Hel kembali bermimpi, tetapi itu bukan hal yang baru. Satu-satunya yang baru adalah jenis mimpi yang datang kepadanya.
Hel bermimpi dirinya menjejakkan kaki pada sebuah negeri. Kali ini Hel mengenal tempat tersebut; itu adalah Negeri Freds, tanah kelahirannya! Kampung halamannya, yang terkenal sebagai Negeri Freds yang Subur, yang berlimpah kasih sayang dari Tuhan Maha Pemberi. Segala hal tentang Freds begitu menyenangkan. Bayangkan langit biru cerah alih-alih awan putih kelabu raksasa yang memayungi Vestrad. Atau, rerumputan hijau segar bertabur embun yang bisa disantap domba-domba dan sapi-sapi tanpa keracunan. Atau, yang paling menjadi perhatian Hel, adalah sungainya yang jernih, dan saking beningnya, sampai-sampai dasar bebatuan mampu terlihat jelas. Dan, di atas itu semua, tak ada abu yang mengapung di udara!
Nah, apakah ini familiar bagimu?
Hel tak menyangka dirinya pulang, meski untuk saat ini, terbatas pada mimpinya saja. Tidak berlebihan jika ia merasakan pelupuknya memberat. Bersamaan dengan mimpi yang disaksikannya itu, terjangan perasaan rindu menyergapi hatinya, seolah-olah ia seorang pria yang baru saja mendapatkan ingatannya kembali, dan bersua dengan istri anak yang terlupakan. Tetapi Hel bahkan tidak tahu apakah ia punya istri dan anak sampai saat ini.
Untuk pertama kalinya pula, Hel tidak dikontrol oleh mimpi; ia bisa menapak ke mana pun sesuka hati. Maka pria itu pun mengambil langkah, pertama-tama menikmati pegunungan yang melatari pedesaan pada mimpinya. Tak terlihat ada kastil, dan barangkali ini adalah sebuah desa yang jauh dari Ibukota Freds. Tak masalah. Desa ini, Hel yakin, adalah desa kelahirannya.
Rumah-rumah di pedesaan itu besar, lapang, dan memiliki ladang-ladang ternak yang hijau dan bertanah subur. Tumpukan jerami maupun selada-selada yang bertumbuh di ladang itu segar. Orang-orang yang berlalu lalang mengenakan pakaian yang cukup bagus untuk seukuran penduduk tepi negeri; hijau dan kuning, biru dan krem, atau semanis merah jambu dan sesederhana cokelat bagi gadis-gadis muda.
Sayangnya, acap kali Hel mencoba menyapa para penduduk, mereka hanya menatapnya kosong.
Seolah tidak mengizinkan Hel untuk bermimpi indah sesekali, para penduduk desa itu dengan segera menambatkan pandangan kosong kepadanya. Perlahan, mereka bergerak dalam lingkar yang mengerikan. Mereka mendesaknya; menempatkan Hel dalam ketakutan, hingga seseorang tiba-tiba menyeruak dari kerumunan itu.
Oh, pemuda yang pernah menjilati sepatunya dahulu!
Hel dalam mimpinya terhenyak, tetapi pemuda itu menyelamatkannya. Ketika pemuda itu datang, kerumunan seketika buyar, dan para penduduk tak terlihat dalam pandangannya lagi.
Sehingga, ketika Hel akhirnya terjaga, tidak heran jika jantungnya pun ikut berdegup tidak nyaman. Ia termenung sesaat, memandang langit-langit sebuah rumah yang baru saja dibangunnya minggu lalu bersama Aeson dan sejumlah penduduk. Matanya agak perih karena terbuka dadakan. Ia mengerjap-kerjap, lantas memutuskan untuk beranjak. Dipan berkeriut sewaktu ia bergeser.
Alih-alih berdiri, Hel kembali tercenung di tepi kasur. Omong-omong, tubuhnya masih agak nyeri. Padahal ia sudah menerima pijatan dari gadis-gadis terbaik kemarin, melemaskan segala kekakuan otot setelah dipakai mengerahkan Energi selama sebulan penuh.
Ya, sebulan sudah berlalu sejak ia dan Aeson pertama kali membenahi desa. Banyak hal terjadi selama itu, tetapi tidak cukup menarik untuk diceritakan kepada kalian. Intinya, sempat muncul perdebatan dengan para penduduk lokal saat Aeson meminta bantuan. Kendati demikian, orang-orang itu kemudian muncul, meski semata-mata karena didorong rasa penasaran. Setelah menyadari bahwa Aeson dan Hel adalah para pengguna Energi yang baik, maka orang-orang itu mau membantu, walau awalnya hanya sedikit saja. Toh, seiring dengan bertambahnya hari, akhirnya semakin banyak yang membantu. Jumlah rumah dari papan yang dibangun ulang pun meningkat tiap harinya.
Omong-omong, kembali pada Hel yang kini merenungi mimpinya. Ia tidak lagi kebingungan seperti sebelumnya. Tidak. Ia terdiam karena perlu menyusun mimpinya, memilah mana yang merupakan imajinasi spekulasi, dan mana yang sungguhan adalah mimpi.
Lalu, Hel beranjak meraih sebuah perkamen. Ia mencatat mimpinya sedetail mungkin: langitnya yang biru cerah, rumah-rumah pedesaan yang berjarak jauh-jauh dan terpisahkan oleh ladang ternak, sungai jernihnya yang mengalir deras, atau kilau sesemakan berbunga yang terkecup sinar hangat matahari. Lalu, para penduduk dan pemuda itu—pemuda yang sama yang menjilati kakinya dahulu di mimpi lama. Ia masih tidak bisa melihat wajahnya, tetapi Hel tahu, pemuda itu mungkin seusia Hel sekarang. Mimpinya terasa begitu jadul.
Selesai menulis, kelegaan membanjiri Hel lebih dari apa yang dikiranya. Ia pun tenang. Ini adalah cara baik yang diajarkan oleh Guru Tetua sebelum ia berangkat; Hel harus mencatat setiap mimpi, bahkan kalau perlu potongan kenangan—familiar maupun asing—saat ia selesai menggunakan Energinya. Mimpi semalam, sebagaimana sebuah penalti, adalah akibat dari penggunaan Energi terakhirnya kemarin. Dan, ini adalah rahasia antara kau dan Hel—ia sebenarnya terselip menggunakan Energi asap kemarin. Sang tabib muda tidak tahu, dan sebaiknya tidak. Ini gara-gara Hel membantu membersihkan sumur tempatnya mengurung si vehemos lendir. Ia terpaksa menggunakan Energi asap untuk menyingkirkan kegelapan pekat yang terkungkung di sana. Omong-omong, vehemos lendir juga tak terlihat lagi, dan ini membuat Hel cemas. Apakah ia berhasil kabur? Atau tenggelam hingga ke dasar sumur yang tiada ujung?
Pintu kamar Hel diketuk, dan hanya Aeson yang segera membukanya tanpa menunggu jawaban. Ia berdiri di ambang pintu dengan pakaian lengkap, wajahnya cerah. Meski begitu nadanya datar-datar saja saat menyapa Hel. “Pagi. Mari turun.”
Hel mendengus. “Ada apa denganmu?”
“Ada apa ... denganku?”
“Kau tampaknya butuh mengunjungi Konservatori lagi,” kata sang paman sembari membereskan barang dan merapikan kasur. Sebentar lagi Desa Kors akan membeludak. Para penduduknya, terutama para perempuan dan anak-anak yang tertinggal di desa sebelah, berangsur-angsur kembali. Para pelancong pun juga pasti akan kemari, menilik seperti apa desa terkutuk yang berhasil dibangun sekali lagi. Penginapan dan kedai-kedai akan ramai seperti sedia kala, dan para penduduk Kors tidak sabar untuk menghidupkan momen itu.
Aeson mendengus. “Konservatori di sini agak ... mm, yah, begitulah.”
“Ahh, Konservatorinya butuh penyucian lebih jauh?”
Sang tabib muda mengangguk. “Aku akan sampaikan kepada Guru Tetua di Konservatori kemarin,” katanya. “Sebab kita masih punya tanggungan banyak.”
“Dan apa itu berarti kita akan mengunjungi Konservatori kemarin lagi?”
“Mampir saja.” Aeson menyeringai, dan inilah senyum pertamanya pagi ini: sebuah seringaian. Sang Guru Tabib lambat laun menjadi pemuda sarkas biasa kalau tidak sering-sering berkunjung ke Konservatori. “Kita akan kunjungi Konservatori yang lain.”
+ + +
Setelah genap sebulan membantu pembangunan Desa Kors, akhirnya karavan Aeson keluar dari tempat peristirahatan. Perry mendengus semangat saat tali kekang kembali dipasang, sebab—itu berarti—ini petualangan jarak jauh lagi! Bahkan Perry si kuda pun bosan melihat pemandangan yang sama setiap harinya. Ia adalah kuda petualang—kuda penarik karavan, bukan sekadar pengangkut karung-karung dan penarik gerobak berisi pasir atau bahan bangunan lainnya. Aeson bahkan pernah bermimpi jika Perry mendatanginya, dan berceloteh dalam bahasa manusia, bahwa ia mendambakan bukit-bukit hijau, bahkan pada sungai yang terkontaminasi abu.
Tetapi, sebelum mereka resmi berpamitan, Hel dan Aeson sepakat untuk melakukan patroli satu kali lagi. Mereka perlu memastikan setiap jengkal Desa Kors tidak dijadikan sarang persembunyian Energi gelap apa pun. Meski Aeson rutin melakukannya setiap beberapa hari sekali, mereka ingin memastikannya untuk terakhir kali, sebab mereka jelas takkan berputar balik.
Mereka akan pergi menuju sebuah kota kecil yang hancur sebelum Desa Kors, dan konon, masih ada sejumlah pengawal Lord Grimshaw yang bermukim di sana. Ini akan menjadi misi yang lebih berat, tetapi sebagaimana pesan para Guru; sekali Hel bertekad menjadi lebih baik, maka janji itu tak boleh gagal, atau ... yah, kejatuhannya akan lebih buruk daripada sebelum ia lupa ingatan.
Siapa yang mau?
Patroli terakhir itu memakan waktu yang cukup lama. Matahari telah bergeser dua jengkal dan hampir mencapai puncak kepala saat Hel dan Aeson akhirnya tiba di alun-alun. Selama itu, Aeson telah mendengar sisa-sisa keluhan terpendam dari para ibu dan para pemuda. Sang tabib muda juga mengunjungi Konservatori lokal yang mati-matian dihidupkannya selama sebulan lalu, dan berharap akan menjadi senjata penangkal kejahatan pertama jika kelak kegelapan ingin menguasai Desa Kors lagi.
Kemudian, saat mereka mencapai alun-alun di mana paving batu telah digosok bersih hingga mengilap, dan sesemakan lumen ditanam memagari, Hel dan Aeson spontan bertukar tatap penuh arti.
Hanya mereka yang tahu ada apa di balik kubah hijau itu.
Sebelumnya, sang tabib muda berusaha mempersuasi orang-orang agar tak pernah memangkas kubah hijau itu. Monumen mereka telah hancur, dan tidak sedikit yang menjadi saksi bahwa monumen air mancur adalah pusat dari pusaran awan gelap yang mengerikan. Karena itu, para penduduk Kors mudah saja untuk diatur agar tak menyentuhnya. Toh, kubah hijau itu tidak jelek-jelek amat. Lebih menyenangkan melihat kubah bundar aneh yang diselimuti rerumputan dan sulur yang subur. Mereka bahkan memasang pagar bambu yang mengitari, sekadar isyarat bagi anak-anak nakal agar tidak bermain sejauh menabrak kubah hijau baru itu.
Cukup hanya Aeson, Hel, dan Kepala Desa saja yang tahu kalau di balik kubah itu ada Separuh-Iblis yang terkubur. Dan oleh sebab alasan itulah, Aeson dan Hel kembali mampir untuk mengeceknya terakhir kali.
“Tidak ada tanda-tanda apa pun sejak kau mengawasinya kan, Guru?” Hel berbisik, yang dibalas dengan gelengan. “Apa kau sudah memperingatkan para Guru di Konservatori desa pula?”
“Yah, tapi ... aku tidak yakin. Karena itu, aku hanya bilang kalau kubah hijau ini perlu dibacakan ayat-ayat suci rutin. Itu saja.”
“Kau tak bilang mengapa?”
“Kepala Desa yang akan mengurus perihal sejauh itu.”
Hel menatap Aeson dengan sangsi. Yo, bukankah ini semacam ... melepas tanggung jawab? Tapi Hel mencoba untuk memakluminya. Mereka akan pergi jauh setelah ini, dan kemungkinan takkan kembali ke Desa Kors lagi. Biarlah segala urusan desa ini menjadi milik para penduduk lokalnya.
“Aku akan tambahkan informasi ini kepada Guru Tetua di Konservatori lalu,” kata Aeson. “Mumpung kita akan mengunjunginya sekalian.”
Hel mengangguk, maka itulah akhir dari patroli mereka.
Saat Hel dan Aeson sudah menaiki karavan dan bersiap-siap di gerbang, penduduk desa membekali mereka makanan secukupnya. Termasuk tombak-tombak yang siapa tahu bakal berguna nanti, dan sebuah tenda dari karung jahitan untuk menaungi Hel tidur di luar.
Perry pun menarik karavan dengan cukup bersemangat saat Hel menghela. Tdiak hanya Perry, kedua lelaki itu sama gembiranya kala meninggalkan desa. Aeson bahkan bersenandung di dalam karavan, dan suara merdunya terdengar keluar jendela. Hel mulai menikmati lantunan puji-pujian Tuhan itu, yang mengingatkannya akan mimpinya semalam, ketika ia menyadari ada sesuatu janggal di langit.
Hel mengernyit. Ada seutas cahaya hitam, nun jauh di sana, menyorot dari suatu tempat menuju langit, membelah awan-awan yang menaunginya.
“Guru, kau lihat itu?” Hel mengetuk dinding karavan. “Cahaya hitam itu, apa kau melihatnya?”
Aeson mengintip dari lubang jendela. “Mana? Aku tak melihatnya,” jawabnya, dan saat Hel mencoba menjelaskan, sang tabib muda masih memberikan jawaban yang sama.
Hel semula tak terlalu memikirkannya, tetapi ketika nada Aeson berubah, sang paman menjadi gugup. “Apa kau melatih Energi lamamu lagi, Hel?”
Hel menelan ludah. Ia tak pandai berbohong, sehingga hanya inilah jawabannya. “Kenapa pula aku melakukannya?”
Untungnya, Aeson tak mencoba mencari tahu lebih jauh. Sang tabib muda hanya mendengus, lalu kembali bersenandung, tetapi kali ini dengan gumaman pelan.
Sementara Hel kembali mengawasi ke arah garis cahaya itu dengan waswas. Garis cahaya itu jelas, dan meski tampaknya teramat jauh, Hel masih bisa melihatnya. Kenapa Aeson tak melihatnya? Dan, para penduduk? Bukankah kalau para penduduk melihatnya, mereka juga akan menunjuknya?
Hel mengatupkan bibir. Apakah hanya dirinya yang bisa melihat itu?