Tara menatap wajah kakaknya itu dengan sengit. Mamanya bahkan sempat memarahinya gara-gara Kyra. Bukan karena kasih sayang telah tumbuh di hati wanita paruh baya itu, melainkan dia takut kalau Kyra sampai mati dan anaknya yang akan dijebloskan dalam penjara. Meski pun tidak banyak pihak yang tahu tentang hal ini, termasuk juga kampus, karena Kyra meminta Alif dan Randai untuk merahasiakannya. Tidak memberitahu siapa pun. Sedangkan mamanya bisa tahu kalau dia hampir mati, karena begitu sampai rumah dan melihatnya yang sudah basah kuyup. Kyra yang harus membela diri agar tidak kena pukulan atau marahan dari mamanya itu akhirnya berkata jujur.
"Jangan sampai hal ini didengar oleh orang luar!"
Itu adalah kata terakhir yang diucapkan mamanya semalam. Kyra bisa bernapas lega, karena sang mama tidak menambahi hal lain ternyata.
"Kenapa, Tar? Kamu ada sesuatu lagi?" Kyra bertanya pada sang adik yang terus memandangnya tidak suka. Posisi mereka saat ini sedang berada di perpustakaan, gadis itu merasa tidak nyaman terus dipandang demikian.
"Lain kali, tidak akan kubiarkan kamu hidup." Tara sengaja menyenggol bahu kakaknya sebelum melenggang pergi, membuat Lea ikut tersinggung karena hal itu. Mereka juga tidak tahu, kalau di seberang sana, Alif mengamati mereka dan mendengar pembicaraannya. Dulu, dia memang tidak perduli dengan hal ini, dirinya bahkan menutup telinga dengan earphone untuk menghalau suara-suara atau bunyi yang didengarnya, maka dari itulah dia lebih sering mengunjungi perpustakaan bersama Randai.
Usai kejadian itu dan hampir satu bulan berlalu, Zek belum juga memberi kabar. Membuat empat remaja berbeda klan itu sedikit melupakannya. Apalagi mereka sudah disibukkan dengan UAS, bahkan tinggal dua hari lagi akan selesai.
"Hey, nanti malam ayo ikut aku ke basecamp. Biasanya aku dan Alif melatih kekuatan di sana." Randai menepuk pundak Lea saat berada di sebelahnya, dia tadi sedikit berlari untuk mengejar dua gadis itu yang hendak menuju parkiran.
"Tidak perlu, itu tempat lelaki." Alif melirik Randai tidak suka, bisa-bisanya pria tengil itu membocorkan tempat mereka berlatih.
"Ayolah, Lif. Mereka ini sudah sangat dekat dengan kita. Lagi pula kita akan ditugaskan untuk misi. Kita tidak tahu kan, apa yang terjadi selama menjalankan misi nanti. Jadi, tidak ada salahnya untuk berlatih bersama ... emm ... yah, kecuali Kyra. Aku masih belum paham kenapa manusia sepertimu juga ditugaskan oleh Zek."
Kyra menggaruk kepalanya pelan, sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu kenapa Zek bisa memilihnya juga. Seharusnya dia meminta Kyra melupakan semuanya, tapi entahlah. Kadang Kyra merasa dirinya paling kerdil kalau berdiri di antara tiga klan ini. Lihat saja, mereka begitu hebat dengan penampilan dan kemampuannya masing-masing, sedangkan dia ... hanya gadis sederhana, bahkan melihat kecoa saja kadang takut.
"Kamu juga harus belajar menjaga omonganmu, Ran. Masih saja seperti itu, kamu tidak tahu apa, kalau kata-katamu bisa menyakiti Kyra." Lea mendelik memperingati Randai.
"Hey, aku tidak bermaksud. Sungguh."
"Sudah, nanti malam kalian datang ke basecamp. Aku tidak suka berdebat."
Pada akhirnya acara debat mereka dilerai Alif, dia memutus segalanya, dan berjalan mendahului mereka.
Sedangkan Kyra, dia harus memutar otak supaya mendapatkan izin untuk keluar malam.
Malam harinya, mereka akhirnya bertemu di basecamp yang dimaksud Randai tadi. Lumayan larut karena mereka tidak ingin acara berlatih mereka sampai dicurigai orang lain, belum lagi Kyra yang harus mengendap ke luar agar tidak ketahuan mamanya--yah ... gadis itu memilih untuk diam-diam keluar rumah saat semua sudah tertidur, karena sudah dipastikan, dia tidak akan pernah mendapatkan izin.
"Ck, kalian lama sekali, kebiasaan buruk jangan sering dipakai." Alif memandang dua gadis remaja itu tajam.
"Tidak perlu mengerutkan alis begitu, Serigala. Kami juga ada urusan yang lebih penting." Lea membela, tidak mau disalahkan.
"Emm ... ngomong-ngomong, kalian mau berlatih bagaimana? Aku harus bagaimana?" Kyra langsung mengalihkan topik, berharap tidak ada debat. Lagi pula tujuan awal mereka ke sini memang untuk berlatih. Dia juga sadar diri untuk tidak berkata 'kita', karena sudah pasti dirinya tidak bisa apa-apa. Duh, Kyra jadi agak menyesal ikut ke sini. Untuk apa memangnya, apa hanya menonton?
"Ah iya, kamu bagaimana, Ra--ikut berlatih saja, Ra. Sebisamu, contohnya saat mengeluarkan api biru."
Kyra mengernyit. "Aku tidak bisa mengeluarkan api biru, Le. Memangnya kamu pikir aku ini kompor."
Sudut bibir Alif tertarik sedikit, sedangkan Lea hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya. Dia lupa kalau Kyra tidak mengingat kejadian itu.
"Ya sudah, aku menonton saja. Kalian biasanya melakukan apa saat berlatih?"
"Banyak hal, Ra. Contohnya seperti ini."
Kyra berjengkit kaget saat Randai tiba-tiba bergerak secepat angin dan menepuk pundaknya pelan. Tubuhnya sedikit terhuyung karena itu. Lelaki vampir bernama Randai ini sudah berada di samping Kyra, padahal tadi sedang berada di atas pohon yang lumayan tinggi. Dia nyengir lebar sambil beberapa kali mengusap hidungnya.
"Kamu jangan terlalu sering mengagetkanku, Ran. Aku ini manusia biasa, tidak mustahil kalau aku bisa terkena penyakit jantung mendadak gara-gara kamu." Kyra memukul lengan Randai pelan. Sagat kesal dengan kelakuannya, tapi lelaki itu hanya terkekeh pelan dan pura-pura mengaduh.
"Jangan dipukul, Ra. Nanti tingkat kegantenganku berkurang."
Kyra berdecak. "Apa semua Klan Vampir senarsis ini?"
"Tidak. Hanya Randai yang aneh." alif berjalan menjauhi mereka, dia mengangkat tangannya ke udara dan seperti melepas sesuatu. Entah apa itu, karena tidak begitu terlihat.
"Jangan dengarkan Alif, Ra. Aku ini memang yang paling tampan di antara Klanku, dan kamu sekarang harus membiasakan diri, Ra, karena kamu akan melihat hal lebih mengejutkan lagi nantinya."
Dua detik setelah mengatakan itu, Alif berlari ke arahnya dan tubuhnya berubah menjadi serigala berbulu perak, ukurannya sangat besar dibanding dengan serigala normal.
Kyra lagi-lagi memegang dadanya, menenangkan degupan yang begitu keras karena ulah temannya itu. Kadang dia merasa menyesal telah mengenal klan mereka, hal-hal aneh sering terjadi, dan sekarang harus membiasakan diri dengan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Kamu mau mengagetkanku juga, Le?"
Lea tertawa. "Tentu saja tidak. Klanku lebih elegan, Ra. Tidak bar-bar seperti mereka." Setelah mengatakan itu, Lea memejamkan mata, tangannya ia telentangkan dan tubuhnya perlahan naik, disusul dengan munculnya dua sayap yang berbulu indah, saat matanya terbuka, iris matanya sudah berubah warna menjadi kuning.
"Keren! Baiklah sepertinya hanya aku yang menjadi penonton." Kyra akhirnya berjalan ke pendopo kecil yang berada tidak jauh dari mereka. Basecamp ini terletak beberapa meter di belakang rumah Alif. Seperti lapangan luas yang dikelilingi pohon tinggi, seperti berada di dalam hutan. Ini adalah tempat persembunyian yang sangat menarik.
"Mau ke mana, Ra?" Lea menghampiri sahabatnya itu, dirinya mengambang beberapa meter di atas tanah.
"Menunggu kalian di sana. Aku tidak bisa seperti kalian, hehehe."
"Maafkan aku, Ra." Lea memasang wajah menyesal.
"Hey! Tidak apa, aku baik-baik saja. Kamu harus berlatih, Le."
Lea mengangguk. "Baiklah, aku usahakan tidak akan lama." Lea memegang pundak Kyra sebelum dia kembali terbang menyusul dua laki-laki berbeda klan itu.
Sesampainya di pendopo, Kyra mengeluarkan bukunya dari dalam tas, sebuah novel karya Annisa Rahmat. Dia membaca novel itu yang berkisah tentang berondong tengil yang sangat menjengkelkan. Konflik ringan sehingga tidak membuatnya banyak berpikir. Lumayanlah, untuk mengusir kejenuhannya selama menunggu sahabat-sahabatnya berlatih.
Beberapa menit setelah membaca, tiba-tiba ada suara dentuman yang begitu keras. Suara itu berasal dari tempat asal ketiga temannya berlatih. Kyra langsung berdiri panik. Dia bergegas meletakkan bukunya di atas tasnya dan berlari ke arah mereka, khawatir dan penasaran apa yang telah terjadi.
"Ada apa?" tanyanya panik begitu sampai di sana.
"Tidak ada, Ra. Aku tidak sengaja menjatuhkan pohon. Batang itu terlepas dari akarnya."
"Bunyinya keras, Ran. Kamu bisa memancing kecurigaan manusia lainnya."
"Tidak akan, Alif sudah memasang tameng kedap suara di sini."
Kyra menatap Alif yang masih menjadi serigala. Dia menggeram pelan sebelum merubah dirinya menjadi manusia kembali. Ada yang aneh, Kyra baru menyadari sesuatu .... Tentang bulu serigala berwarna perak milik Alif tadi, bukankah dia pernah melihatnya sebelumnya, tapi dimana?
"Semua aman, Ra. Benda apa pun dan sebising apa pun suara dari dalam sini, tidak akan bisa menembus keluar."
Kyra mengamati sekitar, kepalanya bahkan mendongak ke atas untuk melihat sesuatu. Tapi dia tidak menemukan apa pun. Langit masih bisa terlihat, bahkan sinar bintang dan rembulan bisa ia lihat dari bawah sini.
"Kamu membual lagi, Ran."
"Enak saja, lihat kalau tidak percaya."
Alif yang menjawab perkataan Kyra, dia tentu saja tidak terima kalau kemampuannya diragukan. Lelaki itu kembali merubah dirinya menjadi serigala, dia mengaung keras lalu menggeram setelahnya, membuat pohon sekitar sedikit bergetar dan burung yang sedang tidur di pohon terbang ke luar, tapi hewan-hewan itu hanya terbang memutari tempat yang sama, seolah ada penghalang besar tak kasat mata di sini.
"Masih tidak percaya, akan aku buktikan lagi."
Kali ini Randai yang bergerak, dia mengangkat salah satu pohon besar yang tumbang beberapa meter di depan mereka. Pohon itu perlahan terangkat tanpa di sentuhnya, mengambang di udara mengikuti gerak tangan Randai, beberapa detik setelahnya terlempar ke atas setelah tangan Randai membuat gerakan melempar. Tapi pohon itu kembali terpental ke bawah, seolah ada benda yang menghalangi--dan secepat kilat, Randai berlari meraih pohon itu kembali, meletakkannya di tempat semula.
"Kamu percaya, Ra?" Lea tersenyum di atas sana, dan Kyra mengangguk. Baiklah, dia tidak boleh lagi terkejut dengan hal mustahil ini. Ketiga sahabatnya ini bukan sembarang manusia. Mungkin sesuatu atau perlindungan ini dibuat Alif waktu laki-laki itu menggerakkan tangannya tadi sebelum berlatih.
"Lihat hal lain yang bisa kita lakukan Ra, jangan dulu kembali." Lea mencegah Kyra yang hendak melangkahkan kaki kembali ke tempatnya tadi.
"Melihat apa--aaak!!" Lagi-lagi dia di kagetkan, kali ini dengan Lea, sahabatnya itu mengangkatnya ke atas. Membuatnya bergidik melihat ke bawah karena terbang setinggi itu. Kyra memelototi sahabatnya itu dan dibalas dengan cengiran saja.
"Lihat apa yang bisa dilakukan Alif." Lea menunjuk ke arah Alif yang sudah berubah kembali menjadi manusia. Dia sedang berdebat dengan Randai.
"Kamu tidak lihat. Temengku retak, Bodoh!"
"Hey, enak saja kamu bicara, aku sedang membantu menyelamatkan harga dirimu. Buktinya Kyra sangat percaya."
Dengan tampang bersungutnya, Alif mulai mengepalkan tangan ke atas, memejamkan mata berkonsentrasi penuh, tidak lama setelah itu, ia melakukan gerakan melempar ke atas, persis seperti gerakan yang dibuatnya tadi, sepertinya dia sedang membenahi pelindung yang katanya sudah diretakkan Randai tadi.
Setelah itu, Alif berubah menjadi serigala kembali dan menyerang Randai, mereka terlihat bertengkar. Randai dengan sigap menghindar, gerakannya sangat cepat, tapi Alif juga tidak kalah cepat, dia masih saja mengejar Randai. Ganas, seolah ingin menerkam. Randai sedikit menoleh ke belakang, melepaskan pukulan keras ke arah Alif. Alif bergerak cepat membuat perlindungan dan ....
Blaarr!!
Suara dentuman mengenai pelindungnya dan langsung pecah, itu pukulan yang sangat keras, tanpa menyentuh, bisa memukul, tapi bukan santet.
Mereka terus menyerang satu sama lain, bahkan beberapa kali Randai mencoba mengangkat Alif dengan kekuatannya, tapi selalu gagal ketika Alif langsung menggeram, seolah memutuskan tali penyambung yang hendak mengangkatnya.
"Le, hentikan mereka. Itu berbahaya, mereka bisa tewas."
"Tidak, Ra. Tenang saja."
"Tapi mereka bertengkar."
Lea tertawa. "Memang begitu cara mereka berlatih. Sering bertengkar. Aku saja kaget lho tadi, hahaha." Lea kembali tertawa. Sedangkan Kyra menggeleng heran. Aneh sekali cara berlatihnya. Mirip dengan orang bertengkar. Dia yang berada di atas sana bersama Lea dan menyaksikan semua ini merasa ngeri sekaligus masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bisa-bisanya dia terlibat dengan hal mustahil begini.
***