Siapa yang menyangka, kejadian ini malah membuat perjalanan mereka semakin terhambat. Semakin lama karena pencarian yang belum menemukan titik terang. Berkali-kali Randai mengendus, mencari tahu di mana keberadaan Kyra, tapi tidak ada satu pun petunjuk yang ia temukan, begitu pun dengan Alif. Lea juga sudah menggunakan kekuatan alamnya. Namun hasilnya masih nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kyra. Gadis itu menghilang seolah ditelan bumi. Tidak ada petunjuk sama sekali.
Hampir setengah jam mencari dan berputar-putar, mereka masih belum menemukan di mana Kyra. Bahkan mereka juga menambah jarak pencarian, berpencar lebih jauh. Tapi hasilnya masih sama. Kyra sama sekali tidak terdeteksi. Tiga remaja itu kembali ke tempat yang sebelumnya mereka berkumpul, bertanya satu sama lain bagaimana hasilnya, tapi masing-masing dari mereka hanya memberi jawaban gelengan kepala saja.
"Bagaimana mungkin dia tidak bisa ditemukan, kita sudah melacaknya di manapun, bahkan segera menyusul saat menyadari dia tidak ada." Randai mengusap rambutnya kasar, dia merasa frustasi tidak menemukan Kyra di mana pun. Sedangkan Alif, lelaki itu kondisinya juga tidak jauh beda dari Randai. Dia juga merasa kekhawatiran pada sahabatnya ini. Merasa bersalah karena tadi sempat memarahinya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Kyra, kamu harus bertanggung jawab, Lif." Lea mulai menangis, dia tidak tahu lagi harus bagaimana, emosinya kembali terpancing saat tidak menemukan sahabatnya di mana pun.
"Sudah, Lea. Kita jangan terperosok dalam kubangan emosi, yang terpenting kita tetap berusaha mencari Kyra. Aku yakin, dia sebenarnya masih di sekitar sini, mungkin saja sedang ditutupi sesuatu yang tidak bisa kita deteksi."
***
Di tempat lain, yang berbeda dari tiga remaja berbeda Klan itu, seorang gadis baru saja terbangun dari pingsannya. Kepalanya berdenyut nyeri akibat pukulan yang ia dapatkan beberapa puluh menit yang lalu. Seingatnya, tadi dia berjalan mengimbangi Lea dengan muka cemberut karena perkataan Alif. Dia juga tahu, kalau Lea terus saja memainkan rambutnya, berusaha mengeluarkan cahaya lembut seperti dirinya, bahkan beberapa kali sayapnya hilang-timbul karena hal itu. Maka itulah Kyra memilih agak berjalan ke belakang. Tapi naas .... Saat dirinya terus berjalan dengan sesekali melamun, seseorang telah mengintainya dari kejauhan sedari tadi. Dan saat semuanya lengah, dirinya merasa ada yang memukul kepalanya lalu ditarik ke belakang. Setelahnya Kyra tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya selanjutnya.
"Benar apa yang dikatakan vampir tadi, dia sangat lezat."
Sayup-sayup dalam rasa pusing dan sakitnya, Kyra mendengar suara cecapan dari atas kepalanya.
"Sepertinya dia sudah sadar."
"Ini akan sangat menarik."
Kyra menggeliat pelan, matanya langsung tersentak saat melihat ada dua orang pria menyeringai di atasnya. Salah satunya bahkan berani menyentuh keningnya lagi, dan mencolek sesuatu kemerahan dari sana. Menjilatnya pelan dengan suara yang terdengar sangat menjijikkan.
Kyra segera bangun dari rebahannya, posisinya sekarang duduk, dengan badan yang terus mundur ke belakang. Dia waspada, alarm di dalam dirinya mengatakan, kalau dirinya sedang dalam bahaya. Dua pria ini sepertinya sinting. Atau malah bisa jadi ... mereka adalah pria m***m penggila kue apem. Yah ... kalian pasti tahulah, istilah itu di dunia manusia.
"Sudah bangun, Nona?" Salah satu dari pria itu menyeringai meremehkan. Kyra hanya diam dan terus mundur ke belakang. Kepalanya bahkan masih berdenyut nyeri.
'Buta ya? Tidak lihat kalau mataku sudah melek!'
Ingin sekali Kyra mengatakan itu, tapi mulutnya malah terkunci rapat dan tidak bisa menjawab sama sekali.
"Kenapa, Nona?"
'Dasar laki-laki sinting. Masih saja bertanya kenapa.' Lagi-lagi hanya Kyra hanya bisa membatin. Tubuhnya makin beringsut di pojokan, menatap semak yang rimbun di belakangnya. Ingin sekali Kyra berdiri dan lari dari hadapan makhluk mengerikan ini, tapi kakinya susah bergerak, kepalanya berdenyut nyeri.
"Jangan takut, Nona, kami hanya ingin merasakan kesehatan dan manis dari cairan merah yang mengalir di tubuhmu. Kata temanmu yang lelaki vampir tadi, kamu cukup manis dan membuat staminanya kuat. Kami hanya penasaran ingin mencicipi."
Lelaki gila! Itulah yang ada di pikiran Kyra sekarang tentang dua pria yang padangan bernapsu ingin merasakan darahnya.
Iya. Apalagi yang mereka inginkan dari Kyra kalau bukan itu. Sudah pasti yang dimaksud cairan merah itu darahnya. Tidak mungkin ingus gadis itu. Ah ... Kyra tidak sedang ingusan sekarang.
"Aku tidak mengenal kalian, untuk apa kalian menggangguku!" Kyra berkerut, dia akhirnya bisa mengeluarkan suara setelah sekian lama diam.
"Kamu memang tidak mengenal kami, dan itulah keuntungannya. Bukankah lebih bagus kalau demikian, jadi nanti tidak ada dendam di antara kita."
Kyra semakin memundurkan tubuhnya, tidak perduli kalau semak dengan rumput tinggi itu sudah membelai wajahnya. Tidak peduli kalau sabetan rumput yang pinggirnya tajam itu telah menggores lengannya, yang ia tahu, lelaki di depannya ini jauh lebih berbahaya dari sekedar rumput panjang yang sangat mengganggu ini.
"Hey ... hey ... hey, jangan mundur terus, Nona. Darahmu itu sangat disayangkan kalau terbuang secara sia-sia. Biarlah kami mencicipinya terlebih dahulu."
Kyra mengepalkan kedua tangannya. "Jangan mimpi!"
"Tentu saja kami tidak bermimpi, kamu sudah berada tepat di hadapan kami, lalu apalagi yang ditunggu, tinggal hap! Dan kamu menjadi santapan. Hahaha."
Dua lelaki itu tertawa begitu keras, puas sekali membuat Kyra ketakutan. Gadis itu meraba tangannya ke sekitar tubuhnya, mencari benda yang baru didapatkan dari sang sahabat, namun semua nihil. Bahkan tas selempangnya saja tidak ada. Kyra benar-benar ingin mengumpat rasanya. Seharusnya dia tahu kalau perkataan bisa menjadi do'a, dan sekarang ... ajaibnya Tuhan langsung mengabulkan, dia dikirimi dua lelaki yang hendak menyerangnya, tapi dalam kondisi tubuhnya yang tidak dilengkapi senjata. Di mana benda itu terjatuh? Ah sial! Kenapa hal ini harus terjadi dengan dirinya, sedangkan dirinya saja tidak tahu di mana para sahabatnya itu berada.
"Kamu jangan tertawa seperti itu, lihat! Dia ketakutan." Salah satu dari mereka yang punya alis sangat tebal menunjuk ke arah Kyra. Gadis itu hanya menatap lawan bicaranya dengan bibir kelu, rasanya mulutnya kembali terkunci.
"Hahaha, tapi mau bagaimana lagi, ini sangat menyenangkan." Lelaki ini tertawa, dibalas gelak tawa juga oleh teman sebelahnya.
'Menyenangkan pantatmu gosong!'
"Darahku tidak selegit itu. Ini hanya halusinasi kalian saja, percayalah sebelum kalian menyesal." Dengan suara terbata dan susah, Kyra mencoba mengulur waktu, sekaligus mencari kesempatan untuk pergi dari hadapan pria yang menurutnya sinting ini. Atau lebih beruntung lagi dia dibebaskan dan bisa pergi dari sini.
"Kamu pikir, kami anak kecil yang bisa kamu bodohi ha!. Kami bahkan sudah setelah ke luar dari hutan gelap tadi. Aromamu langsung tercium pada jarak jauh. Kami yang penasaran akhirnya mencari tahu, dan beruntungnya kami saat kami mendengar darahmu bisa membuat temanmu tidak mudah lelah bahkan membuatnya kuat. Kamu pikir kami akan melewatkan kesempatan itu."
Ah sial! Lagi-lagi perkataan Randai membawa bencana, lihatlah sekarang ... dua pria ini termotivasi pada hal yang belum tentu terjadi. Karena Randai yang suka membual.
"Kalian jangan percaya, temanku itu suka membual!" Kyra mencoba tetap meyakinkan. Pening dan nyeri di kepalanya sudah agak mendingan, tidak separah saat dirinya membuka mata tadi. Ini cukup lebih baik jika dia melarikan diri dari makhluk jadi-jadian yang sepertinya penggila darah. Entah mereka dari klan apa. Tapi kalau melihat mata mereka yang tak semerah milik Randai, mereka pasti bukan dari Klan Vampir.
Dua pria itu tertawa keras. Salah satu yang punya alis lebih tebal seperti ulat keket itu mendekat. "Lalu? Kalau temanmu suka membual, apa kamu tidak? Kalian pasti juga tidak jauh berbeda kan, bisa jadi dia berkata benar dan kamu yang saat ini tengah membual."
Alis Kyra mengkerut, dadanya bergemuruh hebat berada dalam jarak sedekat itu. Pria ini bahkan dengan berani menggores kuku panjangnya di dahi Kyra, mengambilnya satu tetes dan cecap dengan nikmat. Baru kemudian dia berdiri.
"Darahmu selegit ini, Nona. Kamu sudah mencicipi tadi--yah ... meski pun tidak banyak. Tapi benar apa yang dikatakan temanmu, ada rasa bahagia dan lebih semangat pada tubuhku--bagaimana denganmu?" Pria itu menoleh ke arah temannya, menanyakan pendapat.
"Kamu benar, lelaki vampir tadi tidak membual. Ini sangat lezat dan membuatku jauh lebih bertenaga."
Kyra menggeleng mendengarkan obrolan dua pria tak waras yang ada di depannya ini. Bagaimana caranya dia kabur .... Tunggu, tagannya menyentuh sesuatu yang lembut dan halus. Kyra meremasnya perlahan, matanya membulat, terlihat sangat senang.
Ini pasir atau sejenis tanah yang lembut, kalau tebakannya tidak salah. Ini kesempatan bagus. Dia bisa melarikan diri dengan hal ini. Satu genggaman dia ambil dengan jumlah yang sebanyak dia bisa genggam, ini bisa menjadi senjata ampuh untuk melarikan diri. Dia berharap ini berhasil. Karena inilah satu-satunya cara.
Dengan susah payah dan tubuh sedikit bergetar karena takut, Kyra langsung sigap berdiri dan menyiratkan segenggam tanah halus di tangannya ke arah dua pria tadi. Sontak saja dua pria itu langsung menggeram marah, karena mata mereka yang kemasukan debu. Membuat mereka susah untuk melihat sekitar.
Memanfaatkan keadaan, Kyra segera berlari sekencang mungkin, menghindar dari dua pria gila itu. Berlari entah ke arah mana. Yang terpenting sekarang dia harus menjauh dari pria-pria sinting tadi, tidak berpikir panjang apakah nanti langkah kakinya malah akan membawanya semakin jauh dari teman-temannya, malah bisa jadi tidak ditemukan--tapi itu bisa dipikirkan nanti, saat ini tujuannya hanya lari. Lari sejauh mungkin.
"Sialan! Ke mana dia pergi?!" Salah satu dari mereka berteriak marah. Dia bukan yang punya alis setebal ulat keket. Kyra mengenali suaranya. Lebih gawat lagi, karena jarak Kyra belum terlalu jauh tapi mereka sudah bisa menormalkan kembali pandangan. Terbukti Kyra masih bisa mendengar umpatan mereka.
Laju larinya semakin ia percepat, tidak perduli ada ilalang atau rumput kecil yang berhasil menggoresnya.
"Mau lari ke mana kamu, Nona. Sudahi main-mainnya, ini hanya akan membuatmu lelah saja."
Bagaikan binatang buruan, kata-kata itu semakin membuat Kyra ketakutan. Langkah kakinya berjalan tergesa karena melewati medan tanah yang menurun, belum lagi ada terjalan. Ini sangat sulit--tunggu .... Kyra sepertinya pernah melewati medan yang seperti ini .... Ah iya! Randai. Randai pernah membawanya pada bukit yang hampir membawanya dalam kematian, bukit yang menjari saksi dirinya hampir dibunuh oleh sahabatnya sendiri. Tapi kenapa dia bisa berada di tempat ini lagi? Bukankah mereka sudah melewatinya kemarin, bahkan jaraknya sudah tertinggal jauh.
Tidak sempat berpikir, Kyra tetap berjalan tergesa menjauh, beruntung, saat ini dia sedang menuruni perbukitan, bukan menanjak naik, serta medan yang ia tempuh sekarang tidak sesulit tadi.
Kepalanya menoleh ke belakang sebentar, memastikan dua pria tidak waras tadi belum terlihat--ah maksudnya tidak terlihat. Jadi dia bisa melarikan diri lebih jauh lagi.
"Akh!" Karena tidak berkonsentrasi, Kyra malah menyenggol patahan kayu runcing yang berada di sampingnya, alahasil kakinya malah tergores. Sial! Ini sangat perih, Kyra tidak sempat menggunakan kekuatan untuk menyembuhkannya, tidak ada waktu untuk itu. Kenapa luka ini harus timbul di kaki, ini hanya akan membuatnya semakin susah saja untuk bergerak. Tidak. Dia tidak boleh menyerah jika mau hidup. Dia harus tetap berlari.
Setelah meringis beberapa saat, Kyra langsung melarikan diri sejauh mungkin, mengabaikan rasa sakit yang terus menjalar. Dirinya sekarang menuruni perbukitan yang kanan-kiri terdapat pohon-pohon tinggi menjulang. Di sekelilingnya juga terdapat ilalang yang lumayan tinggi, tapi di tempat kakinya berpijaka sekarang, hanya ada tanah dan rumput kecil. Kyra sesekali menoleh ke belakang.
Entah sudah berapa jauh dia berlari, tapi dirinya sudah tidak mendengar dua lelaki yang ingin memangsanya tadi. Itu lumayan baik. Sekarang timbul masalah lain. Kakinya agak sedikit bengkak, ada darah yang masih menetes di sana. Tidak banyak. Sisanya kering. Kyra menyentuh kakinya yang terluka. Hampir saja dia menangis. Kenapa hal ini harus terjadi, ada apa dengan darah yang mengalir dalam dirinya. Dia bukan keturunan Klan spesial atau darah dengan kualitas baik, dia hanya manusia biasa yang terjebak bersama sahabatnya untuk menyelesaikan misi. Tapi kenapa seolah semua yang hampir ia temui ingin memburunya. Siapa dia. Tidak bisakah dirinya bersama teman-temannya yang lain menempuh perjalanan ini dengan mudah.
"Hallo, Nona. Kita bertemu lagi." Si alis ulat keket itu tiba-tiba sudah berada di depannya. Kyra sangat terkejut. Bagaimana bisa dia menemukannya? Ia sangat yakin tadi sudah berlari menjauh dan memastikan tidak mendengar suara apa pun dari mereka.
Kyra lantas bangkit berdiri, dia hampir terjatuh kalau tubuhnya tidak sigap menyeimbangkan. Kakinya yang terluka membuatnya semakin kesusahan.
"Ckckck, kasian sekali kamu, Nona. Kakimu terluka ya, sudah kubilang bukan, jangan menghindar. Itu hanya akan membuatmu semakin susah. Dan lihat sekarang ... kakimu yang berdarah itu membuatku ingin segera mencicipinya saja."
Kyra menggeleng keras. Lantas ia langsung membalikkan badan. Tapi itu juga bukan hal yang baik. Di belakangnya ternyata sudah berdiri pria lain yang dari tadi terus bersama si pria beralis ulat keket ini. Dia melipat tangan di depan d**a sambil menatap Kyra dengan alis terangkat.
"Mau ke mana? Ayolah, jangan menghindar dari kami terus. Itu hanya akan membuat dirimu semakin susah. Jangan membuat kami semakin murka saja."
"Hey ... hey ... jangan membuatnya semakin ketakutan." Pria di depannya ini menegur dengan ekspresi menyebalkan. Terang saja, dia menegur temannya, tapi ekspresinya berbanding terbalik, seolah sangat menikmati pemandangan yang ada di depannya.
"Mari, Nona, hanya sebentar. Lalu kemudian kamu akan bebas."
Kyra menggeleng keras. "Tidak aku tidak mau." Dirinya hendak berlari lagi mencari jalan lain, tapi naas tangannya malah dicekal pria yang tadi berada di depannya. Dengan seringai mengerikan, dia membanting tubuh Kyra hingga gadis itu meringis kesakitan. Ditariknya dengan kasar kaki yang berdarah itu. Ditekan lalu disayat kembali dengan kuki tajamnya. Kyra langsung berteriak histeris, air matanya jatuh menetes. Dirinya kesakitan, dan tidak ada yang bisa menolongnya.
"LEPASKAN DIA BANSHEE!"
***