Dia, Tara!

1477 Kata
Satu minggu setelah kejadian itu, semua kembali berjalan normal, menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Meski pun awal mereka kembali harus mendapat teguran dari dosen karena tidak kunjung kembali saat mau pulang. Untung saja, ternyata kecepatan waktu di dunia klan dengan dunia manusia berbeda. Di dunia mereka terdampar sebelumnya, ternyata lebih cepat berlalu dari pada dunia yang mereka tempati saat ini, jadi mereka hanya menghilang beberapa menit setelah peristiwa pencarian itu. Kehidupan antara empat makhluk berbeda klan itu memang sudah berjalan normal seperti biasanya, namun tetap ada perubahan di antara mereka. Alif dan Randai jadi semakin akrab dengan Kyra dan Lea. Kadang mereka membahas dunia klan saat mengobrol, menanyakan bagaimana kabar Zek dan Canuto meski tidak ada yang tahu jawabannya. "Kira-kira kapan ya, Zek memanggil kita?" Kyra memecah sunyi di antara yang lainnya kala itu. "Kamu ingin kembali, Ra? Sungguh, aku saja sebenarnya malas kalau harus ke sana lagi. Menyebalkan." Randai berdecak, dia memang tidak suka dengan dunia itu sebelumnya, apalagi dia pernah jatuh dan terlempar ke sana-kemari saat melewati portal. Pengalaman yang buruk menurutnya. "Sebenarnya aku lebih suka di sana, Ran. Tidak ada yang mengomeliku dan menyuruhku ini-itu. Damai sekali." Kyra terkikik sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah, jangan bahas apapun tentang dunia itu. Akan sangat berbahaya jika nanti ada yang mendengar." Pembicaraan mereka akan ditutup dengan nasehat Lea. Sebelumnya Zek memang berpesan agar mereka merahasiakan dunia itu. Tapi kadang kalau sudah berkumpul begini, mereka akan membahasnya tanpa sengaja. Sedangkan Alif, pria dingin itu lebih memilih diam dari pada ikut menanggapi. *** Kyra berjalan sendirian di lorong kampus, Lea sedang ada urusan dengan mamanya, jadi dia sekarang sendiri untuk mengumpulkan tugas yang tadi diberikan oleh dosennya. Lagi pula, tidak setiap hari atau bahkan setiap saat dirinya dan Lea harus saling bebarengan. Gadis bersayap itu pasti juga memiliki kehidupan pribadi sendiri yang tak ingin diusik Kyra. "Hay, Ra." Langkah kakinya berhenti, dia melihat tiga gadis seumurannya--ah ralat, satu tahun lebih muda darinya tengah memandang ke arahnya dengan wajah angkuhnya. Siapa lagi kalau bukan Tara dan teman-temannya, gadis itu bersama bala tentaranya kan, tidak menyukainya sama sekali. "Halo kakakku sayang, ada sesuatu yang harus kamu kerjakan. Bisa bantu aku--ah tidak, maksudku, kamu harus menurutiku, tidak ada penolakan." Kyra memutar bola matanya jengah, dia sudah tahu apa yang diinginkan saudaranya itu, kalau tidak menginginkan tenaganya dan disuruh ini-itu, pasti dia akan dijadikan kelinci percobaan untuk bersenang-senang, seperti menguncinya di kamar mandi kampus waktu itu. Alahasil Kyra harus pulang larut malam, untung saja ada seseorang yang mengetahui, kalau tidak sudah dipastikan dia akan mati kedinginan di dalam sana sampai pagi. "Aku ada tugas, Tar, bisakah kita melakukannya nanti. Setelah aku mengumpulkan tugas." Kyra tidaklah takut. Dia bisa saja melawan, tapi dia tidak boleh gegabah melakukan itu, yang ada di rumah nanti ia akan terkena imbas lagi dengan sang mama. Akan jadi lebih besar urusannya nanti. Kyra tidak ingin bermain-main dengan mamanya, dia sangat menghormati wanita itu meski pun seringkali diabaikan. Tara meraih dagu kakaknya dan mencengkeramnya dengan keras. Kyra tidak berkutik, dia hanya diam sambil memandang adiknya dengan berani. "Ah, kakakku yang jelek ini ternyata sudah berani membangkang ya. Aku tidak suka penundaan. Kamu harus melakukannya sekarang, anggap saja itu sebagai balas budi karena sudah dirawat orang tuaku secara percuma." Tara melepaskan cengkramannya di dagu Kyra dengan kasar, membuat dua temannya yang lain ikut tertawa. Kyra mendesis diam seperti biasa, dalam diamnya kerap kali dia tersenyum sinis tanpa disadarinya. 'Balas budi p****t kau kotak! Enak saja kalau bicara. Siapa bilang aku mendapatkan ini dengan percuma, sudah lupakah dia, kalau aku bahkan kerap kali dijadikan babu oleh orang tuanya.' "Ingat, lima menit. Di tempat biasanya anak-anak berlatih renang." Tara tertawa meremehkan, lalu pergi ke gedung yang menyediakan tempat untuk berlatih renang. Tempat yang hendak digunakan untuk melakukan sesuatu pada kakak yang dibencinya itu. "Ada apa dengan lima menit itu, dulu mamanya sekarang anaknya. Tidak bisakah dia memandang waktu yang lain, satu jam misalnya." Kyra menggerutu kesal, dia kembali berjalan tergesa menuju ruangan dosen, tidak begitu perduli dengan perkataan Tara, karena dia sudah tahu, tidak akan bisa sampai di sana dalam waktu lima menit. Bayangkan saja, perjalanan menuju ruang dosen saja memakan waktu dua menit, belum lagi menuju tempat yang dimaksud tadi--bisa hampir sepuluh menit dia baru sampai. Itu pun masih untung kalau sang dosen tidak mengajaknya mengobrol atau meminta tolong sesuatu. "Kyra." "Iya, Pak?" Kyra kembali membelokkan badannya saat dosennya itu memanggil namanya. "Jangan diulangi lagi tidur di kelas saya, kalau kamu tidak ingin mendapatkan tugas yang lebih berat." Kyra mengangguk, dan mengucapkan terima kasih. Iya, ini keteledorannya tadi yang masih sempat tidur di dalam kelas. Mau bagaimana lagi, badannya terasa capek setelah mengerjakan tugas rumah malam-malam. Dirinya benar-benar bagaikan Cinderella, tapi yang ini tanpa pangeran. Menyedihkan. Kyra bergegas menuju tempat yang disebut adiknya tadi. Dia harus segera ke sana untuk melakukan sesuatu entah apa itu, yang pasti firasatnya mengatakan, itu bukanlah hal yang baik. Dalam perjalanan menuju ke sana, dia malah tidak sengaja bertemu Alif dan Randai, lelaki yang katanya dari Klan Serigala itu hanya diam saja memandangnya, sedangkan Randai, dia menyapanya singkat. "Mau ke mana, Ra? Buru-buru sekali." "Ada sesuatu, Ran." Kyra nyengir lebar dan meneruskan perjalanannya yang kadang-kadang diselingi dengan lari. "Kasihan gadis itu, seharusnya dia bisa menempuh waktu secepat kita ya, Lif." Alif hanya diam memandang kepergian Kyra, kedua bahunya mengendik, tanda dia tidak begitu perduli. Sesampainya di tempat yang dituju, Kyra mengatur napasnya perlahan, dia menutup pintu sebelum berjalan menuju adiknya itu. "Telat banyak sekali, Kak." Tara mencibir, melihat dengan pandangan senang ke arah kakaknya yang sedang kelelahan. Gedung ini kosong, jarang dimasuki kecuali kalau sedang ada kelas atau latihan. Itu pun hanya di jam-jam khusus, jadi wajar kalau di dalam sana hanya ada mereka berempat. Ditambah lagi, gedung ini memang sengaja tidak dikunci saat perkuliahan aktif, tapi saat sudah menjelang malam, petugas yang menjaga akan melakukan pengecekan dan menguncinya setelah itu. "Kamu mau apa? Aku ada urusan lain, Tar." "Kalung pemberian mama jatuh di dalam kolam, Kak. Minta tolong ambilkan ya." Kyra memandang wajah adiknya itu dengan pandangan tidak percaya. Apa katanya tadi? Minta tolong? Didengar dari lubang hidung pun, hal itu sangat mustahil. "Kamu kan bisa berenang, kenapa nggak diambil sendiri." "Aku mana mau basah. Pokoknya Kakak harus ambilkan, atau kejadian semalam akan terulang lagi." Heh! Kyra mengembuskan napas kesal, dia menaruh tas selempangnya yang usang itu di kursi istirahat yang disediakan di pinggir kolam. Baiklah, Si manja Tara sudah merajuk, dia tidak ada pilihan lain. "Di sebelah mana?" "Aku tidak tahu, kalau aku tahu, tidak mungkin aku mencarinya. Tapi tadi aku bermain di sana." Tara menunjuk ujung kolam. Setelah mengambil ancang-ancang dan mengikat rambutnya asal, Kyra mulai menyeburkan diri di dalam kolam, mencoba menyusuri setiap lantai yang tadi dimaksud Tara, tanpa tahu kalau dia sedang dikerjai, dan bahkan hendak dibunuh secara perlahan. Tanpa tahu, kalau ternyata ada yang mengintai dengan senyum sinis yang mengawasi ke empatnya. "Di mana, Tar?" Kyra mengawasi sekitar dengan teliti, dia kembali melongokkan kepalanya ke atas untuk mengambil beberapa udara sekaligus bertanya. "Di sana pokoknya, cari lagi." Tara bersama teman-teman berjalan mengendap mendekati tuas yang digunakam untuk menutup permukaan kolam. Secara perlahan, mereka bertiga menariknya begitu melihat Kyra kembali menyelam, sampai akhirnya berbunyi. Klang! Itu bunyi yang ditimbulkan saat tuas ditarik ke bawah, membuat beton berbentuk persegi keluar dari celah-celah kolam. Menutup secara perlahan. Kyra yang mendengar bunyi itu segera mendongakkan kepala, terkejut melihat sekitarnya semakin gelap. "Tara! Apa yang kamu lakukan?!" Kyra panik, dia hampir saja menjerit. Dengan cepat dia hendak berenang ke tepi, tapi tidak mungkin, setiap tepi kolam ini sudah keluar beton penutup kolam, jika dia nekat untuk naik saat beton semakin mendekat, dia bisa saja mati terjepit, lebih parahnya tubuhnya bisa terpisah. "Yah, itu hukuman karena pagi tadi kamu tidak menyiapkan sarapan dengan benar. Ah iya, satu lagi, karena kamu sekarang lebih dekat dengan Randai, aku tidak suka kamu terlalu dekat sama dia. Sekarang, nikmati saja rasa sakitmu!" Sialan! Kyra benar-benar ingin mengumpat rasanya. Dia harus memutar otak untuk keluar dari sini. Nyawanya dalam bahaya, beton di atasnya semakin merapat mendekat satu sama lain, tapi berdiam diri di dalam sini sama saja membunuhnya secara perlahan. Kehabisan oksigen atau bahkan mati membeku karena kedinginan. "Tara, kamu yakin melakukan ini, dia bisa mati di dalam sana." Temannya yang berambut coklat itu menatap ke arah Kyra khawatir, bahkan gadis itu nyaris sudah tak terlihat. "Tenang saja, setengah jam lagi kita ke sini. Dia tidak akan mati. Kakakku itu bisa bertahan bahkan lebih buruk dari ini." Tiga remaja perempuan itu melenggang pergi, salah satunya yang bernama Tara bahkan tertawa senang, seolah sudah mendapatkan diskon beli satu gratis tiga. Sedangkan Kyra, dia terus berjuang mengambil udara sebanyak-banyaknya. Dia tidak bisa kembali ke tepi atau sekedar mengambil handphone-nya. Beton di atasnya sudah tertutup sempurna. Menyisakan dirinya yang ada di dalam dengan tubuh basah dan tinggi air yang sampai di lehernya, karena posisinya yang sedikit berjongkok, ditambah lagi pasokan oksigen yang terus berkurang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN