Ujung Hutan Gelap

2743 Kata
"Kalian seperti anak kembar." Randai terus mengamati dua sahabat perempuannya itu. Tangannya sesekali iseng menyentuh rambut salah satunya. Perbuatannya itu sukses membuat dirinya mendapatkan tepisan tangan kasar dan pelototan mata dari keduanya. "Hey! Jangan sering memelototiku. Kalian akan jatuh cinta nanti." "Jatuh cinta pantatmu benjol!" Kyra berdiri, menepuk pantatnya dari sisa tanah yang menempel. Kembali dia menepis tangan Randai yang menyentuh rambutnya lagi. "Bagaimana bisa dia bercahaya, Ra? Setahuku, rambutmu itu tidak menyumbang sedikit pun uang pada perusahaan listrik, kenapa ini terjadi." "Ran, ini bukan dunia manusia yang bisa kamu samakan dengan seperti itu." Yah, mereka kembali berdebat. Hanya sesekali akur, itu pun bisa dihitung menit. "Hmm, aku tahu." Randai mendesis pelan, kemudian beralih menatap Lea. "Apalagi?" sahut Lea ketus. "Aku bahkan belum bertanya, Le. Ketus sekali kamu." "Biasanya kamu begitu, Ran." "Ah iya. Kamu habis mengganti warna rambut saat bertarung tadi? Keren sekali warnanya. Bisa mengeluarkan cahaya juga. Kalian seperti lampu yang menyala di kegelapan malam. Keren sekali." Lea memutar bola matanya jengah. "Tidak ada yang menyemir rambut saat terbang di atas sana, Ran. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu, berpikir ke sana pun tidak. Di saat genting dengan nyawa menjadi taruhan ... masih bisakah pikiran kita bercabang ke sana?" Randai terdiam, Alif masih memperhatikan perdebatan mereka. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi, semua tiba-tiba. Tanpa ada yang bisa menjelaskan. Dan yang paling penting ... dia penasaran siapa Kyra. Gadis itu penuh misterius, dari awal melihat memang seperti itu, apalagi saat Zek menunjuknya untuk ikut serta di petualangan yang sulit ini. "Sangat bisa, Lea. Aku bahkan kadang memikirkan pertandingan sepak bola yang belum kutonton bersama Alif saat pertarungan berlangsung. Membayangkan, bagaimana kelanjutannya nanti, tim siapakah yang akan menang nanti. Itu membuatku sangat penasaran, bahkan saat pertarungan berlangsung. "Yah ... hanya kamu yang melakukan itu." Randai hanya terkekeh saja. Dia menatap ke arah Alif yang dari tadi terus diam. "Bagaimana, Lif. Mau melanjutkan perjalanan atau apa?" "Sebentar." Alif mengamati Kyra dan Lea bergantian, mereka berdua tiba-tiba mendapat sesuatu yang spesial dari sini. Bahkan sayap Lea pun ikut mengeluarkan cahaya lembut kekuningan. "Kalian berdua benar-benar tidak apa-apa? Kalian tidak digigit atau dicakar makhluk itu, kan?" Alif menunjuk Kyra dan Lea bergantian. Dua gadis itu hanya menggeleng saja menjawab pertanyaan Alif. "Memangnya ada apa?" tanya Kyra penasaran. "Aku hanya khawatir kalian keracunan atau apa, tiba-tiba berubah seperti ini. Dan kamu Kyra .... Ah, aku tidak tahu. Dirimu menyimpan banyak teka-teki." Kyra hanya terbengong melihat ekspresi Alif. Yah ... wajar jika pria itu tiba-tiba terkejut dan tidak mengerti, pasalnya yang dia ketahui, dirinya hanya gadis lemah biasa yang di rumah hanya disuruh untuk nyapu, ngepel, dan pekerjaan rumah lainnya tanpa ada yang membantu. "Sudahlah, Lif. Ini menguntungkan, mereka bisa menerangi jalan ini tanpa kesusahan, membantu kita juga. Dan yang terpenting. Hewan buruk rupa menyebalkan itu tidak lagi datang mengganggu." Alif memgangguk, dia menyetujui saran Randai. Mereka akhirnya kembali melangkah. Dengan tenaga yang tersisa, mereka menyusuri hutan ini, sebelumnya sempat melihat ke belakang, melihat kekacauan yang telah mereka timbulkan. Beberapa pohon berhasil dibangunkan Lea kembali seperti semula. Beberapa lagi dibiarkan tumbang. Terlalu rapat juga tidak baik untuk hutan ini. Kekuatan baru yang didapat Kyra dan Lea sangat membantu mereka, hewan malam yang mengerikan itu takut cahaya ternyata, pantas saja mereka langsung kabur saat tangan Kyra terangkat dan mengeluarkan cahaya biru terang tadi. Hewan-hewan itu langsung kabur dan melengking keras, seolah kesakitan karena cahaya yang ditimbulkan. Mungkin karena hidup terlalu lama di hutan yang gelap ini salah satu penyebabnya. Lagi pula, hewan kelelawar di dunia manusia memang beraktivitas di malam hari. Mungkin hal itu berlaku juga di sini, sehingga mereka sensitif dengan adanya cahaya. Lea perlahan menyembunyikan sayapnya kembali. Matanya yang berpendar kuning perlahan meredup. Normal seperti sediakala. Rambutnya juga demikian, sinar kuning yang terpancar ikut sirna, namun warnanya tetap tidak berubah seperti dulu yang hitam legam. Sekarang rambut itu telah berubah coklat keemasan. "Kamu menghilangkan cahayanya, Le?" Randai melihat ke arah Lea yang saat ini berjalan di depannya. Beberapa pukulan keras Randai tadi membuat beberapa meter jalan yang mereka lewati tampak lebih lebar dari sebelumnya. Beberapa pohon tumbang, dan Lea membantu membangkitkannya kembali, tidak semua tapi. Gadis dengan warna rambut baru itu mengangguk menjawab pertanyaan Randai. Dia mencoba berkonsentrasi menyalakan rambutnya kembali, ternyata bisa, lalu kemudian kembali ia normalkan. Seperti mainan baru saja. Lea lebih memilih membiarkan rambutnya terlihat normal saja, karena di depannya sudah ada Kyra yang menerangi. Itu lebih dari cukup. Di sini yang penglihatannya kurang tajam hanya Kyra. Meski penglihatan dirinya dan Randai juga tidak setajam milik Alif. Hampir tiga puluh menit berjalan. Pohon-pohon mulai merapat kembali. Sisa pukulan Randai tidak bisa menggapai sejauh ini. Perlahan, bunyi lengkingan dari hewan malam itu masih terdengar. Sepertinya mereka tidak rela, orang-orang yang mengganggu mereka pergi begitu saja. Beberapa bahkan sudah mulai mendekati. Seakan lupa akan cahaya terang yang tadi sempat melukai penglihatan mereka. Meski sudah terdapat bantuan cahaya yang berasal dari rambut Kyra, tapi tetap tidak bisa membuat mereka melewati hutan ini dengan mudah. "Ra, kamu bisa meredupkan cahaya di rambutmu seperti Lea? Atau kamu bisa membuat cahaya terang dari telapak tanganmu seperti tadi?" Kyra melirik sekilas, dia menggeleng pelan saat itu, membuat cahaya yang berasal dari bagian tubuhnya itu ikut bergerak. "Aku bahkan belum tentu bisa mengeluarkannya, Ran. Aduh, ini sangat sulit bagiku. Aku awam dengan hal ini." Kyra menggaruk rambutnya, menimbulkan bayangan tangannya yang terlihat di sekitar pohon. Randai hanya mengangguk saja, dia mengarahkan pukulan ke samping saat ada yang mendekat. BUM! Keras sekali, membuat salah satu pohon itu jatuh karenanya. Hewan-hewan malam ini sepertinya tidak takut lagi. "Pasti kutu di rambutmu itu sedang berpesta, Ra, mendapatkan cahaya baru." "Enak saja, aku tidak punya kutu ya!" Kyra memekik tidak terima. "Siapa yang tahu, dari tadi kamu terus menggaruk." Kyra berdecak sebal. "Memangnya ada hukum yang mengatakan kalau menggaruk kepala sudah pasti kutuan. Pemikiranmu itu sungguh kekanakkan." Randai tertawa keras. Senang sekali dia melihat Kyra kesal seperti itu. Alif hanya diam saja tidak menanggapi, memang seperti itu biasanya--hanya waktu ketika Randai murung dia agak sedikit cerewet. Hanya sedikit. Sedangkan Lea, gadis itu ikut terkikik melihat pertengkaran sahabatnya. Randai dan Kyra, mereka lebih banyak bertengkar sepertinya. Bunyi lengkingan kembali mengudara, sekarang malah lebih keras dan silih berganti. Kepakkan sayap mulai terdengar dari atas sana. Jumlahnya banyak, ratusan, atau bahkan ribuan. Hewan malam itu terbang menuju ke arah mereka, seperti tawon dengan suara lengkingan. Ukuran mereka yang lebih besar membuat beberapa pohon bisa memantulkan bunyi kepakkan sayap mereka dengan jelas. "Sial! Kenapa hewan malam buruk rupa itu tidak kapok juga." Randai melihat ke belakang sedikit mendongak ke atas, begitu pun dengan yang lain. Mereka berhenti untuk mengamati di mana keberadaan hewan tersebut. Yah ... meski pun yang melihat jelas hanya Alif. "Ujung hutan ini apa masih lama? Jumlah mereka sepertinya lebih banyak dari sebelumnya." Lea ikut menyipitkan mata, dia tidak bisa melihat dengan begitu jelas, penglihatannya dalam kegelapan di bawah Randai soalnya. "Aku tidak tahu, sepertinya sebentar lagi. Ayo kita bergegas. Aku malas meladeni. Tenaga kita sudah banyak terkuras." Alif berjalan lebih cepat, dia bahkan tidak sadar sudah menggenggam tangan Kyra. Menariknya untuk bergerak cepat. Meski tetap saja, kecepatan terbang hewan-hewan itu bisa menyusul dengan mudah. Tiga klan itu tidak menggunakan kemampuan berpindah tempatnya dengan cepat, maka dari itu hewan malam tersebut bisa segera menyusul. Krakk!! Satu pohon berhasil ditumbangkan Alif di depannya. Lelaki itu melompat, menghindari batang pohon yang roboh di bawahnya. Begitu pun dengan gadis yang tangannya ia genggam. Setelah mendengar aba-aba dari Alif untuk melompat, Kyra langsung melompat. Beruntung gadis itu tidak tersandung dan terjerembab. Lea berhenti sejenak, dia menunggu Randai berjalan melewatinya, setelah itu dia menggunakan kekuatannya dan membanting pohon tersebut ke depan. BUGH! Berhasil mengenai kelelawar-kelelawar besar itu. Dirinya segera berlari menyusul teman-temannya. Di tempat yang terlalu sempit ini, dirinya tidak bisa mengeluarkan sayap, bisa-bisa patah jika dia paksakan. Lengkingan keras terdengar dari depan mereka, segerombolan kelelawar-kelelawar besar menghadang di depan. Di belakang juga sudah di tutup. Di samping kanan-kiri hanya ada pohon hitam lebat yang berduri. Mereka terkepung. Randai hendak melakukan pukulan, guna menebas dari samping. Tapi tangannya disambar, membuat lelaki itu sedikit oleng karena tabrakan keras bertubi-tubi. Cahaya di rambut Kyra tidak membantu banyak sekarang. Mereka hanya takut dengan cahaya terang, tidak redup. Sedari tadi mengikuti dan mendekati Kyra--hewan itu hanya ingin memastikan mata mereka sanggup bersahabat. "Le, gunakan kekuatanmu. Nyalakan rambutmu!" Randai sedikit mengeraskan suaranya, mencoba melawan lengkingan dari hewan-hewan malam ini yang semakin keras memekakkan telinga. "Aku tidak bisa, Ran. Sayapku ikut andil dalam hal ini. Tempat ini tidak memungkinkanku untuk mengeluarkan sayap." "Sial!" Randai mengumpat sebal. Hewan-hewan ini benar-benar menyebalkan. Tidak ada kapoknya meski para teman-temannya sudah banyak mereka tewaskan. Alif membuat pelindung, melindungi sahabatnya dari serangan keras kelelawar-kelelawar itu yang menukikkan diri hendak menabrak mereka. Randai, mengeluarkan pukulan, Lea membantu dengan menggunakan alam. Mereka tertatih. Tenaga mereka sudah terkuras tadi. Belum lagi mereka tidak bisa berpencar, tekepung menjadi satu di tengah-tengah. Kyra menatap sekitar, hanya dia yang belum membantu apa pun. Pandangannya mendongak menatap hewan-hewan mengerikan itu yang tidak dapat ia lihat dengan jelas. Lalu tatapannya beralih pada telapak tangannya. Dirinya ingat cahaya yang dihasilkan tadi bisa mengusir ratusan atau bahkan ribuan kelelawar ini. Tapi telapak tangannya itu normal, tidak ada cahaya yang dihasilkan meski setitik. Kyra mengepalkan tangannya. Matanya terpejam erat dan dia angkat langsung tangannya ke atas dengan posisi telapak tangan terbuka. Hatinya berharap cemas, dia sangat ingin membantu, dia berharap bisa melakukannya. Bunyi lengkingan itu semakin keras terdengar, kepakan sayap itu semakin terasa keras. Kyra membuka matanya perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah bayangan gelap tubuh mereka yang tertimpa cahaya, lalu pandangan tidak percaya dari para sahabatnya, baru kemudian telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya terang. Berhasil. Kyra berhasil melakukannya. Dirinya tersenyum lebar. "Ra, kamu bisa." Lea tersenyum lebar, begitu juga dengan Kyra, gadis itu bahkan hampir menangis saat melihat itu. Di atas sana dan di sekitar mereka, para hewan malam itu menghindar, saat hendak mendekat mereka langsung terjatuh, beberapa di antaranya tidak lagi mendekat. Cahaya ini menyilaukan, menyakiti mata para kelelawar. Setiap ada gerombolan hendak menyerang mendekat, hewan-hewan itu akan terpental dengan sendirinya--bukan karena ada pelindung yang menghalangi, melainkan karena mereka yang tidak kuat dengan cahaya yang dihasilkan tangan Kyra. Hewan-hewan itu akhirnya hanya menatap dari atas, tidak lagi berani menyerang. Kyra juga bisa melihat dengan mudah tempat sekitarnya. Cahaya ini meneranginya. "Pertahankan seperti itu sampai kita ke luar dari tempat ini, Ra." Kyra memgangguk menanggapi Alif. Mereka kembali berjalan lagi. Melangkah lebih cepat dan lebih mudah dari sebelumnya. Hewan-hewan malam itu tidak lagi menyerang. Mereka lebih memilih membiarkan kali ini. Terlalu takut dengan cahaya biru terang yang disertai api biru kecil yang berasal dari telapak tangan Kyra terus menari-nari di atas empat remaja tersebut. Bayangan pohon dan tubuh mereka ikut bergerak seiring dengan langkah kaki Kyra. Jika hewan itu ada sesekali yang menyerang, Kyra mengarahkan telapak tangannya ke arah hewan tersebut, membuat kelelawar itu melengking dan pergi menjauh, bahkan ada yang menabrak pohon berduri ini. Alif yang berada di depan juga membantu melonggarkan jalan untuk mempermudah langkah mereka. Jarak mereka yang semakin menjauh membuat hewan-hewan tersebut terus melengking semakin keras. Antara merasa tidak rela dan tidak bisa melakukan apa-apa. Beberapa menit berjalan, di depan mereka sudah terlihat remang-remang samar. Seperti cahaya matahari yang meredup. Pohon di sekitar mereka juga sudah agak renggang, meski duri-duri besar dan tajam itu masih banyak yang mencuat laksana pedang yang siap menghunus siapa pun yang berani mendekatinya. Empat remaja itu mempercepat langkah untuk mendekati keremangan itu. Berlari kecil dengan hati-hati agar segera ke luar dari sini. "Sedikit lagi." Alif menyemangati, mereka merasa begitu senang bisa segera melewati hutan gelap yang dihuni makhluk mengerikan itu. Puk! Langkah kaki Alif berhasil ke luar lebih dulu. Baru kemudian disusul para sahabatnya yang lain. Mereka berhasil. Kyra perlahan menurunkan tangannya dari atas secara perlahan. Kepalanya menoleh, sedikit mendongak menatap ke dalam hutan yang gelap. Kali ini dibarengi suara-suara lengkingan keras yang berasal dari dalam hutan. "Lihat mereka! Payah! Tidak bisa menyerang di sini." Randai mencibir, sebenarnya dia sangat muak dengan hewan-hewan tersebut. "Jangan bicara begitu, Ran. Kita juga sempat kualahan tadi." "Yah ... kamu benar, Ra. Rasanya aku ingin membakar hutan ini langsung jika mengingat tadi. Sayang ... hal itu hanya akan merusak alam." Randai melangkah di samping Alif. Dia mengamati sekitar. Di sini jauh lebih baik daripada tadi. Hari sudah berganti saat mereka ke luar dari hutan gelap mengerikan tadi. Itu artinya, hampir satu hari penuh mereka berjuang dalam pertarungan melawan hewan kelelawar-kelelawar tersebut. "Sudah sore. Apa kita harus melanjutkan perjalanan?" Alif mengamati sekitar. Dia mengembuskan napas pelan. Mengamati jingga yang tergurat di ujung langit. Tubuh teman-temannya lelah, mereka bukanlah Klan kuat yang bisa bertahan dalam energi penuh. Istirahat tetap dibutuhkan. "Bukankah kalian kelelahan seharian ini?" Alif menatap satu persatu teman-temannya, mereka mengangguk kompak. Kyra bahkan beberapakali terlihat memijat tangannya. Dia pegal karena terlalu sering mengayunkan tongkat. Entah jatuh di mana benda itu tadi. Gadis itu meninggalkannya begitu saja setelah hampir diterkam kelelawar. "Kalau begitu kita istirahat. Bagaimana pun, tubuh kita tidak bisa dipaksakan untuk tetap bekerja." "Tapi kita harus bergegas, Lif. Rasanya kita bergerak begitu lambat. Ah, andaikan kita bisa menggunakan kekuatan kita, mungkin kita bisa melipat waktu dengan cepat." Lea mengembuskan napas lelah. Dia benar-benar frustasi rasanya. Ada saja kesulitan yang menghadang perjalanan mereka. "Sayangnya kita harus teliti dalam perjalanan, tidak boleh ada yang terlewat. Informasi yang diberikan Zek dan Canuto terlalu minim." Lea kembali mengembuskan napas pelan. "Yah ... kamu benar, itu yang sangat disayangkan." "Randai lepaskan tanganmu!" Kyra melotot sebal dengan Randai, dirinya terus saja menepis tangan lelaki itu. "Aku ingin melihat, Ra. Hanya sedikit. Kenapa sekarang tidak bersinar lagi." "Itu karena kita sudah berada di luar. Di sini terang!" Kyra berkata judes, sudah cukup dari tadi Randai terus mengganggunya. "Oh iya, berarti nanti malam nyala dong. Asik, tidak perlu menyalakan api." Kyra menghentak kakinya sebal. Dirinya tidak suka Randai terus mengejek kemampuan barunya ini. "Kamu mengejekku, Ran?!" "Tentu saja tidak!" "Tapi kamu bilang--" "Hey ... hey ... hey .... Kalian dari tadi berantem terus. Jangan sampai nanti kalian jatuh hati. Ingat, kebanyakan cerita novel yang k****a temannya hampir seperti itu." Lea menatap Randai dan Kyra bergantian dengan berkacak pinggang. Dirinya benar-benar heran dengan mereka berdua. "Itu tidak mungkin. Kamu jangan mengada-ngada." Kyra menepis sekali lagi tangan Randai yang menyentuh rambutnya. Lelaki ini benar-benar jahil. "Jangan dekat-dekat. Kamu ini mengkhawatirkan, Ran." Randai hanya terkekeh mendengar reaksi kesal Kyra. Alif yang melihat itu jadi ikut berdecak. "Sudahlah, kita harus mencari tempat istirahat." Alif kembali berjalan mendapatkan. Dia membenarkan tas selempangnya yang sempat turun dari pundak, sebelumnya memeriksa isinya. Memastikan potongan benda berharga itu masih ada. Tidak tertinggal di dalam sana. Bisa gawat kalau hal itu terjadi. "Suamimu cemburu, Ra." Lea menggoda Kyra, saat dua pria itu berjalan lebih dulu dengan salah satunya merangkul pundaknya. "Jangan mulai, Le!" Lea hanya terkikik geli dan mengajak Kyra berjalan mengikuti dua sahabat lelakinya itu. Mereka tiba di sebuah pohon yang rindang. Tidak terlalu besar mau pun kecil. Tempat ini cukup untuk digunakan istirahat. "Sebenarnya kurang baik kita terlalu sering istirahat malam di bawah pohon." Kyra menatap paham itu lamat-lamat. "Sebenarnya hanya kamu, Ra. Tentu saja itu tidak berlaku untuk kami." Randai terkekeh. "Itu sangat tidak adil memang." Lea mendekati Alif yang duduk bersandar di bawah pohon dengan menselonjorkan kakinya. "Jadi ... kita akan beristirahat di sini sampai pagi?" Kyra dan Randai ikut memperhatikan obrolan Lea dan Alif. Sebagai pemimpin, lelaki itu selalu ditanya pendapatnya, meski kadang juga didiskusikan dengan yang lain. "Kalian bagaimana? Kalian juga bisa bebas mengutarakan pendapat. Kali ini aku akan menurut." Yah, Alif tidak bisa memutuskan secara sepihak sekarang ini. Apalagi jika melihat kondisi sahabatnya. Dia juga harus memikirkan yang lain. "Kalau aku ingin lanjut sebenarnya, agar misi ini cepat selesai dan kita segera pulang. Tapi aku tidak mungkin egois melihat kondisi kalian, terutama Kyra. Dia kelelahan." Lea menatap Kyra dengan senyuman. "Aku ingin istirahat. Tapi aku akan menurut jika kita tetap melanjutkan." Randai ikut berpendapat. "Baiklah, aku yang memutuskan. Karena ini juga menyangkut tentang aku." Alif mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Kyra. Begitu pun dengan yang lain. "Kita istirahat beberapa jam, setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. Tidak apa-apa dalam kondisi malam hari. Sepertinya seru. Kita belum pernah melakukan, kan, sebelumnya." Hening beberapa saat, mereka saling pandang sejenak. "Aku setuju." Lea menyahut terlebih dahulu. "Yah ... untuk seseorang yang membantu kita tadi, tidak ada salahnya menuruti." Kyra memukul bahu Randai, lelaki itu selalu saja berhasil membuat bibirnya mencebik. Tapi dia tidak kesal, ada kekehan setelahnya. Akhirnya, malam ini mereka memutuskan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Melepas penat karena seharian tenaga mereka dikuras. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN