Ada yang Perduli

1719 Kata
"Kenapa? Ada yang salah?" Dengan suara datarnya, Alif bertanya pada Kyra dan Lea yang terus memandangnya dan Randai. Apalagi pandangan mereka terus menatap sesuatu yang dibawa Alif dengan alis mengkerut. "Apa yang kamu bawa, Lif?" "Senjata. Apalagi." Alif mendekat ke arah pohon dan meraih tasnya. Menepuknya beberapa kali dan mengecek isinya. Kemudian memicing pada dua gadis yang baru saja ia tinggalkan. "Untung tidak hilang. Kalian tidak menjaganya dengan benar." Kyra dan Lea melongo. Hey! Ada apa dengan Alif, kenapa tiba-tiba dia terlihat badmood setelah kembali. "Kami menjaganya, Lif. Tidak lihat kami masih di sini saat kalian kembali." Lea membela diri yang dibalas dengan anggukan Kyra. "Yah, tapi kalian tidak mengawasinya dengan benar. Benda ini sangat berharga. Tidak mudah untuk mendapatkannya, sengaja aku meninggalkannya di sini karena khawatir akan ada sesuatu di tengah jalan nanti." Randai berjalan mendekat, dia menepuk pelan pundak Alif. "Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan, benda itu aman." Alif mengembuskan napas pelan. Ia menaruh tas itu ke pundaknya. Kemudian berjalan mendekati mereka. "Kita akan melanjutkan perjalanan. Kalian sudah cukup istirahat kan?" Lea dan Kyra mengangguk. Energi mereka sudah cukup terkumpul meski tidak tidur. Tapi tidak apa, mereka masih sanggup. "Kamu tidak memberikannya, Lif?" Randai menggerakkan kepalanya ke arah kayu panjang yang sudah dibentuk sedemikian rupa agar seperti senjata di tangan Alif. Alif mengangkatnya, dia mengamati sebentar sebelum menatap Kyra. "Mendekatlah, Ra!" "Aku?" Kyra menunjukkan dirinya, membuat Alif langsung berdecak. "Bukan. Tapi hantu di belakangmu." Kyra memekik pelan, reflek dia berlari kecil hingga menubruk tubuh Alif, tubuh lelaki itu menegang beberapa saat ketiak Kyra tanpa sengaja mengenai tubuhnya dengan keras. Lelaki dari Klan Lycanthrope itu berdehem pelan, dia menjauhkan tubuh Kyra dengan sedikit kasar. "Jangan ceroboh, Ra. Tidak ada hantu di sini!" Lea dan Randai saling pandang mengamati tindakan Alif dan Kyra, gadis Fairy itu hanya mengendikkan bahu saat Randai menunjuk mereka dengan tanda tanya. "Maaf. Aku tidak sengaja." Gadis itu menggigit bibirnya, salah tingkah. Jantungnya sampai berdegup kencang karena ini. "Ini untukmu. Aku dan Randai yang membuatnya." Alif menyerahkan kayu dengan ujung lancip ke arah Kyra. Gadis itu menerimanya dengan wajah bingung. "Untuk apa?" "Berjaga-jaga saja untuk kondisi tertentu. Supaya kamu tidak kesusahan saat mencari senjata, tidak keberatan saat mengayunkan kayu temuan kamu itu." Kyra meringis pelan. Alif benar, dia selalu kesusahan saat mencari sesuatu yang digunakan untuk melindungi diri saat bertarung. Bahkan kadang tangannya akan nyeri kalau yang ditemukan adalah kayu agak besar dan dirinya terlalu lama mengayunkannya. "Jauh lebih baik, kan, Ra?" Randai mendekat, dia merangkul bahu Alif. Tindakannya ini menuai lirikan tajam dari lelaki serigala itu, tapi Randai tidak perduli, dia mengabaikannya saja. Kyra mengangguk dengan senyum di wajahnya, Lea yang milihat itu juga mengulas senyum. Ikut senang. Ternyata ini yang dilakukan dua sahabat lelakinya tadi, mereka memikirkan Kyra, membuatkan sesuatu untuk menjadi pegangan. Sangat tahu kalau Kyra tidak bisa terus bergantung pada mereka saat sedang dalam pertarungan. Kyra mengamati senjata baru yang ia terima. Sangat sederhana memang, hanya sebilah kayu yang ujungnya lancip. Kayu ini lebih ringan dari yang ia duga. Saat mencoba menyabetnya pun, dia merasa nyaman. "Terima kasih. Aku suka, terasa nyaman." Kyra tersenyum lebar pada kedua sahabat lelakinya itu. Dua pria berbeda Klan itu hanya mengangguk. Kemudian Alif melepaskan rangkulan Randai dengan kasar dan berjalan mendahului mereka. "Hey! Kamu tidak bisa meninggalkan kita  begitu saja, Lif." Randai berlari kecil menyusul Alif. Tetapi lelaki itu tidak bergeming. Terus berjalan dan tidak menanggapi. Sedangkan Lea dan Kyra berjalan beriringan. Gadis yang sedang memegang senjata baru itu terus mengayunkannya, mencoba beberapa kali. Ah, tidak sabar rasanya dia menggunakannya pada pasukan musuh. Meski sebagian pikirannya menolak, tidak ingin ada lagi pertarungan yang terjadi kedepannya. Dirinya ingin perjalanannya lebih ringan dan mudah, tapi di sisi lain dia juga ingin menggunakan benda ini. Akan sejauh apa rasa percaya dirinya saat menghadapi musuh tadi--ah ... cukup! Pemikiran ini hanya akan membuat Kyra bingung saja. "Ada apa, Ra? Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Kyra menggeleng menjawab pertanyaan Lea. Dirinya hanya menanggapi dengan senyuman saja. "Kamu agak aneh, Ra, setelah menerima benda itu. Apakah mungkin ...." Lea  menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya secara langsung, membuat Kyra memicing heran dengan sahabatnya itu. "Apa? Kamu jangan berpikir aneh ya, Le!" Kyra mencebik. Lea hanya menggeleng saja. "Tidak, Ra. Aku rasa ... sepertinya kamu telah jatuh hati pada mereka. Salah satunya mungkin." "Ngawur! Tidaklah." Kyra mengibaskan tangannya ke udara. "Ah, bohong. Buktinya kamu terus saja senyam-senyum bahkan menggeleng beberapa kali saat berjalan tadi. Ayolah, Ra, katakan ... aku tidak akan memberi tahu mereka." Lea menggoyangkan lengan Kyra beberapa kali, membuat Kyra jengah juga lama-lama. "Tidak Alif tidak juga Randai. Kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak. Mereka berdua hanya sahabatku." "Masa?" Kyra mengangguk yakin. "Yah ... padahal aku ingin mendengar kamu menyebutkan salah satu dari mereka." "Ck! Tidak, Le. Kamu jangan berharap lebih." "Lalu kenapa kamu dari tadi terus tersenyum dan menggeleng? Itu mencurigakan." "Sini!" Kyra menggerakkan jarinya, menyuruh Lea untuk mendekat, dia membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya itu. "Gila kamu!" Pekikan Lea ini membuat dua remaja lelaki yang ada di depannya langsung menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Randai. "Tidak ada. Hanya urusan perempuan." Kyra nyengir lebar dan menyuruh mereka kembali berjalan. Lea yang ada di sampingnya melotot tajam. "Bisa-bisanya kamu berpikir ingin bertarung lagi hanya karena benda ini." Kyra terkikik geli melihat ekspresi sahabatnya. "Hanya pikiranku saja, Lea. Tidak benar-benar ingin." "Tetap saja, itu pikiran konyol. Gila kamu!" Kyra mengembuskan napas, mendongak menatap langit malam yang terlihat lebih indah dari sebelumnya. Tentu saja, hampir seharian mereka dikepung kegelapan, masih untung mereka bisa ke luar dengan selamat. "Sesekali kita emang perlu berpikir gila untuk kembali waras, Le. Sudahlah, lupakan perkataanku tadi. Aku hanya penasaran, tapi tidak ingin mengalami." Lea berdecak, dia tidak lagi menanggapi. Setelah itu mereka kembali berjalan beriringan menyusul Alif dan Randai. Menyusuri hutan dalam kondisi yang sudah malam, mungkin kalau mereka bisa mengetahui waktu di dunia manusia, saat ini pasti sudah sekitar pukul 21.00 malam, atau bisa jadi lebih dari itu. "Sejauh ini, binatang yang baru kutemui hanya di perkampungan Filo dan Sofi, sama di hutan gelap tadi. Kenapa seolah tidak ada kehidupan di sini?" Alif mengangkat kedua bahunya, dia tidak bisa menjawab kali ini, karena dia juga tidak tahu apa penyebabnya. Yang ia pikirkan sekarang adalah ... bagaimana caranya mereka menemukan potongan pusaka itu lagi, sedangkan dari terakhir kali mendapatkannya dari Luna, mereka berempat belum mendapat petunjuk sama sekali. Semua seolah buntu. Tanpa jawaban dan penuh misteri. *** Kyra tiba-tiba berhenti dari berjalannya. Dia menatap ke belakang. Dirinya merasa ada yang mengawasi dengan sembunyi-sembunyi. "Ada apa, Ra?" Lea ikut berhenti, ikut mengamati arah pandangan Kyra yang mengedar ke sekeliling. Gadis itu menggeleng. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Atau merasa was-was karena pikiran konyolnya tadi. Dirinya kembali melanjutkan perjalanan, sedikit berlari untuk menyusul dua sahabat prianya. "Kalian lelet sekali!" Randai mencibir, menengok sebentar saat mendengar langkah kaki dari dua gadis yang sempat mendapatkan kekuatan baru tersebut. "Langkah kaki perempuan sama laki-laki jelas beda, Ran. Laki-laki lebih lebar dalam melangkah, kalau perempuan lebih anggun." Kyra membela diri, dirinya tidak suka dikatain lelet. Bagaimana pun, dia dan Lea sudah berjalan lebar semampunya--yah ... meski pun lebih tepatnya Lea yang menyeimbangi langkahnya. "Alif!" "Hmm?" Lelaki itu hanya berdehem saja, dia bahkan tidak menghentikan langkah kakinya sama sekali. Tanpa menoleh sama sekali. "Bisa tidak kamu memelankan langkah kakimu, kami selalu tertinggal--" "Kami?" Lea menyipit heran. Membuat Kyra langsung berdehem. "Maksudku, aku tertinggal, dan Lea berusaha mengimbangi langkahku." Alif berhenti, dia langsung memutar tubuh dan menghadap ke arah Kyra. "Perlu kugendong?" Wajah Kyra bersemu merah mendengar perkataan Alif. Randai bahkan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda sahabatnya itu. "Cie ... cie ... yang pingin digendong dan menggendong. Mau dong, Bang." Kyra melotot ke arah Randai. "Jangan mulai Ran!" Gadis itu memperingati. Tapi tidak membuat Randai jera sama sekali. "Aku tidak mau! Hanya ingin kamu memelankan langkah saja, itu cukup!" Terlihat kedua pundak Alif yang terangkat dan turun kembali. Lelaki itu mengembuskan napas, terlihat lelah mendengar pembicaraan Kyra. "Langkah kakimu lelet sekali, Ra. Sedangkan kita harus bergegas. Kita harus segera menemukan potongan pusaka itu. Waktu kita menipis, bisa jadi Klan Lucifer sudah bergerak ke sentral gudang rahasia tempat Zek dan Canuto berada, bisa jadi malah mereka sudah menyusun strategi yang siap menyerang para Klan, imbasnya bisa sampai ke dunia manusia. Kita harus bergerak cepat agar misi ini segera selesai." Perkataan Alif memang pelan, tapi ada nada kekesalan di sana, sepertinya lelaki itu pikirannya cukup lelah beberapa hari ini. Dia hanya ingin segera menyelesaikan misi dengan cepat. Sampai lupa kalau Kyra memang berbeda dengan mereka, gadis itu memang bergerak lebih lambat, meski ada kekuatan baru, dia benar-benar belum bisa mengendalikan dengan baik. Andai pun bisa pasti sudah ia gunakan dari dulu. Tanpa disadari, Kyra sedikit tersinggung dengan perkataan Alif. Terlihat kekanakkan memang, tapi dirinya hanya meminta tolong untuk sedikit di pahami kondisinya. Tidak bisakah Alif menuruti kemauan sederhananya ini. Itu tidak sulit, meski ia tahu tujuan Alif memang sangat baik, tapi kekompakan di sini bukankah sangat diperlukan? Lalu mengapa harus selalu dia yang mengerti dan mengikuti kemauannya yang ia sendiri kesusahan untuk mengejar. Apa salah jika Kyra meminta hal sederhana itu. "Maaf, aku tidak lagi begitu." Kyra memilih mengalah, perempuan memang sering menggunakan perasaan, halus sekali, sedikit saja sudah membuatnya rapuh, ibarat kaca ... sudah ada yang mulai retak. Alif kembali melangkah, dia masih belum menyadari kalau perkataannya menyinggung Kyra. Randai sempat melihat mereka bergantian, awalnya dia curiga Kyra tersinggung, tapi melihat Kyra yang langsung melempar senyum ke arahnya membuat dirinya lebih lega. "Jangan dengarkan perkataan Alif, dia mungkin sedang banyak pikiran, Ra." Lea mengusap punggung sahabatnya. Kyra hanya mengangguk samar dan tersenyum. "Tenang saja, Le. Aku tidak sebaper itu," bohongnya sambil melemparkan senyum terbaiknya. Kadang lidah memang lebih tajam dari perbuatan yang menyakitkan. Randai saja yang hampir memangsanya tidak membuat dirinya sesak seperti ini tapi Alif? Ah ... sudahlah, Kyra tidak boleh terlalu membawa perasaan seperti ini. Tidak baik juga untuk perjalanan mereka. Lengang kembali mengisi tiap derap langkah kaki mereka. Hanya suara angin dan ranting yang seperti nyanyian melodi yang begitu merdu. Semua hening, larut dalam pikiran masing-masing, tanpa tahu kalau ini adalah awal persahabatan mereka sedang dicoba. Ujian yang harus dilewati sebelum menemukan seberkas cahaya keemasan di depan sana. Karena sedikit melamun, membuat Kyra malah semakin tertinggal. Dia tidak tahu kalau ada yang menguping pembicaraan mereka tadi--saat Randai mengatakan ada yang hebat dari darah Kyra. "Aku akan mendapatkanmu kali ini." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN