Langit menggelegar dan kelabu, tetapi tidak seperti langit kelabu yang dikenalinya akhir-akhir ini, langit masih biru cerah. Hanya saja awan kelabu raksasa bergeser cepat dengan gelungan mengerikan.
Tak lama kemudian, setelah berbagai guntur dan petir yang menyambar-nyambar, salju akhirnya turun. Berbeda dengan salju saat ini yang menghitam dan kotor, salju saat itu putih.
Hel mendongak. Ia membiarkan sebutir salju suci menyentuh pipinya, membekukan permukaan kulit dan membuat giginya bergemeletuk. Lalu satu butir lagi yang lebih kecil mendarat di dahinya. Segera, butir-butir itu memecah di pundak, kerah mantel bulu, lapisan jubah terluar, dan sepatu boots-nya yang ternoda tanah kering.
“Salju,” Hel bergumam, tetapi itu bukan Hel yang saat ini. Hel yang berkomentar barusan adalah Hel di masa lampau, yang peristiwanya terasa sudah terjadi lama sekali, barangkali Aeson bahkan belum lahir.
Atau bahkan Guru Tetua itu masih kanak-kanak.
Hel di mimpi menengadahkan kedua tangan. Sebutir salju yang cukup besar melayang-layang turun ke kedua telapak tangannya, dan saat butiran itu akhirnya menyentuh kulitnya, tiba-tiba butiran itu melebur pecah menjadi asap hitam.
Hel membeliak.
Ia terjaga bangun. Yo ... mimpi apa itu tadi? Hel pernah bermimpi beberapa kali sejak kesadarannya, tetapi baru kali ini mimpinya terasa begitu nyata dan ... nostalgis. Selama sesaat Hel tercenung di alas tidur, di balik selimut yang telah serampangan melilit tubuhnya.
Apakah itu benar hanya mimpi, atau ... sekelumit kenyataan? Kalau pun seandainya itu adalah kenyataan dari masa lalunya ... maka rasanya sangat samar.
Samar sekali, sampai-sampai ia mengira itu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur yang terlambat, yang hadir ketika mata Hel telah terpejam.
Hel beranjak. Ia mengusap-usap wajah dan mengawasi jendela, menunggu tirai dari sarung berkelepak ringan diterpa angin lembut. Langit masih gelap, tetapi tidak lama kemudian terdengar tabuhan tong penanda waktu Sembahyang Awal.
Hel bergeser turun dari alas tidurnya dengan pikiran kalut. Apakah sebaiknya ia menceritakannya kepada Aeson?
Ah ... tidak. Mungkin nanti dulu. Mungkin itu hanya mimpi biasa. Bisa jadi karena ia kelelahan melatih Energi seharian bersama Guru Jasar dan Aeson, mimpinya yang biasanya aneh kini berubah cukup serius.
Lihat saja esok. Mimpinya mungkin akan kembali normal.
+ + +
Tidak.
Ia kembali memimpikan hal yang sejenis.
Dan itu terjadi selama tiga hari berturut-turut! Setiap mimpinya sama, hanya saja ada penambahan detail setiap kalinya. Pada mimpi pertama, ia tidak terfokus pada apa pun selain sebutir salju yang melebur menjadi asap hitam di kedua telapak tangannya. Pada mimpi kedua, ia mulai menyadari bahwa kerah jubah bulu yang dipakainya berasal dari bulu berang-berang. Ia juga mengenali ujung boots-nya yang lancip—yang di mimpi pertama tampak bundar saja—dan Hel mengenali cincin-cincin giok besar di jemarinya.
Hel lantas mampu memerhatikan di mana posisinya berada saat itu. Ia berada di sebuah taman, dikelilingi sesemakan gardenia dan lavender yang harum semerbak. Meski ini mimpi, Hel bisa mencium aromanya yang menggoda dan memenuhi udara! Lebih hebatnya lagi, tak ada abu yang mengapung, atau debu hitam yang beterbaran serampangan. Udara bersih, air sungai di kejauhan berkilauan ditimpa sinar mentari, dan—di atas itu semua—matahari bersinar terang-terangnya!
Di manakah Hel? Apakah ia berada di Vestrad, ataukah ini negeri lain yang tak dikenalinya?
Tapi, batin Hel, saat memerhatikan sekeliling, termasuk bangunan samar dengan tembok batu yang beriak-riak di hadapannya. Aku tidak asing dengan tempat ini.
Kemudian, pada mimpi ketiganya, Hel mendapati bahwa ia tidak sendirian. Ada seseorang yang menghampirinya. Ia mengenakan jubah kelabu hitam panjang yang menjuntai, dengan tudung besar yang membayangi wajah kecilnya. Ia menunduk, menciumi wangi gardenia dan lavender, lalu perlahan-lahan bergeser kepadanya. Tanpa sekali pun menunjukkan wajahnya, sosok berjubah itu kemudian berlutut di depannya, lantas menjilati sepatu boots Hel yang lancip.
Di mimpinya, Hel tertawa lantang. Tetapi pada Hel asli yang menyaksikan mimpi itu, jantungnya berdebar ketakutan.
Sehingga, pada hari keempat Hel berlatih Energi bersama Guru Jasar dan Aeson, ia menyampaikan mimpi itu dengan sedikit panik. Kedua Guru mendengarkannya dengan dahi mengernyit dan alis terangkat.
“Itu bukan sekadar mimpi, kan?” desak Hel. “Itu berarti sesuatu, benar? Apakah kalian bisa menerjemahkan mimpi?”
Aeson nampak ragu-ragu sejenak. Pendapatnya didahului oleh Guru Jasar, yang tidak berlama-lama dalam menyuarakan isi pikirannya. “Apakah itu masa lalumu?”
“Aku tidak tahu,” kata Hel.
“Giok,” gumam Aeson. “Pada hikayat lama, batu giok dijadikan persembahan untuk para vehemos air.”
Guru Jasar mendengus pelan. “Energi murni Putra Freds adalah air,” ia sengaja mengucapkan hal sejelas itu untuk mengisyaratkan agar Aeson bergegas. “Tunggu apa lagi? Bisa saja ini terjadi karena Energi Putra Freds mulai dibangkitkan kembali—hal seperti itu lumrah-lumrah saja meski tidak sering terjadi. Segeralah; bawa dia kepada Guru Tetua.”
Rasanya sudah lama sejak terakhir kali Hel menemui Guru Tetua, padahal baru empat hari berlalu. Semenjak pertemuan terakhir mereka, Guru Tetua seolah-olah menghilang dari peredaran. Belakangan, Hel baru mendengar dari Aeson, bahwa Guru Tetua dan sejumlah Guru Energi sedang berkeliling seperti biasa; menemui para petinggi berbagai desa sekaligus mengecek situasi Desa Kors. Mereka kembali dengan kabar bahwa Desa Kors kini kosong melompong, dan Hel maupun Aeson bertukar tatap selepas mendengarnya.
Lantas, ke mana para mayat yang tergeletak di alun-alun itu?
Bagaimana dengan si vehemos lendir yang terjebak di sumur?
Saat Hel dan Aeson menemui sang tetua di paviliunnya seperti biasa, beliau bertelekan pada tongkat dengan agak termenung. Ia memunggungi mereka, menghadap ke arah lembah yang damai tanpa kekacauan seperti di luar Konservatori.
“Guru,” sapa Aeson dengan santun. Ia mengisyaratkan Hel agar mendekat tanpa berisik. Sang tabib muda duduk di dekatnya. “Guru, Saudara Heldrado punya sesuatu yang meresahkannya. Apakah engkau berkenan mendengarkan?”
Cukup lama hingga sang tetua mengangguk. Ia berbalik, dan baru saja akan mempersilakan Hel duduk, ketika alisnya terangkat samar saat memandang sang pria. Hel, yang terpaku di posisinya, melirik ke arah Aeson dengan bingung.
“Apakah ada sesuatu, Guru Tetua?”
“Putra Freds ....” Sang Guru tampak kebingungan. Ia terdiam, barangkali memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Apa kau sedang aktif melatih Energimu?”
“Benar.”
“Ah.” Kecemasan yang membayang di wajah sang tetua meluntur. Ia menyunggingkan senyum santun. “Kalau begitu, duduklah. Apa kiranya yang merisaukanmu, Putra Freds?”
“Aku ... bermimpi akan hal-hal aneh, Guru,” kata Hel memulai. “Tapi, ahhh ... tidak cukup aneh, sebenarnya, hanya saja karena aku memimpikannya berulang kali, maka rasanya cukup janggal.” Hel kemudian menjelaskan dengan detail, dan betapa mengerikan baginya yang bercerita sendiri, bahwa ia mampu mengenal detail ketiga mimpi itu bagaikan ingatan dari masa lalunya sendiri. Ia tidak bisa melupakan ketiga mimpi ini sebagaimana mimpi-mimpi sebelumnya. Dan, semakin jauh Hel bercerita, semakin cemaslah pria ini terdengar.
Ketika ia mencapai akhir cerita, ia menambahkan dengan bingung. “Apakah itu masa laluku?”
Alih-alih menjawab pertanyaannya, sang tetua tersenyum lebar. Tampaknya pertanyaan Hel cukup untuk mencairkan ketegangan yang dirasakan sang Guru. “Pertanyaan yang unik, Putra Freds,” katanya. “Sebab aku tak pernah bertemu denganmu sebelumnya, bahkan kepada Putra Aes yang telah membantumu sejak awal. Tentu saja aku tidak tahu apakah itu masa lalumu.”
“Ah ....”
“Tapi,” kata sang tetua, dan tampaknya beliau menikmati perubahan ekspresi Hel yang bercampur aduk. “Ada beberapa hal yang kemungkinan terjadi saat kau kembali menghidupkan Energimu.”
“Guru Jasar mengatakan sesuatu kepada kami kemarin,” kata Aeson menimpali. “Bahwa ini ada hubungannya dengan Energi Hel yang kemungkinan besar adalah pemberian Lord Grimshaw, termasuk sebagian ingatan berkaitan yang dihapus. Sehingga, mengaktifkan kembali Energinya pun berpotensi mengembalikan berbagai memori yang hilang itu.”
“Ya, itu salah satunya.” Sang tetua membenarkan. “Dan jika benar demikian yang terjadi padamu, maka kau tak perlu bersusah-payah mencari siapa pelaku penghapus ingatanmu, Putra Freds. Kau bisa mendapatkan memorimu kembali dengan menggunakan Energi terus-menerus.”
Hel terkesiap, dan Aesonlah yang pertama kali menyahut dengan penuh semangat. “Rupanya begitu! Hel, kau tidak perlu berlama-lama terkatung-katung tanpa ingatan!”
Sang paman menatap tabib muda itu dengan semangat yang mulai berkeriap. Jantungnya berdentum-dentum dalam kesenangan. Oh, ia tidak mengira akan mencapainya secepat ini. Hel kira ia perlu mengarungi padang dan samudra, melintasi perbukitan dan lembah—ya, ini berlebihan, tapi kau tahulah maksudnya apa.
“Tapi,” kata sang tetua, setelah kedua lelaki di hadapannya berhenti merayakan secara kecil-kecilan. “Sebaiknya ... engkau tidak lupa dengan tekadmu lalu, Putra Freds.”
“Apa?”
Sang tetua mengulum senyum misterius. Matanya terpejam. “Ingatkah engkau akan tekadmu, Putra Freds? Bahwa engkau ingin menjadi orang yang lebih baik, dan kau tidak akan menghidupkan kembali masa lalumu. Bahwa ... engkau tidak akan kembali padanya, tak peduli apakah masa lalumu begitu berjaya daripada situasimu saat ini.”
Guru Tetua berhenti sejenak, memberikan waktu bagi Hel untuk mencerna ucapannya. Tidak butuh waktu lama hingga Hel menatapnya dengan nanar. “Apakah itu maksudnya ....”
“Jika engkau khawatir tidak mampu menahan beban memori lamamu, maka kau pun harus menahan diri untuk tidak menghidupkan Energimu berulang kali.” Bagai petir, ucapan sang tetua menyambar benak Hel. “Cukup biarkan Energimu larut di udara.”
Aeson terperangah. “Betapa berlawanannya,” gumamnya tak percaya. “Tetapi jika Saudara Hel bertekad ingin membenahi desa-desa yang telah rusak, bukankah ia harus menggunakan Energinya?”
“Itu juga benar,” kata sang tetua. “Kedua pilihan tidak memiliki keunggulan yang menonjol. Maka semuanya terserah pada Putra Freds sekarang; apakah ia akan tetap menggunakan Energinya untuk membangun desa, dan menanggung beban memori lama ... atau, ia akan membiarkan Energinya larut tak terpakai, memori lamanya aman terlupakan, dan berisiko menggunakan kemampuan fisiknya semata untuk membangun ulang desa-desa?”
Paviliun itu tak pernah lebih hening daripada sekarang ini, bahkan kehadiran tiga orang pun tak ada bedanya dengan kekosongan pada dini hari. Aeson menunduk sementara sang paman tercenung. Guru Tetua tak bergerak selain kembali memuji Tuhan di sela-sela menanti respon Hel.
Hel tiba-tiba menegakkan punggung. “Kalau begitu,” katanya, “bagaimana jika aku memakai Energi lain?”
Aeson mengernyit. “Apa maksudnya?”
“Maksudku,” kata Hel, dan ia tak pernah merasakan adrenalinnya terpacu sederas ini saat mengajukan sebuah usulan. “Aku mengambil Energi lain—Energi baru, yang tidak pernah kuterima dari siapa pun sebelumnya.”