PART 4

1508 Kata
"Salah satu muridmu, Elena. Bukankah dia Leandro?" Dabria menatap Ansell yang tengah sibuk memilah bahan makanan. Dapur uji coba sudah sepi, padahal sebelumnya keriuhan jelas terjadi di tempat ini. Ansell tengah membersihkan dapur yang sejatinya tak begitu kotor. "Well, kau lebih tahu. Kau bekerja pada mereka."  "Hmm...pria Leandro jelas sangat superior. Yang aku bingungkan adalah...ketika mereka menikahi wanita-wanita biasa yang...kau tahu...cenderung...bodoh." Dabria tertawa. Tawa yang sinis seakan dia sadar betul dengan dirinya yang cantik dan sangat berbakat. Dabria yang multitalenta. Dabria yang mandiri. Ansell menatap Dabria sekilas. Dabria bahkan lebih pantas menjadi artis dibanding menjadi wanita yang berkutat di dapur. Ansell mengenal Dabria lima tahun lalu Ansell mengenal Dabria lima tahun lalu. Saat itu Dabria sudah se cemerlang sekarang. Hasratnya menjadi terkenal membawanya menjadi wanita yang keras dan sedikit kejam. Dabria mempunyai restoran di beberapa tempat di negara bagian Amerika. Dan dia tak pernah merasa bosan membujuk Ansell untuk bergabung dengannya. Walaupun pada kenyataannya, Ansell tak kunjung mengangguk. "Apa gadis itu bisa memasak? Aku lihat dia bahkan terlihat seperti gadis manja. Apakah dia tak takut kukunya patah? Dia pasti terbiasa dimanja. Ibunya bahkan hanya menjadi Ibu rumah tangga biasa..." "Para pria memiliki tolak ukur untuk wanita-wanitanya, Dabria. Banyak dari mereka menyukai wanita rumahan dan begitu juga sebaliknya. Kita hanya bisa menilai. Dan keputusan ada pada mereka." "Kau sendiri? Apa kau ingin wanitamu kelak adalah wanita rumahan?" Dabria berdiri di samping Ansell. "Hmm...aku belum terpikir. Tapi aku menyukai Ibuku yang energik." Dabria tersenyum. Sedikit merasa menang karena kriteria Ansell paling tidak seperti dirinya. Entahlah..tapi Dabria merasa dia harus waspada pada Elena Leandro. Beberapa kali Dabria menemukan Ansell mencuri pandang pada Elena. "Done!" Ansell menutup kitchen set dan mengetuknya puas. "Kau mau makan malam denganku?" Dabria bertanya sambil meraih tasnya. Ansell terdiam. Dan akhirnya menggeleng.  "Aku ada janji dengan Ibuku untuk video call. Itu semacam...hmm...aku harus meluangkan waktuku hanya untuk dia. Lain waktu, okay." Dabria mencebik kesal. Tapi dia berjalan mengikuti Ansell yang bergegas keluar dari dapur uji coba. "Ibumu seperti tidak tahu bahwa kau butuh bersenang-senang." Dabria bergumam. Kata-kata yang membuat Ansell tertegun. "Aku mencintai Ibuku. Itu saja." "Bukan berarti kau menjadi tak punya waktu untuk dirimu sendiri Ansell." "Aku selalu punya waktu untuk diriku sendiri, Dabria. Dan banyak waktu untuk Ibuku." "Terserahlah. Sebaiknya aku pulang." "Sampai jumpa, Dabria." Ansell berjalan cepat sepanjang koridor. Meninggalkan Dabria yang terpaku lalu berbalik sesaat kemudian. Mulut Dabria terlihat menggerutu sembari dia mencari kunci mobilnya di dalam tas. Rasanya dia kesal pada Ansell. Selalu seperti ini. Ansell yang mengabaikannya. Untuk Ibunya. Ansell sendiri terus berjalan tanpa menoleh lagi. Di ujung koridor sebelum berbelok ke kanan ke arah ruangannya, Ansell melihat kelebat bayang Elena yang tertawa bersama seorang pria. Ansell mengenalnya sebagai Richard Callum. Pemuda tampan yang ramah. Keduanya terlihat berbincang sambil menunggu lift. Ansell terpaku. Elena terdengar tertawa geli karena percakapannya dengan Richard. Dan tawa itu tiba-tiba memudar saat Elena menoleh dan menatap Ansell. Mata mereka bertemu dan Ansell merasa Elena begitu cepat berpaling. Memutus pandangan mata mereka. Ansell kembali berjalan. Mencoba mengabaikan Elena yang terlihat masuk ke dalam lift bersama dengan Richard. Ansell memasuki ruangannya dan membanting map yang dibawanya. Moodnya benar-benar sedang tidak baik. Dia merutuki hatinya yang jungkir balik. Ansell terdiam di depan jendela. Memutuskan bahwa...mengabaikan gadis itu jelas adalah pilihan satu-satunya. Setidaknya itu akan membuat hatinya membaik. Toh gadis itu memang tidak mempunyai perasaan apapun. Boleh jadi mimpi gadis itu kemarin hanyalah mimpi buruk karena Elena tidak menyukainya. Tidak menyukainya sebagai guru, tidak menyukai cara mengajarnya hingga terbawa dalam mimpinya. Ansell menatap kebawah. Terlihat Elena yang memasuki mobilnya diantar oleh Richard yang segera saja melambai. Ansell bergegas mengambil tasnya dan memutuskan untuk pulang. Merutuki dirinya sendiri yang begitu terpengaruh oleh seorang gadis kencur bernama Elena Leandro. -------------------- Pagi hari, kelas begitu hening. Ansell menatap sekeliling. Setelah kuis kelas menjadi hening dengan sesekali para muridnya berbisik. Mereka sedang menekuri laptop masing-masing dan sesekali berdiskusi dengan suara pelan. Tatapan Ansell jatuh pada Elena yang tengah berbicara dengan seorang murid wanita di sampingnya. Elena terlihat menggigit pensil di tangannya dan sesekali mengangguk. Ansell menelan ludahnya kelu. Gerakan sesederhana itu sudah mampu membuat Ansell berdebar. Beberapa hari ini, tepatnya setelah hukuman membersihkan dapur uji coba itu, Elena jelas menghindar dari Ansell. Bahkan untuk bertatap muka sejenak. Elena selalu saja melesat cepat begitu bel berbunyi. Juga kebiasaannya yang bertambah, sering sekali melihat jam di pergelangan tangannya. Ansell mengambil kesimpulan...Elena jelas tidak memiliki rasa apapun padanya. Kalaupun ada, perasaan itu hanya perasaan anak bau kencur yang cepat menguap seiring Elena yang menemukan pria baru. Masih segar dalam ingatan Ansell, bagaimana Elena berbincang dan tertawa geli bersama Richard Callum. "Baiklah, persiapkan materi kalian untuk praktek minggu depan. Akan lebih baik kalau kalian mencobanya di rumah sebelum presentasi kita." Ansell beranjak tepat sepersekian detik sebelum bel berbunyi dan pandangannya langsung tertuju pada Elena yang melesat cepat seperti biasanya. Elena bahkan mengabaikan panggilan Christy, sahabatnya yang terseok menyusulnya. Selalu seperti itu...  ------------------- "Aku ada janji dengan seseorang, El. Apa kau tidak apa-apa berbelanja sendiri?." Christy menatap Elena sekilas. "Tidak masalah kalau seseorang itu Kakakku yang paling tampan, Chris..." "El..." "Jangan kau kira aku tidak tahu, Christy sayang. Pergilah. Aku baik-baik saja." "Aku akan cerita nanti El..." "Tentu. Bye. Cepatlah. Jangan sampai Justin lama menunggu." Elena menepuk bahu Christy yang segera saja melangkah keluar dari halaman sekolah. Elena sendiri menghampiri mobilnya dan meminta Will, pria tua yang sudah menjadi supirnya sejak kecil, mengantarkannya ke sebuah supermarket. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Will...apa kau menyayangiku?" William O'Donell, supirnya tersenyum dan melihat Elena dari kaca spion. "Tentu saja El. Sama seperti aku menyayangi cucuku." Cucu Will seumuran dengan Elena. Mereka sudah beberapa kali bertemu saat Elena menerima ajakan Will untuk makan siang di rumahnya yang nyaman. Dan sup ayam Mrs O'Donell jelas salah satu yang terbaik. Elena tertawa pelan. "Kalau ada pria dewasa membuatku menangis, apa kau akan menghajarnya?" William, nama yang sama dengan Ayahnya dan mereka kadang menertawakan itu, tertawa. "Tentu El, sayang. Apa ada pria dewasa yang membuatmu menangis akhir-akhir ini?" "Hmm...tidak. Maksudku...belum. Hanya saja aku merasa aku akan menangis kalau...kau tahu?." "Aku mencium bau seseorang yang sedang jatuh cinta tapi berusaha menyangkal perasaannya sendiri." Elena menghela napas keras. "Dad, terlalu sibuk untuk mengetahui hal ini, Will." "Karena Daddy--mu memang harus sibuk El. Bisnisnya bukan main-main. Hei...kau akan selalu punya aku untuk mendengarkanmu, El." "Terimakasih Will. Aku menyayangimu dan kuharap keinginanmu untuk pensiun bisa kau pertimbangkan lagi. Paling tidak sampai aku bahagia." Elena dan Will tertawa hingga mobil memasuki sebuah pelataran parkir supermarket. "Pulanglah, Will. Istirahatlah. Aku akan pulang naik taksi." Will jelas tak membantah. Dia melajukan mobil keluar dari halaman parkir supermarket itu setelah memastikan Elena masuk. Elena sendiri terlihat langsung sibuk berjalan di lorong sayur dan buah. Beberapa kali dia terlihat berhenti dan mengambil barang yang dia butuhkan dan memasukkannya ke troli. Elena terbiasa membaca secara mendetil setiap barang yang dibelinya. Sekarang dia terlihat berdiri di depan display mushroom. Dia sibuk membaca dan mencari jamur khusus untuk sup. "Yang seperti ini yang kau butuhkan "Yang seperti ini yang kau butuhkan..." Sebuah tangan besar terulur tepat dari belakang Elena. Tangan dengan otot yang terlihat seksi. Menandakan betapa sang pemilik tangan adalah pekerja keras. Elena terpaku. Wangi kayu-kayuan menusuk indera penciumannya membuat Elena menahan napas lalu menghembuskannya pelan. Kuduknya terasa meremang saat seseorang itu justru sangat dekat dengannya dan napas hangatnya menerpa tengkuk Elena. "Jamur ini tidak bisa di masak terlalu matang karena teksturnya akan hancur. Berapa yang kau butuhkan?" Suara bariton halus milik Ansell menyapa telinga Elena. Dan Elena yakin, aksen Perancis pria di belakangnya, yang merapat tepat di belakangnya ini sangat seksi. Elena tak menjawab. Dan Ansell memasukkan dua kotak besar jamur untuk sup ke dalam troli Elena. Juga dua lagi untuk dirinya sendiri. Elena hanya mengangguk dengan gerakan kaku yang membuat Ansell tertawa pelan. Elena terlihat menggemaskan dan Ansell berpikir...apakah gadis itu kaget dengan kehadirannya? "Apa lagi yang kau butuhkan, El?" Elena menoleh. Mendapati jarak wajahnya yang sangat dekat dengan Ansell. Hingga Elena menyadari rambut halus di rahang pria itu sangat menawan. Juga bibir Ansell yang terlihat memerah alami. Juga mata hijau yang sanggup membuat wanita manapun melemparkan dirinya dengan sukarela ke pelukan Ansell.  Juga mata hijau yang sanggup membuat wanita manapun melemparkan dirinya dengan sukarela ke pelukan Ansell Dan dia pria dewasa yang menganggapmu tak lebih dari gadis bau kencur, El. Rasanya Elena ingin mengucapkan bahwa dia membutuhkan Ansell untuk memeluknya. Tapi yang keluar dari mulut Elena adalah... "Aku...butuh brokoli..." "Baiklah. Brokoli...hmm...aku melihatnya tadi. Di sebelah sana..." Ansell menunjuk gerai sayuran segar dan benar saja, Elena menangkap adanya brokoli segar di sana. Dia mengikuti Ansell dan lagi-lagi Ansell yang mengambil brokoli dan meletakkannya di troli Elena. Elena melirik dengan ujung matanya, Ansell terlihat sangat menawan dengan setelan apapun. Termasuk sekarang saat dia masih dengan baju formalnya. Lengan kemeja hitamnya digulung hingga siku. Ansell berdeham memutus keterpakuan Elena. "Sudah cukup? Atau ada lagi yang kau butuhkan?" Lagi-lagi Elena membatin bahwa dia butuh Ansell memeluknya. "Sudah cukup, Mr Giuliano." Ansell terpaku. "Kau bisa memanggil nama depanku karena kita tidak sedang di kelas, Elena." Elena hanya mengangguk dan berpikir...jadi sekarang Ansell bertindak sok ramah atau apa? Ansell berdiri menghadap ke Elena sambil tetap memegang troli belanjanya. Elena yang melangkah pelan, berhenti. Saat Elena mendongak, yang terlihat adalah Ansell yang menatapnya lembut. "Bolehkan aku bertanya sesuatu, El? Elena, dia menyukai Ansell memanggilnya El. Pasti sangat seksi saat Ansell mengucapkannya saat mereka b******u atau... Dan Elena mengangguk. Lalu hening dengan keduanya yang masih saling tatap. Dengan Elena yang kian canggung. "Apa kau berkencan dengan Richard Callum, Elena?" Dan Elena merutuk dalam hati. Pertanyaan macam apa itu?   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN