Ibukota Vestrad adalah lautan kelabu: abu menyelimuti atap-atap merah, dinding-dinding batu yang berlumut, maupun jalanan berpaving padat yang bergeronjal dan penuh dengan kubangan bau. Air yang mengalir pada kanal-kanal pekat akan gumpalan bulu-bulu hewan, bonggol-bonggol jagung dan batang-batang sayuran busuk, dan serpihan abu yang mengapung. Cerobong-cerobong asap hitam menyemburkan asap-asap beraroma besi, atau sesekali roti—yang terlalu banyak ragi dan bikin ingin muntah. Daun-daun meranggas lebih cepat di sini, menunjukkan kedatangan resmi musim dingin di Negeri Vestrad, dan—sekali lagi—dahan-dahan dipenuhi oleh gumpalan abu alih-alih salju.
Tidak sulit membayangkan situasi Ibukota. Segalanya abu, begitu saja.
Dan setiap hari, selama belasan tahun, Panglima Rogerton Bricks menyaksikan pemandangan yang sama. Ia masih ingat, pada awal belasan tahun yang lalu, Vestrad masih bisa disebut ‘hijau’. Daun-daun bertahan pada musim dingin, sebuah keajaiban karena Vestrad bertetangga dengan Negeri Freds yang Subur. Pada saat itu, abu hanya bermunculan dari asap pembakaran besi dan pembuatan pedang-pedang atau tombak-tombak panjang. Tidak banyak abu yang mengapung di udara, dan orang-orang saling bersin di waktu-waktu tertentu. Jalanan paving batu masih berwarna putih tulang, krem, cokelat, atau bahkan kebiru-biruan. Dinding rumah penduduk dan pertokoan juga masih berwarna segar, dengan atap-atap merah menyala dan cerobong-cerobong cokelat kehijauan.
Sekarang, sekali lagi, semuanya kelabu, termasuk oksigen yang dihirupnya.
Keletak kuda tunggangan Rogerton Bricks menggema pada pagi yang senyap itu. Di musim dingin kelabu ini, penduduk Ibukota menjadi semakin malas setiap tahunnya. Mereka bangun lebih siang, dan berjaga semalam suntuk karena satu-satunya kehangatan bersumber dari kedai-kedai penyuguh anggur oplosan. Ini karena sayur-mayur membusuk lebih cepat dan hewan ternak yang dijual juga semakin kurus. Beberapa hari lalu Panglima Bricks sempat melihat seorang peternak menggendong dombanya yang kurus kering, dengan bulu wol tebal kusam yang belum dicukur, ke arah pasar dengan wajah harap-harap cemas. Panglima Bricks kembali melihatnya kemarin, dan alih-alih membawa sejumlah uang, si peternak menggendong dombanya yang tewas keracunan karena menyantap rerumputan hitam di tepi pagar pasar. Peternak itu bahkan tidak menangis. Wajahnya sendu kelabu karena itu adalah domba ketiga dengan nasib serupa tahun ini.
Kuda Panglima Bricks terus melangkah, dalam tempo yang sama, menyusuri jalanan yang sama, dengan tujuan akhir yang sama pula. Sehari-hari Panglima Bricks mengitari perbatasan Ibukota seorang diri. Ia rela turun tangan tanpa menyuruh para pengawalnya yang mencapai jumlah puluhan ribu, semata-mata karena keinginan tak penting seorang pemimpin yang—
Ahh, bersabarlah.
Panglima Bricks menghela napas. Ia tidak boleh berpikir seperti itu. Lord Grimshaw telah membawanya sejauh ini, dan sepantasnya Rogerton Bricks memuliakan sang tuan bahkan pada liang hati terdalamnya.
Ia mengangkat wajah, memandang ke arah dua vehemos bersayap kelelawar raksasa yang mengitar di atas kastil. Kepala mereka kecil, sebesar kira-kira tiga kali kepala manusia dewasa, tetapi monster itu memiliki bahu dan tubuh yang berbonggol-bonggol besar. Keduanya sesekali memekik, dengan suara senyaring geluduk petir. Mereka senantiasa mengawasi kastil yang berdiri megah pada puncak bukit rendah, dan dikelilingi oleh danau buatan yang kecil.
Kastil Vestrad, sebagaimana yang bisa engkau bayangkan, juga berwarna kelabu gelap, sampai-sampai kini seluruh batuannya telah terlapis warna hitam. Tidak ada yang membakar apa pun, kecuali asap cerobong dari dapur untuk membuat roti. Meski begitu asap menggelayut pekat di sekitar kastil bagai kabut kelam sepanjang masa. Cahaya-cahaya merah obor menerobos kabut dengan samar-samar dan, sejauh mata memandang, tampak seperti bola-bola api yang mengapung di tengah kegelapan pagi yang mendung.
Ketika kuda Rogerton Bricks akhirnya mencapai jembatan yang melintasi danau melingkar yang hitam pekat, dengan buaya-buaya besar berekor tiga, gerbang terluar benteng dikerek oleh sejumlah pengawal. Mereka menyerukan “Panglima Rogerton Bricks yang Terhormat memasuki benteng!” yang sama setiap harinya. Pengawal-pengawal yang bersiaga seketika berdiri tegap, sebagian dengan asap hitam mengabur di tepi figur tubuh mereka. Panglima Bricks mengawasi para pengawal itu dengan tatapan tajam.
Saat Panglima Bricks mengibaskan tangan tanda penerimaan penghormatan itu, sekelebat asap hitam pun menjulur dari tepi garis lengannya.
Mereka sama saja; semua adalah Separuh-Iblis yang mendapat Kehidupan Kedua setelah sejulur asap hitam merasuki lubang-lubang di wajah mereka.
Kecuali Rogerton Bricks. Dia mendapat Energi asap hitam dengan cara yang berbeda, dan ini membuatnya menjadi yang terkuat. Tentu saja. Itulah mengapa dia menjadi Panglima Lord Grimshaw.
“Tuan Bricks,” seorang kapten pengawal menghampiri. Di belakangnya, seorang pemuda dalam balutan pakaian khas penduduk miskin mengekor. Kulitnya pucat, badannya agak membungkuk, dan bola matanya hitam seutuhnya.
Kuda Rogerton pun melambat. “Siapa ini?”
“Dia adalah pemuda terakhir yang mendapat Kehidupan Kedua dari Desa Kors, Tuanku,” jawab sang kapten. Ia memamerkan sang pemuda dengan bangga, seolah-olah anak kesayangannya. “Desa Kors kini habis seutuhnya.”
Dalam sekali lirik pun Rogerton tahu tak ada yang spesial dari pemuda Korson ini. Tetapi bukan itu poin sang kapten—ia menunjukkan pencapaiannya. Wajar saja. Ia adalah kapten baru.
Rogerton memutar bola mata. “Lantas apa yang ia lakukan di sini?” sentaknya. “Bawa ia bergabung dengan pasukannya yang baru—para penduduk Kors itu harus segera mendapatkan pelajaran mereka; merata dan tanpa terkecuali. Jangan bawa ke hadapanku lagi hingga ia mengenakan topengnya!”
“Baik, Tuanku—baik.” Sang kapten berjengit. Ia buru-buru menyeret pemuda linglung itu untuk mengikutinya, dan begitulah, Rogerton mengakhiri patroli paginya dengan sedikit gusar.
Tidak penting, batinnya. Kenapa akhir-akhir ini Rogerton kian diburu dengan hal-hal tidak berguna? Apakah ini akhir dari karirnya, ataukah ini pertanda bahwa Rogerton harus mengerahkan lebih banyak pasukan baru ke tepian Vestrad, agar laporan paginya tidak diisi hal-hal yang serupa setiap harinya?
Rogerton mulai membenci rutinitas ini.
Ia mulai haus darah, kau tahu? Ia merindukan saat-saat pedangnya memisahkan kepala seseorang dari tubuhnya, atau saat ia menarik jantung yang berdenyut-denyut keluar dari sarangnya. Ia pun mendamba jerit tangis dan pekikan para musuh saat jemari Rogerton mengacak-acak isi perut mereka. Ia ingin kembali merasakan kedua kakinya saat mencelup pada kubangan darah yang hangat dan berlemak, bukan sekadar patroli pagi keliling perbatasan, menyaksikan kelabunya Vestrad, dan mendengar laporan-laporan tak penting dari pengawal-pengawal d***u.
Dan, pagi ini, ia akan menemui Lord Grimshaw seperti biasa. Tetapi berbeda dengan laporan-laporan tak penting yang harus disampaikan sebagaimana hari-hari sebelumnya, Rogerton akan mengajukan sebuah rencana perang. Pemberontakan. Invasi. Atau sekadar p*********n sebuah kelompok. Atau, apa pun itu, asal ia bisa mengenyangkan keinginan batinnya yang meronta-ronta kian lantang.
Sungguh, kau tak tahu betapa Rogerton Bricks mencoba bersabar, setelah Lord Grimshaw kehilangan penasihat hidupnya.
Penasihat hidup yang, agaknya ....
“Panglima Rogerton Bricks hadir!”
Seorang footman yang bertugas di ruang tahta mengumumkan kehadiran Rogerton Bricks. Tepat saat itu, dua pengawal membukakan pintu ganda dari baja; decit suaranya memekakkan telinga, membuat siapa pun pendengarnya akan bergidik ngeri.
Rogerton Bricks masuk dengan langkah mantap, menyusuri hamparan karpet merah panjang yang kini bersemu noda hitam di mana-mana. Bukan lagi abu—noda hitam itu adalah darah yang telah mengering dan menggelap, dan sekali pun tak pernah digosok bersih atas permintaan seseorang.
Ruang tahta itu memanjang, dan tidak terlalu lebar, tetapi sangat terang karena jendela-jendela tinggi yang megah. Ruang itu juga sepi. Rogerton memang sengaja datang lebih awal, beberapa saat sebelum waktu para dewan berkumpul.
Ia sudah tahu apa tanggapan para dewan nanti kalau mendengar gagasannya. Cukup Lord Grimshaw saja yang menjadi pendengar pertamanya, termasuk para pengawal kepercayaan yang berjaga di dekatnya.
Rogerton Bricks baru menyadari bahwa Lord Grimshaw tidak sendirian. Ini karena tirai yang merahasiakan panggung tahta belum disibak, dan di antara bayang-bayang seribu lilin dalam sangkar di sekitar kursi tahta, tampak sang penguasa tengah berkumpul dengan istrinya. Tak ada suara, tetapi gerak bayangan di balik tirai tidak bisa disembunyikan. Rogerton mengawasi dari jarak cukup jauh, menanti dengan bosan hingga terdengar erang kelelahan Lord Grimshaw.
Suaranya ringan dan serak. “Ini masih pagi,” ujarnya cenderung tidak suka. “Bisakah engkau ...?” dan suaranya tidak terdengar lagi, karena tenggelam menjadi bisikan. Rogerton berbalik badan, memastikan bahwa para pengawal tidak berusaha menajamkan pandangan. Wajah mereka tegang akan tatapan tajam sang panglima.
Lady Grimshaw mulai protes, tetapi Rogerton cukup tanggap untuk berdeham. “Rogerton Bricks, Yang Mulia,” ujarnya, “hadir di hadapanmu.”
“Oh Tuhan!” sang ratu terkesiap, dan tampaknya sang raja lega dengan kedatangan panglima mereka. Lady Grimshaw buru-buru beranjak, mengambil jubahnya, dan menghilang dalam sekejap di balik selambu yang sama.
Lord Grimshaw menghela napas panjang. Tidak butuh waktu lama hingga tirai terkerek dengan sendirinya dan sebagian api lilin padam. Lord Grimshaw bersandar malas pada kursi tahta, tampan dan muda, dengan mata hitam seutuhnya. Ia menegakkan punggungnya.
“Ahh, Rogerton,” ujarnya, sementara sang panglima berlutut pada satu kaki. Seorang pelayan menghampiri seraya menyodorkan teko dan cawan. Sang raja menuangkan minumnya sendiri. Cairannya jernih—air sulingan biasa, tapi satu-satunya air tanpa warna di istana ini. “Ada yang berbeda?”
Rogerton mengangkat alis samar. Tidak biasanya Lord Grimshaw menanyakan ini. Apakah sang raja sudah ...? Tidak mungkin. Rogerton mendadak merasakan geliat kecemasan di dalam benak. “Tidak ada yang berbeda, Yang Mulia,” jawabnya. “Kecuali Desa Kors telah habis seutuhnya.”
Lord Grimshaw termenung. Di bawah gumpalan asap hitam yang menggantung di langit-langit panggung tahta, sang penguasa sedikit merosot dari tempat duduknya.
“Bagaimana dengan masalah yang kemarin itu?”
Rogerton nyaris gagal menahan dirinya untuk tidak memutar bola mata. Helaan napas panjang pun terselip, dan ia seketika menunduk dalam-dalam, tak berani menatap sang raja yang mengawasinya tajam. Sebelum Rogerton mampu menjawab, Lord Grimshaw menambahkan dengan penuh penekanan. Nada malasnya hilang seketika.
“Aku tidak peduli pada apa yang kau kira,” kata sang raja, dalam dan menekan. “Tetapi apa yang ia bawa itulah yang kuinginkan.”
Rogerton mengangkat wajahnya. “Lantas ... tidak seharusnya Anda melepasnya waktu itu, Yang Mulia.”
Sang panglima tiba-tiba terhempas jauh ke sepasang pintu baja hingga jebol, mengejutkan seisi ruangan hingga mulut mereka menganga, dan hanya tertinggal kepulan asap hitam yang memancar dari tangan sang raja. Lord Grimshaw mengatupkan tangan. “Kalau kuingat-ingat, pintu itu kian hari kian membuatku jengkel. Sebaiknya ganti dengan pintu kayu saja.”
Pelayan yang masih bertahan di sisi sang raja mengangguk tegang. “A-akan saya sampaikan kepada Penasihat Baru.” Matanya tak bisa beralih dari sang panglima yang kini batuk-batuk di lorong luar ruang tahta, menahan sejumlah pelayan untuk melintas. Mereka semua sama paniknya.
Mendengar Penasihat Baru disebut-sebut membuat Lord Grimshaw semakin tidak suka. Ia menatap lurus kepada sang panglima yang berkutat untuk berdiri. “Apa aku pernah minta pendapatmu?” tanya sang penguasa, yang kendati tidak berteriak, tetapi suaranya menggema hingga keluar ruangan. Sayup-sayup terdengar permintaan maaf Rogerton yang lirih. Lord Grimshaw menghela napas.
“Aku penasaran mengapa ia belum kembali juga,” gumamnya. “Ia seharusnya bisa menemukanku kapan saja sekarang.”
Ia beranjak menghampiri sebuah jendela. Sang raja memandang ke arah luar Ibukota, nun jauh di sana, terpisahkan oleh bukit-bukit dan hamparan hutan yang luas. Setelah memikirkan beberapa rencana di dalam benak, akhirnya ia memutuskan sesuatu.
Lord Grimshaw beranjak ke ruang kecil di balik panggung tahta, tempat sebuah tangga menuju puncak menara tertinggi berada. Ia meniti ribuan tangga melingkar tanpa kelelahan. Ini karena hiburan kecil yang mengapung di tengah-tengah menara; ribuan benda kenangan melayang di udara tanpa arah, terikat oleh gelayut kegelapan yang sulit ditembus cahaya luar jendela. Pita lusuh, liontin berkarat, batu berukir, bahkan gaun seorang gadis muda yang sudah tewas belasan tahun lalu bercampur menjadi satu di antara lautan benda apung. Sesekali sebuah benda akan melayang hingga nyaris mencapai sang raja, dan begitulah, ia cukup menyingkirkan benda itu untuk kembali mengapung di antara ribuan yang lain.
Ketika Lord Grimshaw mencapai puncak menara, ia menyorotkan sebuah cahaya hitam ke udara. Garis cahaya itu memecah tiap lapis awan yang dilewatinya, hingga terdengar geluduk bersahut-sahutan tanpa tuan.
Lord Grimshaw mendongak. Matanya mengawasi Cahaya Tanda dengan penuh harap.
Oh Tuhan. Semoga ia segera pulang.