PART 5

1541 Kata
Elena terpaku. Lalu menunduk memutus pandangannya pada Ansell. Rasanya Elena ingin tertawa. Pertanyaan itu...bukankah tidak terlalu pantas diucapkan pria dewasa seperti Ansell? Tapi sialnya...Elena tergelitik dan tergoda untuk menggoda Ansell. "Hmm...well...Rich sangat menarik. Dia baik. Dari keluarga yang baik dan mapan. Dia juga sudah pernah bertemu Ayahku." Elena mengangguk membenarkan kata-katanya sendiri. Tangannya terulur mengambil seikat daun seledri dan memasukkannya ke troli. Dia...tidak berniat sedikitpun menatap Ansell dan segala rupa perubahan wajahnya saat mendengar jawabannya. Lalu yang terdengar adalah helaan napas pelan dari Ansell. Dan Elena yakin, dia rela sekarang ini mengenakan baju Cheer Leader lengkap dengan atribut berupa pom-pom lalu dia akan meneriakkan sebuah yel-yel di lapangan. Ansell kembali menghela napas pelan. "Dan kalian berkencan?" "Humm....kami menikmati waktu menonton bioskop. Aaah...seperti kau dan Miss Dabria waktu itu. Cukup menyenangkan kurasa." Dan Ansell rasanya ingin memukul sesuatu. Tapi yang terjadi adalah dia yang mencengkeram trolinya erat. Elena terlihat menjawab pertanyaannya dengan mengabaikannya. Bahkan Elena terlihat memasukkan kentang ke trolinya. "Well...syukurlah. Kalian memang harus menikmati hari. Kalian sudah terlalu sibuk dengan sekolah." Elena terlihat mengangguk. Lalu terlihat Elena yang menyibak rambutnya dan meletakkan rambutnya ke samping. Leher putih dan jenjang menyapa penglihatan Ansell. Mata Ansell menjelajah. Menemukan bahwa Elena memiliki tubuh luar biasa bagus dengan kulit bersinar. Elena yang memakai baju lengan pendek, memperlihatkan beberapa titik di tangannya yang terkena cipratan minyak. Dan sejauh Ansell tahu, Elena tak merasa terganggu dengan hal itu. Dia membiarkan lukanya membaik dengan sendirinya. Tidak seperti Dabria yang akan dengan segera mencari obat oles penghilang luka. "Aku menikmati hariku, Ansell. Juga sekarang ini. Terimakasih sudah membantuku memilih. Aku...memang agak bingung dengan varian jamur itu. Terimakasih banyak. Aku...duluan ya... Ansell tertegun. Belum sempat dia menjawab namun Elena sudah melangkah cepat. Mendorong trolinya ke arah kasir. Ansell menatapnya tanpa berkedip sambil tangannya memasukkan kentang. Tak berapa lama, terlihat Elena yang keluar dengan dua kantong belanjaan. Baiklah. Jelas ini siang hari dengan suasana hati yang kurang baik. Jawaban Elena menyiratkan bahwa memang dia berkencan dengan Richard Callum.  ------------------------------------------------- Tawa Elena meledak saat dia masuk ke dalam taksi. Membuat supir taksi ikut tertawa. Gadis yang baru saja naik ke dalam taksinya jelas membawa euphoria yang menyenangkan hingga kebahagiaannya menular. Supir taksi tua itu juga sempat melihat bagaimana gadis itu sebelumnya menolak menaiki taksi dengan supir seorang anak muda, dan menggantinya dengan taksi yang dikemudikannya. "Apa kau bisa menyanyi, Sir..." Supir taksi itu terlihat gembira. "Aku bisa menyanyikan beberapa lagi seriosa. Apa Nona tidak keberatan." "Tentu saja." Elena menepuk bahu pria tua itu. Taksi melaju membelah jalan raya dan pria itu mulai menyanyi. Beberapa saat kemudian Elena mengendikkan bahu dan menipiskan bibir tak percaya. Suara pria itu luar biasa indah. Seperti seorang penyanyi sopran yang sangat bertalenta. Elena terhanyut pada nada-nada tinggi dan rendah yang keluar dari mulut pria itu. Pria itu menyanyikan tiga lagu dalam alunan seriosa yang memukau. Hingga Elena tiba di depan rumahnya. "Apakah kau seorang artis, Sir? Ya Tuhan, kau sangat berbakat." "Aku menyanyi di sebuah opera beberapa tahun lalu, Nona. Di Spanyol. Itu bertahun lalu sebelum aku memutuskan untuk pindah ke negara ini." "Bisakah aku meminta nomor telponmu? Suatu hari aku pasti membutuhkan suaramu." Elena tertawa. "Tentu, Nona." Pria itu mengulurkan sebuah kartu nama dan Elena menyimpannya di dalam tas. Elena mengulurkan uang membayar ongkos taksinya. Menolak dengan halus uang kembalian yang diulurkan pria itu. Uang yang tak seberapa dibanding dengan talenta yang dimiliki pria itu. "Sampai jumpa, Uncle." Elena dan supir taksi tua tertawa. Di manapun Elena berada, dia selalu mampu membawa ceria bagi siapapun. Elena melangkah memasuki halaman rumahnya. Masuk dan menutup pintu dengan kakinya. Suasana rumah sangat sepi. Ibunya masih mondar mandir ke mansion karena Neneknya yang kurang sehat. Otomatis hanya ada dia dan dua asisten rumah tangga juga seorang penjaga keamanan di rumah sebesar ini. Elena membongkar barang belanjaannya di dapur. Mengisyaratkan pada asisten rumah tangga yang tengah mengelap pantry dapur untuk beristirahat. Sejenak Elena terpaku. Lalu bibirnya menyunggingkan senyum. Terbayang wajah Ansell yang terlihat...kesal? Tawa Elena keluar tertahan. Dia mencoba mengingat lirik lagu seriosa yang dinyanyikan oleh supir taksi. Sambil berdendang dia mulai mengupas kentang dengan cekatan. Memotongnya dadu kecil dan merendamnya di baskom berisi air. Elena melakukan hal yang sama pada jamur khusus untuk sup yang di pilih oleh Ansell. Hati Elena berdesir hanya dengan mengingat tangan Ansell dengan otot indahnya. Elena terus bergerak lincah menyiapkan bahan sup sambil berdendang. Harinya cukup menyenangkan dan menggoda pria tua jelas membuatnya bergairah.... ------------------ "Apa aku pantas ber lega hati sekarang? Kau terlihat sudah bisa mengabaikan Mr Giuliano." Christy menatap Elena tajam. Dan hanya gumaman yang dia dapat dari Elena. Elena bahkan terlihat sibuk dengan catatannya. "Chris, kurasa aku terlalu banyak membubuhkan lada pada sup yang aku coba kemarin. Rasanya cukup enak tapi aroma ladanya terlalu kuat. Kira-kira...berapa banyak aku harus menguranginya?". Elena mengulurkan buku catatannya. Buku catatan tebal yang Elena punya semenjak menginjak kelas pertama. Sedikit lusuh tapi Elena menyukainya. Bahkan teman-temannya sering meminjam catatannya dan merasa terbantu karenanya, karena Elena sangat detil. Segera saja Christy larut dalam perbincangan dengan Elena. Mereka menakar kembali ukuran yang tertera pada catatan Elena. Duapuluh menit kemudian mereka merasa cukup puas dengan hasil diskusi mereka. "Aku masih menyisakan setengah bahan sup. Kita coba besok?" Christy terlihat mengangguk. Matanya kembali menatap Elena penuh selidik. "Aku mengabaikannya, Chris. Tapi bukan berarti aku tidak lagi perduli. Aku tetap penasaran pada pria tua itu." Christy terlihat meluruhkan bahunya. Dia khawatir dengan Elena. Dia sudah menceritakan hal ini pada Justin dan Christy jelas tidak setuju dengan pemikiran Justin. Justin terlihat tenang. Bahkan mengatakan bahwa Elena memang harus mendapatkan pria dewasa. "El...pertimbangkan Rich." "Rich sudah bertunangan asal kau tahu. Dengan teman Sekolah Dasarnya. Mereka manis." Christy meniupkan udara dari mulutnya. Jelas sekali Elena belum menyerah. "Tapi kau mengabaikannya, El." "Kadang, pria tua terlalu banyak berpikir dan tidak peka pada perasaan seorang perempuan, Chris. Dan salah satu cara untuk membuatnya peka adalah dengan mengabaikannya." Elena mulai usil menyingkap syal yang dipakai Christy membuat Christy tergelak lalu cemberut. "Oh Tuhan...Justin ganas sekali. Tidak adakah tempat yang tertutup lainnya yang bisa dia jarah. Ini jelas membuatmu kesulitan." Christy memekik tertahan. Pipinya merona karena adik Justin dengan tak tahu malu membongkar syalnya. Dia dan Justin sedang hangat-hangatnya. Jadi... "Jangan hamil dulu, Chris. Atau aku akan mengebiri dengan tanganku sendiri milik Justin." Christy memekik dan terbengong tak percaya. Menatap Elena yang beranjak. "El...!!!." ------------------------------------------- Presentasi yang memuaskan. Sup dengan takaran bumbu yang pas setelah beberapa kali dalam beberapa hari mencoba di rumah. Elena dan Christy mendapatkan nilai memuaskan kali ini. Kelas bubar dengan murid yang sangat berisik. "Kau mau pulang atau..." "Justin mewajibkan aku makan siang dengannya. Aku bahkan ingin bersamamu, El. Aku serius." "Tidak apa-apa, Chris. Pergilah. Aku harus ke toko buku. Aku menghilangkan buku panduan pelajaran Miss Rosi. Aku sudah mencarinya kemanapun dan aku tidak menemukannya." "Loker?" Christy mengimbangi langkah Elena. "Dan tidak ada di loker." Elena menghembuskan udara melewati mulutnya dan menghempas anak rambutnya. "Baiklah. Pergilah, Chris. Will sudah menungguku. Pasti Justin juga sudah menunggumu." Christy melambai. Meninggalkan Elena yang berdiri di undakan sambil membetulkan letak tasnya. "Apa kau kehilangan sesuatu, Miss Leandro." Elena sontak menoleh. Ansell berdiri di sampingnya dengan tas selempang. Hendak pulang sama sepertinya. Elena mengangguk mengiyakan. "Buku panduan pelajaran Miss Rosi kalau tidak salah?" Elena mengangguk sekali lagi. Mau tidak mau merasa heran darimana Ansell tahu. "Ada padaku. Di apartemen. Kau mau mengambilnya?" Elena terdiam. Ansell menatapnya lekat. "Baiklah. Buku itu agak sulit dicari jadi aku memilih mengambilnya." Tak berniat bertanya kenapa buku itu ada pada Ansell. Ansell tersenyum. "Aku akan bilang pada Will." Elena melangkah dan Ansell mengikuti. Elena berbicara sejenak dengan Will dan Will mengangguk hormat. Tatapan pria tua itu menyelidik pada Ansell membuat Elena tersenyum geli. "Apa salahku? Pria itu menatapku dengan tatapan membunuh!" Ansell melancarkan protes sesaat setelah mobil Elena dan supirnya melaju keluar dari halaman parkir sekolah. "Dia menyanyangiku." Elena menjawab singkat dan Ansell menggeleng tak mengerti. "Kau tak keberatan kalau naik motor?" Elena menggeleng. Jelas dia tidak pernah keberatan dengan jenis kendaraan apapun. Dia tidak pernah mempermasalahkannya. Mereka berjalan ke parkiran dan Ansell dengan cekatan memakaikan Elena pelindung kepala. Ansell menyalakan motornya dan membawa Elena melaju keluar dari halaman sekolah. Sepasang mata menatap kepergian Ansell dan Elena sambil mengambil sebuah kunci mobil dari dalam tas tangannya. Dabria. Bergegas melajukan mobilnya mengikuti laju motor Ansell. Dengan cekatan dan jarak yang tidak terlalu mencolok Dabria mengikuti motor Ansell. Begitu untuk beberapa lama. Hingga sampai di sebuah perempatan dan dia berbelok. Dabria merutuk kemacetan yang menjebaknya. Sangat panjang dan dia masih dapat melihat Ansell yang melakukan gerakan menyelip ke sana kemari hingga Dabria tertinggal sangat jauh. Dabria memukul setirnya. Sementara itu Ansell melajukan motornya memasuki basement apartemennya. Lalu menarik tangan Elena menghampiri lift. Mereka masuk bersamaan menuju apartemen Ansell di lantai 7. Begitu tiba di depan pintu, Ansell menekan kombinasi nomor apartemennya. Elena berjinjit dari balik bahu Ansell dan tersenyum. Memorinya bergerak cepat seiring tatapan matanya yang jeli. Ansell menarik Elena masuk dan untuk sesaat Elena berpikir Ansell akan mencumbunya seiring dengan pintu yang tertutup kembali. Seperti di dalam film-film romantis. Elena membayangkan bagaimana Ansell akan memepetnya ke tembok dan mencium bibirnya dengan rakus. Dan itu tidak terjadi...belum... "Aku akan memasak untukmu. Duduklah." Ansell meletakkan tasnya di nakas. Melepas jaket dan kemejanya. Menggulungnya dan dengan cekatan bergerak di pantry. Mulai memasak dan Elena melihat Ansell...lagi-lagi begitu seksi. Dalam tigapuluh menit, Ansell berhasil membuat pasta yang menggugah selera. Wangi daging cincang yang sangat khas membuat Elena tersenyum. Senyumnya tak pudar saat Ansell menarik satu kursi di meja makan untuknya. Namun senyum Elena pudar saat... "Bolehkah aku bergabung?" Ansell menoleh. Juga Elena. Dabria muncul dengan keringat yang mengalir melewati belahan dadanya yang menyembul di balik blouse putih ketatnya. Satu yang terpikir oleh Elena. Bahkan Dabria Scott jelas mempunyai nomor kombinasi apartemen Ansell. Dan itu bermakna sesuatu... **      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN