PART 7

1410 Kata
Sepanjang jalan entah kemana...Elena terdiam. Tangannya bertaut dan kadang saling meremas gelisah. Ansell yang malam ini membawa mobil, terlihat konsentrasi menatap jalan di depannya. Mobil melaju cepat melintasi jalan yang di tepian nya terdapat pohon-pohon berjajar rapi dengan lampu yang melilit batangnya. Lalu mobil melambat saat mereka tiba di pusat Manhattan. Elena sedikit merunduk saat mobil menepi dan berhenti di depan sebuah bangunan yang di d******i kaca besar. Bangunan dua lantai itu terlihat semarak dengan lampu-lampu kecil berkelap-kelip. Ansell membuka pintu mobil untuk Elena dan Elena...dengan kaku turun dan berdiri canggung. Sekilas Elena melirik tampilan Ansell yang terlihat 10 tahun lebih muda. Dengan kemeja semi formal nya Ansell mengulurkan tangan dan menggandeng Elena memasuki bangunan yang ternyata sebuah kafe. Sejenak Elena meragu karena banyak sekali motor besar yang terparkir di sepanjang jalan di depan kafe. Tapi tarikan dan genggaman tangan Ansell membuat Elena mencoba meringankan langkahnya. Ansell membuka pintu dan gumaman riuh segera saja terdengar. Semua pasang mata di ruangan kafe yang ber nuansa coklat itu tertuju pada Ansell dan Elena. Sebagian besar para pria mengeluarkan umpatan kasar dan tergelak. Para perempuan jelas terpekik seakan mereka memang sudah menantikan hal ini. "Kukira kau bohong tentang gadismu yang eksotik dan cantik. Dia lebih dari sekedar cantik." Seorang pria menepuk bahu Ansell kencang. Dan Ansell dengan suara lantang memperkenalkan Elena pada semua orang yang ternyata adalah teman-temannya sesama chef. Elena jelas mengangguk canggung. Kencan seperti ini jelas di luar pemikirannya. Suasana jelas terasa hangat. Elena merasa suasana saat ini tak jauh beda dengan saat seluruh keluarga Leandro berkumpul dan mengadakan sebuah acara. "Duduklah El...aku akan memasak untukmu." Elena tersenyum canggung dan melesakkan b****g nya di kursi yang Ansell tarik untuknya. Elena mengedarkan pandangannya. Kafe ini lebih ke kafe sekaligus restoran. Sebuah dapur terbuka bersisian dengan sebuah bar. Elena menoleh ketika seorang wanita menyenggol lengannya dan tersenyum ramah. "Jadi kau yang namanya Elena?" Elena mengangguk canggung pada wanita berambut pirang yang berbadan mungil seperti dirinya. "Ansell sempat gila beberapa hari lalu karena kau mengabaikannya." Elena melongo tak percaya. "Ansell pendiam. Tapi tidak pada kami. Dia...mengagumimu." Elena tak menjawab dan dia yakin dia merona. Elena melirik Ansell yang sudah menggulung lengan kemeja nya dan memakai sebuah apron berwarna hitam. Sejenak Elena terpaku. Sejak kapan Ansell mempunyai tato di tangannya? "Dia gila. Dia membuat tato itu untukmu. Apa dia tidak bercerita?" Elena menggeleng. "Well...dia akan sangat manja kalau kau menjadi kekasihnya nanti. Aku bergabung dulu dengan yang lain. Dan...bagaimanapun Ansell di masa lalu, semoga kau menerimanya dengan tulus." Wanita bernama Rhonda itu menoleh dan menepuk tangan Elena saat seorang pria memanggilnya. Kedipan matanya jelas menyiratkan agar Elena menikmati suasana malam ini. Elena mengucapkan terimakasih dan dia menatap Ansell. Elena tersentak saat ternyata Ansell berada di depannya. Wajah mereka sangat dekat. "Apa kau menggosipkan aku?" "Kurang lebih." Elena menjawab dengan senyum tertahan. "Apakah sesuatu yang baik?" "Baik atau buruk, aku pendengar yang baik." Ansell menipiskan bibirnya. Tersenyum dan mengacak rambut Elena sebelum akhirnya berbalik dan meneruskan acara memasaknya. Cekatan khas koki berpengalaman Ansell terlihat membalik daging steak dan mengolesinya dengan bumbu. Elena menyangga dagu. Menikmati sesuatu yang menjadi kegemarannya. Memasak dan melihat seseorang memasak. "Ansell..ada yang mau menyewa retoranmu ini untuk sebuah pernikahan. Apa masih bisa?" Seorang pria berambut se warna tembaga yang terlihat begitu akrab dengan Ansell menatap Elena dan mengedipkan matanya sambil terus berbicara pada Ansell. Ansell yang sedang merunduk mengecilkan api kompor menoleh. "Kau bisa mengaturnya? Jadwalku padat sampai minggu depan." "Tentu." Pria itu sekali lagi menatap Elena dan tersenyum. "Aku seperti pernah melihatmu, dear. Kau seperti...salah satu Leandro? Benarkah? Aku pernah melihatmu di sebuah acara peresmian kantor. Aku memasak untuk mereka waktu itu." "Bisa jadi." Elena menjawab dengan ramah. "Oh, s**t! Aku selalu ingin menjadi bagian dari mereka." Elena tertawa pelan. Pria di depannya ini terlihat sebagai pria yang lucu. "Pertimbangkan untuk menyukaiku, dear. Umurku tak jauh dari Ansell. Boleh dibilang dia kembaranku, dari Ibu yang lain." Elena sukses tergelak. Itu sungguh lelucon yang basi, tapi saat pria di depannya ini yang mengucapkannya, itu terdengar seperti lelucon yang segar dan abadi sepanjang masa. Elena merunduk dan berbisik. "Aku akan mempertimbangkannya." Pria itu tertawa. Juga Elena. Ansell terlihat menoleh dan berdeham. Pria di samping Elena menunjuk Ansell sambil berlalu. Bergabung lagi dengan yang lain. Ansell meletakkan makan malam di depan Elena. "Untukmu." "Terimakasih banyak. Aku memang lapar dan bolehkah aku makan sekarang?" Elena menatap Ansell dan mengerjap. Sejenak Elena melihat Ansell yang terpaku. Lalu tertawa. Satu lagi. Ansell punya lesung pipi yang menawan selain matanya yang hijau memukau. "Tentu saja. Makanlah." Dengan piawai Elena memotong daging dan menyuapkannya bergantian dengan sayuran. Ansell hanya menatapnya. "Kau tidak makan?" Ansell menggeleng. "Aku sudah kenyang makan kue dari ibumu. Lagi pula aku memang merencanakan ini untukmu. Agar kau mengenal seperti apa aku bergaul." Elena terpaku. Lalu tertunduk. Elena bukanlah gadis yang pandai menyembunyikan perasaannya. Dia gadis yang sanggup mengeluarkan kata ajaib kalau hatinya sedang bahagia. Seperti saat ini...saat hatinya menyukai Ansell Giuliano. Elena menekan perasaannya. Berusaha keras mencegah mulutnya untuk tidak mengucapkan apapun. "Ansell...apa kau dan Dabria berpacaran?" Dan Elena merutuk dalam hati. Jelas itu pertanyaan yang mati-matian di pendamnya. Dan dia mengucapkannya bagai orang t***l seiring Ansell yang menatapnya sambil tersenyum simpul. "Tidak." Jawaban singkat Ansell membuat melayang. Dan Elena mengunyah makanannya cepat sambil menunduk. Menghindari tatapan Ansell yang entah mengapa tampak menggoda. "Terimakasih makan malamnya. Suatu hari aku akan memasak untukmu." Elena tersenyum berterimakasih. "Kau akan selalu memasak untukku." Suara Ansell terdengar percaya diri. Dan Elena tersenyum sambil membuang pandangannya ke arah meja-meja restoran yang terisi penuh dan riuh. "Mau berdansa?" Dan Elena hanya bergumam sebuah kata yang tak jelas. Lalu terdengar musik mengalun dengan lembut. Sebuah musik instrumental yang sangat cocok untuk di pakai berdansa. Ansell tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Elena dan mengulurkan tangan. Elena menyambutnya canggung. Ansell membawanya berdansa bergabung dengan pasangan yang lain. Sangat jelas di dengar oleh Elena, deheman dari berbagai arah saat Ansell menarik pinggangnya dengan posesif. Elena mendongak. Mendapati manik mata hijau milik Ansell yang menatapnya lembut. "Aku mengajakmu berkencan." "Ini kencan pertamaku." "Aku sempat tidak yakin orangtuamu akan mengijinkan." "Mereka memang sedikit selektif. Dan aku heran kenapa mereka begitu mudah memberimu ijin membawaku." "Karena aku manis?" Elena tertawa saat mendengar jawaban Ansell. "Kenapa tidak mengajakku langsung?" "Seorang gadis yang sedang dalam suasana hati yang buruk jelas tidak akan mudah diajak berkencan." Elena berdeham dan tersipu. "Itu...semacam strategi. Mendekati orangtuanya dulu baru anak gadisnya. Strategi kuno. Tapi cukup efektif untuk kedua orangtuamu yang berpikiran terbuka dan penuh prasangka baik." "Jadi kau sedang dalam usaha mendekatiku?" "Apakah boleh?" "Tapi aku tidak suka, Dabria." Ansell tertawa pelan. "Apa itu semacam...persaingan terselubung?" "Jelas sekali dia menyukaimu." "Well...memang seperti itu. Tapi tidak serta merta aku harus menjauhinya bukan? Kami bersahabat cukup lama." "Dia...seringkali terlihat manja padamu. Sangat tidak sesuai dengan umurnya." "Apa kau merasa risih?" "Tentu saja." "Kenapa kau harus merasa risih? Beri satu alasan..." "Karena..." Suara Elena menggantung. Ansell tertawa. "Itu pertanyaan yang menjebak. Kau sengaja menjebakku! Oh...kau..." "Itu tepatnya yang sekarang aku lakukan, El. Menjebakmu." "Itu...menyebalkan." "Tidak untukku. Karena aku jadi tahu kalau kau El...gadis 18 tahun di depanku ini, menyukaiku." Elena membuang pandangannya malu. "El..." "Hmm.." "Aku 30 tahun akhir tahun ini." "Dan itu masih...hmm...delapan bulan lagi." Elena menghitung. "Tetap saja. Aku pria dewasa." "Maukah mencari tahu perasaan kita masing-masing Ansell?." Ansell terdiam dan menatap Elena dalam. "Tentu saja." "Kalau begitu...ayo terus berdansa." Ansell tertawa pelan. Dari ucapannya Ansell tahu...Elena juga bersedia mencoba meyakinkan perasaannya. Angin membawa sebuah botol menggelinding sepanjang trotoar di depan restoran. Musim dingin akan segera datang dan semua orang akan mengganti outfit mereka dengan yang menjadikan mereka tetap hangat. Seperti Elena yang menikmati kencan pertamanya dan membiarkan hatinya menghangat seiring pelukan Ansell pada tubuhnya. Elena membiarkan telinganya mendengar detak jantung Ansell yang sehat. Ansell Giuliano... Kalau manusia berandai-andai mengetahui dunia binatang. Maka saat itu juga orang akan tahu, seorang Ansell Giuliano menguarkan feromon yang memabukkan dan mampu menarik lawan jenis. Seperti halnya binatang seumpama singa jantan yang mengeluarkan zat yang membuat singa betina b*******h padanya. Maka Ansell seperti itu...seperti singa jantan yang menarik Elena layaknya singa betina. Menjadikan Elena b*******h padanya hanya dengan menghidu aroma kayu-kayuan yang menguar hebat dari tubuh Ansell. Malam menjelang larut ketika Ansell mengucapkan selamat malam di depan kedua orangtua Elena dan Elena yang menunduk. Terlihat William menepuk bahu Ansell dan Elena merasa mereka seperti Kakak beradik. Elena jelas merutuk dalam hati untuk pemikirannya itu bersamaan dengan mobil Ansell yang melaju semakin jauh. ----------------------------- Elena terhenyak dan berjalan terseok mengikuti langkah Dabria Scott yang menariknya cukup keras hingga mereka tiba di bawah tangga. "Kau berkencan dengan Ansell? Kau tahu berapa umurnya?" Elena tersenyum. Dabria...jelas masuk dalam hitungan manusia yang tidak pandai berbasa-basi. Berbanding terbalik dengan aktingnya di program memasak yang dipandu nya. Elena hampir saja tertawa. "Tertawalah, Elena Leandro." Dabria tertawa sinis. "Karena semua bukan urusanmu, Miss Scott. Permisi." Elena menghentak tangan Dabria dan berbalik. Melangkah menjauh dari Dabria yang terlihat marah. "Apa kau masih akan mengencaninya setelah kau tahu dia pernah menikah di Perancis sana?." Suara Dabria terdengar lantang dan Elena terpaku. Berhenti sejenak lalu melangkah tanpa menoleh lagi. Melangkah dengan pikiran yang berkecamuk. ***                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN