Pria Berwajah Seram

1906 Kata
Kegelapan menyelimuti mereka. Sangat pekat, bahkan lebih pekat dari gelapnya hutan gelap yang dihuni kelelawar-kelelawar besar. Alif saja merasa kesususahan di sini. Kekuatannya seperti terkunci, tidak dibiarkan menggunakannya sama sekali. BUM! Suara hantaman menyapa indra pendengaran mereka. Bahkan pukulan itu menghasilkan angin, terbukti rambut mereka sempat bergerak layaknya tertiup angin saat suara hantaman itu terdengar. "Akh!" Itu suara Randai, lelaki itu meringis saat perutnya rasanya seperti dihantam benda tumpul yang sangat hebat. Dirinya bahkan sampai terbatuk. Tidak sempat bertanya, tiga yang lainnya juga diserang. Mereka tidak bisa membalas, ceroboh sedikit saja, teman mereka yang bisa menerima akibatnya. Laki-laki tadi benar-benar memanfaatkan keadaan. Entah kekuatan apa yang dia lakukan sampai bisa menyerap indra tajam mereka semua. Di sini sangat gelap. Tapi kepekaan pendengaran serta penglihatan di gelapnya situasi seperti ini tidak bisa digunakan sama sekali. Alif dan Randai sudah berusaha konsentrasi, tapi ternyata tidak ada hasil, dan mereka selalu mendapatkan serangan pukulan bertubi-tubi dari lawan mereka. Remuk redam sudah tubuh mereka, rasanya sakit. Randai yang tersulut emosi mulai mengepalkan tangan dan melayangkan tinju ke sembarang arah, tidak lupa dengan teriakan melengking agar kekuatannya semakin berkali lipat. "Aduh! Kurangajar kamu, Ran. Kamu pikir pipiku samsak tinju, ha?!" Alif memegang pipinya yang berdenyut, belum juga reda rasa sakit yang ditimbulkan karena pukulan bertubi di beberapa anggota tubuhnya, tapi Randai sudah menambahi lagi. "Maaf, Lif. Aku tidak tahu, aku tidak bisa melihatmu." Alif mendengus, tapi sekarang dia tahu kalau posisinya dengan Randai dekat. Dirinya harus mencari cara agar bisa menyelesaikan pertarungan tidak seimbang ini. Jumlah mereka memang banyak, tapi situasi sekarang tidak menguntungkan mereka sama sekali. Alif mencoba menajamkan indranya lagi, tapi tetap saja berakhir gagal, seperti ada yang menghalangi. Sampai akhirnya tubuhnya terpental hingga menubruk tembok. Dirinya di tinju--entahlah, terasa seperti itu. Dihantam keras sekali sampai sakit rasanya. "Arrghh!! Jangan menjadi pengecut! Kembalikan situasi menjadi normal, akan kuhadapi kamu seorang diri." Alif menggeram marah, napasnya memburu beberapa kali, emosinya benar-benar terpancing. Kalau memang dia harus menghadapi seorang diri pria tadi. Dia sangat siap. "Klan Werewolf memang sangat berani sekali. Namun aku tidak tertarik dengan perintahmu itu, sudah kubilang kan, siapa pun yang datang ke sini tanpa izinku, maka jangan harap bisa ke luar dalam keadaan hidup." Selang beberapa detik setelah ucapan pria tadi, sebuah pedang menghunus ke arah Alif. Kencang, kecepatannya secepat angin lalu .... Craak!! Pedang itu menembus tembok, tertancap tepat di samping kepala Alif. Lelaki serigala itu sampai menahan napas melihat kejadian tersebut, untung saja dirinya cepat menyadari dan berhasil menghindar dalam waktu yang tepat--tunggu .... Ada yang salah di sini. Dirinya bisa melihat pedang yang menancap di samping kepalanya, dan dia bisa mengetahui keberadaan pedang itu saat melesat ke arahnya. Mata Alif mengamati sekitar, memastikan bahwa tidak ada yang salah dari penglihatannya, memastikan juga kemustahilan jika pria tadi menuruti perintahnya. Tapi ... semua dugaannya salah. Dia bisa melihat sekitar bukan karena indranya yang tajam berfungsi kembali, bukan juga karena permintaanya yangbdituruti, melainkan karena adanya cahaya yang berpendar lembut di depannya. Cahaya yang ke kuar dari tubuh sahabatnya. Kyra. Gadis itu ... setelah sekian lama tidak menunjukkan kemampuannya, sekarang mulai terlihat lagi, bahkan ada percikan api biru yang mengelilingi tubuhnya. Kyra hanya terpaku di tempat sambil menatap lurus ke depan. Tepat di mata Alif, gadis itu bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Dia tidak sedang pingsan sekarang, tapi kenapa cahaya ini .... Memanfaatkan keadaan yang ada, Randai dan Lea segera mendekat ke arah Kyra, hanya gadis itu yang bisa membantu penglihatan mereka sekarang ini. Melihat itu, Alif juga menyusul, menggunakan kemampuan kecepatannya sehingga bisa sampai dalam waktu kurang dari satu detik. "Kita melingkar, buat formasi di sini saja. Hanya kemampuan Kyra yang bisa membantu kita sekarang ini." Alif sedikit merentangkan tangannya membentuk kuda-kuda. Lea dan Randai mengangguk, mereka membentuk lingkaran dengan Kyra berada di tengah mereka. Selain untuk melindungi sahabatnya itu, juga karena Kyra merupakan sumber cahaya yang membantu penglihatan mereka, setidaknya jika membentuk lingkaran begini, cahaya itu terbagi rata di berbagai arah. "Siapa gadis itu. Bagaimana bisa?" Pria berwajah seram itu menggumam heran  sebelumnya ... belum pernah ada yang selerti ini sebelumnya. Tapi sekarang ... lihatlah gadis itu, bahkan dia sendiri terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. "Kalian sedang apa?" Ah, pertanyaan konyol yang dilontarkan Kyra, tentu saja teman-temannya mencoba bertahan hidup. Kenapa gadis itu seolah linglung, padahal pria berwajah seram itu sudah mendekat. Sebelumnya dia mendatangi tempat Alif berdiri tadi dan mencabut pedang yang tertancap di tembok, menggerakkan tangan pelan untuk memainkannya sebelum di arahkan pada empat remaja itu. "Siapa gadis itu?" Pertanyaan yang selalu sama setiap siapa pun yang bertemu Kyra, seolah Kyra makhluk asing yang tidak pernah mereka lihat. "Tentu saja wanita, mamangnya kamu pikir dia waria." Sudah sangat tahu bukan, siapa pemilik suara yang selalu berbicara demikian. Siapa lagi kalau bukan Klan Vampir yang bernama Randai, dalam situasi apa pun dia selalu bisa berbicara di luar dugaan para sahabatnya. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, tapi gadis itu mengingatkanku pada suatu petunjuk. Ah, kalian ditugaskan untuk sebuah misi?" Pria berwajah seram ini semakin dekat saja. Jaraknya hanya beberapa langkah dari empat remaja itu. "Itu bukan urusanmu!" Alif menatap nyalang. Sudah sangat siaga untuk menerkam. Begitu pun dengan Randai, pria itu sudah tidak sabar ingin melepaskan pukulan. Dia ingin membalas perlakuan pria tadi karena telah memukulinya terus-terusan. "Ckckck, aku bertanya baik-baik, Werewolf, tidakkah kau menjawab dengan baik juga." Pria ini memutar pedangnya ke belakang dan memandang Alif dengan tajam, tapi lelaki serigala ini tidak perduli, biarkan saja dia marah. Bukankah dari tadi pria ini memang pemarah. Menyerang mereka padahal sudah meminta maaf. "Tidak perlu bersikap sopan pada orang yang tidak memperlakukan tamu dengan baik juga." Pria paruh baya dengan wajah seram itu mengangguk, dua detik setelahnya dia mengarahkan pedangnya pada leher Alif, ujungnya yang runcing berada tepat di Alif. Bergerak sedikit saja, pedang itu akan mengoyak kulitnya. "Jaga sopan santunmu pada tuan rumah." Merasa kesal dan tidak sabar, Randai langsung melepas pukulan, lelaki berwajah seram itu mundur ke belakang beberapa langkah dan pedangnya jatuh tidak jauh darinya. Beruntung tidak melukai Alif sama sekali. Mereka akhirnya merubah posisi, berdiri berjejer dengan Kyra di belakang mereka. Sebenarnya Kyra merasa kesal, kenapa mereka bersikap sangat posesif sekarang ini. Bukankah Alif sudah memberinya senjata untuk bertahan diri. Pria berwajah seram itu manggut-manggut. Seolah meremehkan serangan Randai yang tidak ada apa-apanya. "Kalian ingin menguji kemampuanku ternyata. Baiklah, akan aku kabulkan." Pria itu melanglah ke depan, dia tidak memungut pedangnya dan kemudian berlari dengan cepat, menghajar tiga remaja berbeda klan tersebut. Randai balas meberikan pukulan, tapi selalu meleset, sedangkan pria itu berhasil memukul lengannya sebelah kiri, Lea juga berusaha menyerang, dia menghajar ke arah atas, tapi usahanya gagal, yang ada dia kena pukul hingga terpanting. Alif bahkan bernasip sama, cakarannya meleset, dan berimbas pada perutnya yang terkena pukulan. Pria paruh baya berwajah seram ini gesit sekali. Dia bisa menghindar dengan sangat baik serangan tiga remaja itu, bahkan memberikan pukulan di beberapa tempat di tubuh mereka. Seolah dia bisa membaca ke mana serangan mereka akan dilayangkan, selalu menghindar dengan tepat. Kemampuan bela dirinya luar biasa. Tiga remaja itu bukan tandingannya. Bisa dipukul mundur hanya dengan beberapa menit mereka berhasil tumbang. Merasa geram hanya melihat saja. Kyra akhirnya bergerak, cahaya yang muncul dari tubuhnya juga ikut bergerak mengikuti ke mana langkahnya. Dia mengeluarkan pedang kayu yang dibuatkan Alif kemarin malam. Berlari ke arah pria paruh baya berwajah seram itu. Mengayunkan dengan sangat keras, membuat tiga temannya memekik karena terkejut melihat Kyra yang tiba-tiba bergerak. Sayang, itu bukan serangan mematikan bagi pria itu. Dengan ketangkasan tangannya, dia mampu menghentikan pedang kayu Kyra yang hendak melukainya hanya dengan satu tangan saja. "Keberanianmu luar biasa, meski kemampuanmu jauh dari mereka." Entah memuji atau apa, Kyra tidak sempat memikirkan itu, dia segera menarik pedangnya dari pegangan pria tadi. Balas menatap dengan wajah sengit. "Meski aku tidak sekuat mereka, tapi bukan berarti aku akan membiarkan mereka mati di tanganmu." "Luar biasa, pertemanan yang sangat luar biasa. Ah, kamu mengingatkanku sama teman lamaku saja." Tidak sempat ngobrol atau apa, Kyra segera menyerang, tapi dia bukan tandingannya, tiga temannya saja berhasil dilumpuhkan, apalagi dirinya yang masih lemah di antara yang lain. Pria berwajah seram itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menumbangkannya bersama teman-temannya yang lain. Itu bukan perkara sulit. Alif mencoba bergerak di tengah rasa sakitnya yang mendera tubuh karena belum sempat menyembuhkan. Dirinya terus berusaha berdiri, tapi belum sempat dia berdiri tegak, tubuhnya kembali ditumbangkan dan di totok di bagian lehernya. Sarafnya ditekan, membuatnya seperti lumpuh tidak bisa bergerak, pria paruh baya berwajah seram itu bergerak cepat, melakukan hal yang sama pada ketiga temannya yang lain. "Lepaskan kamu!" Masih dengan tubuh yang tidak bisa bergerak, Alif mencoba bernego. Dia terus menggeram agar dirinya bisa bergerak kembali dan pergi dari sini bersama teman-temannya yang lain. "Sudah kubilang tidak semudah itu, apa kamu lupa anak muda?" Pria laruh baya itu terkekeh. "Kami sudah minta maaf, dan kami ke sini juga tidak mengambil apa pun yang yang kamu punya, tidak bisakah paman melepaskan kami saja." Lea mengeluarkan suara, menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak akan didengarkan oleh pria paruh baya itu. "Yah, kamu benar. Tapi bisa jadi belum jika aku tidak segera menemukan kalian." "Kami bukan pencuri, Paman!" Kyra menyahut tidak jauh dari teman-temannya berada. Pria paruh baya dengan muka seram itu berjalan mendekat, dia mengambil pedang yang tergeletak dari tidak jaub darinya. Berjalan perlahan mendekati Kyra dan teman-temannya. Mengitari empat remaja berbeda klan tersebut dengan ujung pedang yang menempel di permukaan lantai, yang mana jika dia bergerak dan berjalan, pedang itu ikut terseret dan menimbulkan bunyi dentingan yang menyeramkan karena permukaanya yang bergesekan. "Awalnya aku memang ingin membunuh kalian, karena sudah lancang memasuki kasgilku tanpa izin. Tapi tidak jadi karena cahaya yang ditimbulkan oleh salah satu teman kalian--" "Ah, tidak perlu kamu berusaha menoleh Klan Vampir, dia berada di belakangmu, tubuhmu hanya akan sakit jika kamu paksakan." Pria berwajah seram itu menepukkan pedangnya ke kepala Randai dengan pelan sambil terkekeh. Lalu dia berjalan mundur ke belakang dan setelahnya berjongkok fi depan Kyra. Menatap gadis itu seksama dengan mata menyorot tajam. Dirinya masih memangdangi Kyra yang masih mengeluarkan cahaya lembut di tubuhnya. "Siapa kamu?" "Kyra." "Heh, aku bukan tanya nama, melainkan diri kamu yang sebenarnya." "Mana aku tahu, dari dulu aku ya manusia, memangnya apa? Tuan Crabs?" Randai menahan tawa. Ternyata Kyra sama saja dengan dirinya, tidak bisa melihat keadaan. Entahlah, apa gadis itu sengaja bercanda atau tidak. Pria itu kembali berdiri, dia tidak paham apa yang dibicarakan Kyra tadi. Tuan siapa? Namanya sulit sekali. "Aku tahu kalian ditugaskan untuk sebuah misi." Suara pria itu memenuhi aula kastil ini, dia meletakkan tangan ke belakang sambil mengepal dan pedang yang masih ia pegang. Posisinya sekarang berdiri membelakangi empat remaja itu. Huffhh! Terdengar hembusan napas berat yang berasal dari pria paruh baya itu. Hening beberapa saat sampai dua kembali mengeluarkan suara. "Tapi aku tidak tahu tujuan dari misi kalian, apa untuk kebaikan atau hal lain. Jika dugaanku sampai benar, maka aku tidak akan melepaskan kalian, dan kalian akan mati di sini. Yah... meski pun aku sangat penasaran dengan gadis itu. Tapi jika tujuan kalian sama persis dengan apa yang kupikirkan. Aku tidak segan untuk membunuh." Seketika aura sekitar terlihat mencekam, pria paduh baya dengan wajahnya yang terlihat seram itu membalikkan badan dan melihat satu persatu remaja tersebut. "Kalian mencari potongan dari pusaka sakti itu bukan?" DEG! Gawat, mereka ketahuan. Tidak ada pilihan lain mungkin, bahkan kemungkinan terbesar pria paruh baya itu akan mengambil potongan pusaka yang dibawa Alif, apalagi jika melihat seringai mengerikan dari wajahnya tersebut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN