Empat remaja berbeda klan itu mulai menuruni tangga perlahan, Randai berada di depan dan Alif di belakang, di tengah-tengah mereka ada Lea dan Kyra. Gadis Fairy itu berjalan tepat di belakang Randai, memang sengaja, sekarang mereka tidak terlalu mendekatkan Kyra dengan Randai, meski di setiap perjalanan mereka selalu terlibat dalam perdebatan tidak penting.
Set!
Sebuah panah mampu ditangkap Randai. Hampir saja mengenai Lea, bisa-bisa gadis itu tinggal nama saja nanti, jika panah dengan ujung runcing ini sampai menembus kepalanya.
Lea tang memekik kaget langsung membungkam mulutnya begitu tahu apa yang sedang dipegang Randai. Mereka tidak tahu dari mana asal datangnya panah ini, dan dari mana mereka di serang. Sisi kanan-kiri mereka hanya tembok. Bagaimana mungkin ada yang menyerang. Kalau pun dari atas menara melalui jendela, panah itu tidak mungkin melesat dari samping gadis itu. Mustahil.
"Kamu tidak apa-apa, Lea?" Randai memastikan kondisi sahabatnya. Gadis itu menggeleng pelan. Memberi tahu kalau kegesitan Randai telah menyelamatkan nyawanya.
"Bagaimana mungkin ada panah melesat dari samping?"
"Awas, Ran, di samping kirimu."
Set!
Sekali lagi, Randai sigap menangkap. Kali ini bukan berasal dari samping Lea melainkan dari samping Randai.
"Kita harus bergegas turun. Sepertinya ada jebakan di tangga ini. Cepat!" Alif memerintah dari belakang. Tiga teman yang ada di depannya mengangguk mantap dan mulai mempercepat langkah untuk segera turun dari bawah. Kyra bahkan tidak lagi memperdulikan rasa takutnya karena makhluk astral, ada yang lebih ia takutkan sekarang .... Serangan dari makhluk hidup seperti dirinya. Mereka lebih mematikan daripada hantu.
"Akh!" Kyra terkejut, tiba-tiba saja tangan Alif berada di depannya dengan panah yang berhasil ia pegang. Tubuh gadis itu ditarik ke belakang saat panah tajam itu hampir menembus kepalanya.
"Hati-hati, Ra."
Kyra mengangguk. "Terima kasih."
Lelaki dari Klan werewolf itu mengangguk, dan meminta mereka untuk segera bergegas menuju ke bawah. Mereka baru melewati setengah dari tangga ini, masih ada setengah lagi yang harus mereka tempuh. Langkah mereka juga harus diwaspadai, karena bagian kiri mereka adalah aula kastil yang lumayan dalam, tidak ada pegangan di samping kiri tangga ini. Sedikit saja tidak memperhatikan langkah dengan benar, maka tulang akan patah saat membentur kerasnya lantai. Masih untung jika hanya patah, kalau lebih dari itu ... sudah tamat riwayatnya.
Lea ikut berkonsentrasi, dia memakai kekuatan Klan Fairy-nya untuk melewati tangga ini. Matanya berpendar kuning, tapi dia tidak mengeluarkan sayap. Tapi ini cukup membantu ketangkasannya untuk menghindari panah-panah yang terus menghujam ke arah mereka. Jumlahnya semakin lama semakin banyak. Kyra sudah sangat kualahan, beruntung Alif juga tidak kalah tangkas, lelaki itu masih bisa menangkap panah-panah itu.
"Randai, lebih cepat!" Alif berteriak dari atas sana.
"Sudah kulakukan."
"Ah sial! Seharusnya aku bisa mendarat dengan cepat menggunakan sayapku, tapi ruangan ini terlaku sempit. Sayapku tidak bisa mengepak." Lea ikut kesal. Mereka seolah-olah memang sengaja dijebak di sini, di bunuh dengan menggunakan panah-panah sialan ini. Sempurna sekali strateginya.
"Apa kita harus menggunakan kekuatan kita? Aku bisa melakukan teleportasi dengan membawa kalian."
Alif terlihat berpikir. "Baiklah. Lea kamu pegang Randai, Kyra--"
"Aaa." Kyra memekik, dirinya terpeleset saat menghindari panah yang melesat hampir mengenainya. Tubuhnya tergantung di tangga dengan tangan yang memegangi anak tangga.
"Kyra!" Lea memekik, dia hendak ikut menolong, tapi langsung mundur ke belakang, hampir saja terkena panah. Alif juga demikian, panah-panah ini seolah tahu apa yang hendak mereka lakukan, setiap kali Alif menunduk untuk mengangkat Kyra ke atas, setiap itu pula panah tersebut melesat ke arahnya.
"Randai, bawa Lea turun, aku akan menangani Kyra di sini."
"Tapi--"
"Cepat!"
Lea menggeleng, dia tidak ingin meninggalkan dua sahabatnya yang tengah berjuang menghadapi maut. Lihatlah panah-panah tajam itu. Terus bermunculan menyerang mereka.
Randai tidak punya pilihan lain, lelaki vampir itu langsung menarik Lea dengan cara memegang perutnya dan membawanya ke bawah. Melakukan teleportasi sambil menghindari serangan anak panah, terus melesat ke bawah meninggalkan dua orang berbeda kelamin di atas sana yang tengah berjuang hidup.
"Alif, aku takut!" Kyra menangis histeris, rasanya dia sangat lelah dengan kondisi ini, kenapa selalu dia yang merepotkan temannya, selalu dia yang berada dalam ambang kematian.
"Jangan lihat ke bawah, Ra." Masih gesit menghindar dan menangkap panah-panah ini, Alif berusaha menunduk menggapai tangan Kyra. Gadis itu masih berusaha bertahan, tapi sepertinya tidak akan bertahan lama. Terlihat sekali dengan ringisan yang ke luar dari wajahnya. Menunjukkan kalau dia sudah tidak kuat berpegang pada tangannya.
"Aku tidak kuat, Lif!"
"Sebentar! Tahan, Ra."
Sial! Alif benar-benar ingin menyimpan rasanya, dia benar-benar merasa marah. Kenapa panah-panah ini masih saja ke luar dan tidak memberinya ruang sama sekali.
Craakk!!
Suara tusukan yang terdengar dibarengi pekikan kesakitan dari Kyra, gadis itu melihat ke bawah, kakinya kena tusukan panah, tidak sampai menembus, tapi sakit luar biasa. Pandangannya berkunang, bukan karena ingin pingsan, melainkan karena takut melihat betapa tingginya dirinya bergelantung di atas sini.
"Jangan lihat ke bawah, Ra!"
"A ... aku sudah tidak kuat lagi." Dengan air mata berurai tangan Kyra yang berusaha memegang anak tangga terlepas, membuat Alat langsung meneriaki namanya.
Grap!
Syukurlah lelaki ini menangkapnya di waktu yang tepat, kalau tidak ... mungkin gadis itu tidak bisa lagi menemani perjalanan mereka nanti.
"Aku memegangmu, Ra. Jangan takut."
Gadis itu menggeleng. Tangannya sakit rasanya, kakinya yang sebelah kanan juga demikian, sakit luar biasa. Darah mulai merembes di kakinya, menetes ke arah bawah. Di bawah sana Randai juga bisa merasakan betapa lezatnya aroma darah dari Kyra, matanya terus terpejam menahan gejolak napsu ingin mereguk nikmatnya kembali. Tapi dengan sekuat tenaga dia tahan. Jangan sampai ia menyesal untuk kedua kalinya.
"Kamu kenapa, Ran?" Lea bertanya khawatir, karena Randai yang terlihat seperti menahan sakit. Lelaki vampir ini hanya menggeleng. Dia memilih tidak menjawab apa yang terjadi, tidak ingin Lea tahu kalau Kyra sebenarnya terluka. Tidak mungkin gadis itu baik-baik saja jika darahnya sampai menetes di sini.
"Alif."
"Iya, Ra. Tahan, aku sedang berusaha menarikmu." Dengan sekuat tenaga lelaki werewolf itu menarik tubuh Kyra ke atas. Berusaha untuk menyelamatkannya.
Air mata Kyra semakin deras ke luar, bukan karena dia semakin takut mendekati ajal, melainkan terharu dan kecewa pada dirinya karena lagi-lagi membuat sahabatnya terluka.
Lihatlah di sana. Di baju Alif yang robek, di bagian bahu. Ada sedikit lembab yang lengket di sana. Kyra tahu itu darah. Lelaki ini terluka karena terkena goresan panah, hanya menggores, tidak sampai menancap. Tapi tetap saja itu luka.
"Lepaskan aku saja, Lif."
"Tidak!" Alif menjawab cepat, kedua alisnya bertarung. Dia tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan Kyra. Itu bukan pilihan yang baik. Hanya akan membawa duka.
Craak!!
Satu tusukan panah berhasil menembus kulit Alif, menancap pada bahu kekar itu. Lelaki ini sempat meringis, tapi hanya sebentar. Tangannya masih berusaha menarik Kyra ke atas, meski sakit juga menjalari lengannya. Darah lelaki ini juga mengalir di tangannya. Menetes hingga mengenai wajah cantik Kyra. Gadis ini masih berurai air mata, dan sekarang ... ditambah dengan tetesan darah dari Alif.
"Arrghh!!" Dengan pekikan keras yang ke luar dari mulut Alif, lelaki ini berhasil menarik Kyra atas. Mereka hampir terjerembab dan jatuh menuruni tangga. Untung saja lelaki ini sigap, sehingga dia berhasil membawa Kyra dalam lingkungannya.
"Aakk!"
Satu panah berhasil mengenai punggungnya. Lelaki dari Klan Lycanthrope ini hanya meringis pelan sebelum membawa Kyra dalam gendongannya. Dan dia berusaha berdiri perlahan. Setelah merasa lebih baik, dia segera berlari dengan cepat, menghindari panah dan terus berlari ke bawah. Mereka berhasil sampai. Meski dengan luka dan darah di sekujur tubuh.
Alif menurunkan Kyra perlahan, dia memandang ke atas memastikan sesuatu. Ternyata benar dugaannya, puluhan atau ratusan panah yang terus ke luar tadi sudah menghilang. Hening seperti sedia kala. Seperti tidak terjadi apa pun. Di bawah sini, di aula tempat mereka berpijak sekarang, puluhan atau mungkin ratusan panah tergeletak berserakan.
"Ra? Ya ampun!" Lea memekik begitu melihat kondisi dua sahabatnya ini. Pantas saja Randai terlihat menahan kesakitan, rupanya lelaki vampir ini sedang menahan gejolak napsu untuk mencicipi darah Kyra. Indra penciumannya tajam dalam hal ini. Tapi itu usaha yang bagus. Tidak tahu kalau ke depannya, mereka harus segera membalut luka sahabatnya, atau semua akan semakin kacau.
"Ran, bantu aku melepas ini." Alif meringis menahan sakit di punggungnya, ada anak panah yang menancap di sana. Randai yang dipanggil segera menoleh, dia beberapa kali terlihat menggelengkan kepala menahan pemikiran yang muncul saat merasakan betapa lezatnya darah sang sahabat. Matanya beberapa kali terlihat semerah darah, lalu berubah normal lagi. Terus begitu sampai Alif memanggilnya.
"Aku cabut secara langsung atau pelan-pelan."
"Kalau kamu ingin membuatku semakin sakit. Opsi kedua bisa kamu lakukan." Begitulah Alif, dengan mulut pedasnya dia meminta tolong tidak sopan. Randai hanya meringis saja, bukan karena takut, melainkan karena merasa konsentrasinya tidak utuh, terbagi sana-sini.
"Tahan. Aku akan menariknya."
"Aakk!" Alif langsung memekik, terkejut karena Randai yang tiba-tiba menarik panah itu.
"Kamu bilang akan menariknya!" Alif hendak protes matanya menatap tajam Randai, tetapi lelaki vampir itu hanya mengangkat kedua bahunya sambil menunjukkan panah yang sudah berhasil ia ke luarkan.
"Yang ini mau kutarik sekalian." Randai menyentuh panah yang menancap di lengan Alif, memainkannya sebentar sebelum tangannya terkena tepisan dari lelaki werewolf itu.
"Tidak usah, sudah cukup. Terima kasih."
"Sama-sama." Randai berjalan mendekat ke arah Kyra, tidak sampai dekat, tapi ia masih bisa melihat Kyra yang menahan sakit di bagian kakinya.
"Randai, coba kamu tarik panah ini. Aku tidak berani."
Randai menggeleng. "Aku juga tidak berani, Le. Resikonya besar kalau aku nekat mendekati Kyra. Tunggu saja Alif menyembuhkan diri. Maaf Ra, aku tidak bisa membantu."
Kyra menatap Randai dengan wajah meringis menahan sakit. Gadis itu hanya membalas dengan anggukan saja menanggapi perkataan Randai.
Di sebelah kiri tidak jauh dari Kyra Alif tengah berusaha mengeluarkan panah itu. Baru disentuhnya saja sudah merasa sakit, lalu bagaimana jika ia tarik sendiri. Akankah lebih sakit dari yang Randai lakukan tadi.
Sambil meringis, Alif memegangi panah ini dengan kenang, dan dengan pekikan keras, ia berhasil menarik panah itu ke luar dari lengannya. Ada kelegaan saat darahnya ikut mengucur seiring dengan terlepasnya panah tersebut. Kini giliran dirinya menyembuhkan diri, setelah itu dia akan menolong Kyra, karena tanpa tubuhnya yang bugar, maka dia juga tidak bisa membantu banyak.
Melakukan konsentrasi penuh, Alif mengusap luka yang tadi menganga lebar, luka itu sudah menutup perlahan dengan sendirinya. Setelah itu dia segera mendekati Kyra, gadis itu tidak bisa melakukan penyembuhan jika benda yang menjadi sumber rasa sakitnya masih menempel.
"Tahan, Ra. Ini akan sakit." Alif menatap Kyra dengan seksama. Sedangkan Lea memegangi tangan sahabatnya itu.
Kyra mengangguk paham. Dia sudah bersiap menerima rasa sakit akibat tarikan panah tersebut. Tapi ia yakin, ada kelegaan nanti saat benda ini berhasil dilepaskan.
Alif mencengkeram erat panah yang menusuk tersebut. Lalu kemudian menariknya cepat, membuat gadis ini langsung memekik keras, bahkan kakinya sampai bergetar setelahnya.
"Sudah, Ra."
Kyra menoleh, menatap kakinya yang dirembesi darah begitu banyak. Tepat di tempat panah tadi menancap. Pandangan matanya lalu beralih menatap Randai, lelaki itu juga menolehkan kepala. Menghindarkan tatapan matanya pada warna merah yang mengalir di kaki Kyra.
"Mau kubantu dengan darahku." Alif bersiap merobek kulitnya lagi di bagian telapak tangan. Tapi dilarang oleh Kyra. Gadis itu menggeleng. Dengan sisa air mata dan menguspnya pelan. Perlahan tangannya menyentuh kakinya yang terluka, matanya terpejam berkonsentrasi menyembuhkan luka yang masih basah. Perlahan ... darah sudah tidak ke luar dari sana, disusul regenerasi jaringan lainnya, dan yang terakhir bjaringan kulit yang rusak itu saling menyulam, baru setelahnya luka itu sembuh seperti sedia kala. Cukup lama Kyra melakukannya, karena lukanya yang cukup dalam. Bahkan setelah selesai dirinya sampai tersengal dan napasnya memburu. Tapi itu bukan masalah, kondisi kakinya sudah membaik saat ini.
"Terima kasih kalian sudah melindungiku." Mata Kyra berkaca, dia sangat bersyukur dikaruniai teman seperti mereka. Meski pun berbeda Klan dan bukan manusia biasa, tapi mereka punya kepedulian yang tidak kalah baik.
Tiga sahabat itu mengangguk, membantu gadis itu berdiri, mereka harus ke luar dari sini. Yah ... pikirnya ini akan mudah, tapi mereka tidak tahu kalau di balik kejadian tadi sudah ada yang menanti mereka di dalam kastil ini. Bersiap menyambut tamu tak diundang.
***