Bahkan semua orang tahu, membuat marah sesosok monster—tak peduli apakah dia manusia secara harafiah, mengambil wujud mereka, atau monster sungguhan—adalah hal yang tak boleh terjadi. Tetapi Drest marah.
Ketika Hel menatap kepada Drest, mata sang pemuda menyala terang. Ia mendesis, dan darah menetes-netes dari bibirnya dengan begitu menjijikkan.
Ia berteriak dan ludahnya yang bercampur darah korban bermuncratan. “Kumakan kau!” raungnya, dan sebagai puncak keterkejutan Hel, Drest berderap dengan cara yang ... tidak sebagaimana manusia biasanya berlari. Kendati tubuh jangkung dan kecengnya normal, ia berlari dengan kedua kaki dan kedua tangan. Hel berjengit.
Saat Aeson mengacungkan tangan, sang paman menghentikannya. “Biar aku saja, Guru!” ujarnya, semata-mata karena serbuan rasa percaya diri setelah berhasil mengalahkan dua kawanan pemburu sekaligus. Drest tidak lebih besar daripada mereka. Hel pasti bisa mengatasi Drest, dan mengabaikan keragu-raguan di wajah Aeson, sang paman mengacungkan tangan.
Ketika dua gumpalan tanah besar muncul sekali lagi dan kini terarah ke Drest, pemuda monster itu melesat begitu cepat, menerjang Hel yang membeliak dan tak mampu bereaksi. Seiring dengan Aeson yang menyerukan nama Hel, Drest menancapkan kuku-kukunya di bahu sang paman, dan mereka pun jatuh terjungkal.
“Apa kau pikir trik yang sama bisa mengalahkanku?” raung Drest. Caranya menancapkan kuku dan menariknya kembali menunjukkan bahwa ia ingin mencabik-cabik tubuh Hel. Untung saja pria itu mengenakan berlapis-lapis pakaian, ditambah jubah pendek, karena cuaca musim dingin yang semakin membeku. Sekarang hanya lapisan terluar jubah yang robek oleh cabikan Drest, dan mereka sama-sama kesal.
“Jubahku!” Hel menyeru, sementara Drest mendesis. Hel berusaha mendorong, tetapi Drest mampu bertahan, kendati perbedaan bobot tubuh mereka yang jauh. Maka Hel pun menempelkan kedua telapak tangannya pada tanah hingga bergetar.
“Sial!” umpat Drest. Ia spontan melompat menjauh, memberi kesempatan bagi Hel untuk beranjak. Aeson segera ikut campur. Ia melanjutkan dampak Energi Hel pada tanah di sekeliling mereka; sang tabib muda mengangkat satu tangan dan mengarahkan gumpalan tanah agar mengikuti ke mana arah Drest kabur. Sementara satu tangan lainnya mengacung, menjulurkan tali-tali cahaya yang mengejar arah perginya sang pemuda. Drest memekik saat tali cahaya Aeson mencapainya duluan.
“Lepaskan aku!” pekik Drest. Tetapi ia sama sekali tidak menatap Aeson. Ia terus menambatkan pandangannya kepada Hel semata. Ia menudingkan telunjuknya. “Kau pengkhianat; kau tidak seharusnya melawanku!”
Hel terkesiap. “Tapi aku mencuri barangmu,” ia bahkan mengucapkannya begitu saja. “Dan kau menyuruhku untuk membelamu?”
Drest meronta-ronta dari lilitan tali cahaya Aeson, yang kini menariknya mendekat dengan penuh kehati-hatian. Ekspresi sang tabib muda begitu bercampur aduk. Ia tak bisa mengalihkan pandangan dari bercak darah dan lemak yang belepotan di dagu Drest.
“Membelaku?” Drest mencemooh. “Aku tak butuh belaan siapa pun, tidak dari seorang pengkhianat macam dirimu!”
Hel makin terbengong-bengong. Kenapa pemuda ini cepat sekali mengubah pendiriannya?
“Ia menyebutmu pengkhianat, Hel.” Aeson mengernyit. “Apa kau mengenalnya sebelum ini?”
“Tidak,” jawab Hel bingung. “Semua persis seperti yang kuceritakan padamu.”
“Bodoh.” Drest tertawa. Ia tetap berusaha melepaskan diri dari cengkeraman untaian cahaya Aeson, tetapi ia tidak memaksa. Toh jeratan tali itu tidak membuat tubuhnya berasap atau semacamnya, seperti yang pernah terjadi pada Hel saat Guru Jasar mencekiknya. “Bukan itu maksudku,” kata sang pemuda monster lagi. “Tapi kau sendiri.” Ia mengedikkan dagu ke arah Hel, atau tepatnya, ke arah asap yang menguar tanpa izin dari balik jubahnya.
Hel terkesiap. Ia bahkan tidak berusaha mengeluarkan Energi asap! Apa yang terjadi? Sementara Hel panik menyingkirkan asap hitam yang terus menyembur, Drest berguling-guling di tanah dengan tawa kencang. Aeson melotot tegang melihat situasi yang menimpa sang asisten.
“Guru—aku bersumpah, aku sudah berusaha mengabaikannya!” seru Hel.
Drest semakin terhibur. Ia nyaris lupa kalau beberapa saat yang lalu, ia ingin mencabik-cabik tubuh Hel dan melumat dagingnya. “Apa-apaan? Kau berusaha melawanku dengan Guru Sucimu, tetapi ternyata kau juga yang merusak desa ini?”
Drest barangkali mengira Aeson tak tahu-menahu dengan situasi Hel, maka sang tabib pun mempererat cengkeraman tali hingga Drest berjengit jengkel. “Kau tak berhak menertawakan situasi yang kau tak ketahui, Separuh-Iblis!”
“Lepaskan aku!” Drest menendang-nendang kaki. Kini, ia tak ubahnya seorang bocah yang bertubuh jangkung dengan nafsu mengerikan akan darah dan daging manusia. “Kau akan menyesal kalau kau tahu siapa diriku!”
Aeson tidak bergeming. Alisnya justru bertaut dan dahinya mengernyit semakin dalam. “Ya Tuhan,” gumamnya. “Kau banyak bicara rupanya.”
“Aku serius!”
“Kalau begitu apa tuanmu Lord Grimshaw?” pertanyaan Aeson hanya dibalas dengan seringai, yang jelas-jelas adalah upaya gagal untuk mempengaruhi sang tabib muda. Saat Aeson hanya menghela napas dan mempererat jeratan tali hingga muncul bekas memerah dan kulit sekitarnya membiru, Drest meraung-raung.
“Lepaskan aku!” ulangnya.
Sementara itu, Hel akhirnya berhasil menghentikan asap yang terus-terusan menguar dari balik jubahnya. Setidaknya Aeson telah mengulur-ulur waktu dengan cukup efektif, sebab sekarang Hel mampu memanaskan dirinya untuk melawan Drest diam-diam, sedangkan pemuda monster itu sibuk membebaskan diri dari jeratan Aeson.
Hel mengangkat tangan, dan alih-alih membuat tanah bergetar, ia menggerakkan dahan-dahan pohon terdekat agar merebut Drest. Di saat yang sama, Aeson melepaskan jeratan tali cahaya dengan melontarkan Drest ke udara. Pemuda monster itu menjerit.
“Curang!” kata Drest, saat ia kembali terenggut oleh dahan-dahan di udara, bagai mangsa yang terperangkap sarang burung melayang. “Lawan aku dengan Energimu sebenarnya,Tuan Pengkhianat! Jangan bersembunyi pada Energimu yang dangkal ini—lawan aku dengan sekuat tenagamu!”
“Kau bahkan tak bisa melepaskan diri dari jeratan itu,” jawab Hel kesal. “Kau hanya berusaha memancingku.”
Drest tertawa-tawa. Maka Hel pun menangkap isyarat yang diberikan Aeson. Sang paman kemudian memanfaatkan momen itu untuk melempar Drest ke arah kolam pancuran yang sudah kosong. Hel mengejarnya, dan sementara Aeson mengeluarkan Energi udara untuk menghempas Drest lebih jauh, Hel memunculkan dua gumpalan tanah besar.
Tepat saat Drest menabrak dinding kolam dengan keras, Hel menghantamnya dengan dua gumpalan tanah hingga Drest tertimbun. Aeson mendekat. Tanpa memberikan kesempatan bagi Drest untuk membebaskan diri, sang tabib muda menggerakkan jemarinya. Dalam sekejap, tunas-tunas muncul di antara sela-sela paving batu, yang tumbuh dengan sekejap, hingga menjadi sulur-sulur hijau berdaun lebat. Sulur-sulur itu saling menjalin rapat di atas gumpalan tanah, dan tidak butuh waktu lama hingga gundukan tanah itu tertutup sempurna oleh lapisan karpet hijau yang subur. Tak ada yang tersisa dari monumen kolam pancuran itu, dan Aeson memang tidak berniat menunjukkannya kepada dunia lagi. Cukup sudah kolam itu menampung darah dan potongan tubuh mayat—biarkan aib itu terkubur bersama Drest yang tidak lagi terdengar gelak tawanya.
Selama sesaat, alun-alun desa menghening. Tak ada yang terdengar selain napas tersengal-sengal. Kedua pemburu yang ditahan Aeson dengan jerat tali cahayanya juga terkulai pingsan sejak lama. Tidak berlebihan jika kejutan dadakan itu membuat lutut Hel dan Aeson gemetaran. Mereka pun menjadi lemas, dan refleks menjatuhkan diri di tepi kubah hijau.
“Tidak ... tidak ada lagi, kan?” tanya Hel, sembari memandang ke arah langit kelabu bersih. Berbeda dengan saat pertama kali ia mengunjungi tempat ini, tak ada lagi abu yang mengapung seperti salju, padahal jarak kunjungan mereka hanya berbeda beberapa minggu saja.
Aeson tercenung. “Semoga saja tidak ada,” jawabnya, penuh dengan kepasrahan. “Aku tidak bisa membayangkan kita harus melawan lebih banyak orang lagi, sementara desa ini belum kita perbaiki sama sekali.”
Hel mengangguk, dan selepas itu tak ada obrolan yang ditukar. Mereka sibuk mengembalikan stamina masing-masing dengan mengistirahatkan diri, bahkan Hel sempat terlelap tanpa sadar. Sementara itu Aeson beranjak, dan berulang kali memastikan bahwa Drest memang tidak berusaha melepakan diri. Barangkali Drest pingsan, atau mungkin saja tewas. Meski kemungkinan yang terakhir itu lebih baik, sebagai seorang Guru, Aeson tidak menyukai gagasan bahwa ia telah membunuh sang Separuh-Iblis.
“Aku lapar, Guru,” keluh Hel saat tersentak bangun. Sang Guru saat itu sedang membongkar tas yang dijatuhkan Hel tadi. Beruntung tak ada barang bawaan yang hancur atau pecah. Aeson lantas menyodorkan beberapa butir pir dan sepotong keju kepadanya.
“Kita akan dirikan tenda di sini, Hel.” Usulan Aeson direspon dengan mata membeliak. Hel refleks melirik ke arah kubah hijau di balik punggungnya. “Jangan khawatir,” imbuh sang tabib muda. “Aku sudah mengawasi sejak lama dan tak ada tanda-tanda Drest akan muncul.”
“Baiklah.”
“Kalau kau berkenan, bawa kemari barang-barang bawaan kita—atau, bawa Perry sekalian ke sini.”
“Dan buntalan rumputnya?”
“Ya, buntalan rumputnya juga.”
Hel mengangguk. Ia beranjak setelah tersisa satu butir pir saja di genggaman.
Tidak butuh waktu lama hingga Hel dan sang tabib muda memutuskan untuk segera membenahi desa. Berbekal pengetahuan dari Guru Tetua dan para Guru lainnya, mereka mula-mula memperbaiki keseimbangan tanah. Dengan perpaduan Energi berdua, mereka mengekstrak racun yang terisap selama berhari-hari, dan ini butuh perjuangan besar. Hel berulang kali terjerat asap hitam yang menuntut untuk dikendalikan olehnya. Ini membuat sang tabib muda mengawasinya dengan ngeri, dan khawatir kalau-kalau tekad Hel untuk menjadi baik mulai goyah. Untung saja, ekspresi Aeson yang sarat akan penghakiman membuat Hel kembali berpijak pada kenyataan.
Hel tumbang sekali lagi setelah berkutat mengerahkan Energi tanah, sejak matahari berada di puncak kepala, hingga nyaris terbenam seutuhnya di ufuk barat. Di kala langit semburat ungu kelabu menjijikkan, Aeson memutuskan untuk berkeliling desa dengan menunggangi Perry. Ia melepaskan sang kuda dari tali kekang karavan.
“Jagalah barang-barang, Hel,” kata Aeson, meski sebenarnya pesan itu tidak berguna karena tak ada siapa pun di antara mereka. Aeson sudah menyingkirkan dua kawanan pemburu yang pingsan ke luar desa, dan mengirim mereka jauh-jauh bersama kuda-kuda tunggangan.
Sehingga, Hel mengabaikan pesan itu untuk sementara waktu. Selama ia memejamkan mata, ia tidak tahu kalau tasnya yang berisi barang-barang Drest kini mulai bergeser dengan sendirinya. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa tabung kecil berisi darah hitam itu akhirnya menggelinding pelan, dan menyusup lenyap ke balik kubah hijau. Kendati demikian, karena tak ada yang terjadi selepasnya, maka Hel tetap tidak tahu-menahu akan barang yang menghilang dalam kesenyapan.