PART 6

1542 Kata
Elena menelan ludahnya. Melirik pada Ansell yang terpaku. Entah apa yang ada dalam pikiran Ansell, tapi pria itu terlihat menghela napas pelan. "Dabria..." "Aku tidak tahu kau ada tamu, Ansell sayang. Aku sudah biasa menerobos kemari bukan? Jadi...untuk apa wajah kagetmu itu?" Dan dengan percaya diri Dabria duduk. "Aku hanya membuat makan siang untuk dua orang..." "Maaf, Sir bisakah saya mendapatkan buku saya sekarang?. Ada yang terlupa. Saya harus menemui Nenek saya. Dia agak kurang sehat akhir-akhir ini." Elena mendorong piringnya dan beranjak. "Oh...kau harus segera berangkat kalau begitu. Nenekmu membutuhkanmu. Dan sudah sepantasnya memang seorang cucu berlaku seperti itu bukan?" Dabria duduk dengan tak tahu malu. "Elena. Aku akan mengantarmu." Ansell beranjak dan Elena menggeleng. "Buku saya, Sir? Dan tidak perlu mengantar saya. Saya sudah cukup besar untuk tersesat. Lagi pula, pasta nikmat selagi hangat." Dabria mengangkat tangannya setuju. Ansell menghela napas lelah. Dia beranjak ke kamarnya. Mengambil buku Elena yang sejatinya tertinggal di perpustakaan dua hari lalu. Ansell menyerahkannya pada Elena yang sudah menunggu di pintu. "Terimakasih, Sir. Sampai jumpa." "Aku akan menggantinya, El. Makan siang. Lain waktu?" "Tidak perlu merasa tidak enak, Sir. Selamat siang." Elena keluar diiringi tatapan Ansell yang jelas-jelas merasa tidak enak. Elena melangkah sepanjang lorong dan berdiri di depan lift dan menenkan tombol turun. Masih dirasakannya, Ansell yang menatapnya. Elena bergegas masuk saat pintu lift terbuka. Elena terdiam. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Yang dia butuhkan sekarang adalah berendam air dingin dan menyegarkan pikirannya. Elena melangkah cepat keluar dari halaman apartemen dan menaiki sebuah taksi. Elena berdeham. Berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian yang baru saja dihadapinya. Dabria yang dewasa dan seksi. Dabria yang berani. Dabria yang sangat seksi dengan belahan dadanya yang dewasa. Selamanya Ansell tidak akan pernah meliriknya. Kemungkinan Elena bersama Ansell sangat kecil. Kalaupun itu terjadi, akan selalu ada Dabria di dalamnya. Dan itu...menyebalkan. Elena sudah berada di dalam taksi yang membawanya pulang. Dia menghempaskan punggungnya ke sandaran mobil. Meniupkan udara dari mulutnya. Berpikir betapa tidak mengenakkan semua ini. Ansell benar-benar mempengaruhinya. Banyak sekali waktu tersita hanya untuk memikirkan pria itu, yang jelas-jelas memilih wanita lain. Elena melemparkan tatapan matanya keluar mobil. Jalanan sangat padat dengan taksi berwarna kuning mendominasi. Manusia tampak tumpah ruah di banyak tempat karena memang ini waktunya makan siang. Elena menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah terlalu terlambat untuk mengisi perut, dan itu jelas bukan kebiasaannya. Dia akan mengalami beberapa kesulitan kalau sedikit saja terlambat makan. Lagi-lagi Elena menghela napas panjang. Elena melangkah pelan memasuki rumah sesaat setelah taksi berhenti dan dia membayar ongkosnya. Elena melemparkan tasnya ke sofa ruang tengah. Juga buku panduan pelajaran Miss Rosi yang entah mengapa harus Ansell bawa pulang. "El...terlambat sekali. Makanlah dulu." Elena menoleh dan mendapati Ibunya berjalan menghampiri. Elena langsung memeluk Ibunya dan sang Ibu tentu saja mengernyit heran. Autumn membawa Elena duduk. Sesaat mereka terdiam. "Mom...aku butuh pelampiasan. Apa Brittany Jones sudah terlihat datang?" "El...ada apa? Dan...Britany bukan samsak yang bisa jadi pelampiasanmu." "Apakah wajar kalau aku merasakan perasaan suka pada pria berusia 30 tahun, Mom?" Autumn terdiam. Dia merasa harus bicara dengan William tentang Elena. "Tidak apa-apa. Asal dia pria 30 tahun yang pantas. Pria yang bisa menjagamu." "Aku belum memikirkan hal sejauh itu. Mom berbicara seakan aku akan menikah sekarang atau dalam waktu dekat. Autumn tertawa. "Carilah tahu sampai kau benar-benar yakin dengan perasaanmu. Sekarang makanlah. Jangan mengambil resiko kau akan sakit setelah ini." Elena beranjak. Berpikir sekilas. Dia anak gadis yang butuh Ayahnya sekarang. Dan Ayahnya tidak ada. Bahkan saat hari libur. Elena meregangkan tubuhnya. Menatap Ibunya yang segera saja sibuk menyiapkan makan siangnya yang sangat terlambat. Kadang Elena merasa jengkel dengan lambungnya yang tak pernah bisa diajak telat makan. Elena duduk menopang dagu. Mulutnya terasa pahit. Menjadi tidak berselera. Tapi tangannya terulur. Menyuapkan makan siang yang sudah Ibunya siapkan. Kembali angannya teringat Ansell. Dan Dabria...apa yang mereka lakukan setelah makan siang? --------------------------------- "El. Telat makan siang lagi?" Christy yang sudah terlalu hafal dengan gesture tubuh Elena menatap khawatir. "Tidak apa-apa Chris." "Sudah minum obat?" "Kau calon Kakak ipar yang baik." Elena tertawa pelan. "Jangan bercanda. Aku akan bilang Justin..." "Jangan. Dia bawel." Elena menggeleng dan menangkap tangan Christy yang meraih ponsel. Christy menghela napas. Memasukkan lagi ponselnya dan ikut menyandarkan kepalanya ke meja kelas. "Ada apa, El..." "Ansell dan Dabria...aku yakin mereka bukan sekedar teman. Kalaupun teman, pasti ada sesuatu di antara mereka. Aku rasa...mereka partner." Elena bergumam lirih selayaknya wanita yang sedang mabuk minuman keras. "s*x?" Christy menatap Elena tak percaya. Elena mengangguk. Kepala mereka masih bersandar pada bangku. "Atas dasar apa analisamu itu?" "Dabria punya nomor kombinasi apartemen Ansell...apalagi yang kau pikirkan setelah tahu itu? Apa kesimpulan yang akan kamu ambil?." Elena masih berbisik seiring semakin banyaknya murid yang masuk kelas. "Kita bicara lagi nanti. Dua menit lagi Miss Rosi datang. Bagaimana buku panduanmu?" "Aku mengambilnya di apartemen Ansell sesaat setelah kau pergi." Elena menegakkan badannya dan berbisik di telinga Christy. "Kita memang harus bicara, El. Harus." Suara keras Miss Rosi membuat Elena dan Christy terfokus ke depan. Setidaknya mereka mengerti, pelajaran bukan hal yang main-main. -------------------------------------- Elena menyeret langkahnya. Setelah mendengar sesi ceramah dari Christy tentang...dia harus melupakan Ansell Giuliano, Elena berjalan di sepanjang trotoar. Dia enggan naik taksi. Dia enggan naik kendaraan umum. Elena bahkan menelpon Will agar tak usah menjemputnya. Elena hanya ingin berjalan. Lalu berada di keramaian yang bising. Langkahnya terhenti saat sebuah motor berhenti di sampingnya. Elena menoleh dan kembali berjalan. Kali ini lebih cepat. Mengabaikan panggilan Ansell yang mengangkat tangannya pasrah. Elena merutuki dirinya yang suka membaca novel romantis. Yang akhirnya mendoktrin dirinya sendiri. Bahwa dirinya kelak menjadi yang pertama bagi seorang pria. Pria yang menjadi cintanya. Namun...itu hanya terjadi di novel-novel. Pada kenyataannya...adalah sebuah kebutuhan ketika pria dewasa seperti Ansell melepaskan gairahnya. Kebutuhan yang harus terpenuhi. Jadi jelas...dia bukan yang pertama bagi Ansell. Lalu apa Elena harus meredam rasanya? Dan mencari seseorang yang sama usianya dengan dirinya? Elena tahu, perasaan mana bisa dipaksakan? Elena terus berjalan. Cukup bersyukur karena Ansell peka pada situasi. Bahwa Elena sedang tidak ingin berbicara. Bahwa Elena sedang ingin sendiri. Elena berbelok. Memasuki sebuah gedung pusat perbelanjaan dan berjalan-jalan di dalamnya, dan berakhir di sebuah wahana permainan. Elena berdeham dan berakhir dengan kesibukan mencoba semua jenis permainan di sana. Dia bahkan sempat menatap tajam mengintimidasi pada anak laki-laki gemuk yang tak mau bergantian memainkan sebuah permainan menggelindingkan bola. Akhirnya anak itu berkaca-kaca namun Elena mengabaikannya. Elena menatap langit yang membentangkan selimut hitamnya, beberapa jam kemudian. Ketika keluar dari mall itu, hari sudah mulai gelap. Elena berdiri di pinggir jalan dan menyetop taksi. Taksi yang ke sekian, karena kenyataannya dia enggan beranjak. Elena sengaja mematikan ponselnya. Elena menghempaskan bokongnya di jok taksi dan menyebutkan tujuannya. Setelah itu dia terdiam. Sedikit mengantuk dan sangat lelah. Sampai akhirnya supir taksi menghentikan mobilnya tepat di gerbang rumah, Elena turun dengan gontai sambil membetulkan letak tasnya setelah membayar ongkos taksi. Elena yakin tampilannya tak ubahnya anak gadis yang tak keren. Elena masuk melalui pintu pagar kecil di samping pintu pagar utama yang di batasi tanaman bersulur tinggi dan rapat hingga tak bisa melihat ke halaman rumah. Elena melangkah menaiki undakan menuju teras dan masuk pelan. Ibunya bahkan tidak menutup pintu pada jam seperti ini. Elena berpikir, mungkin Ibunya sedang menunggu Ayahnya. "El..." Suara manis Ibunya menyapa Elena yang masuk sambil menunduk. "Malam, Mom..." Dan Elena merasa pening. Tatapannya tertuju pada sesosok pria yang duduk dengan begitu penuh percaya diri di sofa ruang tamunya. Elena mencoba menegakkan bahunya. "El..., Ansell menunggumu untuk makan malam. Mom dad Dad berusaha menelponmu tapi sepertinya terjadi sesuatu dengan ponselmu, sayang?." Dan Elena mau tak mau merasa dia harus membersihkan telinganya nanti. Kenapa di telinganya, Ibunya terdengar begitu akrab menyebutkan nama Ansell? Elena menatap Dad--nya yang tersenyum simpul dan mengambil kesimpulan bahwa Dad--nya salah makan hari ini. Dan Elena menoleh...mendapati kepala Christy yang menyembul dari pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah. Lalu tangan Justin yang menarik kepala Christy. Elena yakin...semua tampak tak wajar. Dia merasa seakan dia baru saja pulang bermain dan menemukan seluruh penghuni rumahnya berubah menjadi alien yang bersikap aneh. "El..." Suara Ibunya memutuskan lamunan Elena. "Ya..." "Ansell menunggumu untuk makan malam. Dad sudah mengijinkan. Dan Mom? Jangan bertanya....Mandilah." Bagai kerbau yang linglung. Elena mengangguk dan melangkah masuk. Mendapati Justin yang sedang melendot mesra pada Christy. Elena mencapai tangga dalam ketika deheman Justin sukses membuat Elena melemparkan tasnya ke arah Justin. Yang terdengar kemudian adalah pekikan tertahan Christy yang memeluk Justin yang tengah mengusap kepalanya sebal. Elena bahkan merasa harus menaikkan satu alisnya tajam ketika Justin dengan manja meminta Christy mengusap kepalanya yang terkena timpukan tas Elena. Elena masuk ke kamarnya dan pikirannya segera saja terbuka. Ansell datang untuk mengajaknya makan malam! Dia jelas sudah berhasil mengambil hati orangtuanya! "Apa-apaan ini semua? Kenapa dia kemari? Aku bahkan berusaha...sedang berusaha melupakannya. Tapi kenapa dia justru mendekat?." Elena menggeram. Dia membanting pintu kamar mandi dan mandi dengan cepat sambil terus memikirkan apa yang mereka---orantuanya dan Ansell--- perbincangkan di bawah sana? Elena menyelesaikan mandinya cepat. Begitu keluar dari kamar mandi, Elena menemukan Christy yang sudah duduk di tepi ranjangnya. "Sejak kapan Ansell ada di sini?" "Almost two hours..." Elena menaikkan alisnya kesal. "Apa maunya? Dan apa maumu tersenyum dan mendukung mereka? Baru tadi siang seingat ku kau menceramahiku untuk menjauhi pria tua itu, Chris. Apa kau mengalami semacam amnesia parsial pada bagian di mana kau berbusa-busa menceramahiku?" "Ansell manis. Dia berani kemari. Dan itu nilai plus." Elena memakai bajunya dan Christy sibuk membantunya. "Apa katanya?" "Dia bilang pada Uncle dan Aunty, ingin mengajakmu, berkencan." "What?!" Elena memekik tak percaya. Dan Christy mengabaikan pelukannya. Tangan lincah Christy mengeringkan rambut Elena dan menyisirinya. Dia juga yang menyapukan make up pada wajah Elena dan nampak puas dengan hasilnya. "Turunlah..." Christy menegakkan bahu Elena. Hening... "Aku takut....." Dan Elena mulai panik.... Sementara Christy terbengong tak percaya. **                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN