Seperti pesan yang dibekali Guru Tetua dan para Guru Energi lainnya, desa itu benar-benar kehilangan tanda-tanda kehidupan. Bahkan tak ada lagi kabut gelap yang menggantung, atau asap hitam yang beriak-riak dan merasuki tubuh-tubuh manusia sekarat. Udara pun menghampa; yang tersisa hanyalah oksigen bercampur abu tipis yang mengapung ringan.
Hel dan Aeson menyusuri pedesaan dengan langkah lebar, dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa pun. Mereka menghindari menginjak kubangan lumpur atau sampah bambu yang berceceran. Selain karena mereka tidak ingin menarik perhatian kehidupan tersembunyi di desa itu, Hel juga belajar menajamkan sensitivitas Energi tanahnya.
Sungguh, semenjak kedua alas kakinya bergesekan dengan tanah desa, Hel mampu merasakan depresi yang terisap padat bagai bumi menyerap air hujan. Setiap langkah maju niscaya dihantui dengan beban yang memberat di pundak. Susah baginya untuk mempertahankan optimisme semangat membangun desa, dan percayalah, tak perlu menjadi Hel untuk bisa merasakan kebrutalan serupa. Sadar atau tidak, perasaan jengah dan keinginan untuk cepat-cepat meninggalkan desa ini adalah efek dari keburukan yang menguap dari dalam tanah, mengapung ke udara, dan kalau tidak masuk hirup hidung manusia, maka akan menambah kepekatan awan kelabu di langit.
“Mari kita mengitari desa,” usul Aeson, “kemudian mengakhirinya di pasar dan alun-alun. Aku khawatir para penjarah itu menyasar rumah-rumah penduduk untuk mengambil barang-barang yang tertinggal.”
“Bukankah memang biasanya seperti itu?” tanya Hel heran, tetapi Aeson tak menanggapi lagi selain mengatupkan bibir rapat-rapat. Sikap sang tabib muda yang lebih suka menyimpan berbagai spekulasi di dalam benaknya membuat Hel agak jengkel.
Ya sudahlah.
Kekhawatiran Hel terbukti. Setelah mereka mengitari hampir semua lorong dan gang yang berkelok-kelok di desa, kemudian mencapai pasar yang nihil tanda-tanda kehidupan bahkan seekor semut pun, Hel dan Aeson sadar bahwa para penjarah itu sama sekali tidak menyentuh rumah-rumah. Tak ada jejak yang tertinggal pada lapisan abu di tiap-tiap pintu maupun jendela. Ini hebat, sekaligus mengerikan. Mereka tak menemukan jejak apa pun.
Lantas bagaimana ada kuda-kuda di depan?
“Atau,” bisik Hel, memancing pendapat sang tabib muda, “para penunggang kuda itu sudah menjadi korban juga?”
Aeson memikirkannya dengan gusar. “Bisa jadi demikian,” jawabnya. “Kalau begitu kita mengecek alun-alun ... sekarang.”
Lihat? Bahkan Aeson pun tak ingin melakukannya. Tapi, mereka harus. Dengan kecemasan dan kegelisahan yang telah menumpuk di pundak masing-masing, mereka bergegas menuju alun-alun.
Sebagaimana mereka menyisihkan alun-alun sebagai tujuan akhir pengecekan, dan sebagaimana kecurigaan mereka akhirnya terbayarkan, alun-alun seharusnya menjadi tempat yang pertama kali mereka cek di antara semua lokasi.
“Ya Tuhan,” Aeson refleks menyebut Tuhan, sementara Hel nyaris saja menjatuhkan tongkat tombak di genggaman.
Mata Hel membulat dan darahnya berdesir. Lebih buruk—ini lebih buruk daripada mayat yang bergelimpangan dengan semua kepala mengarah ke kolam darah. Ini juga lebih buruk dari kelahiran sesosok vehemos berlendir yang menyebutnya “Papa!” semata-mata karena Hel adalah orang pertama yang dilihatnya.
Jika sebelumnya Hel menyaksikan sesosok vehemos lahir, maka sekarang ia mendapati seseorang bersantap.
Beberapa orang, yang Hel segera kenali sebagai kawanan pemburu Drest, tengah menyeret mayat-mayat segar. Pakaian yang masih tersemat di mayat-mayat itu menandakan mereka adalah penduduk sekitar—barangkali yang berada terlalu dekat dengan Desa Kors, atau orang-orang tidak beruntung yang berpapasan dengan kawanan pemburu itu. Sementara di kolam, yang kini puncak monumennya sudah patah karena berulang kali tersambar petir, tengah disandari Drest, dan ia ... dan ia ... sedang menyeruput darah dari lengan seorang mayat, yang kini tergolek tanpa darah di sampingnya, dengan tubuh yang sudah hancur terburai di tepi kolam.
Aeson nyaris muntah karena udara pekat oleh perpaduan gelayut aroma busuk mayat serta amis lemak dan isian perut berceceran. Sementara para kawanan pemburu itu pun pucat, nampaknya melawan rasa mual kendati telah menutupi hidung mereka dengan ikatan kain rapat-rapat. Drest sendiri tak memedulikan mereka. Manusia—tidak, monster bersosok manusia itu sibuk berkecap lidah dengan darah mayat yang terus mengalir.
Hel sendiri merasakan kepalanya memanas menyaksikan ini. Apakah peristiwa kultus kemarin seolah masih belum cukup mengerikan baginya? Menyaksikan kejadian saat ini membuat dadanya sesak dan perutnya bergejolak, seolah menu sarapan tadi pagi diaduk menjadi satu dan menyerbu naik ke dadanya, memohon untuk dimuntahkan.
Drest, tentu saja, adalah yang pertama kali menyadari kehadiran Aeson dan Hel, karena kawanan pemburu itu membelakangi mereka. Drest spontan membeliak. Ia mengacungkan patahan tangan mayat di genggamannya.
“Ah!” serunya, masih dengan mulut belepotan darah dan sedikit lemak. “Tangkap mereka!”
Bagai pion-pion yang patuh kepada rajanya, para kawanan pemburu itu sontak berbalik. Mereka menjatuhkan mayat-mayat yang tengah diseret. Hel bersumpah, ia melihat kelegaan membanjir sesaat di wajah mereka, karena tidak perlu menyeret mayat-mayat lebih dekat ke Drest yang mengerikan. Mereka mampu menjauh sesaat dari bocah monster itu, dan mereka menyerbu dengan senang hati.
Hel dan Aeson terkesiap, terutama ketika Si Tangan Satu mengacungkan tangannya, dan seberkas udara berkumpul di telapak tangannya.
Hel menahan napas. Separuh-Iblis juga?! Pekiknya dalam hati, dan beruntung Aeson lebih cepat dalam menanggapi. Sang tabib muda seketika menyingsing jubah dan mengacungkan telapak tangan. Alih-alih menarik udara pula, ia membuat tanah bergetar. Si Tangan Satu meraung saat tanah merekah di bawahnya, nyaris melahapnya. Ia cukup tangkas untuk melompat menghindar.
O-oh. Hel menyaksikan adegan itu dengan jantung bertalu-talu.
Apakah ia harus bertempur secepat ini?!
Tepat saat itu, dua kawanan pemburu lain menyerbunya. Mungkin karena Hel membawa senjata dan ia bertubuh lebih besar daripada Aeson, maka mereka mengira Hel harus dijatuhkan terlebih dahulu. Dengan refleks pria itu menyabetkan tongkat tombaknya, dan seseorang terlambat untuk melompat menjauh. Perutnya terpukul tongkat tombak dan ia terdorong beberapa meter jauhnya. Sementara yang lain, yang berambut pirang, kini mengacungkan jemarinya yang kuku-kukunya sebesar cakar harimau. Hel membeliak.
Separuh-Iblis macam apa lagi ia?! Hel, berbekal latihan bertarung yang intens bersama Guru Jasar selama satu minggu terakhir, berhasil menghindar di detik-detik sebelum terkena sabetan cakar yang mengerikan. Si Pirang mendesis kesal, menunjukkan taring giginya yang memanjang dan wajahnya yang ditumbuhi bulu berloreng halus.
Mengabaikan Aeson yang kini melawan Si Tangan Satu dan seseorang lagi, Hel harus mampu melawan Si Pirang dan Si Jangkung yang tadi dihantamnya dengan tombak.
Baiklah, batin Hel dengan adrenalin terpompa. Ia menjatuhkan tas dan memasang kuda-kuda. Energi di dalam tubuhnya bergejolak, dan sembari memilih untuk menggunakan Energi terbarunya, Hel pun memusatkan fokus pada kedua kaki.
“Heh,” Si Jangkung meludah ke sisi kirinya. Ia mengernyit mengawasi Hel dan Si Pirang tengah beradu tatap sengit. “Bukankah aku pernah melihatmu?” ia lantas berbalik kepada Si Pirang. “Ingatkah kau? Dia yang mencuri tas Drest.”
“Aku tahu,” jawab Si Pirang, membuat Hel cukup tersanjung karena ternyata ia masih diingat oleh kawanan pemburu itu, kendati waktu yang cukup lama telah berlalu. Padahal mereka hanya bertemu sekejap saja di kegelapan sebelum fajar. “Karena itulah aku ingin menghantamnya sekali lagi.”
Si Jangkung tertawa sumbawa. “Apa kau sudah berani melawan kami sekarang, eh, Tuan Pencuri? Setelah apa yang kami lakukan padamu di tepi jalan itu?”
Hel tidak goyah. Pria-pria itu hanya ingin memancing amarahnya, tapi Hel telah belajar bertarung di Konservatori—tempat paling damai dan jauh dari konfrontasi. Ia takkan termakan pancingan sedangkal itu!
Dan, tidak—ia tidak akan bertarung untuk sebagai upaya balas dendam. Itu bukanlah apa yang diajarkan para Guru. Hel harus bertarung karena satu alasan, dan inilah yang membuat kepalanya menggelegak saat melihat Drest berpesta atas potongan tubuh mayat.
Desa ini tidak boleh tersiksa lebih dari apa yang Lord Grimshaw kutukkan padanya!
Ketika Si Pirang merangsek maju, kaki kanan Hel menjejak dalam pada tanah, dan memutarnya sedikit. Sesuai dengan apa yang dikehendakinya dalam hati dan pikiran, tanah bergetar sekali lagi, kali ini berpadu dengan Energi tanah yang juga dikeluarkan oleh Aeson. Si Pirang, mengira Hel akan membuat tanah merekah untuk melahapnya, spontan melompat, dan Hel pun mengibaskan tangannya. Sebuah pohon terdekat mendadak bergoyang dan dahan-dahannya menjulur. Arah lompat Si Pirang yang serupa dengan arah datangnya dahan-dahan membuatnya seketika terhempas. Si Pirang memekik.
Hel berdecak. Padahal ia berniat agar dahan-dahan itu merenggut tubuh Si Pirang dan menjeratnya supaya tak bergerak, tetapi mengatur Energi memang tidak semudah itu, apalagi dengan hasil latihan yang hanya satu minggu. Dan, selagi Hel menyesali kenyataan itu, tiba-tiba Si Jangkung menyerang. Sebuah ekor bersisik panjang, kira-kira sebesar tubuh Hel, tumbuh dari pinggangnya, dan menjulur marah kepada pria itu.
Hel mengacungkan tangan serampangan, tetapi cukup beruntung karena sekarang tanah merekah tepat di bawah kaki Si Jangkung. Tepat sebelum ujung ekornya menghunjam tubuh Hel, Si Jangkung jatuh terkubur, dan tanah bergetar menutup dengan cepat.
“Bagus, Hel!” terdengar suara Aeson memuji di tengah-tengah melawan Si Tangan Satu. Tidak terlihat pemburu yang satu lagi, dan saat Hel menajamkan pandangan, terlihat si pemburu yang dimaksud sudah tertahan oleh jerat tali-tali cahaya Aeson.
Hel baru saja akan membalas, tetapi Si Pirang telah pulih dari hantaman dahan-dahan itu. Ia sekarang berlari kencang ke arah Hel dengan amarah menyala-nyala di matanya yang pucat.
“Sialan kau!” umpatnya. Ketakutan yang melimpah pada matanya membuat Hel semakin bersemangat. Kini Hel punya kesempatan untuk menggerakkan dua tangannya sekaligus, dan menepuknya. Sepintas kemudian, dua bola tanah seukuran manusia dewasa datang dari sisi berlawanan, bertubrukan tepat pada di mana Si Pirang berada. Dalam sekejap, ia terkungkung dalam sebuah bola tanah yang besar, dan Hel pun membuangnya ke ujung nan jauh di sana.
Di saat yang bersamaan, sang tabib muda juga berhasil mengalahkan Si Tangan Satu. Pemburu bertubuh gempal itu juga terikat oleh tali-tali cahaya, sebuah cara favorit Aeson untuk menahan para musuhnya. Tampaknya Aeson memang tidak suka mengubur hidup-hidup atau melempar seseorang sepanjang lintasan bintang jatuh. Dua hasil perbuatan Hel itu pun membuat Aeson sadar bahwa darah seorang prajurit kegelapan masih mengalir di dalam diri Hel, tetapi ia tidak berkomentar sama sekali soal itu. Ia hanya menyunggingkan senyum puas di antara peluh karena bangga dengan kemenangan pertama Hel.
Tentu saja, perayaan itu tidak bertahan lama.
Drest, yang sedari tadi mengawasi dengan mata melotot, akhirnya menyaksikan bahwa pemburu Separuh-Iblis andalannya koyak begitu saja di tangan kedua orang asing itu.
Dan, ia marah.