedang mengambil tasnya dan menaruhnya di pundak.
"Lho!? Emangnya harus aku?" protes Reint sambil melihat ke arah Gradey.
"Kan kamu cowok, udah sana," ucap Gradey lalu menjulurkan lidahnya.
Reint hanya tersenyum kecut lalu memimpin jalan masuk ke dalam gua dengan menggunakan sihir pengendalian cahaya yang digunakannya di tangan kanannya.
"Hati-hati! Ada bagian gua yang basah. Jangan sampai terpeleset," ucap Reint sambil terus berjalan.
"Aneh, bau terbakar semakin tercium tapi kenapa masih ada air di sekitar sini. Kalau memang benar ada yang terbakar di sekitar sini, harusnya air-air itu menguap," ucap Crystal sambil memegang bagian gua yang basah.
"Jangan asal pegang, kita tidak tahu itu air biasa atau tidak," tegas Heitz sambil menarik tangan Crystal dari genangan air.
"Hah!? Air itu aman kok, baru saja aku meminumnya. Kamu telat ngasihtahunya sih," ucap Lyra dengan santai.
Heitz dan yang lainnya langsung melihat ke arah Lyra dan memang benar Lyra telah meminum air itu karena bibirnya basah.
"Yaampun!" ucap Rinz sambil geleng-geleng kepala.
Yang lain hanya tertawa.
"Sudahlah, minum saja biar tidak kehausan. Keracunan satu keracunan semua, biar solid," ucap Lyra sambil mengisi salah satu botol dengan genangan air yang ada di situ.
"Solid sih solid, tapi nggak gitu juga Lyra," ucap Gradey sambil mengambil botol minum yang diisi Lyra dengan air dan membuang isinya.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke dalam gua.
Semakin dalam mereka masuk ke dalam gua, semakin tercium juga bau terbakar itu.