Sedikit Mencekam

2031 Kata
Kyra masih saja menyaksikan mereka yang saling adu kekuatan, bahkan Randai masih sempat-sempatnya tertawa saat Alif sudah menampakkan raut marah--itu yang Kyra ketahui dari muka serigalanya, karena dari tadi serigala berbulu perak yang ada di bawahnya terus saja menggeram. "Kamu tidak ikut berlatih?" Kyra mengamati sahabatnya yang masih saja tersenyum melihat pertengkaran di bawah. "Tentu saja aku ikut--Randai!" Lea berteriak kencang memanggil nama Randai, kemudian melepaskan Kyra dari ketinggian hampir sepuluh meter. "Aaaa! Lea gila!" Hap! Dengan sigap Randai menangkap Kyra sebelum jatuh ke tanah, kecepatan yang luar biasa. Lelaki itu masih sempat mengulas senyum sebelum mendaratkan Kyra dengan selamat. Senyum yang sangat mengerikan bagi Kyra, karena disertai dengan manik matanya yang semerah darah. Randai masih sempat mengendus Kyra sebelum tertawa keras. "Aku sangat menyukai aromamu, Ra. Rasanya aku benar-benar ingin menerkammu." Reflek Kyra langsung mundur satu langkah. Siaga apabila Randai tiba-tiba menyerang. "Tenang, aku hanya bercanda, tidak mungkin aku menerkam sahabat sendiri." Randai dan Kyra akhirnya duduk di bawah pohon besar beberapa meter dari tempat Alif dan Lea berlatih. Kedua remaja itu melatih kekuatannya masing-masing, tidak jarang mereka juga saling serang. Alif bahkan beberapa kali menggeram dan membentuk tameng transparan untuk melindungi serangan Lea. Gadis itu pun terus terbang mengitari Alif, meliuk, menukik, naik, turun, bahkan tidak jarang menggodanya. Kekuatan mereka berdua sangat hebat, beberapa kali muncul sinar di antara mereka. "Alif sangat kuat ternyata." Randai mengangguk, membenarkan ucapan Kyra. "Hanya saja keras kepala dan dingin. Tapi kadang dia ada sisi humorisnya, meski akan berakhir menjengkelkan." "Kalian bersaudara?" "Aku? Hahaha." Randai langsung tertawa keras, bahkan sampai memegang perutnya. "Jangan bercanda, Ra. Vampir dan serigala itu bagaikan musuh, kami lebih sering bertengkar dari pada berdamai, bagaimana mungkin bersaudara. Tapi ... entahlah, kenapa aku bisa bersahabat dekat dengannya." Kyra mengembuskan napas pelan. "Aku bosan hanya melihat kalian berlatih bertarung. Seharusnya kalian juga mengajariku. Aku kan, juga ikut misi nantinya." Randai tertawa. "Besok malam bisa kuusahakan. Kamu berlatih seperti apa? Mengendalikan benda sepertiku? Terbang seperti Lea? Atau berubah wujud seperti Alif." Kyra memicing, melempar rumput yang tadi dimainkan ke arah Randai. "Aku bukan keturun Klan khusus seperti kalian, aku hanya manusia biasa, tidak punya hubungan darah yang berhubungan dengan kalian." "Tapi aroma darahmu manis, Ra. Mengundang beberapa makhluk, termasuk aku dan Alif." "Alif?" Kyra memicing tidak percaya. Soalnya laki-laki itu selalu terlihat santai di depannya. Randai mengangguk mantap. "Alif bisa mengendalikan diri dengan baik. Tahu tidak, dulu dia juga pernah merasakan darah dari Klan lain lho." "Benarkah?" Randai kembali mengangguk. "Saat itu dia sangat marah begitu mengetahui ayahnya hampir dibunuh oleh bangsa Ogre, untung saja dia datang tepat waktu setelah main bersamaku, dan dengan cepat Alif langsung merubah dirinya menjadi serigala lalu menyerang Ogre itu hingga tewas, dia bahkan sempat menyesap darahnya pelan sebelum membiarkan Ogre itu meninggal dan berubah menjadi mayat kering seperti mumi." "Dia merubahnya seperti itu?" Kyra bergidik ngeri, tapi dibalas gelengan sama Randai. "Bukan, Ra. Memang seperti itu bangsa Ogre meninggal, kacuali kalau kamu bisa membakarnya habis menjadi abu." Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba Alif langsung merubah dirinya menjadi manusia, sebelumnya bahkan masih sempat menangkis pukulan Lea. "Ada apa, Lif?" Lea turun perlahan, dan berdiri di samping Alif. "Ada yang memantau kita." "Benarkah? Bukannya kamu sudah membuat tameng." Alif mengangguk. "Sepertinya dia bisa menembus pandang sampai di dalam. Tameng yang kubuat tadi tak sekuat itu, Le. Untuk ukuran manusia biasa, memang tidak bisa ditembus. Tapi ini tidak berpengaruh jika dengan Klan yang lebih kuat." Lea menatap sekeliling. Ia sendiri tidak terlalu jelas melihat bentuk tameng dari Alif, hanya lelaki itu yang tahu lebih jelas. Tapi di seberang sana, dia melihat Kyra yang tertawa bersama Randai. Perubahan yang sangat drastis memang. Dulu Kyra sangat takut sama Randai, tapi sekarang dia malah bisa tertawa bareng. "Lindungi diri kalian!" Krakk!! Sebuah pohon besar tiba-tiba tumbang ke arah mereka, dengan sigap Alif langsung membuat tameng transparan berukuran besar untuk melindungi sahabatnya. Tameng itu tidak cukup kuat. Langsung pecah beberapa detik setelahnya. Alif tidak sempat konsentrasi, tapi sudah cukup waktu untuk menyamatkan diri. Braakk!! Suara kencang yang ditimbulkan menambah kengerian. Empat remaja itu saling menatap dengan napas memburu, tapi satu diantara mereka mati-matian menahan napas. Matanya yang semerah darah semakin merah. Menunduk beberapa kali dan menggelengkan kepala. Dadanya naik-turun menahan sesuatu. "Kamu kenapa, Ran?" "Menjauh dariku, Ra!" "Kenapa?" Kyra yang merasa aneh malah semakin mendekat. Randai baru saja menyelamatkan nyawanya, bagaimana mungkin sekarang dia bersikap seperti ini, apa mungkin dia melakukan kesalahan. "Aarrgghh!!" Randai bergerak cepat menyerang Kyra, membuat dua remaja itu ambruk di permukaan tanah. Alif dan Lea segera bergerak. Mereka mencoba melepaskan cengkraman Randai dari Kyra. "Kendalikan dirimu, Ran! Dia temanmu!" Alif langsung memegang bahu Randai, menariknya dengan kasar. Sedangkan Lea mencoba menarik Kyra dengan hati-hati. "Kamu tidak apa-apa?" Lea menatap Kyra khawatir, yang ditatap masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. "Bahumu berdarah, Ra. Pantas saja Randai mulai menggila." Kyra menatap lengan bajunya yang robek, ada luka yang lumayan dalam di sana. Dia memegang bahunya yang mulai terasa nyeri. Bisa-bisanya dia tadi tidak merasakannya. "Sepertinya tidak sengaja terkena ranting pohon." Lea mengangguk. "Hmm, sepertinya. Kamu di sini dulu, aku mau membantu Alif." Kyra mengangguk, lalu memandang Alif yang hampir kualahan menahan Randai. "Dia itu sahabatmu Bodoh!" Randai tetap menggila, tubuhnya terus bergerak di dalam kungkungan Alif. Matanya berpendar merah. "Biar aku saja." Lea langsung menghentikan Alif yang hendak membawanya pergi. "Dia terlalu kuat, Le. Banyak vampir yang tidak tahan mencium aroma darah." "Aku bisa menenangkannya. Percayalah." Alif menatap Lea ragu, tapi akhirnya mengizinkan Lea membantu. Gadis remaja itu segera mendekat di depan Randai, memegang keningnya pelan seperti menyalurkan sugesti baik ke tubuhnya. Perlahan tubuhnya mulai tidak banyak bergerak, lebih tenang dari sebelumnya, persis seperti disuntik obat penenang. "Kamu apakan dia." "Hanya menenangkan. Klan Fairy punya kemampuan itu." Setelah Randai tenang, Lea segera menghampiri Kyra yang duduk sendirian memegang bahunya. "Kita obati lukamu, Ra." "Biar aku saja." Lea mengernyit. "Maksudnya?" "Aku pernah melakukannya, menyembuhkan lukaku dengan tanganku sendiri. Tapi itu luka kecil. Tidak tahu kalau sebesar ini." Lea menepuk jidatnya, dia hampir lupa kalau Kyra juga mulai aneh setelah mengenal mereka. Dengan perlahan, Lea membantu menyingkap lengan kaosnya yang robek, disusul Kyra yang memejamkan mata, berkonsentrasi mengobati lukanya. Perlahan rasa sakit yang ditimbulkan mulai reda, jaringan kulit yang robek mulai menyambung. Meregenerasi dengan sendirinya, tapi beberapa detik kemudian Kyra tersengal. Lukanya kembali berdarah, hanya sebagian kecil yang mampu dia obati. "Konsentrasi, Ra. Kamu bisa." Kyra mengangguk, kembali memejamkan mata, lalu kemudian memegang bahunya dan berkonsentrasi penuh menyembuhkan lukanya. Perlahan jaringan sel yang robek kembali meregenerasi, saling menyulam satu sama lain. Tiga menit setelahnya, lengannya kembali seperti semula. Sembuh. Hanya tersisa darah yang mulai mengering saja. "Aku masih tidak percaya kamu bisa melakukan ini. Dari mana kamu mendapatkan kemampuan ini, Ra?" Kyra menggeleng. "Aku tidak tahu, itu terjadi begitu saja. Saat dulu tanganku terkena pecahan beling, dan terasa perih waktu kubuat cuci piring, kemudian aku mencoba memegang bekas lukaku yang masih segar dan membayangkan kalau seandainya dia bisa sembuh dengan cepat. Lalu ajaib, semua terjadi begitu saja, Le." "Baiklah, kamu memang sudah aneh berbulan yang lalu setelah diserang vampir itu. Astaga! Padahal kamu sudah pernah bercerita, kenapa aku masih tidak percaya. Mulai sekarang aku tidak akan terkejut lagi." "Ra, kamu tidak apa?" Dua gadis remaja itu mendongak. Menatap dua pria remaja yang menjadi sahabatnya itu. "Aku baik." Kyra mencoba melempar senyum, meskipun keterkejutan masih ada karena perlakuan tiba-tiba Randai. "Maafkan aku, Ra. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk lebih menahan diri." Randai mengulurkan tangannya, mencoba membantu Kyra berdiri. Gadis itu langsung menerima ulurannya meski sempat dilanda keraguan. "Tidak ada yang mau membantuku?" "Kamu cukup kuat, Le." Randai terkekeh, dan dibalas dengan raut muka cemberut dari Lea. Gadis itu lantas ikut berdiri dan menepuk ujung bajunya yang dirasa kotor. "Ehem! Darahmu masih beraroma ternyata, tapi tenang, aku tidak akan menyerangmu kali ini." "Jelas. Kalau hal itu terjadi, mati kamu hari ini." Alif yang dari tadi diam tiba-tiba menimbrung. Membuat Randai langsung menatap kagum. "Whoa ... sepertinya ada yang sedang ingin jadi pahlawan. Ngomong-ngomong, kamu menyukai Kyra, Lif?" Randai menuding Alif. "Teruskan saja bakat cenayangmu itu. Ganti klan saja, jangan jadi vampir. Bangsamu akan sangat malu mempunyai gen sepertimu." "Enak saja. Gini-gini aku adalah vampir paling tampan sejagat raya." Randai yang tidak terima mencoba membela diri. Alif yang mendengar kepercayaan diri Randai yang berlebihan menampakkan ekspresi ingin muntah. "Lho? Kamu hamil, Lif, kok mual? Padah Laki-laki lho. Siapa yang berani menghamili kamu?!" Tuk! "Mati saja kamu!" Alif langsung mengumpat setelah memberi geplakan di kepala Randai. Membuat teman-temannya yang lain ikut tertawa. "Ngomong-ngomong, tadi siapa yang tiba-tiba datang menyerang?" Lea memecah suasana, mengambil obrolan lain. "Aku tidak tahu, dia langsung pergi setelah menumbangkan pohon itu. Aku tidak sempat mengejar, karena tadi berusaha membantu Kyra." "Kamu juga tidak tahu di mana keberadaannya?" Randai ikut bersuara. Setahunya, pendengaran Alif begitu peka, bahkan dengan jarak jauh dan suara berbisik sekalipun, maka dari itu kalau beraktivitas lelaki serigala itu lebih sering memakai earphone. "Aku tidak tahu, dia sudah terlalu jauh. Pendengaranku sudah tidak bisa mendeteksinya." Semua mengangguk. Hari ini terasa melelahkan, setelah latihan, mereka harus dihadapkan dengan suatu hal berbahaya yang tidak mereka ketahui. "Bantu aku membereskan pohon itu, Ran." Randai mengangguk, mengikuti langkah Alif dan hendak memukul pohon itu agar terpotong menjadi beberapa bagian. "Kalian mau apa?" Kyra yang seolah mengerti tindakan mereka langsung bertanya. Lebih tepatnya ingin mencegah. "Membersihkannya, apalagi memang?" "Dengan menghancurkannya?" Alif dan Randai mengangguk kompak. "Jangan! Aku akan mencoba kemampuanku. Siapa tahu membantu, bagian pohon ini masih ada yang tersambung dengan akarnya." Mereka semua saling tatap. Tapi akhirnya memberikan Kyra ruang untuk mencoba kemampuannya. Gadis remaja itu mulai menempel di permukaan pohon, dia memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi menyambungkan pohon yang sudah jatuh ini. Sangat disayangkan kalau satu pohon tumbang dengan percuma. Lima belas menit berlalu, peluh mulai berceceran di dahi Kyra, pohon itu memang sempat bergerak beberapa senti, tapi belum bisa berdiri. Hah! Kyra tersengal, badannya ambruk disusul dengan tubuhnya yang lemas. "Energiku habis, aku sudah mengeluarkan semuanya. Tapi nihil." Kyra menatap pohon itu sedih. "Tidak apa, Ra, kamu sudah berusaha." Lea mencoba menghibur. "Tapi satu pohon tumbang itu sangat disayangkan, Le." "Tidak masalah, Ra. Biar Alif nanti yang menanam lagi. Sekarang biar kita yang memberesekan ini." Alif bergerak maju, sebelumnya dia sempat berdecak menanggapi cara bicara Randai yang seenaknya sendiri. Randai mulai melepaskan pukulan, terdengar suara dentuman keras dan membuat batang pohon besar itu hancur berkeping-keping. Alif mengumpulkan kayu-kayu yang berserakan, dan dibantu dengan Randai. "Kita pulang, Ra. Sudah waktunya istirahat." Kyra menatap teman-temannya. "Duluan, Ra. Aku dan Randai yang mengurus sisanya." Baiklah, sepertinya Kyra memang harus pulang. Ini sudah larut, lebih dari jamnya pergi biasanya. Jangan sampai nanti mamanya terbangun dan menemukannya keluyuran malam-malam. Dua gadis remaja itu akhirnya melenggang pergi. Meninggalkan dua pria lainnya, yang masih mengurus pohon tumbang itu. Agar besok, jika ada orang lewat tidak ada yang curiga. "Kamu lelah, Ra?" Kyra mengangguk. Bahkan badannya sedikit gemetar. "Usahaku tadi menguras seluruh energiku, Le." "Kita makan yuk habis ini." "Aku tidak ada uang. Lagi pula ini sudah terlalu malam." "Di daerah sini mau tengah malam sekalipun masih ada tempat yang buka, Ra. Aku yang mentraktir, kamu tidak perlu khawatir." Kyra akhirnya mengangguk, dia akan sangat senang jika sahabatnya itu sudah mengeluarkan kata traktir. Lagi pula rejeki tidak baik jika ditolak, apalagi kalau Lea sudah punya kehendak, maka dia akan sulit dibantah. "Andai saja aku bisa seperti Randai, mungkin kita bisa lebih cepat sampai, Ra. Sayangnya aku hanya bisa terbang, dan itu tidak mungkin aku lakukan." "Memangnya Randai bisa apa?" "Randai bisa melakukan teleportasi dengan cepat, berpindah tempat dengan kecepatan beberapa detik saja." Kyra terlihat kagum. Sepertinya saat Randai tadi tiba-tiba merangkulnya itulah dia melakukan teleportasi, karena setahu dia, lelaki vampir itu sebelumnya berada di atas pohon. "Kamu juga sangat hebat, Le. Apa saja yang bisa kamu lakukan selain terbang?" "Seperti yang kamu lihat tadi. Satu lagi, aku bisa komunikasi dengan alam. Seperti memahami bahasa mereka." "Aku tidak paham." "Lain kali saja kujelaskan, yang penting kita makan sekarang, aku lapar." Lea sedikit berlari meninggalkan sahabatnya. "Curang. Kamu selalu seperti itu, Le." Mereka berdua tertawa, hampir lupa dengan kejadian mengerikan beberapa waktu silam. Tanpa tahu kalau ada sepasang mata yang lagi-lagi mengintai mereka, menyunggingkan senyum mengerikan, karena sedikit kebenaran mulai diketahui. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN