Kastil Tua

1693 Kata
Mereka memandangi sebuah bangunan tua yang agak kusam, tidak menyangka akan menemukan bangunan seperti ini di tengah hutan belantara yang bahkan menyimpan banyak bahaya, contohnya hutan kegelapan yang dihuni para kelelawar dan Klan Banshee yang hampir membunuh Kyra. "Bangunan apa ini?" Lea menyibak ranting pohon yang menjalar di depannya. Mengamati lebih teliti pada bangunan yang terlihat tua. Sedikit kusam tapi masih kokoh berdiri. Entahlah siapa yang membangunnya, apalagi di tempat seperti ini. Bahkan ... entah ada yang menghuni atau tidak pun mereka tidak tahu. Kyra menurunkan tubuhnya dari punggung Alif yang masih dalam wujud serigala. Dia menyipit beberapa kali sambil menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk membuat dirinya bisa meraih kesadarannya kembali. "Ini kastil, Le." Alif menyahut dari belakang, wujudnya sudah berubah normal kembali, sama seperti temannya yang lain--dalam wujud manusia. "Siapa yang membangunnya? Kenapa di tengah hutan sepi seperti ini." Lea mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Agak bergidik karena kondis kastil yang terlihat mengerikan. Di sana. Di depan mereka. Sebuah bangunan kastil berdiri gagah menjulang. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Hanya ada satu menara yang menjulang lumayan tinggi, dan satu lagi hanya berdiri rendah. Di sana hanya terdapat dua menara saja. Bahkan, di beberapa bagian tembok bangunannya saja sudah ditumbuhi lumut dan tanaman jalar yang merambat di sekitar tembok kastil tersebut. Di sekitarnya tidak ada hiasan apa pun, hanya rumput yang mengelilingi kastil ini. Tempatnya agak masuk menjorok, sehingga mereka harus menuruni tanah yang mereka pijaki saat ini. Bangunan ini tua. Terlihat kusam dan sudah agak hitam kehijauan ini sedikit terlihat mengerikan. "Jangan-jangan ini kastil berhantu." Kyra bergidik ngeri saat mengingat film horor yang pernah ia tonton. Mereka tersesat di sebuah tempat yang tidak mereka ketahui, dan pada akhirnya disambut boleh mahluk halus sejenis hantu yang berwajah mengerikan. Hii ... membayangkannya saja membuat bulu kakinya berdiri. "Tidak ada hantu di sini, Ra. Kita bahkan sudah melewati hutan gelap mengerikan dengan ratusan kelelawar, tapi semua aman, tidak menemukan hantu sama sekali." Kyra hanya menatap wajah Lea yang sedang menjelaskan. Terlihat santai namun ada keseriusan di sana. "Ayo ... kita harus ke sana, kastil ini juga harus kita lewati." Mereka berjalan perlahan menuju kastil tua ini. Kyra yang ada di samping Lea mengeratkan lingkaran tangannya di lengan Lea. "Tapi kita belum pernah memasuki kastil atau bangunan sepi mengerikan seperti ini, Le. Bisa jadi ini adalah sarang terbaik para hantu." Lea tertawa. " Ada saja-saja, Ra, pemikiranmu itu, lain kali jangan melihat film horor terlalu lama. Hayalanmu semakin menjadi saja." Kyra mencebik mendengar penuturan Lea. Tapi dia tidak lagi menjawab sahabatnya, langkah kaki mereka terus berjalan mengarah ke kastil tua ini, hingga sampai di depan bangunan tua yang terlihat masih kokoh berdiri. "Ada kolam ikan di sini. Tapi tidak ikannya. Untuk apa ini dibangun?" Alif menjulurkan kepalanya pada sebuah kolam kecil yang ada di samping kastil ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup menampung ikan lumayan banyak. Di tengah kolam ini terdapat pancuran seperti wanita yang sedang membawa guci tengah menuangkan air. Yah ... masih sama seperti kolam-kolam lain di dunia manusia. Hanya saja, patung wanita yang ada di kolam ini memakai jubah yang terlihat berkibar ditiup angin. Sedangkan di dunia manusia ... patung wanita seperti ini, biasanya memakai kemben atau pakaian yunani dulu. Tidak ada yang istimewa lagi dengan kastil ini, bangunannya hanya dikelilingi pohon-pohon hutan yang menjulang tinggi. Dan rumput yang tumbuh subur di sekitarnya dengan baik. Hijau dan segar. Hanya bangunan ini yang terlihat kontras karena terlihat tidak terawat. "Apa di sini ada penghuninya?" Randai mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada yang tahu jika tidak diperiksa ke dalam, Le." "Kalian mau masuk ke dalam? Di kastil tua yang mengerikan ini?" Kyra langsung menyahut cepat mendengar ucapan Randai. Tidak penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Di luar saja sudah terlihat betapa mengerikannya bangunan ini, apalagi jika berada di dalamnya. Kyra tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nanti. Bisa jadi makhluk mengerikan seperti Banshee atau hewan yang lebih besar seperti kelelawar atau yang lainnya sudah menyambut mereka di depan sana. "Kita memang harus masuk, Ra. Ini tantangan yang seru. Lagi pula, kapan lagi kita menjelajah bangunan kuno seperti ini. Bisa jadi di dalam sana kita menemukan potongan pusaka itu--ah, atau malah menemukan harta karun yang tertimbun. Atau mungkin ada putri cantik di atas menara yang perlu kita selamatkan, seperti di film kartun biasanya. Sepertinya menarik." Randai memainkan kedua alisnya pada Kyra, tapi gadis itu malah menatap aneh pada Randai. "Pemikiranmu memang paling konyol, Ran. Mana ada gadis yang menghuni tempat mengerikan seperti ini sendirian." "Di film kartun juga begitu. Bahkan bangunannya saja dijaga beberapa makhluk mengerikan." Kyra berdecak. "Yah ... setidaknya gadis itu bisa saja kabur dari sini, karena tidak ada yang menjaga tempat ini. Memangnya siapa yang mau tinggal di tempat seram begini." Randai tertawa. Kyra masih saja bersikeras tidak ingin memasukinya. "Ra, bangunan ini sudah berdiri di sini. Itu artinya pernah dihuni seseorang." "Pernah dihuni tapi bukan berarti sampai sekarang masih dihuni, bukan." Randai mengangguk. "Yah ... kamu benar. Maka dari itu kita harus memeriksa." Randai berjalan mendekat. Dua menyentuh pintu yang terbuat dari kayu. Besar dan kokoh. Akan sangat sulit dihancurkan. Lelaki itu mencoba mendorongnya, tapi pintu ini tidak bergeser sama sekali, bahkan bergerak pun tidak. Benar-benar perlindungan yang sangat kokoh. "Apa kita perlu menghancurkannya, Lif?" Alif menolah ke arah Randai yang masih berusaha mendorong pintu kayu tersebut. Tempat masuknya kastil tua ini. "Jangan. Bisa jadi ini bangunan bersejarah di Klan ini. Kita tidak tahu pasti, jadi tidak bisa berbuat sembarangan." Randai mengangguk menanggapi. Dia sekarang mengusap pintu ini. Jika diamati dengan seksama, pintu besar ini ada ukirannya ternyata. Tidak begitu kentara karena halus sekali. Sudah begitu tempatnya juga agak kedalam, yang dinaungi tembok dan atap kecil. Tentu saja tidak terlihat terlalu jelas. Sedikit gelap. Randai bisa tahu hal ini karena dia mengamatinya dengan seksama dan dibantu penglihatannya, itu pun tadi dia tidak menyadarinya. "Wah, di sini ada ukirannya ternyata. Lihat teman-teman, ada simbol aneh di sini." Kyra dan Lea langsung mendekati Randai, penasaran simbol apa yang ia temukan. "Mana?" tanya Kyra tidak melihat apa pun. Hanya kayu gelap, usang dan kokoh. "Ah iya, aku lupa. Kalian harus punya penglihatan khusus seperti aku dan Alif untuk melihat detailnya." Randai mulai menyombongkan diri. Ada tawa kecil yang keluar dari mulutnya. Alif masih saja mengamati sahabat-sahabatnya yang berkumpul di depan pintu tersebut. Jika pintunya sekuat itu, lalu bagaimana cara mereka bisa masuk ke dalamnya? Apakah ada lubang kunci di sana? Lalu apa kunci itu masih ada atau malah sudah lenyap? "Di sana ada lubang kunci tidak, Ran?!" Alif sedikit berteriak dari tempatnya duduk sekarang. Pria itu tengah duduk santai di pinggir kolam ikan. Terlihat enggan untuk beranjak. Dirinya masih betah berlama-lama di sana, sampai Randai menemukan sesuatu untuk bisa membuka pintu kayu tersebut. "Sebentar." Randai kembali mengamati dengan seksama. Menyentuh juga meraba. Tidak ada lubang apa pun yang bisa dimasukki kunci. Pintu kayu ini tertutup sempurna, bahkan ukurannya pun tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. "Tidak ada, Lif. Tidak ada apa pun." Lelaki yang tubuhnya mengalir darah werewolf ini mengangguk pelan. Tangannya kembali menjelajahi kolam ini. Mengusapnya di bagian pinggir kolam. Meski bangunan ini kusam tak terawat. Tapi kolam ikan ini bersih, tidak ada lumut yang tertinggal sama sekali. Ini sangat terlihat aneh bukan. Seharusnya, kolam ini malah meninggalkan banyak lumut di permukaan atau di dalamnya. Tapi tidak ada apa pun. Hanya batu besar yang ada ukirannya di sini. Mengelilingi sehingga membentuk sebuah kolam ikan. Alif ingin memasuki ke dalamnya, penasaran dengan patung wanita yang ada di tengah. Mungkin saja itu bisa menjadi petunjuk. Di sisi lain. Randai berusaha mendorong pintu kayu ini, bahkan dia sudah meminta bantuan Lea dan Kyra, tapi memang dasar pintunya yang kokoh, jadi tidak bergerak sama sekali, apalagi sampai bergeser. "Apa sih yang bisa membuka pintu ini tanpa merusaknya?" Randai sudah terlihat geram. Ingin sekali dia menggunakan kekuatannya dan memecahkan pintu ini dalam sekali pukul. Tapi sayang ... Alif tidak mengizinkan. Padahal jiwa penasarannya sangat besar pada apa yang ada di dalam kastil tua ini. Seperti apa di dalamnya. Dan bagaimana bentuk arsitekturnya. "Syukurlah tidak bisa dibuka. Ini artinya kita tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Kita putar arah saja. Bangunan ini tidak menjadi bagian dari cerita kita." Kyra hendak beranjak, tapi lengannya keburu dicekal Randai. "Hey! Kita bahkan belum mencoba semaksimal mungkin, Ra. Ayolah jangan takut." Randai menempelkan sebuah tangannya pada pintu kayu itu, dan tangan satunya yang memegang Kyra. Gadis itu hendak protes, sebelum akhirnya terdengar suara deritan mengerikan yang bersumber dari pintu kayu kokoh ini. Hampir saja Randai terjungkal sebelum pintu itu kembali tertutup. Hey! Pintu tadi hampir terbuka. Apa yang sudah dilakukan Randai sampai bisa menggerakkannya. "Apa yang kamu lakukan, Ran?" tanya Lea penasaran. "Tidak ada. Hanya menyandarkan tangan dan tanganku yang lain memegang Kyra--" Randai menelengkan kepalanya menatap Kyra dengan seksama. "Apa?" kata Kyra judes. "Jangan-jangan ini pengaruhmu, Ra. Atau warna mata barumu bisa menjadi sensor yang bisa membuka pintu terkunci." "Ngawur. Tidak ada, Ran. Kamu hanya berhalusinasi." Kyra mengibaskan tangannya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Randai Lelaki itu kembali mencoba membuka pintu kokoh tersebut. Tapi lagi-lagi sama seperti tadi. Tidak bergeser atau bergerak sama sekali. "Kita lakukan hal tadi." "Lakukan apa?!" Kyra memicing ke arah Randai, matanya melotot karena lelaki itu kembali menyentuh lengannya seperti tadi. "Ayolah, Ra. Aku tidak berniat jahat, hanya memastikan apa dugaanku benar atau salah." Randai meyakinkan. Akhirnya Kyra mengangguk, dia membiarkan lengannya dipegang Randai, dan satu tangan Randai ditempel di pintu kayu tersebut. Satu detik ... dua detik ... bahkan sepuluh detik, tidak ada pergerakkan sama sekali. Pintu ini masih terdiam membisu. "Dugaanmu salah, Ran." Lea terkikik geli melihat ekspresi muram Randai.  Lelaki itu hanya mengangguk pelan. Kecewa. Tapi detik berikutnya. Pintu itu terbuka lebar. Menampilkan isi di dalam kastil dengan sempurna. "Hey, aku benar!" Randai memekik girang sebelum perkataannya dipatahkan Alif. "Tidak, Ran. Aku yang melakukannya." Lelaki itu berdiri. Lalu mengusap patung yang wanita yang ada di tengah kolam. Di bagian jubah yang membentuk seperti ditiup angin tersebut ia putar pelan, membuat pintu kayu kokoh tersebut langsung tertutup, lalu kemudian dia putar lagi. Membuat pintu tersebut kembali terbuka lebar. Jadi itu kunci dari membuka pintu kayu yang kokoh ini. Alif melompat dari kolam, dia berlari kecil mendekati sahabat-sahabatnya. "Mari, kita lihat apa yang ada di dalamnya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN