Napas Kyra semakin tersengal, kakinya mulai lelah menahan posisi tubuhnya yang tidak sempurna berdiri. Dia mulai menggigil, tidak tahu sudah berapa lama terkurung di dalam sini. Berkali-kali dia menggedor beton di atasnya, tapi tidak ada respon. Tentu saja, benda berat itu mana mungkin bergerak barang sedikit pun. Suaranya saja belum tentu terdengar dari luar.
"Ada yang bisa mendengarku?!" Kyra masih berusaha meminta pertolongan, dia tidak ingin mati sia-sia di sini.
Ah sial! Kalau sudah di posisi begini, dia selalu berpikir tentang ketiga teman aneh-nya yang berbeda klan. Melihat Kyra yang sehebat itu, pasti dia bisa mengeluarkan dirinya dari dalam sini. Tapi sayangnya mereka sedang tidak bersamanya sekarang, bahkan Randai dan Alif pun yang melihatnya tadi tidak tahu kalau dia berada di sini.
Kyra sangat menyesal, kenapa tadi dia tidak bilang yang sebenarnya saja sama Randai. Jadi laki-laki itu bisa menyusulnya ke sini. Meski pun kepastiannya hanya 0.02% saja.
Brak!!
Kyra berjengkit kaget, bibirnya yang bergetar menahan dingin sesekali terkatup. Bunyi apa itu yang didengarnya tadi, kenapa sangat keras sekali.
Matanya semakin membelalak, sebuah pemikiran muncul tiba-tiba. Apa ada gempa? Pikirnya.
Tapi Kyra tidak bisa memikirkan itu, tubuhnya tiba-tiba terperosok ke dalam air, kakinya tidak kuat menopang lagi, tangannya terus bergerak mencoba membawa tubuhnya ke permukaan, tapi tubuhnya terus tenggelam. Bahkan sesekali mulutnya menelan air kolam, kesadarannya mulai menipis.
Grek!
Dalam pandangan remang di bawah air, dia melihat cahaya di atasnya. Beton penutup kolam itu terbuka, dan tidak lama setelah itu ada seseorang yang ikut masuk ke dalam kolam lalu menarik tubuhnya ke atas.
Entah sudah berapa menit, Kyra merasakan sesuatu yang ingin dimuntahkan, tidak lama setelah itu mulutnya mengeluarkan air dan terbatuk pelan.
"Kamu tidak apa-apa?"
Kyra memandang dua wajah yang ada di depannya ini. Mengernyit pelan sebelum mengangguk.
"Syukurlah, kamu tidak jadi mati, Ra."
Kyra bangkit dari tidurannya, dia mengucap terima kasih, dan bertanya bagaimana dua sahabat barunya ini tahu keberadaannya.
"Alif tidak sengaja mendengarmu meminta tolong. Dari tadi dia mengendus baumu untuk mencari keberadaanmu."
Kyra menatap Alif dengan bingung. Tidak percaya. Tapi dua makhluk di depannya ini memang tidak bisa dicerna dengan akal pikiran. Kyra menyebutnya manusia ajaib.
"Dia dari Klan Lycanthrope, Ra. Ketajamannya tidak diragukan lagi dengan hal-hal seperti ini."
Kyra mengangguk. Dia mencoba berdiri dengan dibantu teman-temannya itu.
"Aku tadi mendengar suara berdebum keras. Apa yang terjadi tadi?"
Alif dan Randai saling pandang. Mereka ketahuan, padahal sebenarnya ingin menyembunyikan ini dari Kyra.
***
"Kamu yakin, Lif?" Randai mengikuti langkah Alif yang terus menajamkan pendengarannya, sesekali dia menghirup udara banyak, seperti sedang mencium aroma sesuatu.
"Memangnya kamu tidak bisa mengendus bau ini, ck, kita boleh saja berbaur dengan manusia, tapi jangan sampai kita jadi selemah itu."
Randai berdecak, dia ikut berhenti saat lelaki yang punya darah bangsa serigala itu berhenti.
"Jangan meremehkanku. Kalau tidak karena kupingmu yang aduhai itu saat mendengar sesuatu, tidak mungkin aku mengikutimu sekarang." Randai ikut menajamkan indra penciumannya, Klan Vampir juga jago dalam ini, tapi ada sesuatu yang membuat lelaki bermata merah itu begitu tertarik.
"Aroma apa ini? Manis sekali."
"Mungkin beberapa gerombolan wanita yang tengah menatap genit padamu itu." Alif menggerakkan dagunya ke arah sekumpulan wanita cantik yang tidak jauh darinya. Itu Tara dan bala tentaranya, tidak menyangka akan bertemu lelaki tampan di kampusnya sedekat ini.
"Cih! Bukan! Aroma ini lebih menggoda dari mereka, sesuatu yang belum pernah kucicipi dan ingin sekali aku merasakannya.
"Tolong, adakah orang di luar."
Alif memandang Randai, tapi lelaki itu malah fokus mencari sesuatu yang katanya menggoda itu, dia tidak begitu mendengar suara yang bahkan nyaris seperti bisikan. Karena tidak bisa mengandalkan Randai, Alif berinisiatif pergi mencari suara itu seorang diri, tapi tidak disangka, langkah kaki mereka menuju ke tempat yang sama tanpa disadari.
"Kamu bisa mendengarnya, Ran?"
"Kamu bisa mencium aromanya, Lif?"
Mereka bahkan bertanya secara barengan. Tanpa kata lagi, mereka sama-sama mengangguk dan berlari ke gedung tempat berelatih renang.
"Aromanya di dalam sini, aku bisa merasakannya, dia begitu manis, sangat memabukkan." Randai mengendus semakin keras saat berada di dalam gedung. Sedangkan Alif mengernyit.
Gawat! Dirinya sangat mengenali suara yang meminta tolong lagi di dalam sana. Dia Kyra, teman manusianya yang baru di temuinya beberpa hari ini.
"Gunakan kewarasanmu, ada sesuatu yang tidak bisa sembarangan kamu sentuh di dalam sana."
"Apa?! Kamu mau menikmati sendirian, ck, enak saja."
"Kamu akan menyesalinya kalau tidak menurut."
"Persetan! Sesuatu yang ada di dalam sini pasti sangat lezat hingga kamu tidak ingin membaginya denganku." Randai tidak lagi mendengar celotehan Alif yang terus mengingatkan kesadarannya, bahkan dia sampai menepis beberapa kali cengkraman Alif di bahunya. Randai tidak bisa berpikir jernih, sesuatu di dalam sini terus menarik indra penciumannya, dia sudah tidak kuat untuk mencicipi apa itu.
Randai menyentuh permukaan beton yang tertutup di bagian tengah, mencoba untuk membukanya secara paksa, sedikit demi sedikit mulai bergeser pelan.
"Sudah kubilang jangan gegabah, Ran!" Alif menyentak pundak Randai dan menatap tajam, hingga sorot matanya berpendar biru keabuan.
Randai yang dikuasai oleh napsu aroma yang memabukkan itu semakin terlihat marah melihat sahabatnya melakukan ini padanya. Dia menggeram marah hingga matanya menyala merah terang. Kedua giginya perlahan mengeluarkan taring tajam. Tangannya menyentuh tangan yang tadi menyentaknya dan membanting tubuhnya ke atas beton.
Buk! Sempurna rasa sakit yang dirasakan Alif, punggungnya remuk rasanya. Randai benar-benar lepas kontrol setelah bertahun-tahun berhasil mengendalikan diri.
Merasa emosinya tersulut, Alif hendak ikut membalas, tapi berhasil ditangkis. Mereka akhirnya terlibat adegan saling pukul dan berkelahi di atas beton, hingga delapan menit berlalu, Alif berhasil menjatuhkan Randai ke atas beton dengan keras.
Bruk!!
Kedua tangan Alif mencengkeram kerah baju Randai. "Di dalam sana ada Kyra, bodoh! Dia temanmu, kendalikan dirimu yang ingin mengonsumsi darah."
"Apa?!" Suara Randai melemah, dia tidak percaya itu. Terkejut.
"Sekarang kita harus mencari cara membuka beton ini, suaranya semakin melemah di dalam sana, dia bisa mati nanti." Alif melepaskan cengkramannya begitu melihat Randai sudah tenang, laki-laki itu langsung berdiri dan dibantunya.
"Kita hancurkan--"
"Jangan! Akan menimbulkan banyak pertanyaan kalau itu terjadi." Alif mengamati sekitar dan menemukan tuas di ruang kaca tak jauh dari sana.
"Ikuti aku."
Randai menurut, mengikuti Alif sambil sesekali memejamkan mata, mencoba menetralkan pe ciumannya terhadap aroma manis itu.
'Kenapa Kyra bisa mempunyai aroma selegit itu. Ada apa dengab dirinya.'
Alif meminta Randai menggerakkan tuas ini untuk membuka beton penutup itu, sedangkan dirinya akan menuju kolam, melihat bagaimana keadaannya, karena tidak mungkin jika yang melakukannya adalah Randai.
Dan benar saja, begitu beton penutup itu terbuka, sia melihat Kyra yang sudah tenggelam. Tidak menunggu waktu lama lagi dia segera menceburkan diri dan menyelamatkannya, berusaha agar wanita itu sadar.
***
"Maaf, Ra. Aku khilaf." Randai nyengir lebar setelah mereka menjelaskan semuanya di hadapan Kyra, dan tidak lama setelah itu dia pergi dari hadapan keduanya.
"Dia masih belum bisa mengendalikan diri."
Kyra menatap Alif, lelaki itu hanya mendesis dan membantunya berdiri setelah itu. Tidak banyak berkata apa pun setelah menyelamatkannya.
***