Mencurangi Kematian

870 Kata
Saat Heldrado membuka mata, langit telah membiru gelap. Asap berhenti membumbung, nampaknya sudah cukup lama, karena yang tersisa dari tumpukan itu hanyalah baju zirah dan segala hal yang tak ingin Heldrado amati lebih teliti. Penduduk desa juga tidak terlihat satu pun, bahkan kemungkinan para gelandangan yang ingin menjarah sesuatu dari tumpukan gosong. Bagus. Kalau begitu yang perlu Heldrado khawatirkan hanyalah kepala yang masih pusing, perut keroncongan, dan sekujur tubuh yang ngilu di balik kungkungan baju zirah. “Ouh, sial.” Mula-mula Heldrado berkutat melepaskan diri dari baju zirah ini. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun melihat kejadian mengerikan tadi sore, nampaknya para penduduk akan segera mengejarnya jika melihat masih ada seorang prajurit yang selamat dari kobaran api. Baju zirah itu juga tidak seberat yang ia duga. Setelah melepaskan helm, Heldrado rasanya baru saja terbebas dari wabah flu mematikan yang menyiksa. “Ahhh.” Tenggorokannya sakit. Bahkan getaran suara saja terasa menyayat-yayat tenggorokannya yang kering. Namun Heldrado tidak terlalu memerhatikannya. Ia sibuk menikmati sensasi wajahnya yang lengket dan panas seketika tersapu dinginnya angin malam, dan lapisan keringat kotor pada pipinya seakan mengering. Heldrado sempat berhenti sejenak untuk menghirup dalam-dalam udara dingin yang masih berlabur aroma daging hangus. Butuh waktu lama hingga Heldrado melucuti semua baju zirah yang melekat di tubuh. Tubuhnya bernapas dengan lega seolah-olah berat badannya berkurang sebagian dengan drastis. Heldrado hanya menyisakan tunik berkualitas bagus yang membuatnya lebih terheran-heran. Prajurit mana yang memiliki tunik sebagus dirinya? Kendati Heldrado nyaris lupa ingatan akan segala sesuatu yang membawanya terseret ke tumpukan mayat, ia tahu akan hal-hal umum semacam ini yang siudah dipelajarinya entah kapan. Mungkin tuannya adalah orang yang sangat kaya. Barangkali dia adalah prajurit Raja. Tidak mungkin prajurit yang mengabdi pada kesatria penguasa pedesaan bisa mengenakan tunik dengan kain linen berkualitas tinggi ini. Minimal ia dulunya adalah prajurit yang mengabdi pada seorang duke, tetapi duke yang mana, itu bakal sulit Heldrado temukan jawabannya. Pria itu mengintip melalui balik semak belukar. Terhampar di depannya adalah sebuah lapangan berumput yang telah menghitam. Tumpukan mayat itu dibiarkan berasap tipis tanpa tindakan lebih lanjut. Mungkin orang-orang takut mengurus sekumpulan jasad gosong di malam hari. Tak ada yang mau menginjak sesuatu yang tak diketahuinya. Kalau begitu, Heldrado memiliki kesempatan untuk mendahului para penduduk. Heldrado mula-mula mengambil salah satu tombak yang masih bagus, terlempar cukup jauh dari tumpukan mayat, tertutupi oleh rerumputan tinggi yang sudah tergerogoti api. Kemudian jemarinya menyisir rerumputan dengan lebih seksama. Adakah koin yang jatuh? Heldrado cukup lama melakukan pencarian, karena instingnya dengan penuh desakan menyuruhnya untuk mengumpulkan koin. Dengan situasinya saat ini, satu-satunya penolong adalah gemerincing koin yang berisik. “Ya Tuhan. Demi Tuhan. O Tuhan, ampuni aku!” Heldrado merasa miris untuk merogoh tumpukan mayat, terutama yang kantong-kantongnya masih menyimpan koin utuh, tetapi mereka semua sudah mati. Heldrado nyaris menangis saat menerka-nerka apakah semua mayat di sini mengenal dirinya, dan berharap bahwa arwah para prajurit ini takkan menghantuinya sepanjang masa karena mencuri koin. Heldrado berulang kali menggumamkan permintaan maaf dan permohonan ampun kepada Tuhan, menegaskan bahwa dirinya yang malang sedang membutuhkan bantuan. Ketika Heldrado merasa tidak sanggup lagi bernapas dalam aroma daging leleh dan besi, ia berjingkat pergi dari lapangan. Ia memerhatikan situasi di sekelilingnya. Nampaknya sudah lewat jam makan malam, atau ini adalah waktu awal untuk berangkat tidur. Kegelapan jatuh sempurna kala sinar bulan ditutupi oleh gelungan awan-awan besar. Hanya sedikit sumber cahaya yang nampak di mata. Orang-orang menggantung lilin-lilin mereka di dalam sangkar kuningan sederhana, yang berayun-ayun rapuh tiap angin berembus sedikit terlalu kencang. Desa ini agak terbelakang. Heldrado yakin dengan itu. Meski ia tidak mampu mengamati para penduduk bengis yang menyoraki pembakaran setumpuk mayat tadi sore, ia yakin orang-orangnya tidak mengenakan tunik sebagus dirinya. Heldrado takkan buru-buru. Ia memutuskan untuk menjauh dari wilayah ramai penduduk. Ia tidak tahu bagaimana wajahnya nampak sekarang, dan aroma tubuhnya masih menyerupai mayat yang gosong. Heldrado mengendap-endap untuk mencari keberadaan sungai, mengikuti suara arusnya yang tenang membelah kesunyian langit. Samar-samar nun jauh di sana, suara burung hantu saling bersahutan. Untuk saat ini, mencari makanan belum memungkinkan, tetapi akan selalu ada sungai untuk memenuhi lambungnya yang kempis. Saat Heldrado tiba di sungai di tepi hutan, ia seketika berlutut dan membasuh wajah. “Oh, ahhh, sial!” Heldrado mengerang merasakan kulitnya yang kemerahan akibat sensasi terbakar tadi terguyur oleh dinginnya air. Meski begitu kenikmatannya sungguh tidak ada duanya! Ia menjulurkan lidah, menyicip seburuk apa kualitas air di desa yang terpencil, dan seharusnya dugaannya benar. Desa terpencil tidak banyak dihuni oleh tukang besi maupun pengrajin tekstil. Airnya ... ah, setidaknya Heldrado takkan keracunan. Setelah puas meneguk air hingga perutnya terasa penuh, Heldrado kemudian menyingsing tunik dan melipat ujung celana, mencelupkan kaki dan tangannya di sungai bergantian. Pria itu menikmati ketenangan yang menggelisahkan itu sejenak. Sembari merasakan aliran air menyusup di antara jemari kakinya yang perih dan menusuk-nusuk, Heldrado terbuai oleh beribu teka-teki yang menggelayut di pikirannya. Pertama, segala pujian tertinggi bagi Tuhan, ia selamat! Bukankah itu sesuatu yang harus disyukuri terlebih dahulu? Namun, di atas satu rasa syukur itu, ada lebih banyak pertanyaan meresahkan yang belum terjawab. Apa yang telah diperbuat para prajurit sehingga terbakar? Apa yang terjadi pada mereka? Dan, di atas itu semua, apa yang membuat para penduduk di desa terpencil ini bisa membakar puluhan prajurit berbaju zirah dan dilengkapi tombak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN