Saat langkah kaki pertama sudah menapak ke dalam hutan tersebut, saat itulah suasana mencekam menyelimuti mereka. Hutan ini benar-benar gelap dan dipenuhi warnah hitam. Pohon di sini menjulang tinggi dan berduri. Lebih rapat dari sebelumnya. Sinar matahari saja tidak bisa menembus, padahal jelas-jelas tadi sebelum masuk ke sini di luar sana matahari masih terang menyinari. Hanya remang yang terlihat di sekitar.
"Kamu takut, Ra?" Lea menoleh ke arah Kyra yang tiba-tiba mengeratkan tangan ke lengannya. Gadis itu semakin mendekat ke arahnya.
"Sedikit, hehehe." Kyra nyengir lebar, kadang tubuhnya bergerak lebih rapat ke arah Lea untuk menghindari dari duri.
"Pohon apa ini? Kenapa berduri banyak sekali. Warnanya juga hitam. Pekat."
Alif mengangkat kedua bahunya. Dia mengamati sekitar dengan seksama. Selama ini Alif memang menjadi pengamat yang baik, matanya selalu awas menangkap pergerakan, meski itu ranting yang jatuh. Sebenarnya, tanpa mereka sadari, kemampuan ke empatnya mulai terasah dan berkembang dengan baik selama melakukan misi ini.
"Ra, jangan berdekatan dengan Lea, hutan ini semakin rapat." Alif memperingatkan dari belakang. Saat matanya menatap lurus ke depan, dia sedikit bisa melihat rapatnya hutan ini.
Kyra menuruti Alif, dia maju ke depan. Posisinya sekarang berada di depan Lea dan di belakang Alif. Randai berada di belakang, jeda satu orang dari Kyra. Meski mereka sudah kembali akur seperti sebelumnya, tapi mencegah sesuatu yang tidak diinginkan itu lebih baik.
"Kenapa semakin gelap? Ini sudah malam ya?" Kyra bergidik melihat sekitarnya. Benar-benar mencekam dan mengerikan. Mungkinkah hutan ini di dulunya dibakar? Tapi kenapa pohonnya masih tumbuh subur. Meski pun berwarna hitam, tapi pohon ini tidak lapuk, masih kokoh dan kuat berdiri. Bahkan ukurannya begitu besar dan tinggi dengan duri tajam yang tumbuh acak di batangnya. Menonjol layaknya pedang yang siap menghunus.
"Belum, Ra. Di luar baru beranjak siang malah. Memang pohon di sini lebih rapat, jadi sinar matahari tidak bisa masuk." Randai menyahut dari belakang.
"Kalian harus waspada dan konsentrasi, duri ini tajam. Bisa melukai kalian dimana pun."
Tiga remaja di belakang Alif mengangguk. Berjalan berhati-hati untuk menghindari duri tajam yang ada di batang pohon.
"Aku ada cerita menarik." Randai memecah keheningan dari belakang.
"Apa? Jangan-jangan cerita ngaco." Lea mencibir. Sukses membuat Randai langsung berdecak.
"Tidak. Akan aku mulai, yah ... anggap saja pengisi keheningan agar suasana tidak sepi."
"Kamu mau menyanyi?"
"Tidak, Ra, aku mau cerita. Ya ampun. Bercerita sama bernyanyi itu berbeda." Randai sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kyra. Apa kewarasannya sedikit terenggut gara-gara gigitannya kemarin.
"Cerita apa?" tanya Kyra.
"Begini ... mungkin kamu benar, Ra. Hutan ini habis dibakar dulunya, dan sekarang sudah ditinggalkan karena pernah menceritakan kisah pilu sebelumnya, bahkan mungkin saja banyak nyawa yang sudah terenggut di sini."
"Lalu?" Gemas juga Lea lama-lama, dari jalan cerita Randai, gadis itu sudah bisa memastikan kalau Randai akan berbual di sini.
"Sepertinya ada penghuni lain seperti kita."
"Maksud kamu?" Kyra sedikit melirik ke belakang, meski mendengarkan Randai, tapi dia harus tetap siaga dan hati-hati menghindari duri-duri tajam ini.
"Iya. Makhluk tak kasat mata. Mungkin saja, setelah kejadian mengerikan itu usai, banyak hantu yang merajalela, lalu membuat orang-orang pergi dari sini. Dan sekarang ... tersisa hutan yang begitu sepi dan menakutkan. Hutan ini menyimpan kemalangan."
Kyra mulai bergidik. Tapi dia juga tidak terlalu percaya dengan cerita Randai.
"Sudah, Ra. Jangan hiraukan Randai. Tidak ada makhluk begitu di sini."
"Hey! Aku tidak membual ya, hanya menebak." Randai jelas tidak terima dengan perkataan Alif.
"Hanya menebak, kan, ceritamu itu banyak kata mungkin. Itu berarti banyak yang berkhayal."
Randai berdecak. "Tidak ada salahnya menebak. Siapa tahu kita bisa lebih waspada."
Alif hanya terkekeh. "Perhatikan langkah kaki kalian. Durinya juga semakin rapat." Di depan sana, Alif sesekali menebas duri yang menghalangi mereka dengan tangannya. Mematahkannya dengan kuat. Kadang tangannya ada yang tergores, untung tidak dalam, jadi bisa sembuh dengan cepat. Syukurlah, penglihatannya yang tajam bisa membantunya melihat dengan baik.
"Mau kubantu, Lif?" Randai yang melihat Alif berusaha mematahkan duri di depan sana merasa kasihan.
"Tidak perlu, kamu berjaga saja di belakang."
Krakk!
Duri itu patah juga akhirnya. Alasan kenapa Alif berusaha mematahkan duri di depannya, itu karena jangan sampai duri ini melukai sahabatnya, terutama Kyra--bukan karena dia sudah jatuh hati dengan gadis itu, hanya saja berjaga. Jika ada darah yang menetes dari tubuhnya. Maka kejadian serupa bisa jadi terulang kembali. Kalau di tempat terbuka saja mereka bisa kehilangan jejak Randai, bagaimana kalau di tempat tertutup begini.
"Seharusnya Canuto memberikan kita senjata, pedang atau apa misalnya. Jadi kita tidak susah begini mematahkan duri yang besar ini. Bukan roti kering seperti kemarin."
"Hey! Kamu tidak boleh seperti itu Randai. Roti itu sangat bermanfaat untuk kami. Mungkin kalau tidak ada roti tersebut, aku bisa kelaparan lebih cepat. Paman Canuto sudah memetakan dengan baik hal ini."
Randai hanya mencibir. Kyra memang sayang sekali sama Canuto dan Zek, selalu saja membela dua pria paruh baya itu. Padahal yang mengirim mereka ke sini adalah Canuto dan Zek. Yah ... meski pun dia juga tidak keberatan dengan misi ini sebenarnya.
"Awhh!!" Kyra meringis. Sejauh apa pun mereka berhati-hati, kadang kejadian tidak diinginkan masih saja terjadi. Contohnya seperti sekarang, lengan Kyra tergores duri, membuat pakaiannya sedikit robek. Duri itu selamat dari patahan Alif, dan tidak sengaja melukai Kyra, ada darah yang menetes. Tapi tidak banyak.
Lea segera berbalik ke belakang, begitu pun dengan Alif.
"Hey! Iya, aku tahu, jangan memperlakukanku seperti predator. Aku akan mundur." Randai melangkah ke belakang.
"Bukan itu maksud kami. Kamu bisa menahannya atau tidak." Alif mengembuskan napas lelah, dia juga tidak bermaksud menyinggung Randai.
"Sejauh ini aman. Selama aku bisa menahan napas."
Kyra menatap sahabatnya bergantian, setelah itu menyentuh lukanya agar kembali menutup. "Tidak apa-apa, ini tidak parah." Gadis itu tersenyum ke arah Randai.
"Hati-hati, Ra. Tempat ini lebih susah untuk menyelamatkanmu nanti." Alif kembali melanjutkan perjalanan. Nada suaranya begitu dingin, membuat Kyra menjadi takut dan merasa merepotkan, selama ini dia memang menyusahkan sahabatnya. Tidak bisa berbuat apa pun pada mereka. Itu semua karena dia berbeda, dia lemah. Kalau di dunia manusia, tiga temannya itulah yang berbeda, tapi mereka luar biasa. Sedangkan di sini .... Dirinya berbeda, tapi tidak bisa melakukan apa pun. Hal luar biasa apa yang dapat ia lakukan? Api biru? Dia saja bahkan belum pernah menyaksikannya secara langsung. Apa mungkin itu hanya bualan sahabatnya karena ingin membuatnya senang?
"Jangan pedulikan perkataan Alif, Ra. Dia hanya khawatir, lebih baik kita minimkan pembicaraan." Lea tersenyum hangat dan mengusap bahu sahabatnya. Dia tahu, Kyra sedang merasa bersalah dan tidak enak dengan perkataan Alif barusan.
Gadis itu hanya mengangguk dalam perjalanannya. Baiklah, mulai sekarang dia akan berusaha tidak merepotkan. Apalagi hutan ini masih panjang sepertinya. Ujungnya belum terlihat sama sekali. Hawa dingin bahkan mulai merambah ke tubuh mereka. Hutan ini seperti hutan mati, atau lebih tepatnya memang hutan kematian. Dingin, sepi, dan gelap. Apa yang kamu lakukan jika berada di tempat belantara yang mencekam seperti itu?
***