PART 8

1438 Kata
Elena melemparkan tasnya ke atas ranjang. Dia melepas sepatunya asal dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang menyusul tasnya yang teronggok mengenaskan. Tatapannya terpaku. Pikirannya melayang. Hari ini jelas bukan hari yang menyenangkan. Hampir seharian ini Elena lebih banyak diam. Mencoba mengabaikan pernyataan Miss Dabria Scott tapi nyatanya Elena tak bisa. Alhasil, di kelas dia banyak terdiam. Hanya menjawab seperlunya apa yang di tanyakan Christy. Ansell bahkan tidak berada di manapun di sekolah. Dan memang Elena tidak ingin bicara sekarang. Dan bodohnya lagi, Elena bahkan tidak mengetahui nomor ponsel pria itu. Mereka tidak bertukar nomor ponsel! Dan Elena merasa...dia tidak tahu apa-apa tentang Ansell, bahkan untuk sederet nomor ponsel pria itu. Elena menghembuskan napas dan berguling memeluk bantal. Pernyataan Dabria jelas mempengaruhinya. Tak cukupkah pria itu menyandang status dewasa saja? Kalau pernyataan Dabria benar adanya, berarti Ansell...Duda? Duda yang sangat keren. Elena menggegeram namun memilih memejamkan mata. Sebelum pulang dia sempatkan makan siang di sebuah restoran karena dia ingin segera tidur begitu sampai di rumah. Tidak ingin memikirkan apapun dan bertekad menyelidiki siapa Ansell. Sendiri. Seperti seorang detektif yang sok tahu. Elena membiarkan lelap menyambutnya. Di rumahnya yang sunyi. Tanpa kedua orangtuanya yang tengah berada di mansion Leandro. ---------------------------- Elena tersenyum lebar pada penjaga keamanan di kantor Ayahnya. Dia sedikit menggerutu karena di hari liburnya sang Ayah menelpon dan memintanya datang ke kantornya, tanpa mau menjelaskan dengan tujuan apa. Seorang resepsionis mengantar Elena hingga Elena bertemu dengan sekretaris Ayahnya. Sekretaris Ayahnya seorang wanita paruh baya yang ramah. Elena menyimpan kecurigaan bahwa Miss Jean Bolton---yang masih melajang di usianya yang ke 45 tahun---adalah kaki tangan Ibunya. Ibunya seperti sengaja menempatkan Miss Bolton sebagai sekretaris Ayahnya untuk mengawasi sepak terjang Ayahnya ketika di kantor. Yah...walaupun Elena tahu, Miss Bolton masuk ke kantor Ayahnya ini melalui serangkaian tes yang sulit, namun tetap saja Elena yakin...ada sebuah kerjasama rahasia antara Miss Bolton dengan Ibunya. "Silahkan masuk, El...Mr Leandro sudah menunggu. Bagaimana kabar Mrs Leandro hari ini?" Benar bukan? Ada sesuatu antara mereka. "Terimakasih, Jean. Ibuku baik. Aku masuk dulu." Miss Bolton membuka pintu lebar dan Elena masuk. Ruangan Ayahnya terlihat sunyi. Dengan Ayahnya yang berdiri di depan jendela kaca super besar. Memandang kejauhan. Gedung-gedung pencakar langit yang kian menjamur di Kota New York. Elena menghampiri Ayahnya dan memeluknya hangat. Ayahnya bahkan mengangkatnya seperti dia masih anak-anak saja. "Duduklah El. Apa kau sudah makan?" "Sudah." Mereka duduk di sofa berwarna putih yang ada di ruangan William. William terlihat menggapai sebuah map yang ada di meja. Dan map itu segera berpindah tangan pada Elena. Elena menatap heran pada map itu. Juga pada Ayahnya. "Apa Dad menyelidikinya?" "Lihatlah dan tentukan penilaianmu." Elena membuka map di pangkuannya. Foto Ansell terpampang menyapa penglihatannya. Elena membaca dengan teliti biodata Ansell. Juga lembar-lembar lain yang menyertainya. Duapuluh menit kemudian Elena menutup map itu dan menghela napas keras. "Kau menyukai seorang duda El...kalau boleh Dad bilang. Dan sayangnya...dia belum sepenuhnya duda karena istrinya mempersulit perceraian mereka. Dad tidak akan menghakimimu agar kau melepaskan Ansell. Tapi, kau sudah 18 tahun dan kau tahu apa yang harus kau lakukan." "Apa Mommy dan Justin tahu ini?" "Tidak secara gamblang. Dad ingin kau tahu terlebih dulu. Satu pesan Dad El...jangan pernah singgah apalagi merusak ladang yang bukan milikmu." Kata-kata Wliam yang dalam menghantam relung hati Elena. "Aku akan memikirkannya Dad. Dengan sangat hati-hati. Aku janji." "Jangan melakukan hal yang buruk pada dirimu sendiri." "Aku terlalu kuat kalau hanya untuk sekedar patah hati." William tertawa. Putrinya memang pandai menyikapi sebuah masalah. Dia tidak pernah meragukan Elena sedikitpun. Termasuk hal mengapa Elena merasa perlu memasang sebuah teropong resolusi tinggi dan mengarahkannya ke kediaman Jones. Satu alasan yang pasti, Elena merasa perlu mengawasi keluarga Jones karena sebentar lagi Britany Jones akan pulang dan Elena harus bersiap. "Apa alasan Ansell meninggalkan bisnis restoran nya yang tidak sedikit di Paris?" Pertanyaan itu serupa gumaman keluar dari mulut Elena. "Tidak ada. Ansell mengelola semuanya dengan sempurna. Ketidak hadirannya hari ini di Akademi juga karena dia terbang ke Perancis semalam." "Dad...kau memata-matainya!" Elena memekik tak percaya. "Seorang Leandro selalu seperti itu, El. Jangan menjerit. Kami tidak akan membiarkan seseorang menyakiti wanita kami. Dan El...kalau kau menikahi Ansell kelak....kau akan memecahkan sebuah rekor keluarga." William berdiri dan menjangkau segelas air putih di meja nya. "Rekor?" "Ya...rekor. Tidak ada satupun keluarga kita---setelah Kakek Edward yang menikahi lagi Nenek Hillary yang seorang janda dari Valentinetti juga Aunty Celina yang menikahi Uncle Ben---tidak ada dari kita yang menikah dengan duda atau janda El. Jadi kalau kau menikahi Ansell..." "Jaga bicaramu, Dad. Jangan sampai kau menjadi Ayah yang durjana." Elena berdiri dan William tergelak. Tawa nya menyembur mendengar kata-kata Elena dan wajah Elena yang memberengut kesal. "Kemarilah..." Elena menghambur ke pelukan William. "Dad hanya tidak ingin kau menangis kelak El. Berjanji lah kau akan berhati-hati dan memikirkan semuanya dengan baik." Elena mengangguk dalam pelukan Ayahnya. Sebuah rasa menyelusup di relung hatinya. Betapa selama ini dia salah menilai seorang William Leandro yang dinilainya tidak memperhatikannya. Nyatanya se sibuk apapun William, dia selalu mengerti Elena lebih dari siapapun. Sama seperti Ibunya. Dan wanita itu, Autumn Leandro mungkin akan menjadi wanita yang panjang umur. Baru saja Elena selesai membatin, Ibunya itu sudah melongokkan kepalanya di pintu dan masuk sembari membawa sebuah bungkusan. "Apa aku ketinggalan sesuatu? Ah...kalian membuatku cemburu. Bisakah kau juga memeluk Mommy El?" Elena meraih tangan Ibunya dan memeluknya hangat. "Raih yang kau mau kalau kau tahu itu baik, El." Elena lagi-lagi mengangguk tak memberikan jawaban apapun. "Aku harus pergi." "Kemana El?" "Ke toko buku. Ada beberapa buku yang harus aku beli. Aku akan pulang sedikit larut." "Apa kau mengajak Christy?" "Aku ingin mengajaknya. Tapi aku tidak yakin dengan Justin. Dia menguasai Christy, Mom." Autumn tergelak. Justin memang seperti William. Dulu sekali juga William seperti itu. Dan masih sama sampai sekarang. "Baiklah. Hati-hati." Elena melangkah keluar setelah menadahkan tangannya pada sang Ayah. Dia tetap gadis kecil William yang senang menerima beberapa dollar darinya. Dan sekarang gadis itu sudah besar. Sudah jatuh cinta... "Aku agak khawatir dengannya..." Autumn menatap pintu yang tertutup. "Dia jauh lebih baik dari kita saat menghadapi sebuah masalah." "Aku tahu, sayang." "Yang harus kita lakukan adalah membantunya berdiri ketika dia jatuh, memeluknya saat dia menangis, dan menghajar pria yang menyakitinya." Autumn terdiam. "Aku berpikir untuk mengebiri langsung...dengan tanganku sendiri kalau ada yang menyakitinya..." "Dan itu...sayang...itu...jangan lakukan!" Tawa Autumn meledak melihat wajah William yang memancarkan rasa tidak terima. Mereka tertawa bersama. "Dia sudah besar..." Dan William mengangguk. ---------------------------------- Elena menatap deretan buku panduan yang ditulis langsung oleh para koki ternama. Toko buku tidak terlalu ramai. Elena mengambil satu buku yang justru berbeda dengan rencananya tadi. Elena mengamati sampul buku itu penuh minat. Sekolah Memasak Ternama Negara-negara Dunia. Elena memasukkan buku itu ke tas belanja nya. Dia berjalan pelan dan mulai mencari buku yang seharusnya dia beli. Dengan mudah Elena menemukannya dan dia beranjak ke koridor novel-novel romantis. Berdiri lama di sana sambil melihat-lihat. Menarik satu buku dan tersenyum membaca Blurb novel di tangannya sebelum mengembalikannya lagi. Kembali Elena mengambil satu novel yang membuatnya mengernyit membaca judulnya. Catching The Old Man Tawa Elena hampir saja meledak saat membaca Blurb novel itu tapi dia menahannya hingga merunduk-runduk tak karuan. "Elena" Elena menoleh. Dabria entah mengapa sudah berada di belakang Elena dan menatap Elena sinis. "Oh...bacaanmu saja novel picisan. Pantas saja hidupmu penuh drama. Apa yang kau baca?" Dabria meraih paksa buku yang di pegang Elena. Dia membaca judul novel itu dan meledakkan tawa nya. "Pantas saja. Lalu kau akan membeli novel ini dan mempraktekkannya pada Ansell? Kekanakan sekali." Elena terdiam. Pada detik ke sekian setelah ucapan Dabria, Elena memutuskan dalam hati bahwa dia tidak menyukai Miss Dabria Scott. "Dewasa atau tidaknya seseorang tidak dilihat dari usia Miss Scott. Tapi dari tingkah dan lakunya. Mari berpikir sejenak. Tidakkah tindakanmu yang membabi buta terhadapku...mengintimidasi aku...justru yang kekanakan dan penuh drama?" "Kau..." "Elena Grace Leandro. Delapan belas tahun dan akan menang dengan dewasa di banding kau Miss Scott. Pada akhirnya. Selamat siang. Have a good day." Dabria menggeram dan mencengkeram buku yang ada di tangannya. Matanya nyalang menatap Elena yang berjalan menuju ke kasir. "Kita lihat saja." ----------------- Suasana hati Elena justru membaik setelah bertemu dengan Dabria di toko buku empat hari lalu. Dia masuk kelas dan menghampiri Christy yang tengah menatap layar komputer jinjingnya. "Hai El..." Christy menyapa tanpa menoleh. Elena melesakkan b****g nya ke kursi di samping Christy. Mulai mengeluarkan peralatan sekolahnya dan mematikan ponsel. Kelas masih saja riuh. Suara deheman yang sangat di kenal Elena membuat kelas menjadi sunyi. Ansell Giuliano. Dengan kemeja kotak-kotaknya dan senyum berlesung pipinya. Siap mengajar dan mengucapkan selamat pagi. Wajah Elena tak mengekspresikan apapun ketika matanya bertemu pandang dengan mata hijau Ansell yang membius. Tapi hatinya berdesir dan mengingat aroma kayu-kayuan saat dia begitu dekat dengan Ansell di kencan pertama mereka. Juga detak jantung Ansell yang sehat. Elena berdeham pelan dan mencoba berkonsentrasi. Namun dia memundurkan kepalanya saat Ansell menghadap ke papan tulis. Bokong Ansell sangat seksi. Terlihat penuh dan keras. Bagiamana rasanya saat tangan Elena menangkupnya Elena bahkan mengatupkan tangannya. "Miss Leandro...tolong ke ruanganku setelah pelajaran selesai." Elena mendongak dan tak menjawab karena Ansell segera saja berbalik lagi menghadap papan tulis. Dan kali ini Elena bagai melihat di punggung Ansell sebuah kertas bertuliskan.... Hot Old Man "El...." "Hmm..." "Kau melamun!" Christy mencubit lengan Elena.   "Tidak...aku hanya sedang membayangkan sesuatu...."   ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN