Pintu kayu yang menjadi tempat masuk kastil ini berderit pelan. Tapi terdengar mengerikan di telinga Kyra, berbeda dengan teman-temannya yang lain. Mereka terlihat santai berjalan memasuki kastil tua tersebut.
Braakk!!
Kyra langsung memekik keras saat pintu kasti ini tertutup, bahkan dirinya sempat terlonjak karena kaget.
"Santai, Ra. Nikmati saja." Randai terkekeh pelan.
"Santai bulumu rontok! Ini mengerikan, bagaimana kalau tempat ini berhantu?"
Randai mengangkat kedua bahunya. "Bukan masalah besar. Aku bisa teleportasi. Oh iya, Ra, aku benahi kata-katamu ya. Aku tidak punya bulu, di sini yang berbulu hanya Alif. Jadi ... bulu apa yang kamu maksud tentang aku?" Lelaki vampir itu memainkan kedua alisnya menggoda Kyra, sedangkan gadis itu melihat tubuh Randai dengan seksama. Pandangan matanya langsung berhenti pada ....
"Hey ... hey ... hey ... kamu m***m sekali ternyata, Ra."
Kyra membeliak. "Tidak! Siapa bilang. Aku tidak memikirkan atau melihat apa pun di tubuhmu."
Randai tertawa keras, membuat dirinya langsung terkena pukulan dari Lea. Tepat di lengannya. Mereka berempat terus berjalan meski diselingi dengan obrolan.
"Jaga sikap, Ran! Masih saja suka bercanda." Lea melotot ke arah Randai.
"Maaf, Le, sahabatmu yang satu ini memang lucu."
Langkah kaki mereka terus masuk ke dalam. Di belakang mereka, pintu sudah tertutup rapat. Entah mereka bisa ke luar atau tidak nanti dari sini. Tapi yang pasti, tempat ini bersih, tidak ada bau lembab di dalam kastil ini. Kalau memang sudah lama kosong, harusnya tempat ini berdebu dan kotor, apalagi sepertinya udara susah masuk ke dalam. Seharusnya ketika pintu terbuka mereka sudah disajikan bau lembab ruangan ini, tidak mungkin akan menyuguhkan tempat terawat seperti ini.
"Sepertinya tempat ini ada yang menghuni. Bersih sekali."
Alif mengangguk. Dia berjalan ke sebelah kiri. Matanya yang bisa berfungsi dalam gelap bisa melihat dengan jelas. Di dalam kastil ini memang gelap. Hampir tidak ada celah untuk cahaya masuk. Tapi di beberapa sudut dindingnya ada tempat seperti obor. Mungkin untuk pencahayaan.
"Ra, kondisimu sudah membaik? Apa masih lemas seperti tadi?" Lea menyentuh pundak Kyra, dia merasa khawatir karena gadis itu terus saja diam setelah berdebat dengan Randai tadi.
"Aku baik, Le. Setelah bangun dari tidur, kondisiku kembali pulih. Sepertinya memang butuh istirahat untuk memulihkan diri."
Lea mengangguk, dirinya kembali mengamati sekitar seperti yang lain, memeriksa apa yang ada di dalam kastil ini. Tapi sejauh mereka mencari tahu, semuanya hanya kekosongan yang mereka dapatkan, tidak ada apa pun. Kalau memang bangunan ini kosong, kenapa kondisinya bagus? Seharusnya ada debu, sarang laba-laba--kalau semisal ada, atau apa yang bisa membuat kastil tua ini terlihat lebih mengerikan karena sudah lama ditinggalkan dan dibiarkan tidak terurus. Tapi ini ... hanya bentuk bangunan luarnya saja yang terlihat berantakan. Tapi di dalamnya terawat dengan baik.
"Di luar tadi kita melihat dua menara bukan. Di mana tangga menara itu? Aku ingin lihat ... setinggi apa kastil ini berdiri." Randai celingak-celinguk mencari keberadaan tangga yang belum mereka temukan sampai sekarang. Ruangan yang mereka masuki memang hampa, tidak ada perabotan apa pun. Di dalam kastil ini seperti aula dengan ukuran besar, dan ada tembok pembatas yang hanya membatasi tidak ada seperempatnya ruangan ini, bahkan bentuknya saja sedikit melingkar. Desain yang aneh memang.
"Kamu mau apa, Ran? Jangan ngawur, kita ini sudah tidak sopan karena memasuki kastil orang tanpa izin." Kyra menegur Randai untuk mencegah rasa penasarannya yang semakin jauh.
"Tenang, Ra. Katamu kastil ini kosong, itu berarti penghuninya sudah pergi, jadi memang tidak seharusnya kita meminta izin. Memangnya mau minta izin sama siapa hayo? Ilalang yang bergoyang? Jangan bercanda, Ra." Randai terkekeh kecil.
"Bercanda kepalamu simetris, Ran! Aku serius!" Kyra mulai geram, siapa yang bercanda, siapa yang dikatain.
"Oke ... oke ... aku salah. Woman always right, okay!"
Kyra mencebik, bukan itu maksudnya. Ah sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan randai, hanya akan membuat tensi darahnya naik saja.
"Randai benar, Ra. Kita harus menemukan menara itu. Dari ketinggian di atas sana, bisa membantu kita dalam perjalanan nanti. Kita bisa lihat, sejauh apa hutan ini perlu ditelusuri, sejauh apa perjalanan kita nanti. Mungkin itu bisa mempermudah kita." Alif menjelaskan dengan santai, tidak lupa disertai senyum tipis di wajahnya.
Kyra mengkerut-kerutkan bibirnya. Dia tidak tahu harus menanggapi apa. Sebenarnya bukan maksudnya mendebat Randai, tapi dirinya terlalu takut menjelajah di sini. Bangunan ini sudah terlihat seram dari luar, ditambah lagi di dalamnya yang sangat sepi, belum lagi letak tatanan ruangan yang terlihat aneh--juga kondisinya. Ah ... itu membuat Kyra semakin bergidik saja, lalu untuk apa mereka terus penasaran dengan kastil ini. Tapi katanya untuk memudahkan perjalanan mereka, kalau untuk itu, Kyra tidak bisa berbuat apa pun. Dia tidak boleh egois dengan mengedepankan rasa takutnya.
"Ayo kita berpencar mencarinya."
"A ... aku tidak mau berpencar!" Kyra langsung menolak cepat ajakan Alif, gadis itu memang merasa tidak nyaman di sini. Entahlah ... entah apa yang ia rasakan.
"Baiklah, kamu bersama Lea, tapi tetap mencari, aku dan Randai juga akan berpencar mencari keberadaan tangga atau apa pun yang bisa membawa kita ke menara."
Kyra mengangguk menerima usulan Alif, itu bukan ide yang buruk, jauh lebih baik daripada dirinya harus berjalan sendirian mencari tahu jalan menuju menara--yah ... meski pun tidak benar-benar sendiri karena mereka masih berada dalam satu ruangan. Tapi tetap saja, tanpa ada salah satu di sampingnya, Kyra akan merasa takut.
"Kamu aneh sekali, Ra. Tumben-tumbenan kamu penakut seperti ini. Padahal kita dalam satu ruangan." Lea mencibir sahabatnya itu sambil terkekeh kecil. Apalagi saat melihat lengan Kyra yang sangat kuat menempel di tangannya semenjak mereka berpencar ini.
"Kastil ini memang mengerikan, Le. Kita tidak tahu sejarah apa yang tersimpan di masa lalu. Bisa saja tempat ini adalah tempat jagal." Pandangan Kyra mengamati sekitar dengan seksama.
"Iya, memang jagal. Jagal daging sapi, atau kambing mungkin--ah, aku belum menemukan hewan-hewan itu di sini."
Kyra menatap sahabatnya yang tengah membayangkan hewan-hewan itu.
"Lagi pula, Ra. Mana ada tempat jagal sebersih ini. Lihat! Tidak ada bau anyir atau benda yang dibuat untuk melakukan itu, jadi ... aku rasa tempat ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan."
Kyra masih saja menatap Lea yang terus mengoceh menjelaskan tentang bangunan ini, berlagak dialah yang paling tahu, walau pun sebenarnya dia melakukan ini untuk meyakinkan Kyra agar tidak merasa takut terus.
"Jangan bengong, Ra. Itu sangat berbahaya kalau kita sedang berada di tempat sepi begini. Yah ... kamu tahulah maksudku."
Gadis itu langsung memukul pelan lengan sahabatnya. Melotot pelan sambil menyebut namanya. Percuma saja dong, dia meyakinkannya tadi, kalau pada akhirnya di hempaskaskan di lubang rasa takut yang sama.
"Aku hanya bercanda. Ayo, Ra, kita juga harus fokus menemukan jalan itu. Kasian dua lelaki itu yang begitu serius mencari tahu." Lea menunjuk ke arah Alif dan Randai. Dua lelaki itu begitu serius mencari, sesekali kepala mereka bahkan mendongak ke atas, memastikan seumpama ada lubang atau apa pun yang bisa dilewati. Alif juga meraba-raba tembok, barangkali ada sesuatu atau kunci yang bisa membawa mereka ke menara, seperti caranya tadi yang tak terduga bisa memasuki tempat ini. Menara itu pasti bisa dipijaki, tidak mungkin hanya sekedar hiasan saja. Randai juga tidak kalah serius, meski terkadang lelaki itu konyol mencarinya, dengan sesekali melompat dan mengetuk lantai kastil, entah apa yang dilakukan lelaki vampir itu.
Lea dan Kyra juga tidak berhenti mencari, meski pun dalam keadaan bersama dengan Kyra yang terus saja menempel, mereka berdua berusaha mencari jalan itu.
Entah sudah berapa lama mereka berpencar mencari tahu jalan menuju menara, tapi hasilnya nihil, tidak ada petunjuk apa pun yang bisa PP temukan.
"Hey, lihat ini! Aku menemukan sesuatu!" Randai berseru dari tempatnya berpijak sekarang. Lelaki itu hanya terlihat kepala dengan rambut hitamnya saja, karena tubuhnya yang tertutup tembok.
Teman-temannya yang lain ikut mendekat, penasaran apa yang ditemukan lelaki vampir ini. Semoga saja bukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk bercanda. Kalau sampai itu terjadi, Kyra pasti akan menjitaknya nanti.
"Ada apa, Ran?" tanya Alif begitu dekat dengan posisi Randai.
"Kalian menyadari tidak. Tembok ini sepertinya dibangun dengan tujuan menutupi sesuatu. Seperti ini misalnya." Randai menunjuk tanjakan yang membentuk seperti tangga. Melingkar dan menyatu dengan tembok sampai berada di ujung atas.
"Kamu benar. Ini jalannya menuju menara itu. Tapi untuk apa ditutupi?" Alif bertanya yang teman-temannya sendiri juga tidak tahu jawabannya.
"Eh ... eh, kamu mau ke mana, Lif?" Kyra sedikit kaget saat Alif sudah menginjakkan kakinya di anak tangga pertama.
"Tentu saja naik ke atas. Memang ini kan tujuan kita."
"Ta ... tapi ...."
"Ayo, Ra. Tidak apa-apa. Cobalah untuk melawan rasa takutmu. Ini tidak seburuk yang kamu pikirkan."
Setelah mengatakan itu, Alif kembali memanjatkan kaki di atas tangga, dia juga harus tahu apa yang ada di atas sana.
"Ayo, Ra. Kamu akan semakin takut kalau berada di bawah." Lea malah terkikik dan melepaskan pegangan Kyra, menyusul Alif dan Randai yang lebih dulu menaiki tangga. Sengaja gadis itu melepaskan cengkraman Kyra, karena tidak mungkin mereka berdua menaiki beriringan, karena tangga itu hanya muat untuk satu orang saja.
Menara ini lumayan tinggi, ditambah lagi bentuk tangga yang melingkar dan terlalu mepet ke tembok mengharuskan mereka untuk berhati-hati menanjaknya. Bisa saja memang, mereka menggunakan kekuatan mereka untuk bisa sampai ke atas. Tapi lagi-lagi tidak bisa meninggalkan Kyra, apalagi gadis itu yang terlihat ketakutan dari tadi. Kalau membawa pun itu tidak memungkinkan! Ingat, tangga hanya muat untuk satu orang saja.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan menguras tenaga, mereka akhirnya sampai pada ujung menara ini. Tempatnya masih sama seperti yang bawah. Kosong melompong. Di sini ruangannya jauh lebih kecil dari yang ada di bawah tadi. Ada dua jendela berbentuk seperti lingkaran di tembok. Itu cukup untuk melihat bagaimana situasi di luar sana.
Alif beranjak menuju salah satu jendela tanpa penutup dan melihat ke luar. Di sana dia disajikan pemandangan yang indah, hutan belantara yang lumayan lebat membentang di depannya. Memanjakan mata siapa pun yang melihatnya. Kalau dilihat seperti ini, itu berarti perjalanan mereka masih panjang.
Pria itu mengembuskan napas. Dia mengira ini akan segera berakhir sebentar lagi. Tapi nyatanya .... Akh! Ingin rasanya dia berteriak, di mana ujung hutan ini, kenapa seolah-olah mereka dipaksa memasuki hutan ini tanpa bisa kembali. Apa mungkin Canuto dan Zek sengaja melakukan ini? Tapi itu tidak mungkin, yang mereka ceritakan selama ini hampir sama yang pernah orang tuanya ceritakan, meski pun dua orang paruh baya yang pernah sudah membesarkan dia itu tidak bercerita secara lengkapnya.
Tapi kalau pun iya Zek dan Canuto ingin berbuat jahat. Untuk apa mereka harus repot-repot mempersiapkan ini-itu untuk keperluan perbekalan mereka? Bukankah itu malah sangat merepotkan.
"Lif, ke sini! Lihat apa yang kutemukan!"
Alif menoleh ke sumber suara, badannya berbalik dan menghampiri tiga sahabatnya yang sedang melihat ke luar jendela. Meski mereka terlihat berdesakan.
"Ada apa?"
Kyra dan Lea menoleh, mereka beranjak dari tempatnya berdiri, mundur satu langkah. Sedangkan Randai masih tetap berdiri di sana.
"Jangan bilang-bilang kamu hanya bermain-main, Ran!"
"Astaga! Tidak bisakah kalian langsung percaya padaku. Aku serius kali ini, lihat sendiri apa yang terlihat di luar sana." Randai menyingkir, memberikan Alif ruang untuk bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Pria itu maju mendekat sampai tubuh bagian bawahnya terbentur tembok. Pandangannya fokus ke depan melihat sesuatu yang ditunjuk Randai.
"Kamu lihat! Itu hutan yang baru saja kita lewati, hutan yang menguras tenaga kita."
Alif memicingkan matanya, kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah, mengangguk membenarkan perkataan Randai. Hutan itu telah mereka lewati dan sudah ditaklukkan meski tidak sepenuhnya menaklukkan si penghuni. Hutan gelap yang penuh dengan kelelawar
"Itu berarti, kita bisa dilihat dari atas sini."
Randai mengangguk mantap. "Dan kamu tahu apa yang aku pikirkan?"
Alif menoleh, menelisik wajah Randai yang terlihat serius. Pria dari Klan werewolf itu mengangguk. Kalau memang tebakannya tidak salah, yang dipikirkan Randai adalah ....
"Itu berarti, jika seandainya kastil ini berpenghuni, kita sudah di awasi dari kemarin."
Randai menjentikkan jarinya. "Tepat sekali. Melihat bagaimana kondisi kastil ini, sepertinya memang berpenghuni, bisa jadi juga tidak, kalau melihat tampilan luarnya. Tapi itu bukan masalah, siapa pun bisa merubah tampilan dari luar, kita tidak bisa menilai sepihak hanya karena melihat bagaimana tampilan sampulnya. Dan untuk mengawasi kita dalam jarak sejauh ini ...." Randai ikut mengawasi ke depan, di mana mata Alif terus memicing memandang ke luar. "Itu juga bukan perkara sulit jika penghuni di dalam kastil ini juga memiliki penglihatan setajam kamu, Lif. Mereka bisa dengan jelas mengawasi kita meski dalam jarak sejauh ini."
Alif mengangguk. Itu artinya mereka harus lebih berhati-hati di dalam kastil ini. Mereka tidak tahu ada bahaya apa yang menghadang. Tempat ini akan menjadi sasaran empuk untuk membantai mereka. Di dalam ruangan yang temaram tanpa cahaya. Hanya sorotan saja dari lubang jendela di atas menara yang mampu menyorot ke bawah. Pergerakan mereka dibatasi di sini. Tidak seperti di luar yang bisa bergerak bebas.
"Ayo kita turun. Kita harus segera ke luar dari sini."
Ah ... Alif jadi menyesal membawa teman-temannya masuk ke dalam. Kalau tahu begini akhirnya, dia akan menuruti Kyra.
***