Heldrado Freds bangun tanpa mampu menentukan di mana dirinya berada.
Tunggu … tunggu sebentar. Pertama-tama, Heldrado agak kesulitan membuka mata karena rasa kantuk yang masih terlampau berat—menahannya untuk melihat sekeliling, tetapi jemarinya aktif meraba. Setelah mendapati kesadarannya telah tersebar ke sekujur tubuh, jari-jari kasar Heldrado bergeser, merasakan permukaan kasar dan berbulir-bulir seperti … ah, tanah? Dia terlelap di atas tanah?
Oh, benar. Dia perlu bersembunyi dari desa. Ini gara-gara pakaiannya yang sarat bau asap bekas pembakaran, bahkan masih tercium aroma daging bakar yang sama sekali tidak menggiurkan. Heldrado mengerang, semata-mata karena dentuman di dalam kepala yang begitu menyakitkan. Ia kesulitan membuka mata, dan saat berhasil memandang sekeliling, pandangannya begitu mengabur.
Sial, dia tak pernah sakit kepala separah ini. Namun, mengakui bahwa tubuhnya berada di ambang batas pun juga sebenarnya tidak seburuk itu. Heldrado berusaha bangkit dengan sekujur tubuh yang nyeri. Berlatar kicauan burung yang memantul pada batang-batang pohon dan jalinan dedaunan yang bergemerisik, Heldrado meninggalkan tempat beristirahat, yang tampaknya dipilih sembarangan karena tak kuasa menahan lelah semalaman. Heldrado mungkin ambruk pingsan alih-alih tertidur dengan sukacita.
Kaki telanjangnya menyusuri tanah lembab, sesekali menginjak ranting tanpa sengaja dan menyakitkan kakinya yang masih melepuh. Heldrado mendesis. Sial betul nasibnya pagi ini! Ah, tidak—sejak kemarin, malah! Dia nyaris ikut terbakar hidup-hidup, belum makan sama sekali, kulitnya melepuh, dan sekujur tubuhnya nyeri. Malang betul nasib Heldrado! Ia ingin sekali mengadu pada Tuhan, tetapi ini belum saatnya. Heldrado mendengar suara arus sungai, dan dari kerasnya gema yang terpantul di sekeliling, nampaknya sungai tidak jauh. Masih ada harapan untuk membasahi kerongkongan dan mengisi lambung yang sekarat.
Jalinan pepohonan yang rapat membuat Heldrado sulit menentukan waktu, tetapi burung telah berkicau, maka tampaknya hari telah berganti seutuhnya. Ketika Heldrado mencapai tepi sungai, pagi memang sudah tiba, meski matahari tak mampu menyeruak di antara awan kelabu yang bergelung padat di atas hutan. Namun tak ada suara geluduk maupun aroma hujan, dan untuk sementara waktu, Heldrado menikmati tiupan angin dingin yang menyusup pada pakaian tipis. Heldrado jelas membutuhkan pakaian baru, dan— tentu saja— makanan yang layak. Bahkan sepotong roti gandum hitam pun tak masalah, asalkan ia tak perlu berbuat sejauh mengais tempat sampah di tepi pasar. Oh, ia tak akan pernah sudi melakukannya!
Heldrado mengerang dan mendesis saat mencelupkan kakinya ke air. Sembari duduk di salah satu batu sungai yang cukup besar, ia membasuh wajah sekali lagi dan meneguk air sebanyak mungkin. Selepasnya, cukup lama Heldrado merenung di sana.
Sekarang apa?
Apakah sekarang saat yang tepat untuk pergi ke desa? Ingatan orang-orang tentu masih segar akan aroma para prajurit yang mereka bakar secara keji. Sungguh, Heldrado tak habis pikir soal itu. Bahkan ketakutannya terbawa hingga mimpi. Bagaimana bisa, desa kecil yang tidak nampak berbahaya itu, mampu membakar para prajurit yang tubuhnya dua kali lipat ukuran mereka? Orang-orang itu kecil, kurus menyedihkan, dan Heldrado semakin yakin dengan posisi desa yang jauh dari kerajaan. Semakin sering Heldrado memikirkan mereka, semakin kuatlah dugaan pria itu akan para penduduk desa, bahwa mereka sesungguhnya adalah jelmaan anak-anak iblis, yang bermata bengis dan berhati kelam. Tubuh mereka boleh saja kecil, tetapi semangat membunuh mereka lebih besar daripada para prajurit yang terbiasa bertempur di lapangan.
Heldrado lantas sepakat untuk buru-buru meninggalkan desa ini. Tapi, tentu saja, ia akan membutuhkan kuda.
Sial. Padahal makanan saja dia tidak punya.
Heldrado merendam kakinya cukup lama hingga terdengar suara gemerisik dan batuk-batuk. Heldrado refleks bergegas dari sungai dan nyaris terpeleset karena itu. Ia bersembunyi di balik sesemakan, mengabaikan rasa dingin mencekam yang menggigit kedua kaki. Beberapa saat kemudian, akhirnya muncul penyebab suara itu; segerombolan pria dengan alat berburu. Mereka menghampiri sungai, dan terdengar obrolan-obrolan samar seputar ‘pagi yang menggigil’ dan ‘sebaiknya membawa lebih banyak selimut’. Seseorang bahkan mulai menyarankan agar mereka mendirikan kemah di sini untuk sementara waktu, setidaknya sampai siang menjelang, sehingga mereka bisa berbasuh dengan cuaca yang lebih bersahabat. Namun rekan-rekannya menentang dengan cepat—hujan bisa saja turun nanti meski belum tercium aromanya. Peramal desa yang mengatakannya, dan mereka menekankan bagian ini berulang kali bagai mantra.
Gerombolan pemburu itu ternyata hanya berjumlah sedikit. Setidaknya ada … lima orang. Heldrado tak mampu menentukan dengan tepat ketika batu-batu sungai besar mencuat menutupi kemungkinan adanya orang lain. Para pemburu itu sebagian bertubuh besar, dan melihat dari luka-luka gores yang melintang di lengan sekokoh dahan—termasuk pria dengan satu tangan buntung yang paling mengerikan, nampaknya mereka adalah pemburu yang handal.
“Perjalanan kali ini akan memakan waktu tidak sebentar, Drest,” pria bertangan buntung itu berkata. “Kita tidak bisa mendirikan kemah tiap cuaca menjadi terlalu dingin atau saat lutut payahmu itu gemetaran.”
Para pemburu tertawa, kecuali pemuda yang paling ceking, dan tampaknya yang tadi menyarankan agar mendirikan kemah sementara waktu. Heldrado mengawasi dari balik bayang-bayang semak. Wajah berbintik Drest memerah, dan Heldrado mampu melihatnya jelas meski dari jarak yang cukup jauh, karena Drest tidak pandai menyembunyikan emosinya.
Namun, daripada itu, ada sesuatu yang lebih menarik perhatian Heldrado.
Para pemburu akan melakukan perjalanan panjang, dan itu berarti perbekalan mereka banyak!
Heldrado mengawasi dengan antusias saat para lelaki itu mulai menanggalkan tas-tas besar di pundak mereka, lalu meletakkan segala persenjataan dan perlengkapan berburu; kapak-kapak mengilap, pedang-pedang bersarung kumal yang mungkin— Heldrado yakin— dijarah dari tumpukan mayat prajurit kemarin, dan busur-busur dan panah-panah yang akan mencukupi kebutuhan perburuan mereka selama berminggu-minggu.
Tas-tas perbekalan mereka gendut, dan meski itu menggiurkan, Heldrado memilih mengawasi pergerakan Drest dengan perhatian besar. Di antara para pemburu itu, Heldrado jelas memiliki ukuran tubuh yang kurang lebih sama dengan Drest. Ia memang lebih tinggi daripada Drest, tetapi pakaian para pemburu lain jelas terlalu longgar baginya, dan mengenakannya akan membuat Heldrado nampak seperti pencuri bodoh, atau pria berpenyakitan yang bakal diburu habis-habisan kelak.
Maaf, Drest. Tapi kau punya kawan berburu, sementara Heldrado berada di ambang batas.
Ketika para pemburu itu mulai mencelupkan sekujur tubuh ke sungai, dan berjalan cukup jauh dengan tongkat-tongkat panjang untuk berburu ikan, Heldrado akhirnya keluar dari bayang-bayang sesemakan. Ia mengendap-endap bagai harimau yang awas dengan pergerakan mangsanya, tetapi alih-alih mencaplok kawanan pemburu ikan, ia menyusup di balik bebatuan dan bayang-bayang pepohonan sepanjang tepi sungai.
Jantung Heldrado berdegup kencang seiring dengan semakin dekat jaraknya dengan tumpukan tas itu. Matanya berkunang-kunang semata-mata karena sensasi mendebarkan yang semakin memperparah sakit kepalanya. Ia mulai berpikir untuk merebut satu pedang juga, tapi penyamaran apa pun yang kelak akan Heldrado gunakan belum tentu membutuhkan pedang. Tidak semua bisa membawa pedang. Belati pendek tidak masalah, tetapi Heldrado tidak tahu apakah mereka memilikinya, dan jika membawanya, maka di mana belati-belati pendek itu disimpan?
Tas Drest paling kecil, berupa karung berlapis-lapis yang dijahit berulang kali. Tanpa pikir panjang Heldrado segera menyambarnya dan berlari secepat mungkin ke dalam hutan, mengabaikan perih kakinya yang melepuh saat menginjak kerikil-kerikil tajam. Setelah memastikan bahwa dia berlari cukup jauh dan tak meninggalkan jejak, Heldrado memanjat sebuah pohon dan bergegas membuka tas karung Drest.
Lupakan kutukan— Heldrado memuji Tuhan sekarang!
Tas karung Drest bagai peti harta karun baginya. Pertama-tama, ada buntalan roti gandum hitam yang dibungkus dedaunan, barangkali untuk bekal perjalanan selama dua atau tiga hari ke depan. Heldrado segera mengambil sepotong roti dan melumatnya habis dalam sekejap. Meski tak ada minum, tapi itu bukan masalah. Heldrado bisa mampir ke sisi lain sungai lagi nanti. Tangannya menelusup lebih jauh ke dalam tas karung, mengubek-ubek barang untuk menemukan sesuatu semacam pakaian … ayolah, ayolah. Harusnya ada pakaian di sini … oh, ada!
Heldrado nyaris menangis bahagia. Ia menarik dua buntal pakaian itu dan memilih pakaian yang paling besar, lalu mengenakannya dengan bangga seolah-olah itu adalah pakaiannya sendiri dari lima tahun lalu. Ia tak membutuhkan pakaian lamanya, tapi Heldrado merasa disitulah kunci identitas yang terlupakan, maka ia membuntalnya rapat-rapat dan menaruhnya di dasar tas karung. Heldrado menumpuknya dengan satu set pakaian cadangan, kendi-kendi tertutup yang berisi semacam serbuk dan bebatuan berkilap, sebuah belati pendek dengan sarung bermotif rumit (syukurlah!), kantong-kantong penuh koin perak, dan beberapa hal yang dibungkus rapat dengan kain, seolah-olah setiap barang di dalam tas karung ini sangat berharga.
Heldrado mendadak merasa ragu. Mengapa Drest membawa barang-barang macam ini pada perburuannya? Perpaduan barang yang aneh ini membuat Heldrado sempat mengira Drest adalah seorang pencuri, atau kalau bukan, maka dia adalah putra seorang kaya-raya yang entah bagaimana terlibat kelompok berburu yang diisi para pria pedesaan bertubuh sekokoh pohon ek.
Heldrado mengikat kembali tas Drest dengan hati berkecamuk. Yah … apa pun itu, Heldrado jelas lebih membutuhkan pakaian, belati, dan koin-koin itu. Heldrado bisa saja mengembalikan barang lainnya. Ia tak butuh kendi-kendi aneh atau barang-barang yang dibungkus kain. Tetapi Heldrado tak ingin mengambil risiko. Jika ia kembali sekarang, kemungkinan para pria itu sudah dalam perjalanan kembali dengan dua ekor ikan di ujung masing-masing tombak.
Kalau begitu, Heldrado harus bergegas.
Heldrado mengambil salah satu kain pembungkus, menampakkan belasan lembaran perkamen penuh oleh tulisan. Heldrado tercengang. Ia memang tak ingat siapa dirinya selama bertahun-tahun terakhir, tapi ingatan umum semacam kertas dan tulisan— yang sudah pasti familiar bagi Heldrado semasa remaja— membuat dirinya yakin bahwa Drest lebih dari sekadar bocah paling muda yang suka diejek kawan-kawan berburunya.
Drest adalah anak orang kaya!
Bahkan lebih dari itu. Mungkin sangat sangat kaya!
Heldrado mendadak takut. Ia buru-buru merobek kain pembungkus itu menjadi dua, dan membalut kedua kakinya dengan masing-masing kain, lantas diikat dengan gulungan serat yang ada di dalam tas karung. Setelah memastikan kedua telapak kakinya yang melepuh bakal aman sementara waktu, Heldrado cepat-cepat melompat turun dari dahan, mengaduh pelan atas sensasi menyakitkan itu, dan kabur dari hutan secepatnya.
Ia tak boleh bertemu kawanan pemburu itu lagi.
+ + +
Heldrado berlari meninggalkan hutan. Ia tidak menuju desa. Tempat itu masih berbahaya baginya. Heldrado berbelok ke arah daerah gembala, melintasi jalan panjang berpagar rerumputan tinggi dan sesemakan rendah. Aroma kotoran sapi mulai tercium dari sini.
Heldrado berhenti di dekat dua ekor sapi yang merumput terlalu dekat dengan tepi jalan. Heldrado menepuk-nepuknya, sekadar membayangkan s**u sapi yang bisa diperas.
“Hei!” Heldrado terkejut saat sebuah suara menegurnya. Ia refleks mengangkat tangan dan mendapati seorang pria menghampiri. Kulitnya merah, dengan janggut kasar menjuntai di lehernya, dan ia kesusahan berlari karena usia. Sang penggembala mengacungkan tongkat dengan emosi.
“Maaf,” kata Heldrado. “Aku tidak berniat apa pun.”
“Beruntunglah kacung-kacung suruhan itu sudah pergi, atau kau akan diseret ke kastil Lord Lovell!”
Heldrado mengangkat alis. “Ada kastil dekat sini? Aku tak melihat apa pun.”
Sang penggembala akhirnya tiba di dekat Heldrado. Tongkat diangkat untuk memastikan jarak Heldrado dengan sapi-sapinya cukup jauh. “Kastil Lord ada di balik bukit.” Ia mengedikkan dagu pada perbukitan rendah di balik punggungnya. “Kau tidak datang dari arah sana, kukira?” tanya sang penggembala, sembari menelusuri penampilan Heldrado. Ia mengernyit melihat alas kaki yang serampangan.
Heldrado berdeham. Ini waktunya memelas. “Aku kecurian di perjalanan,” ujarnya. “Kudaku juga hilang—oh, Bettyku yang malang! Dan, seperti yang kau lihat, hanya inilah yang tersisa.”
“Ya … aku bisa melihatnya. Kasihan sekali engkau, Pemuda!”
Heldrado berlagak sedih. “Aku tahu engkau orang yang jujur, wahai penggembala,” ujarnya. “Dan kau lihat betapa berantakannya penampilanku yang menjijikkan ini. Kiranya engkau mau membantuku— potonglah rambutku untuk beberapa koinku yang tersisa saja, maka aku akan segera pergi dari sini untuk melanjutkan perjalanan!”
Sang penggembala terbengong-bengong.