Menjemput

1885 Kata
Seperti janjinya, Zek datang setelah lima hari berlalu. Mereka kembali berkumpul di hutan yang pernah terjadi robohnya sebuah pohon. Semua hampir bersiap, sebelumnya mereka juga sudah berlatih keras. Randai semakin pandai dalam berteleportasi, pukulannya juga semakin keras, kecepatan berlarinya semakin bagus, pendengaran dan penglihatan Alif juga semakin tajam, bahkan pelindung yang diciptakannya semakin kuat. Begitu pun dengan Lea, gadis itu semakin jago bertarung, bahkan dia sudah bisa mengendalikan diri saat berada di bawah, benar-benar peningkatan yang sangat drastis. Semuanya berlatih keras--kecuali Kyra yang hanya bisa mengela napas karena merasa tidak punya kekuatan seperti mereka. Tapi dibalik itu, kemampuannya sudah cukup bagus. "Tidak apa, Ra, kita akan berjuang bersama." Sebenarnya Kyra juga sudah dilatih teman-temannya, hanya saja dia tidak mempunyai kekuatan spesial seperti teman-temannya itu. Kemampuan yang dimilikinya hanya bisa menyembuhkan diri dan satu kemampuan lagi yang tidak bisa ia ketahui apa fungsinya. Kyra sangat takut kalau dia hanya menyusahkan temannya. Tapi Zek bersikeras menyuruh Kyra untuk ikut, karena gadis itu juga dibutuhkan dalam misi ini. "Kalian lama sekali, selalu saja telat." Alif menggerutu. Memicing ke arah dua gadis itu. "Kami harus menyusun strategi, Bodoh! Kamu pikir gampang memanipulasi mamanya Kyra." "Memangnya apa susahnya. Bilang saja kita mau traveling bersama kawan karena libur." Randai menyangkal alasan Lea. Menurutnya remaja seusianya sudah sewajarnya jika izin ke luar beberapa hari untuk berlibur, itu alasan yang logis bukan. "Kamu belum mengenal Kyra dengan baik. Aku bahkan harus menyogok mamanya untuk membawa Kyra ke sini. Alasan seperti itu malah akan membuat kita semakin sulit mendapat izin." Memang benar, Lea sengaja menjemput Kyra, tadi saat sampai di rumahnya, gadis itu bahkan masih mengerjakan pekerjaan rumah dengan Tara yang bersantai sambil nyemil. Lea benar-benar geram melihat pemandangan itu. Tapi bukan hal tersebut yang membuat mereka telat datang berkumpul, melainkan karena susahnya mengajak Kyra keluar. "Tidak bisa, Kyra ada banyak hal yang harus dikerjakan selama liburan." Meminta izin baik-baik saja dia ditolak, apalagi dengan pemaksaan. Berbagai cara Lea lakukan, dan pada akhirnya dia mengambil jalan tengah. Menyogok. "Tante minta berapa? Akan saya kasih, tapi Kyra harus ikut saya beberapa hari." Dan yah ... syukurlah itu manjur. Tara yang merasa tertarik dengan penawaran Lea akhirnya ikut membujuk mamanya, wanita paruh baya yang hampir tidak bisa menolak permintaan anaknya itu pun akhirnya menyetujui. Mengizinkan Kyra untuk ikut Lea beberapa hari. "Repot sekali mamamu. Lain kali kamu pindah rumah, biar tidak ribet." "Andaikan uangku sebanyak kamu, Lif. Tanpa kamu minta sudah aku lakukan." "Kalian tidak izin?" Randai dan Alif saling pandang, setelah itu Randai tertawa keras. "Hal itu tidak terlalu penting sebenarnya. Orang tua Alif sudah tahu seluk-beluk tentang dunia Klan, bahkan dia pernah bercerita hal itu dengan Alif, tentu saja misi ini malah membuat keduanya sangat mendukung. Sedangkan aku ... sudah yatim-piatu dari kecil." Melihat ekspresi dua sahabat perempuannya yang berubah, Randai kembali bersuara. "Tapi tenang, orang tua Alif sebentar lagi akan ke sini." "Oh iya?" Randai mengangguk, membuat Alif berdecak. Lelaki vampir ini terlalu jujur dengan Kyra dan Lea. Lima menit menunggu, dua makhluk berbeda bentuk ada yang menghampiri mereka. "Hallo." Si wanita melempar senyum, menyapa satu persatu remaja yang ada di sana. Sedangkan di sebelahnya, ada serigala besar berbulu putih. Terlihat menawan seperti transformasi Alif, hanya warna bulu mereka yang berbeda. "Kamu harus berubah, Sayang. Lihat, mereka bingung menatapmu." Si wanita mengelus kepala serigala itu, tidak lama setelahnya tubuh serigalanya berubah menjadi manusia. "Aku sedang menyembunyikan identitas. Ada manusia di sini." "Benarkah?" Wanita itu menoleh, dan menatap Kyra dengan seksama. "Kamu benar, aku kira salah menebak tadi. Tapi dia punya aura yang berbeda." Lelaki paruh baya yang sepertinya suami dari wanita itu mengangguk. "Dia sudah tahu banyak tentang kalian?" "Pa ... sudahlah." "Kenapa, Lif. Papa benar kan, bagaimana dia bisa ikut andil dalam hal ini?" Kyra salah tingkah. Dia bingung harus berbuat apa. Merasa dirinya berbeda sendiri di sini--meski pun itu memang benar. "Itu tidak penting, Sayang. Pasti dia memiliki sesuatu yang spesial." Istrinya menenangkan, membuat lelaki itu mengangguk beberapa kali. "Kamu sangat beruntung, Lif. Setelah dua puluh tahun, akhirnya bisa lagi ke sana. Semoga kamu bisa bertemu klanmu, kirimkan salamku pada yang lain, jika bertemu dengan mereka. Ayahnya Alif menepuk bahu putranya. Merasa sangat bangga karena anaknya bisa terpilih. Alif hanya melirik dan berdecak, entah kenapa dia merasa menyesal orang tuanya mengetahui ini. Salahnya juga karena lupa dan membicarakan hal itu bersama Randai, hingga pembicaraan pelan mereka didengar sang ayah. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba ada angin yang berhembus pelan, bahkan menyibakkan beberapa helai rambut mereka, disusul dengan cahaya putih yang berpendar, lalu kemudian ada lubang menganga di samping mereka, beberapa menit kemudian, ada orang yang ke luar dari dalamnya. "Hallo anak-anak." Pria itu langsung menyapa mereka begitu mendarat dengan sempurna di depan empat remaja itu. "Zek, Canuto?!" Randai sedikit terkejut melihat kedatangan mereka. Randai pikir Zek akan datang sendiri, tapi ternyata tidak. "Itu tidak sopan, Ran." Kyra menyenggol lengan Randai. Merasa cara memanggilnya yang tanpa embel-embel itu tidaklah sopan. "Lain kali jangan panggil kami anak-anak, Canuto. Sebaya kami bahkan sudah ada yang mempunyai anak." "Alif, itu juga tidak sopan!" Lea ikut memperingatkan. "Alif memang sudah ingin menikah, Nak." "Apa?" Mereka terkejut dan menoleh ke arah Alif. "Ck! Jangan dengarkan." Pria paruh baya yang merupakan ayahnya Alif itu terkekeh pelan. "Jadi ini yang memilih kalian melakukan misi itu." Ayahnya Alif mendekat ke arah Zek dan Canuto, bersalaman dan saling melempar senyum. Dua pria paruh baya yang mereka temui beberapa bulan silam itu mengangkat alisnya sambil menatap Alif, tidak lupa dengan senyum yang masih terukir. "Mereka tidak sengaja mendengar pembicaraanku dan Randai." Canuto tertawa. "Sudah kuduga. Sesama punya pendengaran tajam, hal ini memang rawan terjadi. Tidak apa." "Senang bertemu denganmu. Kalian dari Klan apa?" "Kami penjaga gerbang antar Klan, juga penjaga sentral gudang rahasia." "Itu keren sekali, aku dulu sangat ingin berkunjung ke sana, tapi perang itu meruntuhkan semua." Canuto mengangguk, membenarkan ucapan lawan bicaranya. "Papa tahu perang itu?" "Tentu saja, siapa yang tidak tahu kejadian mengerikan itu." "Kenapa tidak pernah menceritakan padaku." "Tidak penting, Lif. Itu hanya sejarah buruk yang tidak ingin kami ingat." Pria itu menepuk bahu anaknya pelan. "Jadi ... kita pergi sekarang Zek, Canuto?" "Randai!" Kyra mendesis, melotot ke arah lelaki itu. Canuto dan Zek terkekeh. Merasa tidak masalah dengan panggilan remaja itu. "Tidak apa. Aku lebih suka dipanggil nama, itu membuat kami terlihat lebih muda. Oh iya, bagaimana persiapan kalian? Sudah semua?" Mereka berempat mengangguk. Memperlihatkan ransel mereka. "Itu bagus sekali. Tapi dalam dunia klan sana. Tas seperti itu akan dicurigai. Tidak ada seorang pun yang menggunakan benda itu." Canuto menunjuk salah satu tas ransel mereka. "Lalu bagaimana, Paman? Kami tidak punya barang di dunia klan itu." "Tenang, kami sudah mempersiapkan." Zek dan Canuto mengeluarkan empat tas selempang dari dalam tas yang mereka bawa. Warnanya hitam kecoklatan, seperti kulit hewan, namun agak usang. Canuto menyerahkan tas itu kepada mereka, sedang Zek mengeluarkan sesuatu yang lain di dalam tas itu. "Tas itu bisa memuat apa pun yang kalian bawa, dan tidak terlalu berat juga. Tapi ... yang namanya tas pasti bisa penuh, jadi kalian harus mengisinya untuk sesuatu yang penting saja." "Tapi tas ini terlalu kecil, Zek." Randai mengangkat tas yang tadi sempat diselipkan di pundaknya. "Itu memang terlalu kecil dalam dunia kalian, mungkin hanya muat beberapa buku tulis saja. Tapi itu tas ajaib, sudah dimasukan mantra, jadi bisa muat berkali-kali lipat dari yang kalian duga." Zek menjelaskan. "Benarkah?" "Coba saja." Alif mencoba memasukkan ransel Lea yang terlihat lebih besar dari yang lain, gadis itu hendak protes, tapi tidak jadi begitu tasnya bisa masuk dengan mudah di dalamnya. Bahkan lubang yang sempit itu bisa menganga menyesuaikan bentuk dari ransel itu. Seperti mulut ular yang bisa membuka lebar sesuai dengan ukuran mangsanya. "Keren. Seperti kantong Doraemon." Randai menatap kagum. Mereka berempat akhirnya segera memindahkan barang-barang dari ransel mereka ke tas selempang yang baru saja diberikan. "Ini perbekalan untuk kalian." Canuto memasukkan beberapa roti ke masing-masing tas mereka. "Roti kering?" tanya Kyra dengan polos. "Hampir mirip seperti itu, berhari-hari aku membuat resep itu untuk menyamakan seperti bentuk roti di dunia kalian, dan syukurlah akhirnya berhasil." Canuto sangat membanggakan dirinya, Zek juga ikut menepuk pundaknya, seolah memberikan apresiasi lebih untuk Canuto, tetapi laki-laki muda penghisap darah itu malah mematahkan semuanya. "Tapi bentuknya sama seperti di dunia ini. Makanan ini memang bisa mengganjal perut mereka untuk beberapa waktu ke depan, tapi tetap saja akan lapar setelahnya." Kyra dan Lea menyenggol lengan Randai, benar-benar tidak sopan, bahkan tidak mengucapkan terima kasih. "Kamu benar, Ran. Tapi roti itu punya kelebihan dari roti di dunia kalian, kalau kalian memakan roti itu kalian akan merasa kenyang selama dua hari ke depan. Aku mempelajari resepnya dari penyihir Ambrasadors. Seorang penyihir terkenal yang bisa meracik apa pun waktu itu." Canuto merubah ekspersi wajahnya menjadi sedih saat menyebut temannya itu. "Aku pernah mendengar nama itu. Ah, terlalu lama di dunia manusia membuatku lupa beberapa di antaranya." Canuto mengangguk. Tentu saja nama itu tidak asing. "Dia adalah penyihir terkenal waktu itu." Canuto menjelaskan. "Ah iya, benar sekali." Ayahnya Alif berhasil mengingat, tapi tidak bisa merubah ekspersi wajah sendu dari Canuto. "Sabar, Canuto. Dia sudah melakukan yang terbaik." Empat remaja itu hanya saling pandang tidak mengerti. Tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. "Maaf membuat kalian bingung. Tadi yang dibicarakan adalah temannya Canuto. Aku kurang tahu siapa namanya, Canuto tidak pernah menyebut namanya, hanya sebutannya saja, karena itu mengingatkannya pada sang teman." "Memang ke mana dia sekarang, Paman?" Rasa penasaran akhirnya membuat Lea bertanya pada Zek. "Dia tewas saat perang besar itu terjadi. Banyak korban, bahkan orang tersayang. Perang memang tidak pernah memberikan dampak yang baik, hanya sebagian kecil kalau pun itu ada. Sudahlah, itu masa lalu, tidak perlu dibahas. Sekarang kita harus bersiap." Mereka semua mengangguk, mulai bersiap dengan memegang tas mereka masing-masing. "Kami pamit, Om, Tante." Kyra memberanikan diri berpamitan dengan orang tua Alif. "Tentu saja. Kalian harus hati-hati. Pastikan mereka kembali dengan selamat." Zek dan Canuto hanya tersenyum. "Semoga yang terbaik selalu mendampingi mereka." Ayahnya Alif mendekati putranya. Menepuk kembali bahunya dengan pelan. "Papa bangga sama kamu, Lif. Kami harap kamu dan teman-temanmu bisa datang ke sini lagi." Alif hanya mengangguk. Inilah kenapa dia enggan memberi tahu orang tuanya. Dia takut mereka kepikiran, meski pun tahu kalau orang tuanya tidak selemah itu. Setelah mereka benar-benar siapa, Zek dan Canuto langsung berkonsentrasi, tangannya bergerak seolah membentuk lingkaran. Beberapa saat kemudian, cahaya putih berpendar di sekitar tangan mereka, perlahan angin berputar di sekitarnya. Tidak lama setelah itu cahaya putih yang keluar dari tangan mereka berpindah ke depan, membentuk sebuah portal yang semakin besar. Zek dan Canuto saling tatap, dan mengangguk setelahnya. "Ayo anak-anak, kita harus bersiap." Kyra memegang lengan Lea, ada rasa takut dan tegang meliputi dirinya. Alif masuk terlebih dahulu, disusul Randai setelahnya. "Ayo Lea, Kyra, kalian juga harus cepat, portal ini hanya bertahan beberapa detik lagi." Lea dan Kyra mengangguk. Mereka akhirnya juga menyusul Alif dan Randai, baru kemudian Zek dan Canuto yang masuk setelahnya. Portal itu perlahan tertutup, menyisakan lengang di ruang yang mereka tinggalkan--ah tidak, masih ada dua orang paruh baya yang saling berpelukan, menatap udara kosong yang ada di depan mereka. "Kita juga harus pergi." Lelaki itu mengusap bahu istrinya pelan, juga menepuknya beberapa kali. Sang istri hanya mengangguk, dan ikut pergi bersama sang suami. Inilah awal kisah mereka. Awal mula perjuangan berbagai rintangan dan tantangan untuk mendapatkan sebuah kedamaian. Untuk mencegah perang antar klan yang akan membawa dampak buruk untuk semua makhluk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN