Hel yang Baru

1651 Kata
Selepas peristiwa menemui vehemos itu, Hel kembali digembleng dengan pelatihan Energi, bahkan kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Guru Jasar dan Guru senior pemilik Energi tanah itu begitu bersemangat untuk melatih sang mantan prajurit Lord Grimshaw, karena—bagi mereka—ini pertama kalinya seorang prajurit penguasa kegelapan berhasil terselamatkan dari jerat keburukan itu, bahkan berniat sejauh memperbaiki kesalahan. Selama waktu pelatihan itu pula, Hel tidak lagi menerima terjangan potongan kenangan masa lalu di mimpi-mimpinya. Sebagai ganti, ia menerima sekelumit informasi asing tentang kehidupan para Guru Energi dan Setengah Iblis yang juga membawa Energi serupa. Hel pun sempat berpikir agar suatu saat bersua dengan mereka, berjumpa dengan saudara se-Energi yang tersebar di seluruh penjuru benua. Tapi, pertama-tama, ia harus menuntaskan janjinya dulu. Setelah satu minggu penuh gemblengan dan melahap berbagai informasi baru, akhirnya karavan Aeson kembali ditarik ke depan Konservatori. Perry si kuda, yang sudah lama tidak Hel jumpai sejak kedatangannya kemari, mendengus dan memukul-mukul tanah dengan begitu bersemangat, tak sabar akan petualangan baru bersama tuannya dan si asisten. “Omong-omong, bagaimana dengan pemuda Korson waktu itu?” tanya Hel saat memindah kerat berisi buah-buahan terakhir ke dalam karavan. Buah-buahan ini akan menjadi santapan mereka selama beberapa hari pertama perjalanan. “Dia akan tinggal di sini,” kata Aeson. “Ingat Said, anak muda yang mengurus Perry dan karavan kita? Dia akan mendampingi pemuda itu. Sepertinya ia akan dijadikan asisten kandang untuk sementara waktu.” Asisten kandang, eh? Apakah ini sebutan santun untuk seorang kacung di Konservatori? Seusai mengucapkan beribu terima kasih kepada para Guru di Konservatori, sekaligus menerima doa-doa tak terhingga untuk keselamatan dan keberhasilan mereka membangun desa-desa yang hancur, akhirnya karavan Aeson pun berderak meninggalkan tanah berpagar sesemakan lumen. Sedikit sedih rasanya, terutama bagi Hel, karena ini pertama kalinya ia mengunjungi Konservatori sejauh ingatannya, dan ia begitu menyenangi kedamaian di sana. Ia akan merindukan jubah-jubah wangi dan lembut yang diberi baru setiap harinya, atau alas tidurnya yang beratapkan kubah paviliun, atau pemandangan lembah yang spektakuler. Ketika karavan itu tiba di titik terluar Konservatori, kembali menyapa rerumputan hijau berselimut debu dan tanah berbatu yang keras, Hel dan Aeson spontan menghela napas panjang. “Woah,” gumam Hel, saat Aeson mengarahkan Perry ke Desa Kors, mengikuti jejak debu dan abu yang memadati permukaan tanah dan rerumputan. “Aku sama sekali tak menyangka dunia luar begitu depresi seperti ini.” Aeson berkomentar dengan agak muram. “Yah,” katanya, “Memang sejak Lord Grimshaw memutuskan untuk memperluas wilayah kekuasaan dan mengirim banyak pasukan ke berbagai sudut Vestrad, segalanya menjadi semakin buruk.” “Semakin?” Hel menggeser jendela lebar-lebar, agar lebih leluasa mengobrol dengan sang tabib muda. “Apakah itu berarti sebelum Lord Grimshaw mengambil alih kekuasaan, Vestrad sudah cukup buruk?” Ia bersandar pada jendela dan memerhatikan pepohonan kelabu atau sesemakan kecokelatan. Nampak seekor induk ayam dan beberapa anaknya yang hanya selebar separuh telapak tangan tengah mencari makan, sayang tak ada cacing-cacing gemuk untuk memenuhi perut kecil mereka. “Begitulah,” gumam Aeson. “Kenyataannya ... kebijakan-kebijakan yang tidak memberi dampak baik, atau berbagai penerapan yang sia-sia, justru menghasilkan rakyat yang kecewa dan muncullah ... yah, orang-orang yang ingin mengambil alih kekuasaan.” Hel mengangkat alis. “Apakah itu berarti Lord Grimshaw dulunya adalah penduduk Vestrad?” ia murni bertanya, karena semata-mata mengira Lord Grimshaw selama ini adalah makhluk asing, barangkali sekelas vehemos, yang memang ingin menguasai Vestrad saja. “Benar.” Hel terheran-heran mendengarnya. “Itu mengejutkan,” ujarnya tulus. “Dan ketika ia berhasil mengalahkan Raja ... seharusnya ia pun memegang kesempatan besar untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik. Ia punya kesempatan untuk menjadi pemimpin yang baik, bukankah begitu?” Aeson tidak segera membalas. Kesenyapan sesaat selain suara tapak Perry pada jalan membuat Hel bingung. “Guru?” “Semula seperti itu,” kata Aeson pelan, mengejutkan Hel untuk kedua kalinya. “Sungguh?” “Ya.” Jawaban sesingkat itu terasa begitu masam di mulut sang tabib muda. “Kau tahu kisahnya?” “Semua juga tahu,” kata Aeson, sembari menghela napas. “Waktu itu kebetulan aku masih muda sekali. Masih kanak-kanak, dan aku mengikuti Guru pengasuhku untuk menetap di sekitar ibukota. Itulah saat-saat aku ... menyaksikan—kalau tidak, maka mendengarkan—secara langsung, apa yang terjadi setelah Lord Grimshaw menjadi penguasa Vestrad selama beberapa tahun.” “Jadi, Lord Grimshaw sempat ... baik?” “Begitulah.” “Dan apa yang membuatnya berubah?” Perry mendadak meringkik, entah apa yang Aeson lakukan pada tali kekangnya. Tapi yang jelas, itu adalah respon Aeson seketika mendengar pertanyaan Hel. “Kalau ingatanmu dihapus sejauh itu,” komentar Aeson, alih-alih menjawab, “tampaknya kau punya peran yang cukup penting di sisi Lord Grimshaw, eh?” “Yah, siapa tahu aku adalah kapten yang bekerja cukup lama padanya?” “Mungkin,” kata Aeson, meski tampaknya ia tak memercayai itu sepenuhnya. Barangkali ia punya dugaan lain, tapi tak ada satu pun yang ingin diungkapkan. “Jadi?” desak Hel. “Apa yang membuat Lord Grimshaw kemudian berubah menjadi seperti saat ini?” “Ceritanya panjang,” tukas Aeson, dan Hel tidak menyenangi nada sang tabib muda. Yo, Hel seolah-olah telah menanyakan hal paling privasi darinya. “Intinya, terjadi benturan visi antara Lord Grimshaw dan seorang penasihat kepercayaannya.” “Seorang penasihat tidak seharusnya bisa memberi dampak sebesar itu kan?” Aeson menjawab dengan sebal. “Kenyataannya, penasihat ini adalah orang yang paling dipercaya Lord Grimshaw sebelumnya.” Hel mengernyit. Aeson tampaknya tahu sesuatu yang sedikit lebih detail daripada rakyat umum sepantasnya tahu, bukankah begitu? “Oh, lalu?” tanya Hel lagi, berusaha meraba-raba jalan gelap yang kini ditempuhnya. “Perbedaan yang semakin membesar di antara mereka akhirnya membuat Lord Grimshaw menjadi seperti ini.” “Kau melewatkan banyak penjelasan, Guru. Apa yang terjadi saat itu? Siapa yang mengubahnya menjadi buruk? Apakah si penasihat itu, atau atas keputusan Lord Grimshaw sendiri?” “Aku ... tidak tahu sejauh itu.” Hel refleks menghela napas. Oh, memang tidak semudah itu untuk mengulik masa lalu, bukan? Padahal Hel merasa masa lalu yang hilang itu kemungkinan bersinggungan dengan salah satu kisah hidup Aeson. Mereka sama-sama dihubungkan sebagai orang yang pernah berada di ibukota. Dan ... tunggu. Kalau begitu, kemungkinan besar para penduduk ibukota lebih memahami apa yang terjadi di lingkup kerajaan daripada semua rakyat di luar, bukan? Dan, bukankah Aeson pernah menyinggung jika selama ini ia menghindari ibukota, dan hanya melakukan perjalanan di tepi Negeri Vestrad saja? Ahh, batin Hel lagi. Kalau begitu, apa pun yang dialami Aeson waktu itu di ibukota, pastilah menjadi salah satu alasan mengapa sang tabib muda tak lagi mau pergi ke sana. Hel lantas menyadari sesuatu. “Kalau begitu, bagaimana dengan Guru pengasuhmu?” tanyanya. “Di mana ia sekarang?” Sepertinya Hel telah memberikan pertanyaan yang tepat—atau tidak sama sekali—karena nada Aeson sekarang benar-benar menyiratkan kekecewaannya. “Beliau sudah tiada,” jawabnya lirih. “Guruku adalah ... salah satu korban dari perubahan Lord Grimshaw yang mendadak itu.” Yah, setidaknya pertanyaan barusan tepat sasaran karena sejak saat itu, hingga mereka mencapai tepi Desa Kors sekali lagi, Aeson mengunci mulut, meninggalkan Hel termenung sendiri. Alasan mengapa Aeson akhirnya mau berbicara kembali adalah penemuan baru di luar pagar desa. Sebelumnya, Guru Tetua dan para Guru lain telah memperingatkan beberapa hal akan situasi Desa Kors: langit yang kembali bersih dan desa yang kosong melompong bukan berarti bahaya telah lenyap. Sesuatu mungkin saja mengintai, sebab—seperti kesaksian Aeson—Hel telah menjatuhkan sesosok vehemos ke sumur di luar pagar Desa Kors. Selain itu, mayat-mayat yang darahnya dihisap habis oleh sebuah tarikan kasat mata di alun-alun, juga lenyap. Entah siapa atau apa yang menghilangkan mereka, yang jelas itu bukan pertanda baik. Tak ada manusia yang mau menyentuh Desa Kors semenjak kerusakannya, lantas siapa yang melakukan itu? Inilah alasan mengapa Aeson dan Hel menjadi semakin tegang seiring dengan jarak karavan yang memendek dengan tepi desa. Bahkan Perry si kuda pun berulang kali mendengus dan meringik protes, enggan melanjutkan perjalanan, tetapi Aeson menghendakinya terus melaju. Dengan berbagai bekal informasi itu, maka tidaklah heran seandainya Hel dan sang tabib muda tercengang melihat keberadaan sejumlah kuda di tepi pagar. Mula-mula, Hel yang berkomentar duluan. “Guru,” bisiknya curiga. “Apa itu? Kuda sungguhan?” “Sepertinya begitu,” jawab sang tabib muda penuh waswas. Karavan mereka pun melambat, dan Perry si kuda tidak lagi nampak ketakutan sebelumnya. Kehadiran kuda-kuda asing itu membuat Perry sedikit santai, dan itu berarti, memang kuda-kuda sungguhan, bukan jelmaan monster atau semacamnya. Hel menyusul Aeson melompat turun. Sang tabib muda sudah terlebih dahulu menghampiri jajaran kuda yang menyantap rerumputan kering, menyentuh dan mengelus surai mereka, kemudian menghadap Hel dengan anggukan penuh isyarat. Kuda-kuda biasa. Kalau begitu, apakah penunggangnya juga para manusia biasa? Aeson lantas meraba-raba karung-karung gendut yang dibawa tiap-tiap kuda. Ia tak perlu membukanya untuk mencari tahu apa isinya. “Peralatan kemah dan ... ah, tampaknya para nomaden—pengembara.” “Perampok?” tebak Hel. “Untuk apa sekelompok pengembara datang ke desa terkutuk?” “Barangkali.” Aeson menyetujui ucapan Hel dengan tidak senang. Tak ada yang mau bertemu dengan perampok, bahkan seorang tuan tanah yang menyewa mereka untuk melakukan kejahatan. Para perampok jalanan selalu mengambil lebih dari seharusnya. Yah, mereka merampok. Dan, omong-omong, ini jelas bukan pertanda bagus. Tidak peduli apakah pada akhirnya kelompok itu hanyalah pengembara biasa, mereka tetap harus berjaga-jaga. Tidak ada kawanan yang datang ke desa terkutuk dengan sukarela kalau bukan karena niatan buruk. Maka Hel pun bergegas menyiapkan berbagai senjata yang memungkinkan, kalau-kalau mereka tidak bisa menggunakan Energi sementara waktu. Ia menarik tongkat tombak dan busur panah milik Aeson dan tasnya sendiri, sementara Aeson membawa tas berisi persediaan makanan. Setelah memastikan Perry si kuda nyaman dengan posisinya dan persediaan rumput melimpah, mereka pun memasuki desa sekali lagi. Hel menelan ludah. Di bawah langit kelabu senyap yang tidak lagi disertai geluduk menyambar, Hel merasakan sekujur tubuhnya merinding. Apa pun yang menanti mereka di dalam Desa Kors, bukanlah hal baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN