4. Kehadiran Setelah Kehilangan

1550 Kata
Penghujung Desember, 6 tahun lalu... Keasikan Lana pada hobi membacanya memang kadang tidak bisa diganggu-gugat siapa pun. Bahkan Nisa—sang kakak sendiri sudah lelah membujuk gadis itu untuk meninggalkan bacaannya sejenak hanya untuk sekedar mengisi perutnya, atau memintanya mandi, atau tidur lebih awal karena besok gadis itu masih harus bangun pagi untuk sekolah. “La, taruh dulu novelnya! Kamu tuh belum makan, nanti maag-nya kambuh lagi, Dek...” desah Nisa lelah. Itu sudah ketiga kalinya Nisa memanggil Lana yang masih asik bersandar di sofa dengan sebuah novel di tangan. “Masih belum mau gerak?” suara seorang pria terdengar mendekat dari arah dapur, berdiri di samping Nisa dengan tangan melipat di depan d**a. Nisa menggeleng, menghela napas melempar pandang ke sofa dengan Lana yang masih bergeming di tempatnya. Pria itu melangkah, menghampiri sofa meninggalkan Nisa yang menggeleng setelah menyerah menghadapi adiknya. Nisa kembali ke dapur, menyiapkan makan siang, sementara pria itu sudah berdiri di hadapan Lana yang tidak juga menyadari bahwa seseorang sudah dibuat jengkel olehnya. Tanpa kata pria itu merebut novel tebal yang sejak tiga jam lalu dalam kuasa Lana, membuat pemiliknya mengeram kesal berdiri dari posisi nyamannya. “Ih Kak Tommy resek! Balikin ah novelnya, aku belum selesai baca!” Pria bernama Tommy itu menggeleng, mengangkat novel itu tinggi-tinggi membuat Lana tidak bisa menggapainya. Bahkan setelah Lana naik ke atas sofa pun, Tommy masih berusaha menjauhkan novel itu dari jangkauan gadis itu. “Makan dulu. Kakak sita novelnya sementara. Sampai kamu selesaiin tugas kamu.” Lana menyerah, gadis itu duduk di sofa dengan tangan melipat tak puas. “Ck, tugas apa? Lana nggak punya tugas kok.” “Tugas kamu di hari minggu. Makan biar nggak sakit, mandi biar nggak bau!” Setelah mengatakan perintah yang tidak bisa diganggu-gugat Tommy berlalu, memaksa Lana bangkit dari sofa dan mengikuti langkahnya malas. Dari dapur yang masih dapat melihat perdebatan singkat itu, Nisa tersenyum. Memberikan tepukan puasnya di lengan Tommy begitu pria itu berada di dekatnya. Kehadiran Tommy dikehidupannya dan Lana memang membawa banyak hal-hal yang tidak pernah terbayangkan. Dibalik kepergian orang yang dicintainya beberapa bulan lalu, ditengah keputusannya untuk tinggal hanya berdua saja dengan sang adik terlepas dari tanggungjawab Om Markus, keberadaan Tommy menguatkan keputusan besar yang diambilnya itu. Membuat Nisa yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ada Lana dan Tommy di sampingnya. *** “Aku suka sama kamu.” Ungkapan perasaan yang Lana dengar itu membuatnya membisu, menatap pemuda di hadapannya tanpa berkedip. Ini pertama kalinya ada seseorang yang mengucapkan kalimat itu padanya, pertama kalinya selama 15 tahun waktu yang telah ia habisnya di dunia. Jantungnya berpacu, tentu saja karena ia terkejut dengan pernyataan suka yang tiba-tiba ia terima, tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada perasaan bahagia seperti yang Ratu ceritakan ketika mendapatkan ungkapan serupa dari pemuda kelas sebelah yang disukainya. Atau rasa gugup seperti yang Nindi alami ketika berada di dekat Anwar sahabat yang gadis itu sukai. Lana terkejut, tapi hanya sebatas itu. Lana tahu pemuda di hadapannya adalah salah satu anggota tim futsal yang tersohor di antara ekstrakulikuler di sekolah mereka. Lana juga sering menyaksikan pemuda itu bertanding ketika turun di turnamen antar sekolah. Beberapa kali berpapasan ketika ke kantin atau perpus, dan saat saling bertatap muka keduanya akan melempar senyum satu sama lain tanpa maksud lebih selain basa-basi. Yang Lana tahu tentang pemuda itu hanya sebatas kegiatannya di sekolah, yang tidak lain menjabat sebagai anggota inti tim futsal, lalu namanya yang kalau Lana tidak salah ingat adalah Ednan. Selebihnya? Lana tidak tahu. Bahkan kelas yang di tempati Ednan saja Lana tidak ada clue sama sekali. Apalagi menyadari perasaan yang dimiliki pemuda itu, tahu saja tidak sejak kapan pemuda di hadapannya ini menaruh hati padanya? Mengapa dirinya? Dan apa yang membuat pemuda itu bisa suka? Lana sama sekali tidak habis pikir, tidak pernah juga membayangkan bahwa hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Ia kira hal seperti ini hanya ada di novel-novel atau komik-komik remaja yang ia baca. “Ah, maaf. Kamu pasti kaget karena tiba-tiba aku bilang gini ke kamu. Kamu juga mungkin nggak kenal siapa aku, dan kenapa aku bisa ngomong gini ke kamu dengan gampangnya. Tapi, Lana... Sebenernya aku udah merhatiin kamu sejak kita masuk sekolah, dan ungkapan perasaan ini juga bukan tiba-tiba buatku, karena aku udah mikirinnya sejak lama. Jadi...” Pria itu menggantung ucapannya, melirik Lana yang masih memasang wajah terkejut. Meski begitu Lana sengaja tidak bersuara, menunggu pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. “Kalau kamu nggak keberatan, aku mau kamu izinin aku untuk dekat sama kamu.” Pemuda itu berhenti, pandangannya yang sejak tadi tidak tenang dan sibuk melirik ke mana pun kini fokus pada Lana, menunggu gadis itu untuk merespon semua kata yang sudah ia berusaha sampaikan. Lana menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Menurut Lana sih ia tidak gugup, tapi pemuda di hadapannya ini yang sudah menularan rasa gugupnya hingga tanpa Lana sadari ikut terjebak pada atmosfir yang sama. “Hhm.. anu...” Sejujurnya Lana tidak tahu harus menjawab apa. Pemuda itu jelas tidak bertanya tentang kesediaan Lana menjadi kekasihnya, tidak juga menanyakan apa yang ia rasakan terhadap pemuda itu. Ednan hanya meminta Lana mengizinkan pemuda itu mendekatinya, itu yang ia tangkap dari semua kalimat yang didengarnya lima menit terakhir. “Hhm... Kamu mau kita dekat? Seperti Rika dan Nino? Begitu?” Gadis itu benar-benar buta mengenai hal-hal macam ini. Macam perasaan yang memang sudah wajar dirasakan kaum remaja seusianya. Lana terlalu fokus dengan dirinya sendiri, dengan peringkat akademiknya, dan dengan pikiran yang terus berpusat tentang “bagaimana cara agar ia tidak merepotkan kak Nisa apa pun alasannya.” Memikirkan perasaannya pada orang-orang sekitar, Lana rasa, ia sudah memutuskan untuk melewatkan hal itu sejak berbulan-bulan lalu. Ketika ia memutuskan menjalani harinya seperti sedia kala. “Bukan gitu, La... Tapi aku mau kita dekat—” Dering ponsel Lana memotong kalimat Ednan yang terlihat tak sabar menjelaskan. Apa perkataannya yang panjang lebar sebelumnya itu memang cukup sulit dimengerti? “Maaf, dari Rika. Aku angkat ya.” Tanpa menunggu jawaban Ednan, Lana sudah mendekatkan ponsel itu ke telinga. Ednan menghela napas berat. Agaknya masalah perasaannya pada Lana tidak akan berakhir mudah. “Halo? Iya, Ri. Aku ada di halaman belakang sekolah.” Hening, memberi jeda pada Rika untuk menyampaikan pesannya di seberang sambungan telepon sana. “Oh ya udah, bilangin Kak Tommy suruh tunggu aku sebentar ya. Jangan ditinggal, aku ke gerbang sekarang! Oke, bye.” Membalikan tubuhnya kembali menghadap Ednan, Lana tersenyum kecil, menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Ednan, maaf. Aku harus pulang, udah ditunggu. Duluan ya!” Dan Lana akhirnya lupa, bahwa ia sebenarnya harus memberikan sebuah jawaban pada pemuda itu. Berlari pergi menyisakan Ednan yang tidak sempat menahan kepergian gadis itu. *** “Jadi Ednan nyatain cintanya ke kamu, La?!” Rika bersuara heboh, membuat Lana yang duduk di samping kemudi menutup telinga karena suara cempreng sahabatnya itu. “Ri, kan nggak perlu teriak kayak gitu.” Protes Lana melirik Rika sinis. Sementara pria di depan kemudi yang mengamati kedua gadis itu hanya menggeleng dengan senyum. “Ayo jawab iya atau nggak?” desak Rika tak sabar. “Apanya?” “Ck, Ednan nyatain cinta ke kamunya lah! Memang ada hal lain yang kita bahas?” seru Rika gemas. Lana membenarkan posisi duduknya. Mengarahkan tubuhnya lurus ke depan. Tanpa suara gadis itu mengangguk, membuat Rika yang melihat respon itu dengan cepat memajukan tubuhnya hingga berada di antara celah kursi mobil bagian depan. “SERIUS? Terus kamu jawab apa?” “Duduk yang benar, Ri. Pasang seatbelt-nya!” Lana berteriak, membuat semua penumpang di mobil itu dibuat bungkam karenanya. Pemuda yang sejak tadi terpejam di samping Rika akhirnya membuka mata, menarik Rika agar membenarkan posisinya dan memasangkan seatbelt untuk gadis itu. Mereka tahu benar kenapa Lana bisa berteriak selantang itu, diluar kepribadiannya yang dikenal tenang selama ini. “Maaf...” gumam Rika sendu, merasa bersalah karena bisa jadi ia sudah membuat Lana mengingat kenangan yang paling tidak ingin melintas di benak gadis itu. Pada akhirnya pertanyaan Rika menguap, begitu pun permintaan maafnya yang hanya mengambang di antara keheningan panjang. Tommy yang sejak tadi diam di balik kemudi, memcoba membaca situasi dari kaca spion di hadapannya. Tersenyum kecil mengamati tiga remaja yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. “Gimana kalau kita mampir makan pizza dulu?” Tubuh Rika yang semua bersandar lesu dibuat tegak mendengar ajakan itu, sedikit mengusik pemuda di sampingnya yang hanya bisa menggeleng lemah. “Pinter, Kak, bikin mood naik dengan nyogok kita pakai makanan.” Tawa renyah Tommy terdengar. Sementara Nino—nama pemuda dengan mulut sinis itu—sudah menjadi bulan-bulanan pelototan tajam Rika di sampingnya. Lana sendiri masih menunduk sendu di tempatnya, merasa bersalah karena sudah membentak Rika sekeras itu. Padahal biasanya ia hanya akan mengingatkan sahabatnya itu dengan cara yang normal, tapi entah mengapa sesaat tadi... Pluk Tepukan ringan mendarat di kepala Lana, tepukan sebuah tangan besar pria yang kini memberikan senyum menenangkan andalannya. Pria itu mengusap kepala Lana lembut, hanya menyalurkan beberapa gerakan kecil sebelum kembali fokus dengan kemudi. Bukan hanya dari sudut pandang sang kakak—Nisa. Tapi dari sudut pandang Lana sendiri pun Tommy adalah sosok yang mampu membuat dirinya percaya, bahwa apa pun yang terjadi, entah itu mengenai ingatan mengerikan tentang kecelakan yang menimpanya dulu, atau sikapnya yang terkadang diluar kendali seperti tadi, semuanya kembali akan baik-baik saja. Semuanya akan mengerti dan kembali baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN