Perjalanan yang seharusnya mereka tempuh akhirnya terhalang juga. Niat hati ingin cepat, tapi keadaan malah memperlambat. Serangan yang tidak pernah mereka duga tiba-tiba saja datang menghampiri. Mengacaukan perjalanan yang seharusnya lancar--ah, sebenarnya ini juga salah Alif. Dia tidak seharusnya memperlakukan Kyra sama seperti mereka. Meski terkadang gadis itu memang berbeda.
Tubuh itu menggeliat, kelopak mata yang semula tertutup itu perlahan terbuka. Mengerjap beberapa kali sebelum menelisik satu-satu wajah yang ada di depannya.
"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit." Lea langsung mencerca segala macam pertanyaan pada sahabatnya. Kyra hanya meringis pelan, mengingat sesuatu, tangannya langsung terjulur memeriksa perutnya, tapi dia tidak menemukan apa pun. Tidak ada luka robek di sana. Hanya bajunya saja yang sobek panjang di bagian perut.
"Kenapa?"
"Le, kok bisa? Bagaimana mungkin?" Kyra bertanya kaget. Dia masih ingat tadi saat dirinya merasakan sakit luar biasa di bagian perut karena luka cakaran yang ditimbulkan pria tadi. Tapi sekarang ... perutnya normal, tidak ada luka sama sekali. Bukankah dia tidak bisa melakukannya saat kondisinya sedang tidak sadar. Siapa yang menyembuhkan dirinya.
"Alif yang melakukan, dia menyumbangkan sedikit darahnya untuk kamu. Dan lukamu bisa sembuh karena dia."
Kyra mendongak menatap Alif setelah Lea selesai menjelaskan. Gadis itu tersenyum sebelum mengucapkan terima kasih.
"Tidak apa-apa."
"Jawaban apa seperti itu?" Randai memicing, tapi tiba-tiba matanya menyipit melihat sesuatu yang berubah pada diri Kyra. "Ra? Matamu?" tanya Randai terkejut. Pertanyaannya ini membuat dua sahabatnya yang lain ikut memandang ke arah mata Kyra.
"Kenapa?"
"Kamu memakai lensa?"
"Ha?" Kyra juga ikut bingung, maksudnya apa? Memangnya mereka sedang berada di dalam dunia manusia yang benda seperti lensa dan barang canggih lainnya bisa mereka gunakan. Mereka ini sedang berada di dunia Klan, yang sekitarnya saja hanya hutan belantara. "Ngawur kamu, mana sempat aku membawa benda itu di sini. Aku bahkan tidak pernah memakai dan tidak punya."
"Lalu ... itu ...."
"Randai benar, Ra. Bola mata kamu berubah warna, dia berwarna biru terang."
Kyra mengerjakan matanya beberapakali, antara percaya dan tidak. Di sini tidak ada cermin yang bisa ia gunakan untuk memastikan apa yang dibicarakan sahabatnya ini benar, tapi melihat reaksi kawan-kawannya, sepertinya mereka tidak berbohong.
"Apa kamu merasakan sesuatu, Ra. Seperti mata perih atau kesemutan?"
"Gila kamu, Ran. Mana ada mata kesemutan."
Randai mengangkat kedua bahunya. "Siapa yang tahu."
"Tidak ada. Aku merasa baik-baik saja, tidak ada yang kurang. Bahkan rasa sakit akibat luka tadi saja sudah tidak berasa--ah iya." Kyra mengingat sesuatu. Dia menggerakkan kakinya dan menyibak pakaiannya, melihat kakinya yang semula terluka, semua membaik ternyata. Lukanya sembuh total. Ini hal yang luar biasa.
"Itu juga perbuatan Alif, dia yang melakukan."
Alif hanya berdehem saja menanggapi. Kyra tahu kalau lelaki itu memang tidak akan banyak reaksi. Jadi biarlah. Sedangkan Alif menunggu ucapan terima kasih dari sahabatnya itu yang tak kunjung ke luar.
"Apa kamu tidak merasakan efek lainnya, Ra, setelah bola matamu berubah warna?"
Kyra menggeleng. Semua normal. Tidak ada yang berubah. Dia jadi penasaran, bagaimana warna baru yang menghiasi matanya sekarang. Ah ... sayang sekali tidak ada cermin di sini.
"Baiklah, kita akan melanjutkan perjalanan atau istirahat di sini dulu? Pagi baru kita berangkat."
"Kyra baru sadar, Lif, dan kamu meminta kamu untuk melanjutkan perjalanan?" Lea menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pemikiran Alif.
Lelaki serigala itu berdecak. "Aku hanya bertanya, Lea. Menawarkan, bukan mengajak. Tajamkan konsentrasimu!"
Melihat itu Randai terkikik geli. Tidak biasanya dua orang ini terlibat dalam pertengkaran.
"Kita lanjutkan perjalanan saja. Waktu yang kita buang terlalu banyak tadi. Dan itu semua karena aku." Kyra merendahkan nada bicaranya, dia merasa menyesal karena telah merepotkan.
"Jangan bicara seperti itu, Ra. Keutuhan tim sangat diperlukan di sini. Kami akan saling melindungi satu sama lain." Lea mengusap lengan sahabatnya itu.
"Lagi pula, perjalanan ini tidak akan seru kalau tidak ada halangan. Yah ... nikmati saja, anggap saja ini seperti tour wisata di perhutanan." Alif bangkit berdiri. "Jadi ... kita melanjutkan perjalanan, Nona?" Lelaki serigala ini bertanya pada Kyra dengan satu alis terangkat. Kyra yang dipanggil demikian malah terkekeh, merasa aneh rasanya.
"Iya, kita lanjutkan saja."
"Tapi ... Ra, kamu baru saja--" Lea hendak protes tapi segera dipotong Kyra.
"Aku masih kuat, Lea. Tidak apa-apa, lagi pula, Alif tidak akan mengulang hal yang sama nanti, yang akan membuat perjalanan kita terhambat." Kyra menatap Alif yang dibalas dengan anggukan.
"Tentu."
Lea akhirnya ikut berdiri, dan disusul Randai setelahnya. Kyra juga hendak berdiri, tapi dia kesusahan, meski fisiknya baik-baik saja, tapi kondisi tubuhnya masih lemah. Lea yang sigap memegangi Kyra.
"Lihat, Ra. Kamu belum pulih betul. Kenapa nekat melanjutkan perjalanan. Kita sebaiknya istirahat saja."
Kyra menggelang. "Tidak, Lea. Kita harus bergegas. Memang kita tidak diburu waktu, tapi semakin kita cepat menyelesaikan, maka itu semakin baik." Gadis ini memegang pergelangan lengan Lea yang membantu menopangnya.
"Ayo!" Alif berjalan lebih dulu baru kemudian disusul dengan yang lain. Kyra berjalan dibantu Lea. Gadis itu berjalan beriringan dengan salah satu tangan yang berada di pundak. Sedang memapah. Meski sedikit terseok, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Tidak apa meski kali ini lebih lambat, kondisi Kyra memang belum pulih benar, tapi gadis itu juga memaksakan diri untuk melanjutkan.
Alif menyibak duri tanaman yang menjalar di depan mereka. Merambati dua buah pohon yang berdiri kokoh menyambut mereka, seperti pintu gerbang saja. Kondisi hutan sudah tak serapat tadi. Kali ini lebih renggang.
Lelaki yang ditunjuk sebagai pemimpin dalam perjalanan mereka itu menoleh ke belakang, melihat bagaimana Kyra dan Lea berjalan. Dua gadis itu berkeringat. Sebenarnya Randai bisa saja menggantikan Lea. Tetapi itu beresiko. Masa kelam beberapa jam silam telah mengajarkan mereka untuk tidak terlalu ceroboh. Meski Randai adalah sahabat mereka sendiri. Sedangkan Alif ... lelaki itu sulit ditebak. Belum tentu juga dia mau menggantikan posisi Lea.
"Hah!" Kyra sedikit terkejut saat Alif tiba-tiba berubah menjadi serigala di depan mereka. Biasanya lelaki itu merubah wujudnya menjadi werewolf, saat musuh susah dikendalikan, tapi sekarang .... Ada dengan pria ini. Ukuran wujud serigalanya yang begitu besar memang selalu terlihat mengerikan.
"Kenapa, Lif? Ada sesuatu?" Lelaki dengan wujud werewolf itu menggelengkan kepala serigalanya. Dia malah melipat kakinya dan menunduk di dekat Kyra. Dua gadis itu terpekur, tidak terlalu paham apa maksud Alif.
"Kenapa?" Kyra bertanya bingung, dia bahkan menatap Randai.
"Sederhana, Ra. Alif ingin kamu menungganginya, dan dia akan menggantikan posisi Lea."
"Ha?"
"Kebanyakan 'ha' kamu, Ra, dari tadi. Buruan naik. Sebelum Alif berubah pikiran. Lagi pula kasian Lea. Sebenarnya dia lelah hendak protes, tapi tidak enak sama kamu."
Selesai mengatakan itu, Randai sukses mendapatkan pelototan dari sahabat perinya itu.
"Enak saja, aku tidak seperti itu ya."
Lelaki vampir itu hanya tertawa dan menyuruh Kyra untuk segera menaiki punggung serigala Alif.
Kyra menatap Lea meminta pendapat, dia sedikit ragu.
"Sebenarnya memang lebih baik kamu menunggangi Alif, Ra. Jadi kamu tidak perlu berjalan pelan atau bahkan terseok. Nanti kamu hanya perlu duduk manis selama perjalanan nanti--ah, setidaknya sampai kondisimu membaik seperti sedia kala." Lea menjelaskan dengan tersenyum, dia tidak ingin sahabatnya ini salah paham dan mengira dirinya tidak ikhlas atau sudah tidak sanggup memapahnya lagi. Lea hanya ingin Kyra juga merasakan nyaman.
"Tapi, Le--"
Perkataan Kyra terpotong saat sahabat perempuannya ini mendekatkan diri ke arahnya dan membisikkan sesuatu.
"Anggap saja itu permintaan maaf Alif karena sempat memarahimu tadi. Lagi pula dia suamimu, tidak ada salahnya, dan seorang istri juga harus menurut sama suami."
"Lea!" Kyra memberenggut kecil, dia menatap jengkel sahabatnya yang malah terkikik geli. Gadis dari Klan Fairy itu malah menggerakkan kepala menyuruh Kyra untuk segera naik ke punggung serigala Alif.
Dengan gerakan pelan dan ragu, Kyra akhirnya menurut. Dia dibantu Lea menaiki punggung serigala itu yang tak lain adalah temannya sendiri. Setelah dirasa aman, gadis itu sedikit menunduk untuk memegang bulu Alif. Saat Alif sudah berdiri pun Kyra malah memekik ringan. Dia agak terkejut, belum terbiasa dengan ini. Di atas tempat duduknya ini lumayan juga ternyata dengan posisi tanah yang ada di bawahnya. Alif benar-benar besar dalam wujud serigala. Kyra sebenarnya juga agak kurang nyaman. Mau bagaimana lagi. Dia menunggangi Alif tanpa pelana atau benda apa pun yang bisa menjadi ganjalan selangkangannya yang tengah mengangkangi punggung serigala itu. Dia sedikit takut jika Alif merasakan hal lain .... Yah, kalian pasti tahu sendiri tanpa dijelaskan. Apalagi penghalang yang ada hanya selembar kain tipis yang melekat di tubuhnya.
Pelan-pelan Alif mulai berjalan. Dia juga ikut menyesuaikan Kyra yang belum terbiasa menunggang di atas punggungnya. Terasa aneh juga untuk Alif karena ini adalah pertama kalinya dia melakukan ini.
"Pegang yang erat, Ra. Jangan sampai kamu jatuh nanti." Randai berceletuk di sampingnya. Perkataan itu juga ditanggapi Kyra dengan anggukan, dia sedikit menundukkan tubuhnya lagi dan memegang bulu yang dimiliki Alif, bulu halus yang berada di sekitar lehernya. Bulu ini benar-benar halus--eh? Tunggu ... sepertinya Kyra pernah merasakan kehalusan bulu ini sebelumnya. Tapi di mana ya?
"Ada yang kamu pikirkan, Ra?" Lea yang memperhatikan Kyra jadi penasaran kenapa sahabatnya itu tiba-tiba mengernyit.
"Tidak ada, Le. Hanya sedang menyamankan posisi saja." Kyra tersenyum lebar. Tapi di dalam otaknya sedang memikirkan bulu tersebut. Lea juga hanya menanggapi dengan anggukan. Mereka berjalan dengan santai kali ini--
Ah iya! Kyra ingat tentang bulu perak lembut itu. Dirinya pernah menemukannya saat hendak pulang ke rumah. Di sebuah gang sepi. Saat itu dirinya merasa ditabrak sesuatu, lalu kemudian tangannya menemukan bulu yang tertinggal di tangannya. Berwarna perak dan lembut.
Kyra memperhatikan dengan seksama bulu-bulu Alif, kadang dengan sengaja juga merabanya. Ini sangat mirip, apa jangan-jangan memang Alif pemilik bulu indah itu. Gadis yang sedang menunggangi serigala ini hendak melemparkan pertanyaan, tapi perkataan Randai membuatnya kembali menutup mulut, lelaki vampir itu lebih dulu.
"Kalian ini cocok sekali ternyata, seperti putri dan pangeran serigala di dunia dongeng. Menjalin kasih dalam ikatan cinta dua makhluk berbeda Klan. Apa jangan-jangan memang benar kalau Kyra ini jodohmu, Lif. Dia mate-mu."
Alif hanya melirik saja mendengar perkataan Randai. Tidak menanggapi terlalu banyak. Entahlah, jika dalam wujud serigalanya ini ... dia memang seringkali diam. Entah karena tidak bisa bicara karena rahangnya yang berubah jadi moncong, atau memang Alif tidak suka bicara dalam wujud werewolf, yang pasti mereka belum pernah melihat atau bahkan mendengar Alif mengeluarkan kata saat dalam wujud ini. Biasanya hanya auman dan geraman yang ia tunjukkan.
"Jangan mengada-ngada, Ran. Kita bahkan tidak tahu pernikahan mereka waktu itu sah atau tidak."
"Tapi lihat, Le! Mereka memang cocok bukan?"
Lea ikut memperhatikan Kyra dan Alif yang ada di hadapannya agak menyamping sedikit. Gadis dari Klan Fairy itu hanya terkikik saja.
"Bayangkan saja, bagaimana jika mereka punya anak. Akan seperti apa nanti. Percampuran dua Klan yang berbeda. Itu sangat keren."
Lama-lama perkataan Randai semakin ngawur. Tidak tahu saja dia, kalau Kyra di atas sana pipinya mulai merona karena perkataan konyolnya itu.
Anak? Yang benar saja. Dia dan Alif hanya bersahabat. Tidak ada hubungan lebih di antara keduanya lebih dari itu. Lagi pula mereka sedang berjuang mendapatkan potongan-potongan pusaka sakti itu yang belum juga ditemukan setelah terakhir kali memintanya dari Luna. Dan sekarang ... ayolah, kenapa Randai harus membuat dirinya dengan Alif menjadi canggung seperti ini--ah lebih tepatnya Kyra-lah yang merasa canggung.
"Jangan seperti itu, Ran. Lihat, Kyra sudah memerah wajahnya. Padahal tadi masih ada gurat kepucatan di sana." Lea terkikik geli, sedangkan Kyra hanya melotot. Tubuhnya masih lemas, dia tidak ingin banyak berdebat. Yah ... dua temannya ini senang sekali menggodanya dengan Alif pasca pernikahan paksa yang dilakukan penduduk kampung Filo--ah salah, mereka hanya menyamar tidak benar-benar penghuni sebenarnya.
Saat mengingat itu, Kyra jadi penasaran, kenapa mereka melakukan semua itu. Iya sih, ayahnya Filo sedikit banyak sudah menjelaskan, tapi masih ada yang mengganjal rasanya. Kenapa mereka harus repot-repot memainkan peran orang lain selama bertahun-tahun. Lalu siapa orang misterius yang dulu pernah dipanggil pemimpin. Kenapa masih ada yang memimpin di balik seseorang yang terlihat memimpin.
Melihat Kyra yang diam membuat Randai jadi semangat ingin menggoda saja. "Kenapa diam, Ra. Jangan-jangan kamu sedang membayangkan betapa indahnya hari itu ya. Berjalan beriringan dengan Alif sambil menggandeng anak-anak kalian di tengah nanti. Wah aku jadi iri, pasti terlihat sangat romantis."
Kyra berdecak, dia sedikit menundukkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya di tubuh serigala Alif. Tangannya yang tadi mencengkeram beralih memeluk leher itu erat.
"Aku malas berdebat, Ran," katanya dengan nada lemas.
"Biarkan saja Randai, Ra. Dia memang selalu begitu."
Kyra hanya mengangguk dan tersenyum. Dia memiringkan wajah saat kepalanya benar-benar rebah di belakang leher Alif. Menatap ke arah sahabatnya yabg terus berjalan dengan sesekali bercanda.
"Ngomong-ngomong aku penasaran siapa orang yang membuat si gendut di kampung Filo itu tewas. Pria itu tiba-tiba langsung tunduk pada suara yang tidak ada wujudnya itu."
Lea mengernyit, begitu pun Randai. "Maksudmu yang membunuh si gendut--itu hanya tebakanku." Randai memotong pembicaraannya sendiri saat belum tahu pasti tentang kematian tiba-tiba si gendut. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya, Ra?"
Kyra mengangkat kedua bahunya. Pandangan matanya terlihat kuyu, dia bahkan mulai menguap lebar. "Hanya mengingat. Ngomong-ngomong aku ngantuk sekali. Kalian bangunkan aku ya kalau sudah sampai."
Tidak ada hitungan menit, Kyra sudah terpejam dengan damai, dia terlihat begitu kelelahan, ditambah lagi kondisinya yang masih lemas.
Entah sudah berapa lama Kyra tertidur, matanya mulai membuka perlahan saat ada yang mengguncang tubuhnya.
"Bangun, Ra. Ada bangunan besar di sini."
***