Baskara menghela napas panjang, lalu perlahan melepaskan tangannya dari bahu Sena. Ia berjalan menuju jendela kamar, menatap kegelapan malam di luar sana dengan punggung yang tampak kaku. "Zidan bilang kalian dulu sangat dekat," ucap Baskara tanpa menoleh. Suaranya terdengar berat. "Dia bilang kamu banyak menghabiskan waktu dengannya di kampus. Hal-hal yang tidak pernah aku tahu, hal-hal yang tidak ada dalam ingatanmu sekarang." Sena mendekat, berdiri tepat di belakang suaminya. "Mas, itu masa lalu. Aku bahkan tidak ingat apa pun sampai kemarin bayangan itu muncul." Baskara membalikkan badannya. Ia menatap Sena dengan tatapan yang sangat dalam. Ada kilatan rasa tidak percaya diri yang tertutup oleh wajah tegasnya. "Tadi di balkon, dia menatapku seolah aku adalah orang asing yang m

