Warning 21+
Kyra hampir terpeleset saat menuruni tanah yang menjorok. Dia berhati-hati melewati batang pohon yang tumbang, belum lagi semak belukar yang semakin rapat saja. Entah berada di mana dia. Mungkin saja malah sudah jauh dari Alif. Bagaimana nasib lelaki itu, apakah dia berhasil atau malah sebaliknya?
"Aaa!!" Kyra menjerit. Tangannya reflek langsung menutup mulut. Lagi-lagi dia hampir terperosok. Kepalanya menoleh ke belakang memastikan pria gila mengerikan itu tidak mendengar teriakannya. Bisa gawat kalau Kyra sampai ditemukan. Sia-sia saja dia berlari sejauh ini sampai mau terjatuh.
"Sshh!!" Kyra meringis pelan. Memegangi kakinya yang tiba-tiba nyeri. Tadi dia belum menyembuhkannya dengan benar. Terburu-buru karena terlalu takut kembali disakiti pria yang sempat dipanggil Banshee oleh Alif tadi. Kembali lagi melangkah, Kyra memaksakan diri untuk terus berjalan cepat. Kondisi kakinya yang belum sembuh benar membuatnya tidak bisa lagi untuk berlari. Tapi menyerah dan berhenti juga pilihan yang tepat. Dia tidak tahu di mana pria itu berada, entah masih jauh atau tinggal beberapa langkah lagi mendekatinya. Jadi dia harus menghindar, sambil menunggu bantuan dari teman-temannya. Mungkin saja Alif bisa menolongnya kembali kali ini.
Dengan langkah terseok-seok, Kyra berusaha melewati pohon yang tumbang. Di mana dia sekarang, kenapa banyak sekali pepohonan yang tumbang.
"Jangan terus berlari menghindar, Nona. Itu hanya akan membuat sakitmu semakin parah. Mari sini. Akan aku akhiri sekarang juga."
Kyra menegang. Benar dugaannya, pria sinting itu sudah bisa menyusulnya. Suaeanya sangat kentara. Terdengar seperti lonceng kematian. Nadanya terdengar halus memang, tapi Kyra tahu, itu hanya bualan agar dirinya semakin dekat dengan maut.
Kyra mempercepat langkahnya, dia harus menyelamatkan diri. Pria jahat itu akan langsung menyantapnya nanti jika dia berhasil di tangkap.
"Ayolah, Nona, kamu hanya membuang waktuku saja."
'Dasar, psikopat gila! Siapa suruh membagi waktu denganku.'
"Aakk!!" Kyra memekik kaget.
"Wah, di situ kamu rupanya, Nona."
Sial! Dirinya kurang fokus dan tersandung kakinya sendiri. Susah payah Kyra mencoba bangkit berdiri, tapi rasa ngilu dan perih bersarang menjadi satu di tempat yang sama. Kyra menoleh ke sumber rasa sakit tersebut. Lukanya kembali menganga, sepertinya robek akibat dilaksakan berlari tadi. Tangannya terjulur mencoba menghilangkan rasa nyeri. Setidaknya jika ini berhasil, dia bisa melanjutkan pelarian.
Sinar berwarna putih kebiruan itu berpendar di tangannya, kecil sekali cahayanya, dan hanya bertahan beberapa saat. Karena belum sempat luka itu menutup. Sebuah suara bernada kematian itu menyapa gendang telinganya.
"Hallo, Nona, apakah masih sakit?"
Perlahan Kyra mendongakkan kepala, dan menemukan pria yang dari tadi terus mengejarnya tengah menyunggingkan seulas senyum mengerikan. Tatapan matanya garang seolah hendak memangsa dalam sekejap. Kyra terpaku, tubuhnya sedikit bergetar melihat seringai mengerikan itu. Tapi dia tidak gentar, mencoba berani menatap dengan ekspresi tanpa takut, meski itu akan terlihat sangat dibuat-buat. Salah satu tangannya terus menyentuh kakinya yang terluka, berusaha mengobati agar dirinya bisa berlari setelah itu.
"Jangan terus diam, Nona, itu membuatku semakin ingin menyantapmu."
'Pria gila!' batin Kyra tanpa menolehkan pandangan.
"Sepertinya kamu sudah berani--ah, lebih tepatnya memaksakan diri untuk berani. Tidak apa-apa, ini sangat menarik." Pria itu berjongkok di hadapannya, berjarak beberapa meter tidak jauh darinya. "Bagaimana jika aku membantu menghilangkan rasa sakitnya. Itu akan jauh lebih baik, bukan?"
"Cuih!" Kyra meludah.
"Sombong sekali kamu, tapi bukan masalah, anggap saja ini sikap terakhir yang bisa kamu lakukan sebelum menjemput kematian." Pria ini mendekatkan diri ke arahnya, dan dalam hitungan detik, Kyra membenturkan kepalanya ke kepala Banshee tersebut. Baru kemudian kakinya yang sehat menendang barang berharga di antara paha itu. Menimbulkan pekikan keras dari sang pria dengan tangan yang langsung memegang selangkangannya. Ternyata kehidupan baik di dunia manusia atau pun dunia Klan, seorang pria mempunyai kelemahan yang hampir sama.
"Aku tidak sudi, satu inci pun dari bagian tubuhku kamu sentuh." Tidak lama setelah itu Kyra bangkit berdiri dan berlari meninggalkan pria yang sedang kesakitan itu.
"Kurang ajar kamu! Tidak akan kuampuni setelah ini," teriaknya kesakitan dengan kedua tangan yang masih bertengger di sela antara kedua pahanya.
"Yah, setidaknya selesaikan urusan burungmu dulu baru membunuhku. Dasar pria tidak waras!"
Setelah itu Kyra langsung berlari, meninggalkan pria gila yang sedang kesakitan di belakangnya. Baiklah, sekarang dia harus memutar otak. Bagaimana caranya bisa menghindar atau menghilang dari pria tadi. Dirinya tidak mau terus-terusan main kucing-kucingan seperti ini. Kakinya lelah berlari, lukanya juga perlu disembuhkan dengan benar.
Baru saja Kyra berlari beberapa meter dari tempat kejadian terakhir kali dia menyerang benda pria tadi. Sekarang pria itu sudah ada di depannya dengan pandangan melotot marah.
"Kamu pikir bisa lari dariku, hah! Tendanganmu tadi hanya seperti gigitan semut kecil, tidak berasa sama sekali. Hanya nyeri sedikit."
'Semut kecil katanya? Mana ada semut yang bisa menendang benda itu dengan keras. Apalagi nyeri sedikit? Apa dia lupa bagaimana tangannya tadi meremas dengan kuat.' Kyra segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau lagi membayangkan terlalu jauh atau mengingat kejadian tadi. Kakinya bergidik saat tendangannya tidak sengaja mengenai ekor depan pria itu. Untuk pertama kalinya, dan berharap itu juga terakhir.
"Kamu sedang memikirkan apa bocah!" Suara keras pria itu menggelegar, membuyarkan pikiran kotor Kyra. Gadis itu mundur beberapa langkah saat pria di depannya ini juga bergerak maju.
Kyra hanya diam tidak menjawab. Itu pertanyaan tidak penting yang tidak membutuhkan jawaban. Yang terpenting sekarang dia harus lari. Tubuhnya seketika langsung memutar, kakinya bergerak cepat mengambil langkah, dia harus menghindar. Tapi sayang ... secepat apa pun dia menghindar, pria ini tetap berhasil mengejarnya dan selalu berhenti di depannya hanya dalam hitungan detik. Apa jangan-jangan pria ini juga mempunyai kecepatan berpindah tempat seperti teman-temannya? Kalau iya, itu berarti percuma saja kalau Kyra terus melarikan diri, dia pasti akan tetap bisa dikejar dalam sekejap.
"Bagaimana kamu bisa tetap menemukanku?!"
Dengan melawan rasa takutnya, Kyra mengajukan pertanyaan, hanya mengulur waktu. Mencoba mengambil peluang meski sangat kecil. Siapa tahu saja, kejadian seperti di film itu juga berlaku untuk dirinya. Tiba-tiba Alif atau temannya yang lain datang dan menyelamatkan nyawanya.
"Sudah kubilang, kan. Dirimu bagaikan madu hidup. Darahmu manis dan segar, bahkan hanya dengan mencicipinya saja membuatku lebih bertenaga."
"Tapi aku bukan hewan yang bisa kamu mangsa!" Dengan gerakan mundur perlahan, Kyra mencoba menantang.
"Pemburu tidak perlu melihat seperti apa bentuk buruannya, yang terpenting tujuan berburunya tercapai." Pria itu menyeringai seram.
"Tidak akan pernah aku izinkan kamu menyentuh darahku meski setetes." Langkah Kyra terus saja mundur, dia bahkan beberapa kali sempat tersandung karena tidak memperhatikan sekitar.
"Wow, Nona, kamu semakin berani ternyata. Tapi sayang ... aku tidak butuh izin dari lebah untuk menikmati madunya." Sekarang ekspresi pria itu datar. Terlihat sekarang dia tidak ingin bermain-main lagi.
Kyra kembali membalikkan tubuh, dia harus berlari, namun sayang ... tubuhnya lebih dulu dicengkeram oleh pria ini, di hantam dengan keras di atas tanah. Gadis itu kesakitan, kakinya juga semakin sakit, darah kembali merembes, luka di lengannya juga semakin melebar, sekujur tubuhnya dipenuhi luka.
Pria ini terus saja mendekati Kyra dengan tatapan bengis. Gadis itu mencoba bangkit dan mundur ke belakang dengan posisi tubuh terduduk. Dia terus mundur ke belakang.
"Sudah cukup main-mainnya. Awalnya aku akan berbelas hati. Namun melihatmu yang semakin kurang ajar sepertinya tidak perlu ditoleransi lagi." Pria itu berhasil mencapai Kyra dengan jarak begitu dekat. Tanpa belas kasih, dia menginjak dengan kasar kaki Kyra yang terluka, membuat gadis itu semakin meringis kesakitan. Meraung beberapa kali karena menahan sakit yang luar biasa.
Pria itu berjongkok dan mencengkeram dagu Kyra, membuat gadis itu langsung mendongak ke atas. "Nona, perbuatanmu tadi memang tidak terlalu menyakitiku, tapi aku tidak terima dengan hal demikian. Aku tidak peduli lagi akan pembagian darah dengan temanku. Biar saja dia bertarung dengan lelaki serigala tadi, toh ... kalau pun dia menang tetap bisa kukalahkan kalau sudah mencicipi darahmu!"
Kyra meringis, ekspresinya menunjukkan penolakkan yang sangat kentara, beberapakali dia mencoba memberontak, tapi pria ini tetap tidak melepaskan cengkramannya, malah membuatnya semakin kuat.
"Ada kata-kata terakhir sebelum menjemput ajalmu? Karena setelah ini, aku tidak akan mengampunimu."
Kyra menyunggingkan senyum sinis. "Tentu saja ada."
"Katakan!"
"Matilah kamu dengan mengenaskan di tangan sahabatku!"
Pria ini tertawa keras. Seolah ucapan Kyra hanya angin yang membelai wajahnya saja. "Maka itu tidak akan pernah terjadi. Bersiaplah, karena aku tidak mentolerir sekarang."
"Aakk!!"
Selang satu detik setelah pria itu berbicara, Kyra memekik keras. Mulutnya mengeluarkan darah segar, pandangan matanya tertuju pada perutnya yang terkoyak. Satu sayatan lebar menganga di sana, merobek bajunya. Masih terlihat jelas pria itu menyeringai senang sambil menjilati tangannya yang terdapat tetesan darah Kyra.
"Kamu benar-benar manis."
Pandangan Kyra mulai samar, dia masih mencoba mempertahankan kesadaran di antara kesakitan yang menyerang tubuhnya. Cahaya biru beserta percikan api mulai ke luar dari tubuhnya. Sayup-sayup dia mendengar teriakan orang yang sangat dia kenal. Lalu kemudian di susul dengan sebuah kuku panjang yang tajam menembus d**a lelaki itu. Pria itu langsung ambruk seketika di samping Kyra, mulutnya mengeluarkan darah segar, tatapan matanya menatap seorang lelaki yang sedikit menunduk di belakangnya. Hingga suara pekikan pria itu terdengar saat sebuah tangan ditarik dari dadanya.
"Beraninya kamu menyakitinya!" Suaranya terdengar sangat marah, sebelum akhirnya dia merubah diri menjadi serigala dan mengoyak lelaki itu di depan Kyra hingga tak tersisa. Ucapan Kyra terwujud, pria tadi tewas mengenaskan di tangan sahabatnya. Alif.
"Ra?" Lea duduk berjongkok, di hadapan sahabatnya. Menekan perut sahabatnya yang masih mengeluarkan darah. Air matanya merembes melihat kondisi Kyra yang begini.
Randai memilih menjauh, dia kadang tidak bisa mengendalikan diri. Dirinya terlalu takut jika nanti malah menyerang Kyra, bagaimana pun dia menahan, sahabat perempuannya itu memang memiliki darah yang menarik.
"Aku titip Kyra, Lif. Maaf aku tidak bisa ikut andil kali ini." Randai berpamitan pada Alif yang masih berada dalam wujud serigalanya.
Alif hanya memandang kepergian Randai, dia bisa mengerti tindakan sahabatnya, bola mata serigalanya menatap kepergian Randai. Alif tahu Randai ingin membantu, tapi resiko yang ditempuh juga tidak kalah besar.
Percikan api biru yang ada di tubuh Kyra perlahan meredup. Gadis itu mengerjap lemah beberapa kali. Alif juga langsung mendekati, dia yang sudah berubah menjadi wujud manusianya menatap Kyra dengan khawatir.
Suasana di sekitar juga sudah berubah. Mengembalikan lingkungan seperti semula yang tadi sempat disihir oleh Klan Banshee.
"Bagaimana ini, Lif?" Lea menatap khawatir sahabatnya. "Apa kita terlambat?"
"Tidak!" Alif menjawab cepat. "Sebentar, aku akan mencoba membantu. Kamu pegangi Kyra. Mungkin dia akan bereaksi nanti."
Lea mengangguk, kedua tangannya memegangi tubuh Kyra dengan erat. Setelah itu Alif mengangkat tangan kirinya. Dikoyak sedikit di bagian talapak tangan itu, hingga beberapa darah menetes. "Buka bajunya, Le. Di bagian luka maksudku." Alif sedikit gugup saat mengatakan, bahkan di akhir kalimat dia berkata cepat.
"Iya, aku tahu." Lea menyingkap baju Kyra, baju gelap yang digunakan gadis ini sudah robek di bagian perut. Beberapa luka juga terlihat menghiasi tubuhnya. Sangat miris, Lea benar-benar tidak tega melihatnya. Kyra memang bisa menyembuhkan diri, tapi dia butuh proses, berbeda dengan Alif, Randai dan dirinya yang tubuhnya bisa menyembuhkan diri tanpa konsentrasi. Meski pun itu juga butuh waktu, tapi tubuh mereka bisa melakukannya sendiri tanpa disugesti.
Alif mengepalkan tangannya. Beberapa tetes sudah jatuh di atas permukaan perut Kyra yang terluka. Dia pernah melakukan ini sebelumnya saat Lea sekarat dulu. Darah Klannya bisa melakukan ini, meski tidak semua bisa, tapi beberapa di antaranya memang beruntung, seperti dirinya.
Alif dan Lea sama-sama menatap Kyra yang masih membuka matanya, tapi gadis itu tidak berkedip sama sekali, di tubuhnya juga masih ke luar percikan api biru yang diimbuhi cahaya berpendar lembut. Sesekali dua remaja berbeda gender dan klan itu menatap luka di tubuh sahabatnya, memastikan luka tersebut bisa menutup.
Helaan napas lega terdengar dari salah satunya saat luka yang tadi menganga lebar perlahan menutup kembali, disusul kilauan cahaya yang semakin terang dan api biru di tubuh Kyra yang semakin membesar.
"Lif, ada apa? Kenapa Kyra terbakar?" Lea berkata panik. Memang benar dia pernah melihat Kyra dalam kondisi begini, tapi gadis itu tidak dalam kondisi sekarat seperti sekarang. Dia sangat takut kalau api ini nanti malah melukai sahabatnya dan akan membuatnya hilang menjadi abu di hadapan mereka.
"Aku tidak tahu. Apa dia pernah seperti ini sebelumnya?"
Lea mengangguk, tapi kemudian menggeleng. "Kyra pernah mengalami begini, kamu juga pernah melihatnya secara langsung, hanya saja kondisinya tidak separah ini."
Lea dan Alif terus memandangi Kyra yang semakin di selimuti cahaya dan api berwarna biru di tubuhnya. Matanya yang tadi terlihat kosong tiba-tiba menatap tajam. Lea yang khawatir mencoba meraih Kyra, tapi gerakannya ini keliru. Malah membuat dirinya terluka. Tubuhnya tiba-tiba terpental beberapa meter saat berusaha memegang Kyra, mencoba menarik sahabatnya dari pusaran api dengan cahaya biru tersebut. Beruntung api itu tidak melukai terlalu dalam seperti Luna waktu itu.
Alif segera beranjak, dia menghampiri Lea dan membantunya berdiri, menanyakan bagaimana kondisinya, untung gadis dari Klan Fairy itu berkata dia baik-baik saja. Kalau tidak ... beban masalah mereka akan semakin bertambah nanti.
Randai yang melihat ada suara pekikan dan cahaya yang berpendar segera ikut mendekat, memastikan kalau di sana baik-baik saja.
"Ada apa?" tanyanya bingung saat melihat dua sahabatnya terus menatap cahaya dengan api biru yang berpilin di hadapan mereka.
Alif menunjuk pilinan itu dengan jari telunjuk kanannya. Tapi masih belum membuat Randai paham maksudnya.
"Di mana Kyra, Lif? Kenapa kalian meninggalkannya?"
"Kyra di sana, Ran. Berada pada pusaran cahaya terang dan api berwarna biru muda itu." Lea menunjuk di depannya, jarinya agak naik ke atas karena cahaya itu sekarang naik. Lebih tinggi dari tubuh mereka.
Randai menatap melongo apa yang ditunjuk sahabatnya. Masih tidak percaya dengan apa yang dibicarakan. Bagaimana mungkin? Memang apa yang sudah dilakukan mereka berdua sampai terjadi hal begini?
Tidak sempat bertanya dan menjelaskan semuanya pada Randai, tiga remaja itu menatap pilinan itu yang semakin meredup. Tiga detik setelahnya, cahaya yang disertai api biru itu menghilang, memperlihatkan tubuh Kyra yang mengambang dalam keadaan menghadap ke atas seperti orang telentang namun tangan dan kakinya menggantung.
"Aaa!!" Lea memekik kaget, tiba-tiba saja Kyra jatuh ke bawah dengan cepat. Beruntung Alif juga bergerak cepat. Dia menangkap tubuh Kyra dengan sigap, pas sekali langsung jatuh di tangannya.
Lea dan Randai yang sempat menahan napas terlihat lega sekarang, dua remaja itu lalu mendekat. Memeriksa keadaan sahabat perempuannya itu baik-baik saja.
"Bagaimana?" Lea menatap khawatir.
"Tidak apa-apa, dia masih bernapas. Hanya saja, sekarang dia terpejam. Lukanya juga menutup."
Lea bernapas lega. Begitu lega saat mendengar sahabatnya kembali pulih dengan baik. Itu artinya dia tinggal membuka matanya saja.
"Kita kembali ke tempat awal."
Randai dan Lea mengangguk, Alif melangkah lebih dulu dengan Kyra yang berada dalam gendongannya.
"Lain kali jangan tinggalkan Kyra lagi. Banyak sekali yang ingin memangsanya." Lea tiba-tiba menceletuk. Sedikit kesal jika mengingat kelakuan Alif tadi.
"Jangan khawatir, itu tidak akan terjadi lagi nanti." Alif menoleh ke belakang sebentar, gerakannya itu diikuti oleh dua sahabatnya yang lain, mereka menatap bangkai Banshee yang tergeletak tidak jauh dari mereka. Membiarkannya saja, tanpa mau menyentuh. Lagi pula nanti juga bakal hilang sendiri. Mereka bangsa roh, biasanya akan melebur seperti debu saat sudah beberapa lama nanti. Sekarang yang terpenting adalah ... mereka harus membangunkan Kyra dan memastikan kondisinya memang baik-baik saja.
***