Api Penggugah Tidur

405 Kata
Sore itu angin berembus kencang, menggeser api hingga menjilat kulit Heldrado yang terkutuk. Semula tidak cukup menggigit sehingga bisa membangunkan Heldrado dari pingsan, tetapi ketika angin menggelora di langit desa dan rakyat bersorak, jilatan api menyambar lengannya dengan buas dan pria itu tersentak bangun. Heldrado berguling kesakitan. Butuh tenaga ekstra untuk menggeser tubuh, menuruni tumpukan yang tidak rata dan berundak-undak serampangan. Aroma daging hangus dan anyir yang menyengat hidungnya membuat Heldrado ingin muntah di sela-sela perjuangannya membuka kelopak mata. Saat Heldrado berhenti berguling di atas sesuatu yang terasa sangat empuk namun juga keras, ia berjengit. Dalam wawasan pandangnya, Heldrado sedang bertukar tatap dengan seorang pria bertubuh besar. Wajahnya pucat, mulutnya menganga dengan luka robek yang melintang ganas di sekujur pipi. Melapisi tubuhnya yang empuk, baju zirah keras yang menghantarkan gelombang panas api membuat Heldrado menahan napas. Mayat. Ia mendarat di atas mayat. “Tidak!” tenggorokan Heldrado kesakitan saat berusaha berteriak. Ia berjengit melompat dan kakinya mendarat pada wajah mayat yang lain. Heldrado terkesiap. Ia terduduk dan menyadari bahwa dirinya, entah bagaimana, berakhir di tumpukan mayat berbaju zirah. Tidak! Heldrado tidak mampu mencerna dengan baik situasi di sekelilingnya. Bau amis darah dan daging terbakar merus4k saluran pernapasannya sampai-sampai kepalanya berdenyut hebat. Pandangan matanya mengabur, antara terpapar gejolak asap api yang pekat serta bau yang tak tertahankan hingga mata dan hidungnya berair. Dengan tertatih-tatih, Heldrado menyeret tubuhnya yang gemetaran. Setiap bergeser, tangan dan kakinya berpijak pada wajah seseorang, menindih lengan yang retak atau leher yang lunak, dan Heldrado merasakan hatinya tersayat-sayat. Layak bagi seorang pria tangguh baginya untuk menangis menyaksikan hal ini, namun api berkobar begitu cepat dan besar. Heldrado kembali memekik saat api mulai menyambar kaki mayat yang tengah dipijaknya. Mengerahkan sisa tenaga yang nyaris hilang, ditambah pompaan adrenalin yang tak terkira, Heldrado melempar tubuhnya keluar dari tumpukan mayat, jauh dari sorak-sorai para rakyat jahan4m. Heldrado jatuh di atas tanah berumput yang gosong, mengerang kesakitan saat kakinya terkilir, lantas merangkak dengan susah payah ke arah sesemakan besar di dekatnya. Demi Tuhan di langit, Heldrado Freds sama sekali tidak tahu-menahu, apalagi memiliki secuil ingatan, mengapa tubuhnya yang berbalut baju zirah ini bisa mengalami sebuah takdir yang begitu mengerikan. Hanya gagak-gagak yang mengawasi dari pucuk-pucuk dahan, atau dedaunan yang mendesau gelisah acap kali tersingkap asap kelabu yang beraroma daging leleh, atau sekumpulan rakyat berhati batu yang mampu menjawabnya. Tetapi, untuk saat ini, Heldrado hanya ingin terkapar untuk kedua kali, melepas kengerian yang berdentam-dentam di dalam jantung lemahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN