Energi Ketiga

1683 Kata
Selama sesaat paviliun itu kembali menghening. Baik Aeson maupun Guru Tetua tak sanggup mencerna ucapan Hel. Bukan karena mereka tak memahaminya—Hel mengatakannya dengan sangat lantang, tetapi logika dari ucapan itu sama sekali mengejutkan mereka. Aeson adalah yang pertama kali menemukan suaranya. “Apa?” tenggorokannya tercekat. “Bisa kau ulangi ... apa yang kau katakan baru saja, Hel?” Meski dua Guru di sekitarnya memberikan ekspresi meragukan, bahkan bagi sang tetua yang hanya diam saja, Hel justru merasa tidak gentar. Entah bagaimana, kepercayaan diri itu datang begitu saja, membuatnya lebih yakin saat mengulang ucapannya. “Bagaimana jika,” ujarnya lambat-lambat, “aku menerima Energi lain di tubuhku? Bukan Energi air, apalagi Energi asap, yang telah kuterima sebelumnya dari Lord Grimshaw itu. Beri aku Energi apa saja! Energi yang kecil-kecil pun tak masalah, asal aku bisa menggunakannya untuk membantu pembangunan desa-desa yang rusak.” “Maksudmu, dengan menerima Energi lain yang tidak berhubungan dengan masa lalumu ... maka kau tetap akan mampu merestorasi desa-desa yang hancur, dan tidak menerima risiko menanggung beban memori lama?” tanya sang tetua memastikan. Hel mengangguk. “Itu maksudku,” katanya, dan cukup senang dengan respon Guru Tetua. “Bagaimana? Itu ide yang bagus kan? Ya, kan?” Guru Tetua menyunggingkan senyum tipis. “Tidak semua orang mampu menanggung beban Energi yang banyak ....” “Ya, aku tahu. Guru Aeson juga sudah mengatakannya kepadaku. Tapi aku sudah punya dua Energi di tubuhku, lantas mengapa tidak? Dan sedikit saja juga tak masalah kan?” “Tidak semudah itu,” Aeson akhirnya ikut menimpali. Sang tabib muda menghela napas. “Kau tidak bisa menyerap Energi apa saja sesuka hati, apalagi ada beberapa jenis Energi yang saling bertolak belakang. Salah pilih ... bisa-bisa kau akan meledak.” Hel mengernyit. Memendam Energi akan membuat tubuhnya meledak. Memiliki Energi yang bertolak belakang, juga berpotensi meledak. Kenapa mulai banyak alasan untuk membuat tubuhnya meledak? “Aku tidak menolak maupun menyetujui,” kata sang tetua, “karena semua kembali kepada keputusan Putra Freds. Kalau engkau ingin menambah Energi ... kau harus tahu konsekuensinya, dan melakukan pencarian Energi yang tepat untukmu.” Kendati dua Guru itu kukuh berusaha membuatnya waswas, Hel cuma memandangnya sebagai upaya meyakinkan tekad. Hel tetap tidak goyah. “Tidak mengapa,” katanya. “Akan kutanggung konsekuensi itu.” Aeson bertukar tatap dengan sang tetua, nampaknya membicarakan sesuatu melalui tatapan mata. Sang tetua akhirnya mengangguk mempersilakan dan sang tabib muda mengembuskan napas pelan. “Baiklah. Ikut aku, Hel,” kata Aeson, dan mereka berdua pun pamit dari paviliun sang tetua. Hel sadar Guru Tetua terus memandang punggungnya hingga mereka berbelok ke jalan utama. Menyadari situasinya, Hel pun memanfaatkan kesempatan untuk mengulik tentang Energi yang dimiliki oleh sang tabib muda. “Jadi, Guru,” ujarnya, “bagaimana denganmu? Energi apa saja yang kau punya?” Jawabannya sama sekali tidak memuaskan. “Energi yang begitu-begitu saja; standar.” “Aku tidak paham Energi standar.” Aeson mengulum senyum masam. “Hanya sekumpulan Energi yang bisa mempermudah kehidupanku di jalanan.” Ahhh .... Hel berasumsi Aeson tidak terlalu suka dikorek tentang kehidupan pribadinya. Aneh, memang. Dan, kalau dipikir-pikir kembali, Hel bahkan tak tahu apa-apa soal tabib muda satu ini. Ia tidak tahu dari mana Aeson berasal selain identitas namanya; Putra Aes, yang menandakan bahwa ia berasal dari sebuah negeri bernama Aes. Tapi di manakah itu? Hel yakin Aeson pun takkan menjawabnya dengan detail, selain ‘nun jauh di sana’ atau ‘tak perlu repot-repot mencari tahu kalau ingatanmu saja belum kembali’. Dan, ya Tuhan, nama asli Aeson saja ia tidak tahu! Sayangnya orang-orang terbiasa menyebut pendatang macam mereka dengan ‘Putra Aes’ atau ‘Putra Freds’, karena begitu banyak pendatang sehingga tak perlu susah-payah mengingat ribuan nama. Orang Vestrad memang pemalas. Kalau identitas sesederhana nama asli saja Hel tidak tahu, bagaimana mungkin ia mengulik hal sejauh alasan Aeson menjadi seorang Guru Energi dan segalanya? “Kau tak perlu tahu menyoal Energiku,” kata Aeson tiba-tiba, seolah mengetahui isi pikiran sang paman. “Itu tidak penting—kau bisa tahu kapan saja, karena yang terpenting adalah situasimu saat ini. Semakin cepat kita bertindak, kurasa semakin baik. Makin hari, makin banyak berita yang kudengar mengenai Desa Kors dan desa-desa hancur lainnya.” “Ahh ... benar juga. Kalau begitu,” kata Hel, mencoba mengalihkan topik, “menurutmu Energi apa yang akan cocok untuk membantuku melakukan pembangunan desa?” “Energi tanah, kupikir.” “Tanah?” “Atau cabang darinya,” Aeson bergumam seolah-olah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Menguasai Energi tanah dan cabangnya akan mempermudahmu untuk mengeluarkan racun yang terserap di desa. Tanah yang sehat, berarti tumbuhan dan pondasi rumah yang kuat. Air pun juga bisa menjernih kembali.” “Ohh, tentu saja aku mau itu.” “Mm yah,” Aeson masih terus bergumam. “Mari kita lihat apa pendapat Guru Jasar.” + + + Dengan hirarki yang begitu belibet, Hel kira ia tidak bakal segera mendapatkan Energi barunya. Ia keliru. Segera setelah Gruu Jasar mendengarkan hasil obrolan mereka dengan Guru Tetua, sang kepala keamanan tidak berlama-lama lagi. Ia mempertemukan Hel dengan seorang Guru senior yang memiliki Energi murni tanah. Hel dibekali dengan banyak ilmu teori setelah itu, yang diserapnya dengan sangat cepat seolah-olah mempelajari ilmu bocah balita. Barangkali ini keuntungan dari memori dihapus—ada banyak ruang ‘kosong’ yang bisa diisi kembali dengan hal-hal lebih bermanfaat. Selepas Sembahyang Malam, Hel kembali menemui Guru tersebut, kali ini sendirian tanpa ditemani Aeson. Entah ke mana sang tabib muda pergi; ia telah lenyap semenjak Sembahyang Malam berakhir, dan menurut instingnya, barangkali Aeson menemui pemuda Korson yang sudah sadarkan diri di Ruang Tabib. “Baiklah, Putra Freds,” kata Guru itu, dengan senyum lebar saat menyambut Hel. “Apa kau siap? Kalau demikian, maka lepas alas kakimu.” Hel menyingkirkan alas kakinya dengan berbagai dugaan. Apakah karena ia akan menyerap Energi tanah, maka tubuhnya akan diselimuti tanah menggeliat atau bagaimana, begitu? Dugaan-dugaan aneh ini muncul karena ia teringat akan air yang menjulur dari sumur. Kemudian, menyadari betapa uniknya pengalaman itu, Hel mendadak merinding. Ia terbiasa melihat tanah yang diam, tak bergerak selain karena embusan angin dan getaran bumi, dan tiba-tiba saja tanah itu bakal merenggutnya? “Ah, maaf,” Hel bertanya dengan agak gugup. “Bagaimana cara kerjanya? Maksudku—apa yang akan kulakukan setelah ini?” Alih-alih menjawab, sang Guru tersenyum. Ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan Hel agar segera menapak pada tanah lapang di dekat mereka. Berpagar padatnya sesemakan bugenvil dan lumen, dengan pilar kokoh pohon ek yang menaung rimbun di atasnya, Hel melangkah ragu-ragu ke berpetak-petak tanah lapang yang tidak spesial. Sungguh—tak ada yang mencolok dari tempat ini, selain menghadirkan pemandangan epik lembah di bawah tebing tanpa halangan apa pun. Ini adalah spot yang bagus bagi para Guru untuk sekadar menghirup udara segar, yang ingin dipayungi oleh rimbunnya jalinan dedaunan ek alih-alih atap paviliun. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Putra Freds,” kata sang Guru. Yah, mudah saja mengatakannya karena Guru itu adalah pembawa Energi tanah sejak dahulu. Ia sudah terbiasa. “Kau hanya perlu membersihkan hatimu dari berbagai niat buruk. Kau sudah melakukannya sedari tadi, termasuk saat Sembahyang Malam, bukan?” pertanyaannya dibalas dengan anggukan gugup. Sang Guru pun melanjutkan dengan enteng. “Kalau begitu, kuatkanlah tekadmu. Itu saja. Sebab saat kau menemui vehemos kami kelak, kau harus meyakinkan ia bahwa Energi yang kau pinjam adalah demi kebaikan, bukan keburukan, dan itu ditunjukkan dari hati—“ “Tunggu, apa? Siapa?” “Maaf?” “Kau bilang aku menemui siapa?” “Vehemos kami.” Sang Guru mengerjap. “Apa kau tidak tahu?” Hel menatapnya dengan mata membeliak. “Maaf tapi tampaknya kau tadi tidak menyebutkan kalau ... kalau aku bakal menemui vehemos kalian dan semacamnya ....” “Oh, astaga! Demi Tuhan, maafkan aku.” Keentengan senyum sang Guru membuat Hel justru merasa kacau balau di dalam benaknya. Yo, pertemuan pertama Hel dengan seorang vehemos sangatlah tidak menyenangkan, bahkan cenderung traumatis, dan sekarang ia perlu menemui vehemos lain? “Itu adalah langkah dasar dan paling utama dari segala bentuk penyerapan Energi secara legal, Putra Freds; yakni menerimanya langsung dari sang induk.” Ilmu sedangkal itu tentu saja dengan mudahnya dilupakan sang Guru. Sewajarnya ia berpikir bahwa Hel sudah mengerti, semata-mata karena sudah ada dua Energi bersemayam di dalam tubuhnya. Bukankah begitu? Barangkali karena wajah Hel memucat dengan cepat, sang Guru menambahkan dengan buru-buru. “Vehemos kami tidak seperti yang telah kau temui di Desa Kors. Tidak! Ia adalah pengabdi Tuhan yang taat. Ia tinggal di bawah tebing, hidup damai bersama hewan-hewan ternak dan tetumbuhan liar. Kau bahkan bisa berbicara dengannya. Hanya saja, kuingatkan sekali lagi, tetapkan hatimu pada kebaikan!” Hel tak sanggup berkata-kata selain mengatupkan bibir, dan menyunggingkan senyum. Ia berputar menghadap lembah sekali lagi, hanya saja perasaannya tidak seperti tadi. Lembah itu tidak tampak damai di matanya seperti semula. Sekarang ia paham mengapa lembah itu begitu tenang—barangkali ada lebih dari satu vehemos yang mendiaminya, entah di dalam kegelapan gua tebing, di dasar sungai berkilau yang tiada dasar itu, atau sesederhana bersembunyi di balik sesemakan liar rimbun yang tak pernah dipangkas sejak ratusan tahun lalu, selain oleh sapuan angin dan kikisan tanah. “Baiklah, apa kau siap?” Tidak juga. “Ya,” Hel tak percaya suaranya begitu gemetaran. Ini membuatnya nampak sebagai seorang pria tiga puluhan tahun yang pengecut. Ia berdeham, dan mengulang ucapannya lagi, kali ini dengan lebih mantap. “Ya—maksudku, ya. Aku siap.” “Syukurlah,” kata sang Guru. Maka ia pun berdiri di samping Hel. Mula-mula ia tidak melakukan apa pun, selain menyebut nama Tuhan sebagai permulaan segala sesuatu. Lalu, Hel memerhatikannya: kaki kanan sang Guru menapak maju, berputar cepat hingga membentuk jejak setengah lingkaran di tanah, dan tahu-tahu tanah di bawah kaki mereka bergetar. Hel nyaris panik, dan nyaris pula mencengkeram lengan Guru di sampingnya. Ia refleks berusaha menyeimbangkan tubuh, dan menyebut nama Tuhan dengan kencang di dalam benaknya. Tolong, Tuhan, batinnya, aku hanya ingin Energi yang baik-baik saja! Ketika tepi tebing itu bergetar semakin kencang hingga sesemakan bergemerisik dan dedaunan ek berguguran, Hel samar-samar mendengar geraman. Keringat membanjiri punggungnya dengan deras. O-ow.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN