Menyelamatkan Kyra

1678 Kata
"LEPASKAN DIA BANSHEE!!" Teriakan itu menggema di sekitar mereka. Seorang pria dengan leher mengetat menatap mereka dengan luapan amarah. Pandangan matanya tajam seolah akan menghunus siapa saja yang dilihat oleh matanya. "Wah ... wah ... wah, bagaimana mungkin manusia serigala ini bisa menembus benteng pertahanan kita?" Lelaki yang tadi ada di samping banshee yang sempat menyiksa Kyra itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari tadi dirinya terus memandang temannya ini, tiba-tiba sekarang berceletuk saat melihat kedatangan makhluk lain ke dalam lingkaran yang telah mereka buat. Banshee yang tadi sempat melukai kaki Kyra itu berdiri, menjilat jarinya yang sempat terdapat darah Kyra, mengulumnya begitu menikmati. "Kenapa? Kamu mau ikut bergabung bersama kami? Ayolah, jangan sungkan, mari sini, kita cicipi seteguk madu yang begitu lezat ini." Banshee dengan alis tebal itu tertawa keras, ikut menyalur juga pada temannya yang ada di sampingnya. Lain halnya dengan Alif, lelaki serigala itu malah semakin erat mengepalkan tangan, menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya. Mati-matian dia sudah menahan rasa marahnya tadi. Menekannya pada titik terdalam yang ia bisa. Tapi di sini ... dirinya malah dipaksa meladeni dua pria tak dikenalnya. Sepertinya ini akan menjadi santapan empuk untuk meluapkan kekesalan dan amarahnya sekarang, beradu pukul atau kekuatan untuk mendapatkan seorang wanita. "Aku tidak sudi bergabung dengan kalian. Lepaskan dia, maka urusan kita selesai." Salah satu Klan Banshee yang beralis tebal itu tertawa, dia bertepuk tangan keras, seolah sedang memberikan standing applause pada dirinya. Padahal lebih tepatnya itu adalah sebuah ejekan yang sangat kentara. "Kami pikir kamu siapa, hah?! Susah payah kami mendapatkan dia dari kalian, dan sekarang ... dengan enaknya kamu bilang lepaskan dia?" Dua Klan Banshee ini tertawa keras, semakin menebalkan kabut tebal kemarahan yang ada dalam diri Alif. Yah ... lelaki serigala itu Alif. Pria itu berhasil menembus pertahanan yang dibuat Klan Banshee. Klan yang berasal dari roh namun berwujud seperti manusia. Mereka bisa menciptakan alam pribadi seperti batas antara alam manusia dan klan, mereka juga bisa membawa seseorang ke dalam alamnya. Lingkaran yang mereka buat ini sangat susah ditembus. Tidak mudah bisa memasukinya kecuali Klan mereka sendiri yang membawa. Kalau pun ada Klan lain bisa menembus, itu karena seseorang yang mereka tarik punya keterikatan kuat dengan Klan tersebut, seperti pertukaran darah, atau hal lainnya. Sedangkan Alif ... dia bisa masuk ke dalam sini karena Randai, lelaki itu pernah mencicipi darah Kyra meski tidak terlalu banyak. Dirinya bisa merasakan keberadaan gadis itu, tapi tidak tahu di mana tepatnya. Memutar otak, Alif akhirnya menemukan cara. Dia menyuruh Randai untuk melukai tangannya, dan darah yang menetes ia jilat beberapa kali sambil konsentrasi memejamkan mata berharap Kyra juga membutuhkannya dan berharap dirinya datang. Tapi syukurlah, setelah berkonsentrasi dengan memejamkan mata dan fokus mencari keberadaan Kyra, Alif berhasil memasuki lingkaran yang dibuat para Banshee, gadis itu berharap ia selamatkan meski tadi dia khilaf telah memarahinya dengan kasar. "Dan kamu pikir ... aku akan membiarkan kalian menikmatinya begitu saja, hahaha ...." Kali ini dirinyalah yang menertawakan, ada nada ejekan yang begitu kentara di sana. Biar saja dua Banshee itu marah, dia lebih dari siap untuk sekedar bertarung. Tangannya sudah gatal karena geram. Ingin langsung menyerang tapi ia tahan. Alif masih mengulur waktu, saat melihat Kyra tengah berkonsentrasi menyembuhkan dirinya. Gadis itu benar-benar memanfaatkan keadaan dengan baik. Melihat dua Banshee yang di tengah sibuk berdebat dengan Alif, dirinya berusia untuk memulihkan diri. Siapa tahu, jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, dirinya bisa kembali berlari mencari perlindungan lain atau menghindar dari mereka, meski pun harapan yang sangat ia inginkan sekarang adalah ... berharap dirinya dengan Alif kembali dengan selamat. "Tentu saja, karena pada akhirnya, kamu yang akan mati di tangan kami." Salah satu Banshee yang ada di sebelah alis setebal ulat keket itu mengepalkan kedua tangan di depan wajah, melakukan gerakan seperti meremas seolah akan menghancurkan sesuatu apa saja yang ada di depannya. Alif begitu kesal, bukan karena perkataan dua Banshee itu. Bukan. Dia bahkan tidak takut mati sekarang, jika seandainya dirinya mampu dikalahkan dengan mudah, hanya saja ... setidaknya dua temannya itu bisa menyusul dia ke alam yang dibuat Klan Banshee, jadi ... jika seandainya terjadi sesuatu pada dirinya, mereka bisa ke luar dari sini dan menyelamatkan Kyra. Namun sayang ... Randai dan Lea tertinggal di tempat yang berbeda, tidak bisa menembus seperti dirinya. "Buktikan kalau itu bisa!" Dengan suara dingin dan aura membunuh yang ke luar dari tubuhnya, Alif segera membuat kuda-kuda dan bersiap bertarung meladeni mereka. Kyra yang melihat itu saja sampai tersentak. Tidak percaya kalau itu adalah Alif. Baru kali ini dia melihat sahabatnya memiliki aura mengerikan seperti ini. "Aku yang akan meladeni, kamu urus gadis ini. Bawa dia ke mana pun. Jauhkan dari Klan Lycanthrope, setelah itu aku akan menyusul." "Kamu yakin bisa mengalahkannya?" "Kamu pikir aku lemah?" Dengan nada mengejek, si Banshee dengan alis tebal bak ulat bulu itu mencibir, menyombongkan diri kalau dirinya adalah yang terkuat. "Baiklah. Tentu saja aku akan menurut, susul aku setelah melenyapkannya." Banshee ini menepuk bahu temannya, dua kali, lalu menatap ke depan hendak menyusul Kyra yang kembali melarikan diri. 'Dan, aku akan menghabiskan madu ini sendirian,' sambungnya dalam hati sambil melihat ke belakang dan tersenyum miring. "Heh! Menyusahkan saja gadis ini." Banshee ini menggelengkan kepala melihat Kyra yang tertatih melarikan diri. "Sekarang giliran kita. Mari selesaikan masalah ini, dan aku akan menikmati buruan lezatku." Banshee itu tertawa keras, tetapi suara gema tawa itu langsung dihentikan oleh ucapan yang ke luar dari mulut Alif. "Lalukan jika kamu bisa membunuhku--ah salah ... lakukan jika kepalamu masih menempel dengan tubuhmu." Dengan nada ejekan super sinis, Alif mengarahkan jari telunjuknya ke arah Banshee itu. Dia menyuruh mendekat jika berani. "KURANG AJAR! Kamu menantangku bocah!"  Banshee ini segera merubah diri. Kukunya semakin memanjang, matanya berubah hitam pekat. Dia segera berlari menerjang Alif, tapi dengan sigap dirinya menghindar, lalu mengarahkan kukunya ke punggung Banshee itu. Crashh!! Suara cakaran pun menggema di udara, ada cipratan kental yang ke luar dari punggung Banshee itu, menyisakan tetesan darah yang tertinggal di kuku Alif. "Hasih! Kamu mengotori tanganku. Jariku ini baru saja kubersihkan tadi." Alif mencoba menjilat darah yang menempel, tapi langsung meludah kasar. "Ini adalah darah yang paling tidak enak yang pernah kucicipi. Aku yakin, sahabatku Randai yang mengonsumsi cairan kental pun, tidak akan suka dengan darah kalian. Ini menjijikkan." Banshee itu menggeram semakin marah, lelaki dari keturunan Klan Serigala ini tidak bisa diremehkan. Dia juga harus menggunakan kekuatan hebatnya yang ia miliki. Setelah luka yang ditimbulkan Alif sembuh kembali, dia segera menyerang. Untung saja Alif sigap menangkis. Pendengaran tajamnya dapat merasakan pukulan yang hampir mengenainya hanya dengan hembusan angin. Dua pria berbeda klan yang tidak saling mengenal itu terlibat dalam perkelahian. Alif terus saja menepis dan melakukan serangan balik. Namun beberapa kali meleset, beberapa kali mengenai--pun dengan dirinya yang beberapa kali juga dikenai. Banshee ini tidak main-main dengan ucapannya, sepertinya kekuatan terbaiknya sudah ia ke luarkan. Tapi Alif tidak takut, dia bisa mengatasinya, dan dia harus cepat kalau tidak mau terlambat, ada seseorang yang harus ia selamatkan. BUK! Satu pukulan berhasil mengenai perut Alif, lelaki itu bahkan sampai mundur ke belakang beberapa langkah. "Sudah kubilang, kan. Kamu tidak akan busa mengalahkanku, kemampuanmu itu payah sekali." Banshee itu menertawakan dengan culas. Tapi malah ditanggapi Alif dengan senyum miring di wajahnya. Lelaki muda yang memiliki darah Klan Serigala itu kembali menegakkan tubuh setelah sempat menunduk tadi. "Memberi musuh kesempatan untuk menyerang itu tidak buruk. Lumayanlah untuk menggelitiki perutku." "Kurang ajar! Bocah sepertimu memang harus segera dimusnahkan." "Lakukan jika kamu bisa menyentuhku." Banshee itu segera menyerbu Alif, mengarahkan kuku tajamnya untuk mengoyak wajah Alif. Sedangkan Alif sigap menghindar, dirinya langsung berubah menjadi serigala, mengaum keras menyambut pukulan si Banshee yang hanya mengenai udara kosong. Alif kembali melolong, dengan wujud serigalanya dia berlari menerjang Banshee itu, gerakannya cepat, hingga satu detik kemudian dia berhasil menerkam musuh di bawah kendalinya. Kembali dia mengaum, dengan mata serigalanya, Alif menatap marah Banshee itu. "Ampun, tolong jangan bunuh aku. Aku tidak akan membunuh temanmu tadi. Akan aku bebaskan." Banshee itu memohon, dirinya sudah terdesak sekarang. Berada dalam cengkraman binatang buas yang sewaktu-waktu juga bisa berwujud manusia. Alif kembali merubah diri menjadi manusia, tangannya sekarang berada di leher pria itu, dicekik dengan sangat kuat. "Hilangkan lingkaran alam yang kamu ciptakan, buat dua temanku yang lain bisa menembus lingkaranmu." "Ba ... baik. Aku akan menghilangkannya, ti ... tidak perlu membawa mereka menembusnya--aakk." Banshee itu berteriak kesakitan saat Alif malah semakin kuat menekan lehernya. "Kamu pikir aku bodoh, hah?! Temanmu yang tadi bisa saja menciptakan lingkaran baru tanpa bisa ditembus, maka dari itu, buat kedua temanku yang lain bisa menembus di dalam alam kalian nanti." Banshee itu mengangguk patah-patah. Alif sedikit mengendorkan cengkramannya tanpa melepas tangannya di leher pria itu. Perlahan, tempat di sekitarnya berubah, Lea dan Randai mulai terlihat tidak jauh dari sana. Lea yang akhirnya bisa melihat Alif segera menutup mulut. Sedikit terkejut melihat apa yang dilakukan Alif. "Sekarang, lepaskan aku." Alif menyeringai. "Tentu. Akan aku lepaskan kamu dengan cepat." Setelah itu terdengar bunyi cakaran keras. Leher Banshee itu langsung mengeluarkan darah segar, muncrat seperti air mancur, beberapa bahkan mengenai wajah Alif. Untuk pertama kalinya, Randai dan Lea menemukan sisi kejam lelaki itu. Masih dengan aura gelap yang mendominasi Alif, lelaki itu bangkit dari mayat Banshee yang tergeletak kaku tak berdaya dengan luka cakaran yang begitu dalam di lehernya. Lea yang melihat itu bergidik. Sedikit melirik Alif yang masih menatap ke depan dengan tajam. Ia jadi teringat pernah memusuhi Alif tadi. Bagaimana jika pria serigala ini juga tidak terima dan dia mendapatkan hal serupa. "Tidak perlu takut, Lea. Aku bisa mengendalikan diri." "Eh?" Lea sedikit terkejut karena Alif tahu apa yang ia pikirkan. Ada rasa lega saat sahabat lelakinya itu mengatakan bisa mengendalikan diri. "Sekarang kita harus mencari Kyra. Dia masih berada dalam cengkraman Banshee lain. Kita harus menemukan sebelum terlambat." Lea mengangguk. Dia juga sudah tidak sabar untuk segera menyelamatkan sahabatnya. "Lalu bagaiman jika nanti kita terpisah, Lif. Maksudku seperti tadi, kamu tiba-tiba menghilang dan tidak bisa ditemukan." Lea kembali mengangguk, perkataan Randai ada benarnya. "Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah mengatasinya tadi. Sekarang kita harus bergegas." Mereka mengangguk. Lalu melakukan kemampuan kecepatan mereka untuk menemukan Kyra, semoga saja belum terlambat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN