Sena menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tak beraturan. Ia menatap lekat mata Baskara, mencari kekuatan di sana sebelum akhirnya kembali bersuara di sela isak tangisnya yang mulai mereda. "Mas, demi Allah ... aku benar-benar tidak pernah ingat sama sekali tentang masa lalu itu. Waktu aku menerima lamaran Mas, waktu kita baru menikah ... kepalaku kosong dari ingatan tentang pria lain," ucap Sena sungguh-sungguh. Baskara diam mendengarkan, jemarinya masih setia mengusap sisa air mata di pipi istrinya. "Waktu itu, aku menjalani pernikahan kita dengan satu niat, Mas. Aku merasa ini adalah kewajibanku. Aku ingin berbakti padamu, dan aku sudah siap mental kalau Mas memang tidak punya rasa apa pun padaku di awal. Aku hanya ingin bersabar sampai Mas mau beruba

