Menemui Monster

1798 Kata
Baiklah, Hel memang sempat menduga-duga akan tanah yang melilit kakinya atau semacamnya, tetapi ia tidak berharap itu bakalan terjadi sungguhan. Mulanya tanah bergetar dan terdengar suara geraman. Hel mengedarkan pandangan dengan waswas, sementara Guru senior di sampingnya sama sekali tidak goyah. Yah, dia sudah terbiasa melakukan ini, kan? Tapi Hel tidak! Hel pun berpikir geraman dan getaran itu muncul dari sang vehemos yang merangkak keluar dari gua di dalam tebing. Barangkali, dengan tubuhnya yang besar atau Energinya yang menggelora, setiap kaki yang menapak dan mencengkeram pada tepian dinding tebing, akan menimbulkan suara-suara yang menggaung mengerikan di dinding telinga Hel. Pria itu pun tak habis pikir akan bagaimana para Guru terbiasa dengan geraman yang seperti deruman kematian neraka, dan seandainya itu terlalu sulit untuk kau bayangkan, maka ingat-ingatlah geluduk dan bisikan-bisikan aneh pada Desa Kors kemarin. Sensasinya sama. Namun, Hel terlalu terpaku pada tepian tebing. Ia mengira sang vehemos akan muncul dari sana. Ia sama sekali tidak siap ketika geraman itu menjadi semakin nyaring, terdengar suara gemerisik dari atasnya, dan daun-daun merontok masal. Saat Hel mendongak, hal terakhir yang dilihatnya adalah pohon ek itu menunduk, dahan-dahannya bergoyang, dan akarnya mencuat ke atas tanah. Hel direnggut, dan sebelum pandangannya memburam karena serangan kepanikan, tanah di bawah kakinya merekah dan membenamkannya.   Saat Hel tersadar, ia bahkan tak tahu bagaimana cara menjelaskan wawasan pandangnya. Baiklah, mari dimulai dari bagaimana kepalanya terasa begitu ringan alih-alih pusing, dan tangannya agak kebas saat berusaha meraba-raba sekelilingnya. Ia bahkan tak merasa mengenakan pakaian selama sementara waktu. Lalu, Hel mengerjap-kerjap, mengira bahwa kelopak matanya masih tertutup. Tidak. Ia terkungkung kegelapan yang sama pekatnya dengan saat ia menutup mata. Dan apa kau tahu betapa tidak nyamannya kegelapan ini? Ini seperti ... terbiasa akan kehangatan ratusan lilin di dalam kamar, bermandikan cahayanya yang terang benderang, kemudian angin menyapu dan seketika seluruh api padam. Kegelapan total yang menyelimutimu pada beberapa detik pertama adalah kengerian yang tak terkira; sesuatu barangkali sedang mengendap-endap di sudut ruangan, tengkukmu dingin, dan kau ingin berteriak sekencang-kencangnya agar bisa kabur dari mimpi buruk itu. Tapi, itu bukan mimpi buruk—kau masih terkungkung di ruangan tergelap sepanjang sejarah hidupmu. Hel sekarang tengah mengalami itu. Ia sontak menahan napas, tak terbiasa oleh rengkuhan kegelapan saat ini. Lebih baik ia terbangun di tumpukan mayat yang terbakar—ia tahu di mana dirinya berada, dan apa yang terjadi. Tetapi, berada dalam kegelapan total yang— Belum sempat Hel meladeni kepanikannya, sekelilingnya kembali bergetar, dan perlahan cahaya menyorot dari titik di depan matanya. Hel lantas sadar; titik cahaya yang semakin membesar itu karena kegelapan mulai meruntuh, bagai pecahan bebatuan yang menggelinding dari tebing tanah sebelum longsor. Pecahan bebatuan itu kemudian disusul oleh gumpalan tanah, debu-debu, dan saat Hel mampu membiasakan matanya pada cahaya yang semula terang benderang itu, ia mendapati dirinya berada di dalam ... entahlah. Apa ini? Hel terkesima dengan jalinan akar yang melintang di atasnya, meregang dan menjulur lebar bagai garis-garis pelangi yang melintasi langit. Bedanya itu adalah akar-akar raksasa, yang mengungkung Hel di bawah kubah akar mahabesar yang tak berujung. Di baliknya adalah langit, atau tampaknya begitu, yang kental akan semburat oranye dan hijau. Hel tak pernah melihat langit hijau, tapi ia berani bersumpah bahwa langitnya juga berwarna hijau. Tunggu, apakah ia berada di bawah tanah? Tidak mungkin! Apakah dalam tebing seperti ini? Kalau benar demikian, maka vehemos itu telah hidup di dalam dunia buatan yang mencekam, aneh tak tergambar, dan nihil akan kehidupan manusia selain akar-akar raksasa yang berkedut-kedut. Hel lantas beranjak, dan upayanya hampir gagal, karena kedua kakinya terbenam pada tanah ... ah, tunggu. Kakinya tidak terbenam. Kakinya menyatu pada tanah. Hel terkesiap. Ia berusaha mengangkat kaki dan melompat, tetapi yang ada ia kembali jatuh terjerembap! “Tolong!” Hel memekik. “Kakiku!” Ia berusaha menggapai-gapai, tetapi tentu saja tak ada yang merespon. Ia sendirian—atau, begitulah yang semula dikiranya. Saat Hel paham bahwa percuma saja meminta tolong pada kesenyapan yang meliputi dimensi janggal itu, ia menyadari bahwa akar-akar yang mencuat mulai bergerak, dan saat Hel mampu menyusun abstraknya pemandangan di sekelilingnya, akar-akar itu telah menyatu menjadi sebuah tubuh yang berpilin. Hel melongo. Akar-akar itu tidak berhenti bergerak. Dengan tubuh yang terus berputar dan berpeluntir, jalinan akar raksasa itu nyaris memenuhi wawasan pandang Hel dengan kebesaran tubuhnya, yang tidak juga menyentuh langit-langit kubah oranye kehijauan. Dedaunan memadat di puncak kepala makhluk itu, dan Hel tidak bisa menentukan mana lubang mata atau mulut, tetapi ia tahu pilihan akar yang meramping itu adalah lehernya, memisahkan bagian kepala dengan tubuhnya yang bergerombol dan merayap bagai puluhan kaki gurita. Kala sang vehemos akhirnya berhenti bergerak di depannya, Hel sempat mengira dirinya terkencing-kencing. Ini tidak berlebihan. Bahkan, ia yakin, para kawanan pemburu Drest yang bertubuh kekar itu juga pasti bakal bereaksi demikian. Bukankah mereka juga lari terbirit-b***t saat ditakut-takuti oleh vehemos tipuan Aeson?! Dan sungguh, semenjak melihat vehemos itu membentuk diri di hadapan Hel, ia tak bisa tidak memikirkan masa lalunya. Berbagai kenangan asing mendadak merasuk—sebagian besar terasa begitu familiar, dan sebagian lagi begitu aneh untuk disebut sebagai bagian darinya. Tetapi semuanya memiliki detail yang sama; Hel di masa lampau berulang kali bertatap muka dengan makhluk-makhluk adikuasa ini, tak gentar sekali pun mesi rupa mereka lebih mengerikan daripada sang vehemos tanah. Barangkali karena kedua Energi pendahulu di tubuh Hel bergejolak saat melihat vehemos ini, seakan menyambut saudara baru. Hel tak menyangka suaranya masih stabil saat bertanya. “Siapa Anda? Apakah Anda ... apakah Anda adalah vehemos yang dimaksud?” Hel di saat ini tidak tahu bagaimana cara vehemos berkomunikasi, sehingga saat tak ada jawaban yang terdengar—atau ia terima, entahlah—Hel pun merasa kacau. Ia kembali menata pertanyaannya. “Siapa nama Anda?” Vehemos itu akhirnya merespon. Tentu saja bukan dengan suara semacam “Namaku adalah ...” karena mereka adalah makhluk kuno, yang telah lama eksis sebelum manusia tiba di dunia ini. Sehingga, ketika vehemos itu mengangkat sebagian akarnya dan membentuk sebuah simbol di atas kepalanya, Hel melongo. Yo, bagaimana cara ia membacanya? “Apakah itu nama Anda?” Hel bertanya lagi, dan sang monster tak merespon. Hel menghela napas. “Ini sulit,” gumamnya. “Sepertinya kau memang lupa ingatan.” Hel terperanjat saat terdengar suara menggaung di dalam benaknya. Suara itu tidak datang dari luar, melainkan ada bisikan nyaring yang asing di dalam benak. Mata Hel membulat dalam kengerian. “Kau bisa berbicara?” pekik Hel. Kenapa tidak sedari awal?! Sang vehemos menarik akar-akarnya kembali dari jalinan simbol. Suaranya menjawab di benak Hel, dan sepertinya akan terus seperti itu karena ia tidak tampak memiliki mulut. Hel mulai curiga bahwa lubang-lubang kembang kempis yang tercipta di antara jalinan akar di kepalanya adalah mata. Entahlah, Hel menganggapnya begitu saja. Dan sang vehemos tak berniat menjawab pertanyaan dangkal Hel. Sekarang coba pikir, mereka telah hidup lebih lama daripada para manusia, bagaimana mungkin mereka takkan beradaptasi dengan perubahan besar-besaran dunia saat diserbu para makhluk kecil nan tengil ini? “Aku mengenalimu.” Monster itu merayap mendekat, namun alih-alih mencapainya, sang vehemos memutuskan untuk mengedar di sekeliling Hel, barangkali mengamati dua Energi yang bereaksi di dalam badannya. “Dan tetap saja kau mengharapkanku.” “Saya membutuhkan Anda,” kata Hel, kembali menemukan kesopanan yang seharusnya dipertahankan sejak awal. Ia terlalu terkejut untuk mampu berpikir lurus tadi. “Saya tak bisa menggunakan apa yang telah saya miliki.” Alih-alih memberi jawaban suara, fisik monster itu mendengus, menebarkan dedaunan rontok dan Hel pun dibuat ngeri. Apakah dia baru saja dicemooh? “Tolong,” kata Hel, dan kini terngiang-ngiang akan pesan sang Guru senior agar tetap mempertahankan niat baiknya. Tapi, sial—pertanyaan sang vehemos, termasuk gejolak reaksi dua Energi di dalam tubuhnya, membuat kenangan-kenangan asing tak bisa berhenti menyerangnya. Hel mau tak mau menyerapi gelenyar familiar saat ia bertatap muka dengan sesosok monster kuno. Dan, demi Tuhan—monster itu pun bisa mengenali dua Energi di dalamnya! Apakah percuma saja mempertahankan niat baiknya? Tidak—justru inilah kesempatan Hel. Ia harus meyakinkan vehemos itu bahwa dia takkan mengulangi masa lalu yang sama! “Tolong,” ujar Hel sekali lagi, dan ia rela berlutut demi meyakinan sang vehemos. “Saya takkan berbuat keburukan, Ia mati-matian mengabaikan potongan kenangan tentang dirinya di masa lalu yang digulung ombak, namun alih-alih tewas terseret, ia justru mendarat pada dasar laut, dikelilingi tiang-tiang pengikat mayat. Tidak, tidak. Memori menyeramkan siapa ini? Sang vehemos tidak buru-buru menjawab, dan tampaknya menikmati setiap butiran kepasrahan yang rontok dari tubuh Hel. Ia membiarkan Hel menghela napas berulang kali, termenung di posisinya, dan berkutat melawan isi pikirannya sendiri. Vehemos itu akhirnya berhenti merayap di posisinya semula, setelah puas mengawasi Hel dari berbagai sudut. “Tahukah kau apa yang tengah menantimu?” “Ya,” gumam Hel. “Masa depan yang cerah.” Kembali terdengar dengusan mencemooh, meski kali ini tidak senyaring sebelumnya. “Menarik,” komentar sang vehemos, membuat Hel bertanya-tanya apakah mereka memang senang mempermainkan manusia selagi terintimidasi oleh sosok asli para monster ini. “Sebaiknya kau berpegang teguh pada keyakinan itu.” “Yah,” jawab Hel pasrah. “Atau,” kata sang vehemos, dan Hel sama sekali tidak menduga jika sejuluran akar merenggut tubuhnya dengan cepat. Hel memekik, kakinya refleks meronta-ronta di udara saat sang vehemos mendekatkan Hel pada kepalanya, tepat di depan sejumlah lubang yang berkedip bergantian. “Atau,” ulang sang vehemos, “kau akan jatuh dalam jurang keputusasaan yang lebih dalam, pekat, dan tak tertolong.” Kemudian, seolah ingin menunjukkan betapa menyeramkannya sensasi itu, akar yang melingkar di tubuh Hel seketika melonggar, membiarkan tubuhnya terjatuh. Hel menjerit, dan benaknya seketika dibanjiri oleh ilusi tubuhnya yang hancur berkeping-keping. “Tolong!” serunya, dan bersamaan dengan detik-detik tubuhnya akan terjerembap pada permukaan akar yang kasar dan berbonggol-bonggol, ia tersentak, dan matanya terbuka lebar-lebar.   Hel terbangun di tanah lapang di tepi tebing Konservatori sekali lagi. “Oh, syukurlah,” ujar sang Guru senior di sampingnya. Ia tengah duduk bersimpuh dengan tenang. “Pertemuannya berjalan dengan baik—vehemos kami menerimamu!” Hel tak mampu menjawab. Pandangannya seolah berputar dan benaknya kacau membedakan mana yang kenyataan dan mimpi. Apakah tadi mimpi? Tetapi rasanya sungguhan! Dan bukankah tadi ia disedot ke dalam bumi oleh tanah yang merekah? Hel refleks meraba-raba permukaan tanah yang padat. Kenapa seakan-akan tak terjadi apa pun? Satu-satunya yang bisa Hel ucapkan hanyalah sebuah pertanyaan. “Sungguh?” “Ya,” kata sang Guru riang. “Lihatlah lenganmu.” Hel mengangkat kedua lengan, di mana cahaya putih berpendar sepanjang pembuluh darahnya. Hel terpana. “Itu adalah Energi vehemos kami yang telah terserap ke tubuhmu,” kata sang Guru senior menjelaskan. “Dan itu berarti ... oh, Putra Freds!” serunya saat tubuh Hel tiba-tiba ambruk. “Tidak apa-apa.” Hel menghela napas. Ia membiarkan rasa pening dan nyeri di sekujur tubuhnya meringan, sementara matanya memandang dedaunan ek yang bergemerisik lembut di atasnya. “Aku hanya ... lega.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN