Ada yang Menyapa

1190 Kata
"Hai, Ra." Randai melambai ke arah Kyra, menyugar rambutnya dan berkedip pelan, narsis sekali memang. "Kenapa? Kamu kelilipan?" Lea dan Alif tergelak, menertawakan Randai yang gagal eksis di depan Kyra. "Kamu tidak asik, Ra. Aku sudah dandan ganteng begini malah dibilang kelilipan." "Oh iya? Tapi aku tidak tertarik, Ran, mata merahmu itu mengerikan." Randai berdecak. Sukses sudah moodnya dibuat hancur sahabatnya, padahal dia sudah memakai lensa mata. "Bagaimana semalam? Sudah beres?" Lea mengubah topik pembicaraan, mengingatkan mereka dengan kejadian mengerikan yang terjadi semalam, hampir saja nyawa salah satu di antara mereka melayang. "Ada kendala sebenarnya. Semalam ada beberapa orang yang menyerang kami, mereka menyebut kemurnian. Entahlah, aku juga tidak tahu apa maksudnya. Orang itu pergi begitu saja setelah menerima beberapa pukulan." "Semua semakin aneh." "Lebih aneh lagi karena aku melihat siluet Zek." Semua menatap Alif, lelaki itu terlihat seperti berpikir. Terlihat beberapa kali dia mengerutkan alis. "Mungkin kamu salah mengira." "Tidak, Ra. Penglihatanku tajam, jarang sekali salah." "Jarang bukan berarti tidak pernah salah." "Ck, manusia ini." Alif berdecak, merasa kalah debat dengan Kyra. Lea dan Randai tertawa, merasa puas dengan kekalahan Alif. Lelaki itu memang tidak pernah mau dikalahkan "Apa?! Mau kuterkam!" Alif mendelik ke arah Randai, tidak terima lelaki vampir itu terus menertawakannya. "Santuy, Bro. Garang amat. Makin tua lho nanti, yang ada semua bulu kamu rontok ntar." Randai mengangkat kedua tangan di depan dadanya dengan posisi telapak tangan menghadap ke depan, seolah-olah sedang menenangkan Alif. "Maksud kamu? Bulu? Bulu apaan?!" Entah kenapa, tiba-tiba Alif jadi tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Randai. Setahu dia, saat ini dirinya tidak sedang dalam wujud serigala. Jadi bulu apa yang dimaksud lelaki itu. "Bulu serigala kamu lah, Lif, masa bulu yang lain, emang kamu punya bulu yang mana aja." Randai tertawa semakin keras. Puas sekali dia bisa mengerjai Alif. "Fix, nanti malam di tengah hutan kita perang lagi." Semua tertawa, puas bisa mengerjai Alif. Lelaki serigala itu nampak lebih kesal dari sebelumnya. "Hallo anak-anak." Alif berhenti, mereka memang sedang berjalan pulang menuju rumah masing-masing--kebetulan lagi bisa pulang bareng. Alif menajamkan pendengaran, telinganya merasa menangkap sebuah suara. Tidak asing. "Ada apa, Lif? Kamu sedang memikirkan bulu itu?" "Diam, Ran! Alif sepertinya mendengar sesuatu." Kyra melotot tajam. Menyuruh Randai untuk tidak lagi bercanda. "Ikuti aku!" Alif sedikit berlari menuju sebuah gang yang tidak jauh dari mereka, setelah sampai di belokan, mereka bertemu dengan lelaki yang memakai jubah hitam sedang bersandar di tembok. Ini tempat Kyra pernah menemukan bulu aneh itu. Lelaki berjubah hitam itu melempar senyum dan menghampiri mereka. "Sudah kuduga, pendengaranmu selalu baik." Lelaki itu menepuk pundak Alif, lalu tersenyum pada yang lainnya. Dibukanya tudung hitam yang menutupi kepalanya. "Paman Zek. Bagaimana bisa?" Kyra terlihat senang bisa kembali berjumpa dengan pria paruh baya itu. "Portal, Ra. Dia bisa menggunakan itu untuk sampai ke sini. Mendarat di tempat sepi seperti ini dan memanfaatkan pendengaran Alif." "Tepat sekali Randai. Kamu memang cerdas." "Tentu saja." Randai mengangkat dagunya. Menyombongkan diri, membuat semua yang ada di sana terkikik kecuali Alif. "Tapi kamu tetap yang paling ceroboh di antara yang lain." Lea mematahkan kesombongan Randai, membuat lelaki dari Klan Vampir itu berdecak jengah. Tidak Kyra, tidak Lea. Mereka sama saja. "Ada perlu apa, Paman?" Kyra mengalihkan pembicaraan. Kedatangan Zek di dunia mereka tentu saja tidak sembarangan, pasti ada hal penting yang ingin disampaikan. "Pertanyaan bagus, Ra. Paman di sini untuk misi itu. Misi yang sempat Paman katakan sewaktu kalian di dunia Klan. Tempat kerajaan Emerald berdiri." "Kerajaan Emerald?" "Kerajaan yang pernah kuceritakan waktu kalian terdampar dulu. Masih ingat?" Empat remaja itu mengangguk. Dalam setiap kepala mereka, semua berpikir tentang misi ini. Sepertinya cukup berat untuk dijalankan, mengingat di kerajaan itu pernah terjadi perang besar hingga membunuh banyak orang dari klan yang berbeda-beda. "Kapan misi itu dilakukan, Paman?" Kali ini Lea yang bertanya, gadis bersayap dari Klan Fairy itu merasa belum cukup berlatih selama ini. Apalagi setelah mencoba kemampuannya berlatih dengan Alif semalam, rasanya dia tertinggal jauh. "Kalau perkiraanku tidak salah, lima hari lagi. Kalian harus menyiapkan semuanya. Termasuk latihan pertarungan. Semalam aku sempat memeriksa kalian. Dan ... aku rasa sudah cukup bagus, terutama Alif dan Lea." "Aku?" Lea menunjuk dirinya. "Iya, kamu sudah cukup bagus, Nak. Hanya saja kurang konsentrasi. Bahkan kalau kamu sering mengasahnya, aku jamin kekuatanmu akan meningkat dalam waktu cepat." Lea terlihat sangat senang, dirinya merasa lebih bersemangat dari sebelumnya. "Bagaimana kamu tahu kalau semalam kami berlatih?" Alif memicing curiga, apa jangan-jangan benar dugaannya tadi. Zek memantau mereka. "Aku sering memantau kalian dibeberapa waktu, tidak setiap hari memang, dan kamu juga pasti sempat melihatku kan, malam itu." Alif mengangguk, ternyata penglihatannya tidak salah, teman-temannya saja yang sering meragukannya. "Lima hari lagi aku temui kalian di hutan itu. Kalian harus sudah siap, kehadiran kalian sangat dibutuhkan di sana, juga keseimbangan dunia manusia. Kalian berempat telah terpilih." Mereka berempat mengangguk, sebenarnya belum terlalu paham. Tapi mendengar Zek yang berbicara seserius itu, pastilah dia tidak berbohong, apalagi kenyataan yang mereka temui beberapa waktu lalu. "Kenapa Paman tidak mencoba melatih kami sebelum pergi. Bukankah kemampuan kami juga perlu diuji?" Zek menggelang. "Aku percaya dengan kalian, terutama kamu, Lif. Kamu bisa membimbing teman-temanmu dan mengajarkan mereka pertarungan, kemampuanmu luar biasa. Randai juga bisa melatih Kyra untuk ikut mempersiapkan." "Aku tidak mau, Paman. Dia hampir membunuhku semalam." Kyra menatap Randai yang saat ini memelotot padanya. Hey! Dia hanya khilaf, tidak ingin mengulanginya lagi. Zek tertawa. "Tidak apa, Ra. Aku yakin Randai sudah cukup ahli mengendalikan diri sekarang. Bukan begitu, Ran?" Randai mengangguk mantap, membenarkan perkataan Zek. "Baiklah. Nanti malam aku akan mencoba melatih kalian. Hanya nanti malam ya, setelah itu kalian berlatih sendiri. Karena aku masih ada keperluan yang harus diselesaikan untuk bekal kalian nanti." Mereka berempat mengangguk. Menyetujui akan melakukan pertemuan di tempat semalam lagi. Kyra juga tersenyum, otaknya kembali berpikir, cara apalagi yang bisa ia gunakan untuk kabur dari rumah nanti. Kesempatan nanti malam sangatlah langka. Selain karena waktu menjalankan misi itu semakin dekat, juga karena ada Zek. Kapanlagi mereka bisa dilatih oleh yang ahli. Malam harinya, sesuai jam yang telah direncakan sebelumnya--yaitu lewat tengah malam. Mereka semua sudah berkumpul di belakang rumah Alif, tempat terbuka yang tidak jauh dari hutan. Mereka sudah berkumpul kecuali Kyra. Gadis itu belum sampai juga setelah hampir lima belas menit menunggu. "Di mana Kyra?" Zek menanyakan keberadaan gadis itu pada tiga remaja yang ada hadapannya, tapi remaja itu hanya diam. Tidak ada yang tahu. "Apa dia ada kendala saat ke sini, Le? Kamu tidak menjemputnya tadi?" Lea menggelang. "Kyra melarangku untuk menjemputnya, Ran. Keadaan akan lebih buruk kalau aku ke sana. Katanya dia bisa ketahuan." "Gadis itu, kasian sekali nasibnya." Lagi-lagi Randai mengasihani Kyra. Dalam pikirannya Kyra terlalu lemah untuknya. Sedangkan di rumah. Kyra masih menunggu Tara yang asik menonton film drama di ruang tengah. Dia tidak mungkin bisa mengendap keluar, karena gadis itu pasti tahu--bahkan kalau lewat pintu belakang pun itu tidak memungkinkan. Kyra bernapas lega saat Tara sudah mulai menguap, gadis itu langsung menutup laptopnya dan beranjak menuju kamar. Setelah memastikan pintu tertutup, Kyra berjalan pelan sambil berjengkit untuk lewat ke pintu belakang. Dia harus bergegas. "Kamu mau kemana, Ra?" Gerakan tangan Kyra yang memegang handle pintu jadi terhenti saat sebuah suara menginstrupsinya. Mampus, dia ketahuan adiknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN