"Kyra?!" Randai dan Lea terkejut melihat Kyra yang baru tiba dengan napas ngos-ngosan. Gadis itu seperti habis melakukan lomba lari. Bahkan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
"Kamu abis ngapain sampai keringetan gini?"
"Bangun candi, Le. Capek aku." Tubuh kyra langsung luruh, kakinya berselonjor dan tangannya menopang ke belakang.
"Ngapain kamu bangun candi? Lagi bersaing sama Bandung Bondowoso." Randai terkikik. Mereka semua sudah sempat berlatih tadi. Menunggu Kyra terlalu lama, sampai mengira kalau gadis itu tidak mungkin datang.
"Aku hampir ketahuan, tadi--"
"Kalian harus bergegas anak-anak, tidak ada obrolan selama berlatih." Zek segera menginstrupsi, dia melemparkan botol minuman ke arah Kyra. "Minum itu, Ra. Setelah itu segera bergabung bersama kami. Kalian tidak punya banyak waktu untuk menunda."
Kyra menangkap botol minuman yang dilemparkan Zek tadi, sepertinya salah satu temannya yang membawa, tidak mungkin pria paruh baya itu membawa dari dunia Klan.
Setelah meneguknya beberapa kali, Kyra segera ikut bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Untung saja dia tadi berhasil mengelabuhi Tara. Gadis itu memang sempat memergokinya tadi. Tapi Kyra beralasan sedang mengecek pintu apa sudah terkunci atau belum. Beruntung adiknya itu percaya, dan tidak banyak menghiraukan. Tara langsung kembali ke kamar setelah mengambil minuman dari dapur.
"Konsentrasi, Ra!"
Bugh!
Satu pukulan berhasil mengenai perutnya. Sakit luar biasa. Zek tidak memelankan pukulannya meski pun Kyra tidak sama dengan temannya yang lain.
"Kalian harus konsentrasi, bahaya bisa mengancam kapan saja dan dimana saja!" Zek memperingati dengan wajah garang. Membuat mereka langsung bersiaga membentengi diri. Tidak lagi menghiraukan yang lain.
Zek memerintahkan mereka memperkuat kuda-kuda, bersiap memberikan pukulan paling sakit. Satu-dua tiga tendangan berhasil mengenai mereka. Beberapa berhasil ditangkis. Tiga remaja berbeda Klan itu lebih sigap, berbeda dengan Kyra yang semakin kesakitan.
"Paman, Kyra kesakitan--arrghh!!" Lea mendesis sakit, perutnya berhasil dilukai Zek.
"Aku hanya memberi latihan pemanasan, tapi kalian mudah saja dikalahkan. Jangan teledor." Lelaki paruh baya itu auranya terlihat berbeda dari biasanya. Dia langsung membantu Kyra berdiri dan menyentuh bagian tubuhnya yang terluka. Ajaib, semua langsung sembuh. Zek bisa menyalurkan kesembuhan seperti Kyra, tapi kemampuan lelaki paruh baya itu jauh lebih hebat.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Zek menyentuh pundak Kyra, meski pun tadi telah menyerangnya tanpa ampun, tapi kali ini raut wajahnya terlihat khawatir.
Kyra mengangguk, sakit di tubuhnya sudah reda. Ah! Dia menyesal kenapa kemarin tidak ikut berlatih bersama temannya, tapi hanya melihat saja.
"Paman, pelankan pukulanmu, Kyra bisa mati nanti." Lea mendekat, dia menatap khawatir sahabatnya itu.
Zek terkekeh. "Maaf, Nak. Aku terlalu bersemangat melatih kalian. Sepertinya Kyra tidak bisa disamakan dengan yang lain. Baiklah nanti kamu akan kulatih khusus, Nak. Sekarang kalian harus kembali ke posisi semula, kali ini kalian harus menyerangku secara bersamaan. Ingat, dalam pelatihan kali ini, kalian tidak hanya melindungi diri sendiri, tapi juga teman kalian. Jadi, kalian harus lebih berkonsentrasi, kekuatan tim dan kerja sama kelompok sangat dibutuhkan di sini. Jangan sampai teman kalian ada yang terluka. Kalian mengerti?" Wajah Zek kembali serius. Empat remaja itu mengangguk secara bersamaan. Baiklah, sekarang waktunya melatih kekompakan diri.
Mereka berempat berdiri melingkari Zek, kembali membuat kuda-kuda yang lebih kokoh. Saling melempar pandangan guna menyerang Zek.
Randai maju lebih dulu, dengan kecepatan yang dimiliki, dia mampu berada di samping Zek dalam satu kedipan, disusul dengan Kyra yang mencengkeram kuat tongkat kayu pemberian Alif tadi. Mereka menyerang bersamaan, Lea juga menyerang di posisi atas. Alif berubah menjadi serigala dan bersiap mencakar Zek.
Bum!
Bunyi dentuman langsung terdengar, satu pukulan Zek mampu meruntuhkan mereka semua. Alif tidak sempat membuat tameng untuk berlindung, dia tidak berpikir kalau pukulan Zek akan sehebat itu.
Kyra bangkit lebih dulu, dia mengayunkan tongkatnya tapi mampu ditangkis Zek dan langsung dipukul mundur.
"Kalian jangan ragu-ragu memukulku! Anggap aku adalah musuh yang harus kalian serang. Lawan dengan benar! Gunakan kemampuan terbaik kalian!" Zek semakin garang.
Mendengar Zek berkata demikian, akhirnya mereka merubah strategi. Alif bergerak lebih dulu, dengan tubuh serigalanya, dia mengaum keras, membuat tanah yang dipijaki bergetar, rumput bahkan sampai bergerak tertimpa auman Alif.
Randai juga melakukan hal lain, dia mengangkat sisa pohon tumbang kemarin, satu persatu rantingnya mulai terangkat, teracung seperti tombak ke arah Zek. Lea, mulai memejamkan mata, dia berkomunikasi dengan alam sekitar, meminta bantuan mereka untuk menggunakan kekuatan alam. Perlahan akar mulai keluar dari dalam tanah, terus menjalar ke arah Zek. Kyra juga bersiap, dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan seperti mereka, jadi dia mengacungkan tongkat kayu yang dipegangnya ke arah Zek, siap membidik dengan benar.
Dua detik berlalu, mereka melepaskan senjata mereka ke arah Zek. Semua menuju ke sana, termasuk tongkat kayu milik Kyra--yang entah akan berpengaruh apa nantinya.
Dan ... kraakk!!
Blaarr!!
Suara itu datang bersaan, benda-benda tadi ambruk menimpa Zek. Akar pohon yang dikeluarkan Lea berhasil mengunci pergerakan Zek, auman Alif mampu memundurkan satu langkah kaki Zek, dan senjata Randai mengurung membentuk lingkaran, sisanya menancap di tanah dan tumbang menutupi sesuatu--sepertinya tubuh Zek.
Kluntang!
Tongkat yang dilemparkan Kyra jatuh setelah menabrak ranting kayu yang menancap. Tongkat itu kalah cepat lajunya.
"Paman!" Kyra berteriak khawatir, dia bergegas menuju ke sana dan ....
"Kyra awas!" Alif bergerak lebih dulu di depan tubuh Kyra, memotong langkah gadis itu, membuat tameng ketika mendengar sesuatu dari depan, dan tepat setelah itu, dentuman keras berbunyi. Melemparkan semua yang tadi sempat menimpanya, lalu mengeluarkan pukulan yang begitu kuat ke segala penjuru.
"Berkumpul menjadi satu!" Alif sudah berubah menjadi manusia kembali, membawa tubuh Kyra bersama teman-temannya. Randai juga berteleportasi, menghindar dan menangkis pukulan yang hampir mengenainya, menjemput Lea dan membawanya bersama Alif dan Kyra, mereka saling memunggungi satu sama lain. Randai kembali menangkis pukulan yang datang lagi, masuk pada celah tameng yang ditunjuk Alif tadi, setelah itu Alif segera menutup pelindungnya. Menambah kekuatan agar bisa melindungi mereka semua.
Di depan sana, Zek sudah bangkit dan membuang semua yang menyerangnya tadi. Dia terus mengeluarkan pukulan ke arah empat remaja itu. Pelindung yang dibuat Alif retak, tiga detik setelahnya hancur.
Satu pukulan kembali datang, Randai melayangkan pukulan lagi, menangkis pukulan itu hingga terdengar bunyi benturan begitu keras. Alif juga sama, Lea menggerakkan tanah, mengangkatnya ke udara membuat tameng, tapi langsung hancur seketika setelah terkena pukulan, menyisakan butiran debu di depannya. Mereka terdesak, di depan sana, empat ranting yang sempat dilemparkan Randai mengarah ke mereka, seperti tombak tumpul yang siap menusuk. Dengan satu gerakan tangan, Zek mengarahkan ranting itu ke arah mereka, dan ... krakk!!
Alif berhasil membuat pelindung lagi. Berhasil menghalau senjata itu hingga jatuh semua di tanah.
Zek bertepuk tangan. Tersenyum hangat ke arah mereka, wajah garangnya telah hilang.
"Luar biasa. Ini pertarungan yang luar biasa. Kalian kompak sekali, pertahankan terus hal seperti ini. Aku rasa sudah cukup latihan kali ini--ah iya, Kyra, kamu jangan mudah terpengaruh dengan kekalahan musuh, bisa jadi dia hanya memanfaatkan kesempatan, jadi berhati-hatilah."
Kyra mengangguk, bagaimana mungkin Zek bisa tersenyum hangat begini setelah hampir membunuh mereka semua.
Empat remaja itu saling pandang. Merasa lega karena Zek menyudahi latihan ini. Mereka mengatur napas yang menderu, tersengal bahkan sesekali meneguk ludah.
Alif meregangkan badannya, melepaskan kembali, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka jatuh terduduk kecuali Alif. Lelaki itu masih berdiri meski napasnya masih tersengal.
"Bagaimana, Lif? Sepertinya kamu tidak merasa lelah seperti temanmu yang lain." Zek terkekeh pelan, membuat tiga remaja yang lain memandang Alif yang masih berdiri kokoh.
"Lumayan, aku sudah lama tidak bertarung semenegangkan ini. Sangat seru."
"Seru? Hey! Kita hampir terbunuh, Lif." Kyra menggelengkan kepala beberapa kali, memandang tidak percaya ke arah Alif.
"Hanya hampir, Ra. Tidak benar-benar terbunuh. Buktinya kamu masih bisa bernapas dengan baik."
Sinting!
Begitulah batin Kyra di dalam hati. Kalau dia dan teman-temannya benar-benar terbunuh tadi, sudah dipastikan beritanya akan tersebar di seluruh media. Apalagi melihat kondisi tempat yang mereka gunakan bertarung tadi sudah tidak terbentuk. Potongan-potongan kayu kecil, tanah yang mengelupas, dan ranting pohon yang bercecer dimana-mana. Tempat ini lebih terlihat seperti terkena gempa daripada habis digunakan berlatih pertarungan.
"Kyra, sepuluh menit lagi kamu ikut denganku, akan kuajari lagi tentang pertarungan. Kemampuanmu masih tertinggal dengan teman-temanmu. Nanti yang lain bisa berlatih sendiri. Istirahatlah beberapa saat."
Kyra hanya mengela napas lelah, dia sangat capek, tapi Zek sudah mengajaknya untuk berlatih kembali. Bahkan ini hampir pagi. Mereka sudah berjam-jam berlatih. Zek benar-benar memeras tenaganya.
***
"Gunakan kakimu dengan benar, Ra!" Zek memukul betis Kyra, memerintahkan gadis itu untuk membuat kuda-kuda dengan benar.
"Fokus!" Zek mampu menghindari serangan Kyra dengan mudah, dan bahkan berhasil memukul kembali gadis itu. Perubahan wajahnya sangat kentara, tak ada lagi keramahan seperti tadi.
"Pukul dengan keras!"
Tongkat Kyra hanya menyerempet bahu Zek saja, tidak membuat mundur sama sekali pria paruh baya itu.
"Gunakan seluruh tenagamu! Kumpulkan di lenganmu!"
Kyra mendesis. Dia kesal, kesakitan, tapi Zek tidak memberinya jeda untuk istirahat kembali. Tanpa disadari matanya nyalang menatap Zek, berpendar, seperti ada cahaya yang di sana. Sesuatu juga menguar dari tubuhnya. Zek menyadari, tapi samar saja, dia masih tidak yakin.
"Arrghh!!" Kyra menggenggam erat tongkat kayunya, fokus ke lengan Zek, dan mengayunkan dengan keras.
Kraakk!!
Tongkat itu retak, tubuh Zek bahkan sempat mundur beberapa langkah ke belakang.
Kyra kembali menyerang, hendak memukul kepala Zek.
"Cukup, Nak." Zek menghentikan. Gadis itu mengerjap pelan, tangannya turun perlahan, napasnya tersengal. Dia terkejut melihat tongkatnya yang retak, tapi lebih terkejut lagi karena Zek masih baik-baik saja. Sekuat itukah tubuh pria itu.
"Paman tidak apa-apa?"
"Tentu saja, itu hanya pukulan kecil yang kamu layangkan. Lumayan juga. Kalau kamu mau konsentrasi dan fokus, kemampuanmu akan terus berkembang, Nak. Mari, kita temui temanmu yang lain."
Kyra mengangguk, dia melihat teman-temannya yang lain sedang tertawa. Terlihat sangat bahagia.
"Sudah selesai, Ra?"
Gadis yang memegang tongkat itu mengangguk sambil tersenyum. Penglihatan Alif fokus pada satu titik, dia akhirnya bangkit berdiri.
"Astaga! Tongkatku, Ra!" Alif langsung meraih tongkat itu dan mengamatinya.
"Maaf, aku tidak menyangka tubuh Zek sekuat itu." Kyra nyengir, dia merasa tidak enak. Tongkat kayu sebesar lengan lelaki dewasa dengan ujung yang lebih kecil itu memang terlihat menawan. Bahkan diplitur dengan sangat apik.
Alif mendengus. "Seharusnya aku tidak membawa yang ini tadi. Kamu tahu, tongkat ini aku dapatkan susah payah saat--"
"Itu hanya tongkat, Lif. Jangan berlebihan. Lihatlah wajah Kyra, terlihat kasian sekali kamu omeli. Sudahlah, sini duduk, kita ngobrol sebentar."
Alif berdecak, tapi akhirnya kembali duduk bersama yang lain. Sedangkan Kyra wajahnya sedikit ditekuk karena perkataan Randai tadi. Ck! Dirinya tidak semengkasihan itu ya. Akhirnya Kyra ikut bergabung juga. Dia duduk bersila sambil menyentuh beberapa bagian tubuhnya yang rasanya lebam akibat pukulan Zek tadi.
"Paman, ayo bergabung bersama kami." Lea memanggil Zek yang sedang sibuk dengan ... entahlah, dia dari tadi sedang melakukan sesuatu yang tidak dipahami oleh mereka.
"Aku harus pergi anak-anak, kasihan Canuto sendirian di sana. Oh iya, ingat perkataanku tadi, kalian harus mempersiapkan semuanya, lima hari lagi aku akan menjemput kalian di sini."
"Siapkan juga perbekalan untuk kami, Zek."
Zek terkekeh. "Tentu, Randai. Kalian tidak perlu khawatir tentang itu. Canuto sudah mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk kalian nanti." Zek menjeda sejenak, dia menatap satu persatu empat remaja itu dengan ekspresi yang terlihat sendu.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Kalian jaga diri baik-baik. Aku akan kembali tidak akan lama." Sek mulai menggerakkan tangannya, dia menjentikkan jarinya untuk membuat sebuah pilinan cahaya. Itu portal. Keren sekali dengan yang dilakukan Zek. Pria itu dengan mudah membentuknya meski tanpa memejamkan mata.
"Hati-hati, Zek." Randai melambai, seolah sedang melakukan salam perpisahan sangat lama.
"Titipkan salam kami untuk Paman Canuto."
Zek mengangguk, tersenyum ke arah mereka. Dia menatap Alif yang terus diam memandangnya dengan ekspresi tajam.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu, Lif."
Lelaki itu menggeleng. "Tidak ada--ah iya, cepat pergi, aku sudah mengantuk."
Zek tertawa, merasa perkataan Alif tidak perlu dimasukkan ke hati, tapi ke usus saja, biar jadi kotoran nanti.
"Alif, kamu tidak sopan!" Kyra menyenggolnya, tapi lelaki itu hanya mengendikkan bahu tidak perduli.
"Aku pamit anak-anak."
Zek mulai mengangkat kakinya memasuki portal, tidak lama setelah itu, tubuhnya terlihat seperti tertarik, disusul dengan desiran angin pelan di depan mereka. Satu detik setelahnya, portal yang dimasuki Zek lenyap. Menyisakan ruang kosong di sana.
"Syukurlah Zek sudah pulang. Sekalian giliran kalian yang pulang." Alif bangkit berdiri.
"Kamu mengusir kami?!" Kyra sedikit tak terima dengan perkataan Alif. Tega sekali lelaki itu.
"Ini sudah sangat larut, Ra. Tidak baik bertamu sampai selarut ini--yah ... kecuali kalau kamu memang ingin tidur denganku."
Mata Kyra membulat. Dia melempar apa saja yang ada di dekatnya ke arah Alif. "Tidur denganmu ekormu buntung! Itu tolong cocotnya dijaga biar nggak bikin orang panas hati!" Kyra langsung menarik tangan Lea kasar, meninta gadis itu untuk pergi dari sini.
Sedangkan Alif hanya berdecak, tidak perduli dengan kejadian tadi--bahkan tidak perduli dengan tatapan tidak percaya Randai.
"Klan werewolf memang selalu bermulut pedas."
***