Makhluk Penghuni Kegelapan

1253 Kata
Selama melewati hutan kegelapan ini, mereka selalu disambut dengan dahan dan ranting yang bercabang--juga duri-duri yang semakin rapat. Belum lagi kadang ada pohon yang tumbang dengan duri tajam yang masih menancap, disitulah hal yang paling sulit. Mereka harus melewati dengan hati-hati. Tidak ada pilihan lain, akhirnya Randai merubah posisi. Dia berada di depan Alif, ikut membantu menebas cabang-cabang duri yang terus menghadang seakan menawarkan kematian. Belum lagi tanah yang mereka pijaki juga mulai retak--bukan, bukan retak karena akan longsor atau roboh nantinya. Melainkan retak seperti tanah persawahan yang kering. Hanya saja yang ini berwarna hitam. Kegelapan juga semakin melingkupi mereka. Pekat sekali. Alif menyuruh berhenti sejenak. "Ada apa, Lif?" Kyra bertanya heran. Bukankah seharusnya mereka terus bergerak agar segera keluar dari hutan ini. "Sebentar. Aku punya ide." Alif mengamati sekitar sebelum kembali membuka suara. "Ran, kamu bisa mengeluarkan pukulan keras bukan, coba gunakan kekuatanmu untuk menumbangkan beberapa pohon. Di sini semakin rapat. Kita akan semakin susah nanti kalau melangkah." Randai mengerti, dia mengangguk pelan dan menggerakkan tangannya melakukan pemanasan. Menggerak-gerakkan pelan sebelum mengepalkannya. "Banyak gaya sekali, dia." Lea terkikik geli melihat tingkah Randai. Kyra hanya diam saja, penglihatannya buruk di sini. Hanya remang-remang dan sedikit yang ia lihat. Andai saja dua sahabat lelakinya tidak membantu menyingkirkan duri dan dahan tajam ini, mungkin Kyra sudah dari tadi jatuh terperosok atau bahkan terluka karena ketajaman yang diberikan sang pohon ini. Hutan ini seperti hutan kematian yang diselimuti kegelapan. BUM! Satu pukulan berhasil Randai layangkan ke depan. Membuat beberapa pohon tumbang karenanya. Mereka terus merangsek maju. Ini benar-benar membantu. Mereka lebih mudah melewatinya. Ah! Kenapa ide ini tidak muncul dari tadi, seharusnya mereka sudah bisa keluar dengan cepat dari sini. Semakin ke dalam, kegelapan hutan semakin pekat. Seharusnya ini belum malam, mengingat mereka masuk ke dalam sini belumlah sore. Tapi cahaya matahari mau pun rembulan benar-benar tidak ada, hutan ini diselimuti kegelapan yang begitu pekat. Menyalurkan hawa dingin dan ketakutan pada siapa saja yang melewatinya. Hutan ini seperti menawarkan kematian secara langsung. Sepi, sunyi, tidak ada makhluk apa pun. Lima belas menit setelah perjalanan mudah mereka, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu. Penghuni hutan yang begitu menyukai kegelapan. Makhluk itu perlahan bangun karena mendengar bising dari sesuatu yang berasal tidak jauh darinya. Pukulan Randai. Suara pukulan Randai dan pohon tumbang itu mengganggunya. Mengusiknya dari tidur siangnya. Sebenarnya dia bisa saja beraktivitas saat ini, tapi makhluk itu memilih untuk menggunakannya beristirahat, dia lebih suka berkelana saat kegelapan malam menyapa, itu membuatnya lebih senang--tapi gara-gara bunyi keras ini menggangunya, mau tidak mau dia harus merelakan waktu istirahatnya dan segera menyudahi asal bunyi ini. Kraak!! Brakk!! Satu pohon kembali tumbang, hampir saja mengenai mereka, untung dua pria itu bergerak cepat, sehingga tidak ada yang terluka satu pun. "Kalian baik-baik saja?" Alif dan Randai bertanya khawatir. Keduanya bisa bernapas lega saat Kyra dan Lea mengatakan mereka tidak terluka. Mereka kembali berjalan. Menyusuri gelap dan pekatnya hutan tersebut, tanpa menyadari ada banyak pasang mata yang mengintai dari balik kegelapan, bersiap menyerang mereka saat lengah. Lima langkah berjalan, tiba-tiba ada yang menabrak Lea dari belakang, gadis itu memekik, hampir saja tersungkur dan mengenai duri yang berada di pohon yang sudah tumbang. Untung Kyra cekatan, segera memegangi tangan sahabatnya sebelum jatuh. "Ada apa, Le?" "Ada yang menabrakku, besar sekali, Lif." Alif menatap sekeliling, telinganya mendengar sesuatu, mata tajamnya memindai dalam kegelapan. Benar. Memang ada yang mengintai mereka. Mata merah dengan kuku lancip. Sial! Mereka saja belum ke luar dari hutan ini, tapi bahaya lain sudah menghadang mereka. Siap mengoyak kapan saja. "Kalian harus bersiaga, yang akan kita hadapi bukan orang." "Terus?" "Menunduk!" Belum juga Alif menjawab pertanyaan Kyra. Salah satu makhluk dari sekian banyak itu menyerang mereka dengan suara melengking tajam. Hampir mengoyak tubuh mereka dengan kuku tajamnya yang bersatu dengan sayap. "Makhluk itu terbang!" Kyra memekik kaget, meski penglihatannya buruk di tempat ini, tapi dia masih bisa merasakan bagaimana kepakkan sayapnya yang mengerikan. Bagaikan angin topan yang siap meluluhlantakan pedesaan. Kuku tajamnya yang tidak sengaja mengenai pohon meninggalkan bekas sayatan yang tajam dan dalam. Seperti sebilah pedang yang begitu tajam, mampu mengoyak apa pun yang dikenai. Randai yang melihat itu bergidik. Bagaimana jika dia atau temannya yang lain merasakan? Pasti mengerikan. "Ran, robohkan beberapa pohon di sekeliling kita. Kita tidak mungkin bertarung dalam keadaan yang sempit. Yang lain bersiaplah! Kita harus menghentikan mereka kalau tidak ingin berakhir." Kata akhir yang ke luar dari bibir Alif bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap menawarkan kematian. Membuat Kyra bergidik karena perasaan takut yang mulai menggerogoti. Inilah yang tidak ia suka dalam dirinya. Ketakutan yang tiba-tiba datang di saat keadaan genting begini. BUM! BUM! BUM! KRAAKK! Suara pukulan dan pohon jatuh mendominasi di sekeliling mereka. Membuat makhluk terbang itu semakin marah dibuatnya. Lengkingan keras terdengar memekakkan telinga. Beberapa sudah maju ke depan bersiap menyerang, beberapa masih menunggu di balik pohon. Bersembunyi. Krakk!! Satu pohon yang berhasil Randai tumbangkan mengenai makhluk itu, jatuh tersungkur tertimpa pohon. Langsung mati karena tertindih. Satu di antara yang lain telah mati. Dan dua lainnya yang menyerang mereka bertambah marah. Melengking dan siap menghantam mereka. Randai memukul kera, membuat makhluk itu jatuh tersungkur, tapi tidak lama bangkit kembali. Semakin marah, semakin kuat. Alif maju, membuat pelindung kokoh di sekeliling mereka. Makhluk itu memekik, menabrak sesuatu yang menghalangi mereka. Tidak dapat menyerang. Mengepakkan sayap beberapa kali di atas pelindung Alif. Di bawah sana, empat remaja itu bisa melihat makhluk menyeramkan apa yang tengah menyerang mereka. Bertaring, bersayap, berkuku panjang, dengan moncong yang sedikit maju ke depan. Tiga d antara yang lain hanya satu yang melihat dengan remang. Kyra. Gadis itu hanya melihat bentuk gelap yang terus mengepak di atas mereka, matanya merah. "Makh ... makhluk apa itu?" Kyra mendesis. Melihat betapa mengerikannya bentuk gelap tersebut. Tidak terlalu begitu besar, namun juga tidak kecil. Ukurannya sebesar kucing, tapi lebih besar sedikit. Mungkin sebesar anak kambing--ah, itu terlalu besar, sedikit lebih kecil lagi. "Itu makhluk penghuni kegelapan, Ra." Alif menjelaskan. "Namanya?" "Kelelawar." Randai ikut menambahi. "Kelelawar? Kenapa besar sekali?" "Karena mereka hidup damai di sini tanpa ada yang menyentuh. Membuat makhluk itu bisa berkembang lebih besar dari ukuran normal di dunia kita. Maka dari itu aku bilang, yang kita hadapi bukan orang. Melainkan hewan." Kyra bergidik mendengar penjelasan Alif. Jelas ini bukan sesuatu yang baik. Dirinya melihat Lea yang menatap makhluk itu sama bergidiknya dengan dirinya. Ada ide yang melintas di kepalanya. "Lea, kamu bisa mengendalikan alam, apa kamu bisa mengendalikan hewan?" Kyra menatap dengan seksama. Gadis yang ditanya itu hanya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, belum pernah kucoba sebelumnya." Plassh!! Pelindung Alif pecah, membuat dua makhluk mengerikan itu langsung menyerang mereka dengan brutal. Alif merubah diri menjadi serigala, mengaum dan menerjang mereka, salah satu berhasil digigit. Dikoyak dan mati di tempat. Randai juga sama. Dia memberikan pukulan keras, matanya menyala merah, memukul keras dan membuat tumbang hewan itu. Mati di tempat. Semua berakhir. Semudah itu. Namun ternyata itu baru permulaan. Dari dalam kegelapan sana, satu persatu dari mereka ke luar menampakkan diri. Hendak menyerang. Marah karena ketenangan mereka diganggu. Satu, dua, lima berduyun-duyun datang menyerang. Mungkin masih bisa di atasi. Dua di antaranya berhasil di lumpuhkan Randai, dua lainnya dilumpuhkan Alif, satu terkoyak dilumpuhkan Lea. Berhasil memukul mundur. Seperti selesai, namun ternyata tidak, itu hanya membuat mereka dalam bahaya. Dua, tiga, empat datang lagi, menyerang dengan suara melengking. Belum sempat ditumbangkan, datang lagi. Enam, tujuh, jumlah mereka semakin banyak. Sepuluh, lima belas. Gawat! Ratusan kelelawar dengan ukuran lebih besar dari ukuran normal menyerang mereka. Mereka semakin siaga dengan napas tersengal. Bersiap menghadapi ratusan kelelawar yang jumlahnya begitu besar terus keluar menyerang mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN