Persahabatan yang Diuji

1647 Kata
"Lif, bukankah kamu tadi terlalu keras dengan Kyra--maksudku ... dia hanya memintamu memelankan langkah. Iya aku tahu kalau kamu ingin kita segera menuntaskan misi ini. Tapi ... mengertilah dia. Kyra berbeda dari kita. Meski pun beberapa kali kerap terlihat aneh juga dengan kemampuan barunya itu. Tapi tetap saja, dia masih gadis lemah kalau bersanding dengan kita. Berbeda dengan Lea yang dari awal memang sudah tahu kekuatannya dan bisa mengendalikannya." Alif terdiam mendengar perkataan Randai. Lelaki ini ada benarnya sebenarnya. Tapi ... ah, untuk kali ini, biarkan Alif egois. Lelaki dari Klan Lycanthrope itu hanya mengembuskan napas pelan, dia berusaha untuk tidak perduli. Bukan tanpa alasan, dia ingin sahabatnya bisa lebih tahan banting. Apalagi perjalanan yang mereka hadapi tidaklah mudah. Lihat saja, dari pertama datang mereka sudah disuguhkan dengan hutan mengerikan yang begitu lebat dan besar. Terjebak dalam sangkar ilusi Luna. Hampir kehilangan nyawa, dan baru saja beberapa jam yang lalu lebih tepatnya. Mereka diserang binatang yang lebih ganas dari yang mereka ketahui secara normal. Randai benar, Kyra berbeda dengan mereka, maka dari itu, Alif ingin Kyra membiasakan diri seperti mereka juga. Agar gadis itu bisa lebih kuat dan tahan banting diperjalanan nanti. Dia pikir itu solusi yang baik. Tapi sebenarnya Alif tidak tahu kalau hal itu malah membuat Kyra merasa asing dan selalu merepotkan. "Kamu jangan diam saja, Lif. Minta maaflah. Belum terlambat." Kembali Randai menasehati. Alif merasa, kali ini Randai lebih bijak daripada dirinya. Dari mana lelaki vampir itu bisa melakukan ini. Hal yang sangat tidak bisa ia pikir dengan benar. "Apa perkataanku benar-benar keterlaluan?" Alif menoleh ke arah Randai yang ada di sampingnya. Lelaki itu mengangguk, lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Alif. "Perasaan wanita itu serapuh kaca. Dia mudah pecah kalau kamu tidak merawatnya dengan baik." Alif menjauhkan kepala Randai keras. Agak risih dengan tindakan sahabatnya itu. "Kita sedang melakukan misi petualangan, mencari potongan pusaka sakti untuk mengembalikan kedamaian dan kepentingan umat, Ran. Bukan sedang melakukan drama percintaan tentang perasaan." Alif mencibir, dia menarik tali tasnya ke atas yang tadi sempat melorot. "Dalam petualangan ini, bukan hanya kekuatan dan pikiran saja yang dibutuhkan, tapi perasaan saling mengerti satu sama lain juga." Sial! Randai menceramahinya, dan sayangnya ... apa pun yang ke luar dari mulutnya hampir benar semuanya. Apakah dia benar-benar keterlaluan? Baiklah, sepertinya Alif harus mengalah kali ini, dia memang harus mendengarkan nasehat teman-temannya. Sebagai pemimpin, dia tidak boleh egois. Dia akan menurunkan ego dan meminta maaf pada Kyra. Lelaki werewolf itu terlihat menarik napas panjang sebelum mengembuskannya, dia menghentikan langkah kakinya, membuat Randai juga berhenti. Dalam sekejap, tubuhnya dia putar ke belakang, tapi seketika itu langsung menegang melihat kondisi sekitar. Ini gawat! Apa Kyra benar-benar marah padanya? "Lea, di mana Kyra?" "Ada. Dia di samp--" Perkataan Lea hanya menggantung saat dirinya tidak menemukan siapa-siapa di sebelahnya--juga di belakangnya. Semua hening. "Ke mana Kyra?" Lea ikut panik, dia tolah-toleh kanan-kiri, tapi tidak menemukan apa pun selain daun yang bergoyang karena tertiup angin. Selain ranting yang terus berbunyi seperti burung gagak yang sedang mengabari kematian karena tertiup angin. "Itulah yang aku tanyakan. Bukankah dia di belakang bersamamu!" Alif memicing tajam. "Iya. Di sampingku tadi. Aku tidak bohong!" "Lalu bagaimana bisa dia menghilang?!" Lea menggeleng, dia sendiri tidak tahu. Tadi ... setelah memenangkan Kyra karena bersedih dengan perkataan Alif, mereka kembali berjalan. Dia masih ingat kalau Kyra malah melempar senyum dan mengiringi langkah kaki mereka. Hanya saja .... Ah tidak! Lea terlalu menikmati kekuatan barunya. Dia terus saja mencoba berkonsentrasi untuk bisa seperti Kyra, menyalakan cahaya lembut dari rambutnya tanpa sayapnya. Dia berpikir ... akan sangat seru jika mereka bisa melakukan bersama nanti. Dirinya lengah, tidak sadar meninggalkan Kyra--atau tidak sadar Kyra telah menghilang karena .... "Lif, Kyra tidak hilang karena sesuatu, 'kan?" Alif menggeleng, dirinya juga tidak tahu karena tadi terlalu fokus mendengarkan ceramahan Randai, terlalu fokus pada pemikiran yang membuatnya pusing sehingga tidak waspada. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. Frustasi, jangan sampai itu terjadi. Jangan sampai Kyra pergi karena tersinggung karena perkataan dari dirinya. "Kita berpencar, kita cari dia. Mungkin belum terlalu jauh kalau seumpama dia tertinggal." Lea dan Randai mengangguk, dengan wajah panik. Mereka lari ke belakang, Randai agak ke samping dan Lea mencari dari atas. Sedangkan Alif ... dia sudah bertransformasi menjadi serigala. Berlari lurus untuk mencari sahabatnya. Hampir tiba di tempat peristirahatan terakhir mereka tadi. Tiga klan yang berbeda itu tidak menemukan titik temu. Kyra benar-benar menghilang. Tidak terdeteksi keberadaannya. Mereka bertiga kembali berkumpul. "Kalian menemukannya?" Lea dan Randai menggeleng. Dua remaja itu tidak bertanya balik. Mereka tahu jawaban apa yang akan di sampaikan Alif nanti. Terbukti kalau lelaki dari Klan Lycanthrope itu tidak ada yang menemani di sampingnya. "Kamu tidak mendengar atau menemukan sesuatu yang mengganjal?" Randai melempar pertanyaan ke pada Alif saat lelaki itu berdiri mengamati sekitar. Alif kembali mengusap wajahnya frustasi, dia juga tidak mendengar suara apa pun yang mencurigakan di telinganya. Juga tidak melihat kejanggalan apa pun di matanya. "Tidak mungkin Kyra mudah marah dan pergi dari kita. Itu sangat berbahaya kalau dia sampai melakukan itu." Randai beropini sendiri. "Pantaskah aku kalau merasakan amarah padamu, Lif? Ini tidak akan terjadi kalau kamu tidak egois menyalahkan Kyra!" Lea menyatukan kedua alisnya. Jelas sekali dia marah. Saat ini mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Kyra bukan tipe orang pemarah. Apalagi sampai ngambek nggak jelas dan meninggalkan mereka seperti ini. Dia sangat tahu sahabatnya. Bahkan saat Tara dan mamanya sendiri menyakiti saja dia tidak pernah dendam. Alif hanya diam, dia tahu dia bersalah kali ini. "Harusnya kamu tidak egois dengan mengatakan hal seperti itu. Tidak tahukah kamu bagaimana wajah sendunya tadi?!" Lea benar-benar kesal. Randai hanya diam, dia seperti merasakan sesuatu. Dari Tadi dia terus mengendus perlahan, ada aroma lain yang ia rasakan. "Lif!" "Cukup Lea!" Lelaki itu naik satu oktaf suaranya. Dia tahu dia salah. Tapi terus disalahkan bukanlah sebuah solusi. Otaknya panas rasanya, matanya menatap tajam ke arah Lea juga. "Aku tahu apa yang aku perbuat! Lalu bagaimana dengan kamu ...! Kamu yabg sedari tadi berada di sebelahnya juga tidak mengetahui apa pun, kan? Kamu ngapain memangnya?!" Lea ikut memicing, jadi dia yang salah? Tidak menyangka jika Alif seegois ini. Sedangkan lelaki itu hanya terbawa suasana, dirinya sedang pusing memikirkan petunjuk apalagi yang bisa mereka temukan, semua seolah terkunci setelah penemuan potongan pertama, ditambah lagi dengan hilangnya Kyra. Dan sekarang ... Lea menambahinya dengan terus menyalakan dirinya. "Kamu memang egois!" Lea menunjuk Alif, mendengar pertengkaran sahabatnya yang semakin panas. Randai segera mendekat, dia tadi sedang mengikuti indra penciumannya yang menangkap sesuatu yang aneh, tapi baru berjalan beberapa langkah, dia malah mendengar amarah Lea. "Sudah. Pertengkaran tidak akan menyelesaikan apa pun. Di sini kita semua salah. Aku juga begitu. Kita tidak fokus, dan Kyra yang memang tidak sekuat kita. Satu-satunya cara, kita harus berpikir untuk bisa menemukannya, bukan malah adu amarah. Tidak akan membantu sama sekali!" Suara Randai menyentak di akhir kalimat. Untuk pertama kalinya lelaki yang selalu jahil itu juga punya sikap wibawa. Bisa menengahi mereka. Dan untuk pertama kalinya, mereka bertengkar setelah perjalanan panjang bertaruh nyawa ini. Lea menunduk, dia menatap Alif setelah mengembuskan napas. "Maafkan aku, Lif. Kamu benar, seharusnya aku bisa mengawasi Kyra tadi. Dia berada di dekatku." Alif memejamkan matanya. Dia mencoba menekan sesuatu yang rasanya ingin meledak, bukan karena marah pada Lea, tapi sebuah emosi lain yang belum pernah ia rasakan. "Aku juga salah, tidak seharusnya aku egois. Harusnya aku juga bisa memikirkan Kyra." Randai menepuk pundak mereka berdua. Kali ini kondisi jauh lebih baik. Mereka tidak seharusnya bertengkar dalam keadaan seperti ini. Tidak akan memberi solusi atau bantuan apa pun. Yang ada hanya akan menambah beban dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Lea mencoba tersenyum ke arah Alif. Dan lelaki itu membalas dengan tepukan di bahunya. Sudah. Pertengkaran mereka tidak boleh lama-lama. Mereka tidak boleh seperti remaja labil yang terus mengedepankan ego. Di sini mereka dituntut untuk dewasa. "Sekarang ... dengarkan aku!" Alif dan Lea beralih menatap Randai, lelaki vampir itu terlihat memasang wajah serius. "Tadi aku mencium sesuatu. Ada bau yang mengganjal di sini--bukan kotoran atau apa pun ya, kali ini aku serius." Randai menatap satu persatu wajah sahabatnya, memastikan kalau dua orang yang baru terlibat pertengkaran ini tidak menganggapnya bercanda. "Kami mendengarkan dengan serius, Ran." Randai mengangguk, di situasi seperti ini memang tidak seharusnya bercanda. "Ada yang mengganjal, aku menemukan tidak jauh pohon itu." Randai menunjuk pohon dengan ukuran sedang dan ditumbuhi banyak rumput lebat di sekitarnya. "Lalu? Mari kita ikuti." Randai menggeleng. "Tidak semudah itu, Lif. Aroma itu hilang-timbul. Ada aroma Kyra juga di sana. Aku yakin, Kyra hilang bukan karena dia ngambek atau sesuatu yang bersangkutan dengan perkataan pedasmu tadi." Alif memicing tajam, terus saja dia disalahkan, tapi dia hanya diam, karena memang kali ini dia ikut andil dalam hilangnya Kyra. "Kyra menghilang karena ada yang ingin berlaku jahat padanya, atau mungkin ingin mendapatkan sesuatu darinya. Kalian masih ingat perkataanku tentang darahnya?" Lea dan Alif kompak mengangguk. Tentu saja, hal itu masih hangat menyambut telinga mereka tadi. "Aku takut kalau ini adalah salah satu dari klanku, aku takut kalau dia juga ingin tahu sesuatu yang begitu manis mengalir di dalam tubuhnya. Bangsa kami susah mengenalnya, Lif." Alif langsung memasang muka lebih serius. "Mereka dari Klan Vampir?" "Aku tidak bisa memastikan. Hanya menebak saja. Kemungkinan terbesar hanya itu. Kita tidak pernah tahu apa yang ada setelah melewati hutan tadi. Di dunia klan ini, banyak dari kita yang menghuni, bukan hal mustahil atau tidak mungkin jika Kyra ikut terlibat dengan hal itu. Dia akan menjadi santapan lezat bagi siapa pun penggila darah." Alif mengepalkan kedua tangannya, matanya berpendar keabuan mendengar penjelasan Randai, aura emosi yang didominasi sesuatu lain menguar dari tubuhnya. "Kita harus cepat menemukannya. Lacak apa pun yang bisa kamu temui, akan aku bantu. Kita harus cepat menemukannya." "Aku juga akan membantu. Semoga kekuatan alamku bisa membantu." Alif memgangguk. Mereka segera berkonsentrasi mencari Kyra. Harus bergerak cepat untuk menemukannya, agar sesuatu yang tidak tidak diinginkan tidak terjadi. Siapa pun penculiknya, mereka harus ditemukan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN