Tentang Hewan Malam

2560 Kata
Malam hening. Tidak ada suara hewan apa pun di sini. Sunyi. Jarak mereka dengan hutan gelap hitam bak bulan gosong itu lumayan jauh, sengaja Alif mengajak mereka untuk melangkah lebih jauh, tidak jadi beristirahat di bawah pohon rindang tadi. Lelaki itu khawatir kalau malam seperti ini hewan malam tersebut akan menyusul, membalaskan dendam atau apa pun yang membuatnya tidak terima. Akhirnya dengan menggunakan kekuatan teleportasi dan kecepatan berlari Alif, mereka sampai di tempat yang jauh dari hutan yang menawarkan kematian tadi. "Kamu yakin hewan jelek itu tidak akan menyusul, Lif?" Randai sesekali menengok ke belakang atau pun ke atas, memastikan mereka benar-benar aman sekarang. "Sepertinya tidak, Ran. Tiga jam kita berdiam di sini. Tidak ada tanda-tanda hewan kelelawar itu akan kemari. Setidaknya jika itu terjadi, suara lengkingannya pasti sudah sampai di telingaku." Randai mengangguk. Kemampuan Alif memang tidak bisa disepelekan. "Tidak, aku tidak suka." Randai menjauhkan tangan Kyra yang menawarkan sepotong roti padanya. "Padahal enak sekali!" Kyra memasukkan roti tersebut ke mulutnya. Perbekalan mereka masih lumayan. Roti pemberian Canuto memang sangat manjur, hebat sekali mengganjal lapar selama dua hari. Jika roti ini diproduksi di dunia manusia, sudah pasti sangat membantu orang-orang yang sering kelaparan karena tidak adanya makanan. "Kamu tahu sendiri apa yang kukonsumsi, Ra." Kyra mengangguk, kembali mengunyah roti baru yang ia masukkan ke dalam mulut. Tindakannya ini menuai tatapan dari Lea dan Alif. Mereka yakin, dua sahabatnya itu akan kembali berdebat. "Yah ... aku sangat tahu. Bahkan tidak akan lupa rasa gigimu di tanganku, Ran." Kyra menunjuk tangannya yang pernah digigit Randai, tidak ada bekas. Namun jika diamati dengan teliti, ada kemerahan yang sedikit samar berbentuk gigi di sana. Randai mengembuskan napas, dia tahu Kyra tidak mungkin bisa melupakan dengan mudah begitu saja. Lelaki itu meminta maaf. Kyra yang mendengar itu malah terhenyak. Dia tidak bermaksud untuk mengulik kembali atau mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Tadi dia hanya reflek, karena terbawa suasana obrolan mereka. Apalagi perubahan wajah Randai yang begitu kentara. "Santai saja, Ran. Itu pengalaman berharga yang tidak bisa aku lupakan. Kapanlagi aku bisa merasakan gigitan sahabat sendiri yang berasal dari Klan Vampir. Manusia mana pun pasti tidak ada yang seberuntung diriku." Kura tertawa, mencoba mencairkan suasana. "Dan tidak ada manusia lain yang berbangga diri karena itu, Ra. Ya ampun, otakmu benar-benar tercemar racunnya Randai." Lea menoyor pelan kepala sahabatnya, benar-benar tidak habis pikir. "Hehehe, itu memang pengalaman berharga, Le. Sekaligus bisa menjadi pelajaran untuk membentengi diri dari hal yang sama seumpama itu terjadi lagi--dan bukan Randai pelakunya. Lagi pula, sepertinya hanya aku yang selamat dari seranganmu, Ran. Itu berarti aku memang sekeren itu, kan." "Berhentilah berbangga diri, Ra. Ya ampun." Lea menepuk jidatnya, dia sudah memasukkan perbekalan ke dalam tasnya, begitu juga dengan Kyra, dia juga melakukan hal yang sama. "Baiklah kamu memang sepertinya satu-satunya yang selamat. Tapi kamu tetap harus waspada dan hati-hati. Ini bukan sekali saja terjadi padamu, hampir empat kali kamu menghadapi maut karena Vampir." Kyra mengangguk mendengar nasehat sahabatnya, dia tahu Lea perduli. Gadis itu membalas dengan senyuman merekah dari bibirnya. "Ran, jangan bersedih. Tidak perlu lagi mengingat hal buruk itu, semua sudah berlalu." "Siapa yang sedih. Kamu saja yang terlalu percaya diri. Aku hanya mengingat setelah kejadian itu ada yang aneh." Kyra membenarkan tempat duduknya. "Aneh kenapa? Kamu semakin waras--aww!!" Gadis itu memegang kepalanya yang berdenyut karena pukulan Randai. "Bukan itu." "Lalu?" Alif yang dari tadi diam ikut tertarik. Begitu pun juga dengan Lea. Perubahan apa yang didapat Randai setelah hampir membunuh Kyra. "Aku merasa semakin muda dan tampan, hahaha." "Mati saja kamu, Ran!" Alif benar-benar kesal dengan Randai, dia sudah mendengarkan dengan serius tetapi lelaki itu malah mengerjai mereka. Bahkan Lea saja sangat ingin membawa Randai terbang setinggi mungkin dan melemparkannya ke dalam kolam salju yang dingin, setidaknya suhu minus di sana bisa mendinginkan otaknya yang tidak biasa itu. Randai masih tertawa, dia tahu dirinya sudah membuat kesal para sahabatnya, tapi sungguh, awalnya tidak ingin berniat begitu. Hanya saja, saat melihat ekspresi Alif yang tidak seperti biasanya itu membuat dirinya ingin mengerjai. "Baik ... baik. Maafkan aku sudah membuat kalian kesal, aku akan bicara serius kali ini." Randai terdiam sebentar, dia mengembuskan napas pelan sebelum melanjutkan. "Kalian tahu suplemen yang sering kalian tonton di televisi?" Randai menatap satu persatu wajah sahabatnya itu. Mereka semua reflek mengangguk mendengar pertanyaan Randai. "Seperti itulah efek darah Kyra. Tenagaku seperti terisi berkali-kali lipat. Aku merasa energiku masih stabil--bahkan setelah pertarungan di hutan gelap tadi." Alif memicing. "Tidak masuk akal, bualanmu terlalu kentara, memangnya tidak ingat, tadi setelah ke luar saja kamu bilang kelelahan." Randai berdecak. "Justru itu sangat masuk akal, Lif. Yah ... kamu memang benar, aku sempat mengeluhkan capek, tapi itu hanya akal-akalanku supaya kita istirahat dulu. Maaf." Randai nyengir lebar dan dengan cepat mengatakan maaf saat melihat sorot tajam dari mata Alif si manusia serigala. "Lagi pula, kalau memang aku berbual, sudah dari tadi aku pasti mengeluh, tapi kamu lihat ... aku tidak pernah mengeluh kan, selama kita beristirahat." Randai menggerakkan alisnya naik-turun. Lelaki vampir itu benar, dari tadi dirinya tidak mengeluh capek seperti biasanya. "Lalu? Kamu ingin mencicipinya lagi?" Kyra menegang, tubuhnya yang tidak jauh dari Randai reflek mundur, tangannya dengan erat memegangi bekas gigitan yang pernah Randai tinggalkan. "Lalu kita bertarung? Atau kamu akan langsung membunuhku? Ayolah, Lif, aku bahkan selalu dihantui rasa bersalah tiap melihat Kyra. Masih terasa segar di ingatanku saat gadis itu dengan tubuh kaku terus menggeram dengan mata melotot." Suara Randai agak sedikit pelan, terlihat sekali kalau dia benar-benar menyesal. Bahkan dulu rela dibunuh Alif jika sampai Kyra meninggal atau berubah menjadi sepertinya. "Baguslah, itu artinya aku tidak selalu mengkhawatirkanmu saat Kyra berada di dekatmu." Alif membenahi posisi, duduk berselonjor sambil bersedekap d**a. Dia mencoba mengingat apa saja yang sudah terjadi dalam perjalanan mereka. "Sialan kamu, Lif!" Randai mengumpat kesal, setelah lelaki itu bertanya dan dia menjelaskan panjang lebar dengan perasaan bersalah, sekarang lelaki serigala itu dengan santainya malah mengabaikannya. Kyra mengembuskan napas lega. Syukurlah, tidak ada pertarungan antara Alif dan Randai, dan dia bersyukur setelah melihat penyesalan Randai, setidaknya dia tidak terlalu panik atau takut saat berada di dekatnya. "Kamu takut, Ra?" Lea terkekeh melihat sahabatnya yang mengembuskan napas lega dan kembali merilekskan duduknya. "Sedikit, tapi penjelasan Randai membuatku lebih tenang, Le. Tidak menyangka kalau dia begitu menyesal." Kyra berbisik pelan di dekat Lea, sambil terkikik geli karena mengingat ekspresi Randai. "Aku masih dengar, Ra." Lelaki Vampir itu berdecak, sambil melemparkan kerikil ke sampingnya. Meloncat begitu jauh dari lemparan normal manusia biasa. "Ngomong-ngomong, kenapa kelelawar-kelelawar itu tidak mengejar kita lagi--maksudku, di dalam hutan gelap saja, yang saat itu siang mereka masih bisa menyerang kita dan terbang ke sana-ke mari tanpa tertabrak atau kesulitan. Lalu kenapa dalam keadaan yang sudah malam dia tidak menyerang kita?" Kepala Kyra dari tadi memang memikirkan ini, dia bertanya-tanya, bingung. "Kamu ingin bertarung lagi, Ra? Diserang hewan itu?" "Enak saja, tentu saja tidak. Cukup aku berjuang hampir mati di dalam sana. Tidak mau lagi." "Lalu kenapa menanyakan? Rindu?" Kyra mengembuskan napas kesal. "Tidak, Ran. Hanya bertanya karena penasaran, camkan itu, garis bawahi ... hanya bertanya!" Alif membenahi posisi duduknya, dia mengembuskan napas pelan. Mengambil ranting yang tergeletak tidak jauh darinya dan menggoreskan abstrak di atas permukaan tanah. "Mudah saja, Ra. Kelebihan-kelelawar itu sudah lama hidup dalam hutan gelap itu. Sepertinya memang begitu. Dia sudah terbiasa dengan kondisi tempat tersebut, jadi .. sepertinya dia akan kesulitan kalau tetap menyusul kita ke sini. Sekarang lihat sekitarmu!" Kyra yang semula menatap Alif serius, beralih menatap sekeliling. Tidak ada apa-apa, hanya hening dan suara ranting yang bergerak tertiup angin. "Kenapa dengan sekitarku?" "Tidakkah kamu menyadari kalau tempat ini jauh lebih terang daripada di dalam hutan tadi?" Kyra kembali mengamati sekitar, dia mengangguk pelan. Lalu kenapa memangnya? Batinnya terus saja bertanya seperti itu. Alif terkekeh pelan. "Jangan bingung, Ra. Jadi begini ... kelelawar itu hewan malam, dia terbiasa dengan kehidupan malam dan gelap, dari tadi dia terus melengking karena memantulkan suara ke arah sekitar. Mereka sudah terbiasa berada di tempat sempit dan gelap itu dalam yang lumayan lama--sepertinya memang begitu. Jadi ... seumpama mereka tetap bergerak nekat mengikuti kita, yang ada mereka akan kesusahan dan bisa dikalahkan dengan mudah. Di sana, mereka berkuasa karena itu tempat mereka. Kita lemah di sana karena hanya aku yang bisa melihat dengan lebih baik. Tapi di sini ... kalian semua bisa melihat dengan mudah, sinar rembulan bisa menembus dan menerangi tempat ini, meski pun di malam hari, berbeda dengan hutan tadi. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Tapi melihat bagaimana rapat dan gelapnya hutan tadi, pasti itu hutan yang sangat berbahaya. Bahkan sinar matahari saja tidak bisa menembus. Kita beruntung karena sampai di tempat itu kondisi masih siang. Aku tidak tahu kalau kita sampai melewatinya di malam hari." Alif membuang ranting itu ke sembarang arah. Ia mengambil napas banyak sebelum mengembuskannya. Kyra juga hanya mengangguk, dia paham sekarang. "Lalu bagaimana cara hewan-hewan itu makan? Bukankah di sana tidak ada hewan atau makanan apa pun selain mereka?" Lea jadi ikut penasaran dengan kehidupan hewan itu, padahal akan lebih baik jika mereka melupakannya saja dan tidak mengingat kembali hewan menyebalkan yang hampir membunuh mereka. "Buah. Mereka memakan buah. Di dalam sana memang tidak ada kehidupan hewan lain selain mereka. Itu yang aku lihat tadi. Tapi selama mengamati tempat itu, aku melihat ada banyak buah. Keberadaannya tinggi sekali, mungkin kalian tidak tahu karena kondisi hutan yang begitu gelap, ditambah lagi adanya hanya di ketinggian. Tapi untuk hewan-hewan itu yang bisa terbang ... itu bukan perkara yang sulit. Mereka sepertinya masih sama dengan yang ada di dunia kita, hanya saja ukuran dan kemampuannya jauh lebih ganas dari yang kita tahu." "Bagaimana kamu tahu kalau itu makanan mereka? Bisa jadi tebakanmu salah." "Mudah, penglihatan Alif selain lebih tajam juga jauh, seperti kaca pembesar dia bisa melihat dengan jarak jauh juga hanya dengan menyipit." Alif menyunggingkan senyum. Randai benar, tumben sekali pria itu berkata benar tentang dirinya. "Karena penjelasannya sudah selesai, aku harus pergi." Alif berdiri, dia menepuk pantatnya dari sisa debu yang menempel di bajunya. "Mau ke mana, Lif?" "Tenang saja, Ra. Suamimu ini sedang mengusahakan mencari sesuatu yang bisa kamu pegang nanti." Randai merangkul pundak Alif, membuat pria itu menepis tangannya namun gagal. Pria vampir itu malah semakin erat menempelkan sambil memainkan alis. "Sesuatu? Apa itu?" "Nanti kamu juga tahu sendiri. Ayo, Lif!" Randai bersiul pelan, dia menarik Alif agar segera menjauh dari dua gadis tersebut. "Kalian istirahatlah, kami akan kembali nanti, tidak akan lama!" Alif sedikit berteriak karena Randai yang terus menarik tubuhnya. "Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan mereka?" Kyra menggeleng heran melihat kelakuan dua sahabatnya itu. "Aku juga tidak tahu, Ra. Mereka memang susah ditebak. Sebentar-sebentar bertengkar, sebentar-sebentar berbaikan." Lea ikut berdiri, dia mengamati rambutnya yang sempat mengeluarkan cahaya tadi. Memainkannya dengan jarinya di setiap helaian yang bisa dijangkau jarinya. "Apa Klanmu juga mengenal dekat dengan Klan mereka, Le?" Lea menggeleng. "Aku mengenal mereka baru-baru ini, Ra. Mamaku menutup rapat tentang dunia paralel, dunia para Klan tinggal. Pemisah antara manusia dan bangsa klan seperti kita." "Lalu kenapa aku dipilih untuk perjalanan ini ya Le?" Lea mengangkat kedua bahunya. "Hanya Zek dan Canuto yang tahu. Kamu tidak capek, Ra?" Lea menatap ke arah Kyra yang sedang menatap langit malam. "Capek sih, kenapa memang?" "Tidak mau tidur?" Kyra menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengantuk--juga tidak ingin tidur." Gadis itu ikut berdiri, menghampiri sahabatnya yang tengah memejamkan mata. Perlahan ... di belakang punggungnya di bagian pundak mengeluarkan cahaya lembut. Berpendar kuning yang lama kelamaan dibarengi munculnya sepasang sayap, melebar dan membentang di kanan kirinya. Kyra sigap menghindar, hampir saja dia tersabet sayapnya Lea. "Huft! Untung saja." Kyra mengusap dadanya pelan. "Kenapa, Ra? Sayapku hampir mengenai kamu ya?" Kyra mengangguk, tangannya terjulur menyentuh salah satu sayap Lea. Lembut, ada bulu kuning keemasan di sana. Indah sekali. Baru kali ini dia menyentuh sayap sahabatnya. Lea tertawa kecil melihat kekaguman sahabatnya. Dia gerakkan pelan sayapnya, membuat Kyra agak terkejut karena hal itu. "Kenapa, Ra?" "Aneh, bagaimana mungkin aku bisa mengenal kalian? Apalagi kamu dan Alif, kalian bisa bertransformasi mengerikan." "Tapi aku cantik, Ra. Lihat saya ini." Lea mengibaskan rambutnya yang bersinar lembut, membuat dua gadis itu tertawa bersama. "Kamu pikir hanya kamu yang bisa, aku bahkan bisa mengeluarkan cahaya terang dari telapak tanganku." Kyra berkata bangga, dia sangat senang bisa melakukan itu, apalagi jika mengingat bagaimana selama ini dia yang selalu merasa berbeda. "Memangnya kamu bisa mengendalikannya? Bukankah api biru yang hebat saja hanya ke luar saat kamu pingsan." Kyra mencebik. "Jangan meremehkanku ya." Gadis itu menepuk kedua tangannya dua kali, setelah itu mengeluarkan napas lewat mulut, berusaha melakukan kuda-kuda sebelum mencoba kekuatan barunya. Lea hanya mengamati sambil menahan senyum, kedua tangannya hanya terlipat di depan d**a. Menunggu apa yang akan dilakukan Kyra selanjutnya. Gadis itu kembali mengeluarkan udara dari mulutnya lagi. Setelah itu mengepalkan tangannya, mengarahkan sedikit ke atas, lalu dibukanya perlahan. Pikirannya terfokus pada bayangan cahaya dan tangan. Mensugesti diri agar dirinya bisa melakukan sesuatu luar biasa seperti semalam. Matanya terpejam erat. Berkonsentrasi penuh. "Woah ... kemampuanmu memang selalu luar biasa, Ra. Kamu bisa melakukannya ternyata." Kyra membuka matanya. Melihat sinar biru yang didominasi warnah putih itu keluar dari telapak tangannya. Gadis itu tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri. Bahagia luar biasa. Lea yang melihatnya juga ikut tersenyum, dia mengepakkan sayapnya dan terbang rendah mengitari Kyra, lalu kemudian turun kembali di depan sahabatnya. "Melihatmu yang bisa melakukan ini-itu juga, aku rasa kamu juga bukan manusia biasa, Ra. Mungkin karena ini juga mengapa Zek dulu memilihmu." Kyra yang mengamati tangannya beralih ke arah Lea. "Tapi aku dari Klan mana? Aku tidak seperti kamu, tidak juga seperti Randai, apalagi sampai merubah diri menjadi serigala seperti Alif. Aku malah tidak bisa, Le." "Tapi manusia biasa juga tidak bisa melakukan hal luar biasa seperti kamu sekarang ini, Ra. Masa iya, kemampuanmu ada dan berkembang saat perjalanan ini dimulai?" Lea kembali mengepakkan sayapnya, tapi kali ini tidak terbang. "Itu opsi yang masuk akal." Kyra menurunkan tangannya, menyembunyikan cahaya indah yang ke luar dari telapak tangannya itu. Sekarang dia normal kembali seperti gadis pada umumnya. "Rambutmu masih bersinar, Ra. Aku bahkan tidak bisa melakukannya tanpa sayapku ini. Bagaimana mungkin kamu bisa?" Lea menyentuh permukaan rambut Kyra, membelainya pelan sebelum menjauhkan tangannya. Kyra hanya mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tahu. "Aku hanya berkonsentrasi, membayangkan diriku bisa mengeluarkan cahaya terang, dan itu muncul begitu saja. Hanya perlu berkonsentrasi." Lea mengangguk. Dia juga sempat melakukan itu, tapi tetap saja tidak bisa. Mungkin tidak berlaku untuk dirinya. "Bagaimana rasanya mempunyai sayap, Le?" "Hmm?" Lea menatap Kyra sebentar. "Sayap ini sudah menjadi bagian dari tubuhku, Ra. Tidak ada rasanya. Seperti halnya kamu menanyakan bagaimana rasanya punya tahi lalat di punggung. Semua biasa saja. Bedanya aku bisa menggerakkannya dan mengangkat tubuhku seperti ini." Lea kembali melayang, kakinya tidak lagi menapaki tanah, tubuhnya terangkat sedikit sebelum akhirnya kembali turun. "Keren!" Meski bukan pertama kali, tetap saja Kyra selalu kagum dengan kemampuan Lea. Gadis itu lalu menyembunyikan sayapnya lagi setelah sempat disentuh Kyra. "Kamu juga tidak kalah keren, Ra. Buktinya kamu pernah menyelamatkan kami dari bahaya, contohnya seperti tadi--saat berada di hutan gelap dan diserang banyak kelelawar." Lea sedikit bergidik membayangkan hal yang sudah berlalu beberapa jam silam. Hingga mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengamati mereka dan dua pasang kaki yang terus melangkah menuju ke arah mereka. "Seru sekali sepertinya. Padahal kami bekerja keras membuatkan ini." Dua gadis itu menoleh, terkejut dengan kedatangan dua orang laki-laki di hadapan mereka dengan membawa sesuatu di tangan salah satunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN