"Bagaimana ini? Jumlah mereka tidak sebanding dengan kita." Kyra menatap ngeri hewan-hewan malam itu yang datang semakin banyak. Bisa jadi ini adalah sarang mereka. Hutan yang gelap, pekat, dan rapat. Sempurna sudah. Mereka terkepung, bagaikan santapan empuk untuk hewan malam itu.
"Kita bisa menghadapinya. Berkumpul!" Alif memberi aba-aba. Mereka merapat. Membentuk lingkaran saling memunggungi. Kondisi mereka gawat, terlebih Kyra yang merasa tak punya kemampuan. Payah, kenapa kekuatan api biru yang sering dibicarakan melebur begitu saja. Tidak ada tanda atau bagaimana cara menggunakannya. Ini benar-benar sial!
BUM!
Pukulan Randai berhasil mengenai kelelawar itu, jatuh tersungkur tidak jauh dari Lea dengan kepala penyok karena bekas pukulan tangan Randai. Benar-benar hebat. Pria vampir itu sudah bisa menggunakan kekuatannya tanpa menyentuh dengan baik. Lea menendang bangkai kelelawar yang ukurannya lebih besar dari ukuran normal tersebut. Sedikit bergidik saat taringnya ada yang terlihat ke luar.
Kyra menunduk sedikit menjauh dari temannya, mengambil potongan kayu yang tadi sempat di rasakan kakinya. Namun saat hendak diambil malah tidak sengaja terlempar kaki Randai.
Hap!
Kyra berhasil mengambilnya, hampir saja dia terkena goresan cakar dari kelelawar itu. Untung dia bergerak cepat, sehingga tidak terluka sedikit pun.
"Apa yang kamu lakukan, Ra?!" Randai menggeram sebal melihat Kyra yang tiba-tiba berguling menabrak kakinya, untung saja tidak dia injak tadi. Bisa gawat kalau hal itu terjadi, dia bisa diamuk Alif--sekali lagi.
"Maaf, Ran. Aku butuh senjata untuk melindungi diri." Kyra bangkit berdiri dan kembali ke posisinya.
BUM!
Kembali suara dentuman karena pukulan Randai. Kelelawar itu hampir menyerang Kyra sedikit lagi.
Crashh!!
Darah merah kehitaman menyiprat di muka Alif, lelaki itu berhasil mengoyak dua hewan sekaligus. Jatuh tersungkur dan mati. Lea menggerakkan tangannya, mengendalikan pohon disekitarnya untuk menyerang mereka. Matanya mengeluarkan cahaya lembut kekuningan. Itu tandanya gadis itu menggunakan kekuatannya secara maksimal.
Kraakk!!
Lima kelelawar berhasil dipatahkan bersamaan. Terbelit dahan yang tiba-tiba lentur membelit mereka. Jatuh ke bawah dengan badan remuk akibat lilitan dahan yang begitu kuat. Kyra tidak tinggal diam. Dia memegangi potongan kayu itu dengan kuat. Mengayunkan sekuat tenaga saat ada yang hendak menyerangnya. Lumayan, setidaknya gadis itu bisa melindungi diri dengan baik sekarang.
Semakin mereka melawan, semakin banyak yang jatuh tumbang dan mati, semakin terkuras juga tenaga mereka, jumlah hewan malam ini juga semakin banyak. Mereka datang berduyun-duyun mengerubungi mereka. Tidak kenal takut atau mundur meski tahu jenisnya sudah banyak yang mati terkapar. Hewan-hewan malam itu terus berdatangan dengan jumlah yang semakin banyak dan semakin kuat. Jumlahnya lebih dari ratusan, banyak sekali. Empat remaja berbeda Klan itu bagaikan diselimuti kabut hitam tebal yang terbuat dari tubuh kelelawar.
"Mereka tidak ada habisnya. Bagaimana mungkin?" Kyra mulai tersengal. Dia kelelahan, tangannya pegal rasanya terus mengayun.
"Kamu benar, mereka semakin banyak. Kita harus mencari ide." Alif kembali merobek tubuh kelelawar yang mencoba mendekatinya.
"Aku ada ide." Randai bersuara lantang di tengah pertarungan ini. Alif membuat pelindung tebal. Melindungi teman-temannya dari gempuran kelelawar yang terus menabrakkan diri ke arah mereka. Hewan-hewan itu tidak ada kapoknya. Lihat saja di atas sana, saat mereka menabrakkan tubuh di atas pelindung Alif. Mereka bagaikan lebah madu yang berduyun-duyun datang mengerubungi rumah mereka. Pekat sekali.
"Cepat Randai!" Alif mulai geram, sekuat tenaga dia menahan pelindungnya agar tidak retak dan pecah, tapi sahabat vampirnya itu malah melamun melihat ke atas--ah, lebih tepatnya sedang mengawasi pertunjukan mengerikan dari sang hewan malam.
"Ah iya. Maafkan aku." Randai menarik napas pelan. "Jadi begini. Bagaimana kalau kita berpencar. Maksudku, kita alihkan perhatian mereka. Lihat! Saat kita berkumpul seperti ini malah memudahkan mereka untuk menyerang. Seperti mengepung musuh dalam satu tempat. Mudah sekali. Jadi kita coba cara berpencar. Menyerang dari arah berbeda sambil berpikir bagaimana cara mengalahkan mereka--mencari tahu apa kelemahan mereka."
"Lalu Kyra? Dia bisa langsung tewas dalam waktu singkat dengan caramu ini." Alif menggerakkan tangannya ke arah kanan, pelindungnya hampir retak di sebelah sana karena ditabrak terus menerus. Dia menebalkannya kembali.
"Hey! Jaga bicaramu, Lif. Tidak pantas seorang suami mengatakan itu pada istrinya."
"Randai, tidak bisakah kamu serius? Aku malah lebih takut kita mati sekarang daripada perkataan Alif tadi. Kita sedang genting. Jadi apa rencanamu?"
Randai berdecak, baiklah, niat membelanya tidak ditanggapi dengan baik.
"Baiklah, jadi begini. Kita nanti akan berpencar untuk mengacaukan perhatian mereka. Jadi kita bisa membagi tempat di tiga sudut. Aku akan mengusahakan memperlebar tempat. Akan kurobohkan beberapa pohon lagi. Tapi kita harus tetap merangsek ke depan. Perlahan tidak apa-apa. Kyra ikut denganmu, Lif, karena kamu suaminya--hey! Ayolah, aku hanya bercanda." Randai menghentikan ucapannya sejenak melihat Alif melotot ke arahnya. "Jadi, Kyra ikut denganmu, karena setahuku, kamu yang bisa mengendalikan dengan baik di sini. Lea bisa saja membawa Kyra, tapi ... aku tidak yakin. Kalau denganku ... bisa mati tergigit dia nanti." Randai nyengir lebar menatap Kyra. Mereka berempat saling pandang, lalu mengangguk setelahnya.
"Jangan terlalu banyak menumbangkan pohon, Ran. Itu tidak baik!" tegur Kyra.
"Iya, aku tahu. Aku hanya melakukan sesuai kebutuhan kita saja, Ra. Kamu tenang saja."
Kyra memgangguk, dia mengeratkan tangan di baju Alif. Tangan yang satunya masih kuat mencekal potongan kayu itu. Alif yang melihatnya hanya mengembuskan napas pelan. Senjata Kyra benar-benar parah, tidak terlihat keren sama sekali.
Tiga remaja itu mulai berpencar, Alif dan Kyra berada di depan, Randai di sisi kiri, dan Lea di posisi kanan. Setelah hitungan ketiga, Alif langsung melepaskan pelindungnya dan membawa Kyra pergi bersamanya. Randai bergerak cepat menumbangkan pohon, Lea mulai mengepakkan sayapnya, dia bertarung dalam posisi terbang, meladeni hewan itu di atas sana. Seperti lebah yang di usir dengan asap, kelelawar-kelelawar itu mulai menyebar, beberapa mengikuti Lea, beberapa mengikuti Randai, dan sisanya menyerang Alif dan Kyra. Ide Randai berhasil. Hewan-hewan itu bahkan melengking keras, marah karena mangsa mereka mulai berpencar.
Cara ini hanya berfungsi sedikit, tidak membantu banyak. Lea di atas sana saja sempat terbanting karena tersenggol dengan sayap hewan-hewan tersebut, seolah sengaja ingin menjatuhkannya ke bawah. Siapa yang menyangka kalau hewan ini juga tidak kalah pintar. Gerakan cepat Randai bahkan bisa dideteksi dengan baik. Hewan ini punya pendengaran setajam Alif. Bisa membaca pergerakkan mereka dengan tepat. Bahkan sekarang sudah menemukan cara baru juga--yaitu menyibukkan Alif dengan mereka yang menyerang begitu heboh di sana. Membuat lelaki dari Klan Serigala itu kualahan, dia bahkan lalai melindungi Kyra. Itulah tujuan hewan itu. Membuat Alif sedikit menjauh dari Kyra. Hewan-hewan itu menemukan pergerakkan lambat dari Kyra, tidak gesit dan secepat kawannya yang lain. Hewan-hewan malam itu bisa membacanya dengan tepat. Setelah Alif sedikit menjauh, beberapa dari mereka melengking, menuju ke arah Kyra, hendak menyerang dengan cepat.
"Alif!" Lea yang posisinya di atas sana bisa melihat dengan jelas Kyra yang jatuh tersungkur akibat ditabrak kelelawar besar itu. Ia tahu dengan jelas pergerakkan di bawah sana, bahkan beberapa kelelawar yang menyerangnya juga berputar arah menyerang Kyra, seolah bisa membaca apa yang terjadi. Kompak menyerang Kyra.
Terpaku. Keterkejutan membuat mereka sulit bergerak, hanya kurang dari sepersekian detik mereka bisa mengoyak Kyra dengan ganas. Gadis itu melingkarkan tangannya di kepala dengan posisi telapak tangan menghadap depan.
Splaahh!!
Seberkas cahaya biru terang menyala dari tangan Kyra, ada pemantik api kecil di sana--berwarna biru juga. Kelelawar-kelelawar yang hendak menyerangnya melengking keras, seolah takut dengan cahaya itu. Bahkan beberapa yang menyerang teman-temannya juga mundur.
"Kyra?!" Lea menatap tidak percaya di bawah sana, melihat bagaimana Kyra bisa melakukan itu. Dua pria berbeda Klan itu juga terpaku di tempat. Terkejut dengan kekuatan baru yang begitu indah keluar dari telapak tangan gadis lemah itu.
Alif menatap memicing. Mengamati Kyra yang memejamkan mata--tidak. Gadis itu tidak pingsan, hanya memejamkan mata karena reflek melindungi diri dari bahaya, tidak ingin melihat ancaman yang menyerangnya.
Perlahan mata Kyra terbuka, dia melihat apa yang terjadi di depannya, tapi betapa terkejutnya saat dia melihat apa yang terjadi di depannya. Dia bisa melihat dengan jelas hutan di sekitarnya. Bukan karena matanya yang setajam dan sepeka Alif, melainkan karena pantulan cahaya yang dihasilkan dari telapak tangannya. Sangking terkejutnya, Kyra bahkan tidak sadar kalau kelelawar-kelelawar itu perlahan mulai pergi menjauh. Dirinya masih terpaku melihat kekuatan yang berasal dari telapak tangannya. Dari mana dia mendapatkan ini? Bagaimana dia bisa. Melakukannya?
Perlahan sinar itu mulai meredup, disusul sinar lain yang berasal dari tubuhnya yang lain. Kyra menyentuh rambutnya perlahan. Melihat helaian yang mengeluarkan cahaya biru lembut. Tapi tidak ada api biru yang menghiasi rambutnya seperti sinar yang keluar dari telapak tangannya tadi.
"Wow, aku tidak tahu kalau kamu sekeren ini, Ra."
Kyra sedikit terkejut melihat Randai yang sudah berada di dekatnya. Rupanya pria ini melakukan teleportasi sehingga bisa cepat datang ke sisinya, disusul dengan Alif yang ikut mendekat. Kelelawar-kelelawar itu sudah tidak terlihat, pergi menjauh melihat cahaya yang keluar dari telapak tangan Kyra.
Kyra masih diliputi kebingungan, dia hanya diam sambil memeriksa tubuhnya dan sesekali menyentuh rambutnya. Ini pertama kalinya dia melihat dirinya seperti ini. Sebelum-sebelumnya hanya cerita yang ia dengar dari sahabatnya. Apa mungkin api biru yang dimaksud sahabatnya dulu adalah api biru tadi? Lalu kenapa kecil sekali? Apa iya, itu bisa melumpuhkan Luna yang begitu kuat.
Perlahan pandangan Kyra yang menunduk mendongak perlahan, begitu pun dengan sahabat dua prianya yang berbeda klan tersebut. Mereka mengamati cahaya lain yang mendekat ke arah mereka. Bersinar lembut mengikuti arah kakinya berjalan. Sangat indah dan menawan, sesuatu yang baru telah merubah beberapa dari mereka.
"Bagaimana mungkin?" Randai juga ikut bingung. "Kalian saling terhubung?" Randai menunjuk Kyra dan Lea bergantian, tetapi gadis itu hanya menggeleng pelan. Tidak mengerti.
Lihatlah di sana, sepasang sayap Lea juga mengeluarkan cahaya lembut keemasan, matanya berpendapat kuning. Dan rambutnya berubah warna menjadi coklat keemasan, mengeluarkan cahaya lembut seperti Kyra. Dua gadis itu tiba-tiba bisa memberikan cahaya di tengah gelapnya hutan yang pekat ini. Rambut mereka menyala mengeluarkan cahaya.
Bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya?
***